Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kopi untuk pak bos
"Gue abis makan cabe rawit satu kilo, By!" jawab Syren asal sembari mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya yang memang sudah kepanasan—bukan karena cabe, tapi karena bisikan Julian di mobil tadi.
"Yang benerrr?!" selidik Gaby dengan mata menyipit. Dia tidak bodoh, tidak ada orang makan cabe satu kilo tapi bibirnya tidak bengkak.
"Iya, Gaby Ceret!" Syren kemudian merangkul pundak Gaby, berusaha mengalihkan perhatian sahabatnya itu sembari mereka berjalan menuju lift.
"Ren, nanti malam katanya anak SMA mau ngadain reunian. Lo ikut nggak?" tanya Gaby antusias.
"Seru tuh! Ikut deh!" ucap Syren girang. Bayangan bertemu teman-teman lama dan pamer sedikit (walaupun statusnya kerja rodi) membuat semangatnya kembali pulih.
Tapi, kegembiraan itu hanya bertahan beberapa detik.
Tiba-tiba, sebuah aroma parfum maskulin yang sangat ia kenal menyeruak. Julian menyalip mereka dengan langkah lebar, lalu tanpa permisi meraih pergelangan tangan Syren dengan tegas. Langkah kedua gadis itu terhenti seketika.
"Tidak bisa, Gaby. Syren nanti malam ada urusan penting dengan saya," kata Julian dengan nada bicara yang mutlak, tidak bisa dibantah sedikit pun. Tatapannya dingin, seolah sedang menandai wilayahnya.
Syren melongo, menatap Julian yang masih mencekal tangannya. "Eh? Urusan apa lagi, Pak Bos? Kan rapatnya sudah selesai kemarin!"
Julian tidak menjawab pertanyaan Syren. Ia justru melirik Gaby sekilas, membuat Gaby langsung ciut dan melepaskan rangkulannya dari Syren. "Kembali ke meja kalian. Sepuluh menit lagi, Syren, bawa jadwal saya ke ruangan."
Julian pun berlalu begitu saja, meninggalkan Syren yang masih mematung dan Gaby yang mulutnya sudah terbuka lebar membentuk huruf O.
"Ren..." bisik Gaby setelah Julian menjauh. "Urusan penting apaan malam-malam berduaan sama CEO? Jangan-jangan reunian lo bakal ganti jadi kencan privat?"
"Mulut lo! Paling dia cuma mau ditemenin lembur lagi. Pasti nih ya, gue disuruh pijitin dia atau buat kopi doang. Liat aja nanti, gue kasih kopi 'paling enak' sedunia," sungut Syren kesal sambil mengepalkan tangannya di udara.
Gaby tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah sahabatnya yang sudah tertekuk itu. "Hahaha! Baru kali ini gue liat orang yang salah tapi dia juga yang paling kesal. Status kita sekarang udah sama, Ren. Gue kangen banget momen lo traktir gue makanan enak pas zaman kuliah dulu," kenang Gaby.
"Ya udah lah, kalau bokap gue udah gajian, nanti gue traktir deh," balas Syren sekenanya. Ia segera menyambar beberapa map di mejanya dan melangkah mantap menuju ruangan sang bos besar.
Tok... tok... tok. "Pak Bos?" panggil Syren dari balik pintu.
"Masuk," sahut Julian singkat. Pria itu tampak sangat serius menatap layar laptopnya, jemarinya menari lincah di atas keyboard seolah sedang menyusun strategi perang bisnis.
"Ini Pak berkasnya," ucap Syren sambil meletakkan dokumen itu dengan sedikit kasar di atas meja Julian. Ia sudah bersiap untuk langsung balik kanan dan pergi dari sana.
Namun, sebelum kaki Syren sempat melangkah menjauh, suara berat Julian kembali menghentikannya.
"Buatkan saya kopi, Syren. Saya haus," perintah Julian sambil memijat lehernya yang tampak kaku, memperlihatkan gurat kelelahan namun tetap terlihat karismatik.
Syren menghela napas panjang, menatap punggung Julian dengan tatapan maut. "Kopi lagi, kopi lagi... lama-lama ini Bos Peot jadi pabrik kafein!" gerutunya dalam hati sambil melangkah menuju pantry pribadi di pojok ruangan.
Dalam otaknya, Syren sudah membayangkan rencana jahat. Kasih garam... kasih garam yang banyak biar ini Bos Peot darah tinggi sekalian! batinnya sambil menyeringai licik di depan mesin kopi.
