Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Kembar
Ale sudah di bawa ke ruangannya dan di sana Arlo memijat kakinya dengan pelan. Arlo juga sudah mengkompres kaki Ale dengan kompresan yang ada di sana.
Ale meringis kesakitan karena dia jatuh dalam posisi yang tak tepat sehingga membuat kakinya terkilir. Dia memperhatikan Arlo yang sedang mengobati kakinya. Arlo nampak telaten mengobatinya padahal beberapa hari ini Ale sengaja menghindari Arlo karena dia ingin terbiasa tanpa Arlo tapi nyatanya Arlo malah mendatanginya di butiknya.
"Ar... Kok lo di sini? Lo nggak masuk kuliah?" tanya Ale pelan.
Arlo yang sedang fokus mengobati kaki Ale menghentikan apa yang dia lakukan dan mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Ale yang tadi sempat memucat dan sekarang sudah berseri kembali.
Entah bisikan setan dari mana, Arlo meraih wajah Ale dan mencium pelan bibir Ale, dia juga menggerakan bibirnya perlahan agar Ale membalas apa yang tengah dia lakukan saat ini.
Ale yang mendapat serangan mendadak awalnya terkejut tapi sedetik kemudian dia mengikuti apa yang di lakukan Arlo padanya sejak tadi. Arlo tersenyum tipis di sela ciuman mereka yang semakin panas, tapi saat mereka sedang menikmati ciuman itu tiba tiba pintu ruangan Ale di ketuk dari luar.
Tok, tok, tok....
Arlo menyudahi ciuman mereka dan menyeka bekas ciuman mereka di bibir Ale.
"Tunggu di sini, jangan kemana mana." pesan Arlo pada Ale.
Ale mengangguk dan Arlo beranjak dari sana untuk membuka pintu itu dan di sana ada karyawan Ale yang sedang menunduk sambil menunggu Ale dan Arlo keluar.
"Ada apa?" tanya Arlo.
Sang Karyawan mengangkat kepalanya dan dia memandang takut pada Arlo karena dia juga tahu siapa Arlo sebenarnya. Beberapa karyawan yang sudah senior semua mengenal Arlo dan latar belakang Ale serta siapa Arlo.
Jadi saat Arlo memerintahkan semua karyawan menahan orang yang membuat Ale jatuh tadi mereka langsung melakukannya tanpa banyak bertanya kembali.
"Semua sudah menunggu tuan muda, dan mereka juga menunggu apa yang akan tuan muda lakukan setelah ini,"
Karyawan itu memberitahu Arlo tentang kondisi yang ada di lantai bawah di mana semua orang sudah menunggunya sejak tadi.
Arlo mengangguk dan berbalik untuk memeriksa keadaan Ale yang melihatnya dengan intens.
"Tunggu gue di sini, dan jangan kemana mana. Ingat Al, kalau sampai lo nekad turun ke bawah, gue pastiin kalau lo bakal langsung gue kurung di kamar dan nggak bakal gue ijinin lo kemana mana lagi," ucap Arlo yang membuat Ale mengangguk serta meneguk ludaknya kasar.
Setelah itu Arlo pergi dari sana di ikuti oleh karyawan tadi yang menyapa Ale dengan tak enak karena suasana yang tak nyaman saat ini.
Kedatangan Arlo di bawah menambah suasana mencekam yang ada di sana, karena bagaimana tidak hawa di sana berubah menjadi dingin dan membuat semua orang bergidik ngeri. Arlo sendiri sudah mengabari Valen tentang apa yang terjadi pada Ale.
Valen yang mendapat kabar itu segera menyusul Arlo pergi ke butik bersama dengan Dean.
Sementara itu, Arlo sudah memindai semua orang yang ada di sana dan nampak raut wajah seorang yang masih muda ada di sana sedang menatapnya tak suka.
"Ngapain lo tahan gue di sini? Bukannya tu cewek nggak apa apa?"
Arlo nampak tak suka dengan apa yang di katakan cewek yang masih mengenakan seragam sekolah itu. Arlo juga sudah mendengus kesal karena melihat wajahnya yang sombong itu.
"Minta maaf sekarang!"
Suara Arlo yang datar dan dingin membuat semua karyawan Ale merinding takut, karena mereka pun pernah melihat Arlo marah sebelumnya karena ada yang mencoba mendekati Ale dan memaksa Ale menerimanya.
"Hahaha, emang lo siapa nyuruh gue minta maaf. Nggak penting banget," ucap anak remaja itu sambil mengejek Arlo.
Arlo mengepalkan kedua tangannya erat karena ulah cewek itu.
"Lagian ya, butik kecil gini nggak seberapa di banding punya mami gue yang udah gede. Dan kalau lo tetap minta gue minta maaf, gue bakal suruh mami dan papi gue buat beli ini butik kecil. Biar lo semua pada tahu siapa gue!!"
Erina yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu tertawa dengan pongah menyombongkan apa yang di punya orang tuanya.
Arlo tersenyum sinis saat ini begitu juga dengan Valen dan Dean yang baru saja tiba di butik itu.
Valen sudah memandang tajam ke arah Erina karena sejak tadi dia sudah memerhatikan semua yang Erina lakukan dari CCTV butik yang dia ambil sewaktu di jalan tadi.
"Lo cuma bisa ngandelin orang tua lo? Gue jadi penasaran siapa orang tua lo sampai lo bilang lo bisa beli butik milik adik gue!!"
Dari arah pintu masuk nampak Valen berjalan santai dan tenang yang di ikuti Dean di belakangnya. Seketika semua karyawan semakin menunduk
melihat siapa yang datang.
Valen lebih menakutkan dari pada Ale, itu menurut para karyawan yang ada di sana dan itu sudah jelas mereka sangat tahu karena mereka satu pabrik dari seorang Zurra yang terkenal bagaimana sepak terjangnya selama ini.
"Siapa lagi lo ini? Mau keroyokan heh?" ejek Erina pada Valen.
Valen menaikkan sebelah alisnya tapi kemudian dia menyeringai, "Awalnya gue mau Arlo yang selesain semua masalah Ale, tapi sayangnya lo bawa bawa nama kedua orang tua lo yang bahkan lo bilang bisa beli butik ini,"
"Jadi gue cuma penasaran aja, siapa kedua orang tua lo? Gue mau tahu mereka bisa beli butik adik gue atau malah gue yang beli semua apa yang kalian punya termasuk harga diri lo yang nggak seberapa itu!!" sahut Valen mulai menaikkan intonasi suaranya.
Erina tentu saja merasa terhina dan akhirnya dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang tuanya. Dia mengadukan semua yang di alaminya di butik Ale tapi sayangnya semua cerita itu di lebihkan oleh Erina.
Erina sengaja karena dia yakin jika sang mami akan percaya dengan apa yang di katakannya.
Dan tak menunggu lama, ibu dan beberapa temannya datang ke sana dengan wajah yang marah dan juga nampak emosi. Dean dan Arlo yang melihat itu segera memberi kode pada semua anggota mereka yang bertugas menjadi keamanan di sana agar mengkondisikan suasana di butik itu. Di dalam butik pun juga masih ada beberapa pelanggan Ale yang sayang nya tak pernah bisa mengambil video atau gambar kejadian yang ada di butik itu.
"Erina, siapa yang berani bully kamu?"
Erina langsung memasang wajah sedihnya dan dia memeluk sang mama dengan sesenggukan. Valen serta yang lain ingin muntah rasanya melihat apa yang Erina lakukan saat ini. Dean dan Arlo hanya mengawasi apa yang di lakukan Valen saat ini karena sudah jelas setelah ini akan ada keributan yang di buat oleh Valen.
"Mereka, aku di tuduh celakain orang ma, padahal aku di sini mau belanja kan buat keperluan pesta besok." adu Erina pada sang mama.
Yurike yang mendengar aduan Erina berbalik melihat ke arah Valen dan yang lain dan menatap mereka tak suka. Di tambah Yurike melihat semua yang di kenakan Valen adalah barang limited edition yang jarang sekali di jual bebas di pasaran.
Yurike juga melihat sekitar dan nampak ada Dean serta Arlo yang juga memakai pakaian yang sama dengan yang Valen kenakan. Yurike sudah was was dengan apa yang di nilainya tapi demi sang anak dia tak boleh kelihatan takut.
"Kalian berani mengeroyok anak kecil begini? Nggak malu kalian?" tunjuk Yurike pada Valen.
Valen memiringkan kepalanya dan tersenyum mengejek, "Seorang anak remaja masih di bilang anak kecil, pantas saja kelakuannya minus juga otaknya!"
"Lo....!!!"
Erina menunjuk marah pada Valen yang terang terangan menghinanya dan tak terlihat takut pada mamanya meskipun mamanya terlihat berkelas juga memakai barang mewah.
"Nggak usah nunjuk gue karena yang gue katakan itu benar, dan lagi ini yang lo bilang bisa beli butik adik gue? Hahaha, bercanda lo? Semua yang di pakai aja imitasi, bahkan baju yang di pakai juga KW lantas mana yang bisa di pakai buat beli butik adik gue yang harganya milyaran?" ejek Valen pada Yurike.
"Sialan, bagaimana dia tahu apa yang aku kenakan palsu semua?" batin Yurike kesal.
Beberapa teman Yurike menahan tawanya karena akhirnya ada yang bisa mengungkap kebohongan Yurike selama ini dan mematahkan kesombongannya.
"Sayang, bisa lebih cepat nggak? Kamu kan harus masuk kuliah hari ini bareng Arlo."
Dean menegur Valen agar tak terlalu lama bermainnya dan Valen mengangguk setuju karena sebenarnya ini adalah perkara yang mudah baginya.
"Minta maaf sama adik gue? Baru gue bakal lepasin kalian!!!" ucap Valen datar.
"Enak banget, gue nggak mau minta maaf karena gue nggak salah." bantah Erina keras.
Arlo yang memang malas mengurusi lebih panjang lagi akhirnya menekan satu tombol di sana dan nampaklah semua kejadian dari Ale jatuh sampai sekarang mereka berdebat.
"Jadi lo emang sengaja heh? Gimana kalau gue lakuin sesuatu yang sama kayak apa yang lo lakuin pada kembaran gue?"
Valen sudah mendekat dengan wajah marahnya dan Yurike merasa takut dengan apa yang di lakukan Valen pada Erina. Tapi Dean dan Arlo tak tinggal diam juga, mereka menyuruh anggota mereka memegangi Yurike dan membuat Erina berhadapan dengan Valen sendiri. Tanpa banyak bicara lagi Valen menendang kaki Erina dan membuat posisi Erina bertekuk lutut di hadapannya.
"Ini lebih baik, dan gue pastiin nggak akan ada lagi yang cari masalah sama adik gue, hanya karena lo di suruh mama lo buat sabotase butik adek gue!" ucap Valen pelan.
Erina merasa di permainkan dan meradang tapi dia tak bisa berdiri karena Valen menekan kakinya keras.
"Sialan, singkirin kaki lo dari badan gue!!!"
Erina berteriak kencang pada Valen tapi Valen tak menggubrisnya.
Yurike juga tak tinggal diam, tapi suara Dean langsung menghentikan apa yang akan dia lakukan untuk menolong Erina sang putri.
"Hartawan putra yang melakukan banyak korupsi di perusahaan tempat dia kerja, sekarang sudah di gelandang ke kantor polisi. Jadi lebih baik sudahi saja niatmu itu untuk mengacau!!!"
Tubuh Yurike dan Erina langsung lemas mendengar nama orang yang di sebutkan tadi sudah di bawa ke polisi karena Erina tahu sangat apa yang di lakukan papanya selama ini.
"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Yurike di sela rasa kalutnya.
"Putri kembar Altezza dan Zurra!!!"
to be continued...