Namun, saat tangannya hendak meraih toples garam, hatinya tiba-tiba berkata lain. Syren menoleh sedikit ke arah meja kerja Julian melalui celah pintu pantry. Ia melihat bosnya itu sedang memijat pelipisnya dengan mata terpejam, gurat kelelahan tercetak jelas di wajah tampannya.
Duh, kok gue jadi nggak tega ya? Keliatannya dia emang capek banget ngurusin perusahaan segede ini, pikir Syren sambil menghela napas pasrah.
Akhirnya, bukannya garam, Syren justru meracik kopi dengan takaran yang paling pas—persis seperti yang ia tahu disukai Julian. Aroma kopi yang harum dan menenangkan pun menyeruak di seluruh ruangan.
Setelah selesai, ia berjalan pelan menuju meja Julian dan meletakkan cangkir itu dengan hati-hati. "Ini Pak Bos kopinya, silakan," ucap Syren dengan nada yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
Julian membuka matanya, menatap cangkir kopi itu lalu beralih menatap Syren. Ia menyesap kopi itu perlahan. Matanya sedikit melebar merasakan rasa kopi yang begitu pas di lidahnya.
"Tumben sekali kopi ini rasanya benar. Kamu tidak menaruh racun di dalamnya, kan?" tanya Julian sambil menaikkan satu alisnya, namun sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis.
Syren mendengus kesal sambil berkacak pinggang. "Dih, udah dibuatin enak malah dituduh macem-macem! Ya udah kalau nggak mau, sini saya buang aja!" Syren baru saja mau meraih cangkir itu kembali, tapi Julian dengan cepat menahan tangannya.
"Jangan. Ini enak," ucap Julian singkat, suaranya terdengar tulus yang membuat ja
ntung Syren mendadak berdegup aneh.
"Enak saya atau kopinya, Pak?" ucap Syren tiba-tiba.
Begitu kalimat itu keluar, Syren langsung membeku. Ini nih mulut bener-bener ya! batin Syren yang rasanya ingin mengubur dirinya sendiri saja saat itu juga karena malu setengah mati.
Julian pun hanya melongo melihat tingkah sekretarisnya itu. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, menatap Syren dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Maaf Pak, itu tadi keceplosan... cuma bercanda aja, hehe," ucap Syren berusaha mencairkan suasana kembali sambil tertawa garing. Ia merutuki otaknya yang sering tidak sejalan dengan bibirnya.
Julian menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, menatap Syren intens. "Sepertinya enak kamu, Syren. Karena saya belum mencobanya," balas Julian pelan dengan nada rendah yang bikin merinding.
Syren mematung dengan wajah merah padam, tapi sebelum jantungnya meledak, Julian tersenyum miring. "Tenang Syren, saya juga berca
nda."
Syren berlari tunggang langgang keluar dari ruangan CEO seolah-olah baru saja melihat hantu, atau lebih tepatnya, setelah hampir mati berdiri karena gombalan maut Julian. Ia segera menjatuhkan dirinya di kursi kerja, menutupi wajahnya yang panas dengan kedua tangan.
"Loh, loh? Kenapa lo? Abis dikejar setan atau abis dapet doorprize?" tanya Gaby yang kaget melihat Syren ngos-ngosan.
"Dua-duanya, Gab! Bos lo itu beneran sakit jiwa!" gumam Syren frustasi.
Gaby baru saja mau menginterogasi lebih lanjut, tapi tiba-tiba Leo datang dengan wajah datar andalannya, meletakkan setumpuk map besar di meja Gaby sampai menimbulkan suara brak!
"Nona Gaby, tolong rapikan ini sekarang. Harus selesai sebelum jam pulang," ucap Leo dingin.
Gaby melotot, semangat gibahnya langsung hilang diganti emosi. "Eh, Pak Leo! Bapak pikir saya ini robot? Ini jam berapa? Dikit lagi pulang, Pak!"
Leo membetulkan letak kacamatanya dengan gaya sangat formal. "Instruksi dari Pak Julian. Dan oh ya, kurangi mengobrol dengan Nona Syren kalau tidak mau tumpukan ini saya tambah dua kali lipat."
"Dih! Bapak itu ya, persis banget sama bosnya. Sama-sama kaku kayak kanebo beku! Nggak punya hati apa ya?" semprot Gaby tidak terima.
Leo menatap Gaby dengan tenang. "Tugas saya adalah memastikan pekerjaan selesai tepat waktu, Nona Gaby. Silakan kembali bekerja."
"Iya, Pak Kaku! Dasar!" Gaby menghentakkan kakinya di bawah meja, sementara Syren hanya bisa geleng-geleng kepala melihat dua orang itu yang selalu saja seperti anjing dan kucing setiap kali
bertemu.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui