NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: MAHKOTA CAHAYA DAN TAKHTA DARAH

Dunia tidak lagi mengenal kata tenang. Dalam waktu kurang dari dua belas jam sejak ledakan energi matahari di Seoul, wajah Arkan—pemuda yang selama ini dianggap hanya sebagai murid beasiswa pendiam di SMA Gwangyang—telah terpampang di setiap layar publik di lima benua. Dari papan reklame di Times Square hingga layar pemantau di stasiun luar angkasa, identitas Sang Sovereign bukan lagi sekadar mitos urban. Nama "Arkan" telah menjadi sinonim dengan ketakutan sekaligus harapan yang tak terjangkau.

Di dalam pusat komando WHA di Swiss, suasana terasa seperti pemakaman massal. Jenderal Silas menatap tumpukan data yang menunjukkan bahwa seluruh sistem intelijen mereka telah dikelabui selama setahun penuh oleh seorang remaja yang duduk di barisan belakang kelas.

"Dia ada di depan hidung kita selama ini!" Silas membanting meja, membuat kopi panasnya tumpah ke dokumen rahasia. "Dia mengerjakan tugas matematika sementara bawahannya menghancurkan armada kita! Ini adalah penghinaan terbesar dalam sejarah intelijen manusia!"

Namun, kemarahan Silas tidak ada artinya. Di Korea, SMA Gwangyang telah dipasang garis polisi radius tiga kilometer. Siswa-siswi, termasuk Rian yang kini trauma berat, terus-menerus diinterogasi. Namun satu-satunya orang yang memiliki jawaban nyata hanyalah Liora, dan gadis itu telah menghilang tertelan cahaya bersama Sang Sovereign.

The Blood Fortress – Ruang Meditasi Kristal, Himalaya.

Liora mengerjapkan matanya. Hal pertama yang ia rasakan bukan lagi sakit yang membakar, melainkan kehangatan yang lembut dan aroma bunga lili yang menenangkan. Ia berbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari kristal merah transparan yang berdenyut lembut. Saat ia mencoba duduk, ia menyadari bahwa pakaian sekolahnya yang compang-camping telah digantikan oleh gaun sutra berwarna putih dengan sulaman emas yang berpendar.

"Kau sudah bangun," sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari sudut ruangan.

Arkan berdiri di sana, namun ia tidak lagi memakai kacamata atau hoodie hitamnya. Ia mengenakan zirah Sovereign yang megah, jubah darahnya melambai pelan di lantai obsidian. Matanya merah delima, namun tatapannya pada Liora masih memiliki kelembutan yang sama seperti saat mereka belajar di perpustakaan.

"Arkan... atau Sovereign?" tanya Liora, suaranya sedikit gemetar namun penuh rasa ingin tahu.

Arkan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur kristal itu. Ia memperlihatkan tangannya yang masih memiliki bekas luka bakar emas—sisa dari energi matahari Liora yang ia serap semalam. "Panggil aku Arkan jika itu membuatmu merasa lebih aman. Takhta ini tidak mengubah siapa aku di hadapanmu, Liora."

Liora menyentuh bekas luka di tangan Arkan. "Aku yang melakukan ini... Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku. Rasanya seperti ada matahari yang meledak di dalam dadaku."

"Itu karena kau bukan manusia biasa, Liora," Arkan menjelaskan dengan nada serius. "Darahmu mengandung esensi 'Solar Empress', entitas kuno yang dulunya adalah penyeimbang bagi kekuatanku. Selama ribuan tahun, garis keturunanmu bersembunyi untuk menghindari perburuan Abyss. Namun, cairan yang kuberikan memicu kebangkitan prematur karena kau berada dalam tekanan mental yang besar."

Liora menatap tangannya sendiri. Ia bisa merasakan aliran energi yang sangat panas namun terkendali di bawah kulitnya. "Lalu sekarang apa? Aku tidak bisa kembali ke sekolah, kan? Aku adalah buronan dunia sekarang karena bersamamu."

Arkan berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan dunia dari atas awan. "Dunia yang kau kenal sudah berakhir bagi kita berdua, Liora. Mulai hari ini, kau adalah bagian dari Crimson Eclipse. Kau tidak akan dilatih untuk menjadi prajurit, tapi untuk menjadi penguasa cahaya. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa berdiri di sampingku tanpa hancur oleh auraku."

Proses pelatihan Liora dimulai hari itu juga. Arkan tidak menyerahkannya pada Bastian atau Hana; ia sendiri yang menjadi instruktur Liora. Di aula latihan benteng, Arkan menciptakan sebuah ruang simulasi yang meniru gravitasi dan atmosfer matahari.

"Liora, fokuslah pada titik di tengah dadamu. Jangan mencoba menahan apinya, biarkan ia mengalir seperti air," perintah Arkan.

Liora berdiri di tengah aula, keringat membasahi dahi emasnya. Ia mencoba memanggil cahayanya. Tiba-tiba, ledakan api emas keluar dari telapak tangannya, hampir menghancurkan salah satu pilar penyangga benteng.

"Aku tidak bisa mengendalikannya!" teriak Liora frustrasi.

Arkan muncul di belakangnya dalam sekejap, memegang kedua tangan Liora. "Gunakan darahku sebagai penstabil. Tarik sedikit energi dari Blood-Link yang kubuat di nadimu."

Saat tangan Arkan bersentuhan dengan kulit Liora, terjadi sebuah fenomena yang disebut 'Sanguine Eclipse'. Energi merah Arkan dan energi emas Liora menyatu, menciptakan aura berwarna oranye kemerahan yang sangat indah dan stabil. Liora merasa kekuatannya tidak lagi liar; ia bisa merasakan setiap partikel cahaya yang ia keluarkan.

Bastian dan Hana yang mengintip dari balik pintu aula hanya bisa terpana.

"Tuan akhirnya menemukan pasangannya," bisik Hana. "Lihat bagaimana energi mereka saling melengkapi. Itu adalah pemandangan yang paling mengerikan sekaligus paling indah yang pernah kulihat."

"Jangan hanya menonton, hantu kecil," suara berat Bastian menyadarkannya. "Julian bilang armada Abyss sedang menuju ke sini. Mereka tidak menyukai ide bahwa matahari dan bulan darah bersatu. Kita harus memastikan latihan mereka tidak terganggu."

Malam harinya, Arkan mengajak Liora ke puncak tertinggi benteng. Mereka duduk berdua menatap bintang-bitung yang terasa sangat dekat.

"Arkan, apa kamu tidak menyesal?" tanya Liora tiba-tiba. "Kamu bisa saja tetap menjadi siswa biasa, lulus, dan hidup normal. Kamu mengorbankan segalanya untuk menyelamatkanku semalam."

Arkan menatap langit malam, matanya memantulkan cahaya bintang. "Aku sudah hidup selama ribuan tahun, Liora. Aku sudah melihat ribuan kerajaan runtuh dan jutaan orang mati. Bagiku, gelar 'Sovereign' hanyalah beban yang membosankan. Tapi tahun ini, saat duduk di sampingmu di kelas, saat mendengarkanmu mengomel tentang tugas fisika... aku merasa lebih hidup daripada ribuan tahun sebelumnya."

Arkan menoleh ke arah Liora, tersenyum tipis. "Menyelamatkanmu bukanlah pengorbanan. Itu adalah cara bagiku untuk mempertahankan satu-satunya hal yang membuatku merasa menjadi manusia lagi."

Liora terdiam, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu zirah Arkan yang dingin namun terasa sangat aman. "Kalau begitu, aku akan belajar secepat mungkin. Aku tidak mau hanya menjadi beban yang harus kau selamatkan. Jika kau adalah raja yang dibenci dunia, maka aku akan menjadi ratu yang akan membakar siapa pun yang mencoba menyentuhmu."

Tiba-tiba, Julian muncul melalui proyeksi hologram di depan mereka. Wajahnya tampak sangat tegang.

"Ayah... Maaf mengganggu momen ini. Tapi Seer baru saja memberikan peringatan level merah. 'The Great One' dari Abyss tidak mengirim jenderal kali ini. Dia mengirim 'Abyssal Swarm'—jutaan monster tipe pemakan bintang yang bertujuan untuk menelan seluruh energi matahari yang terpancar dari benteng ini. Mereka akan sampai dalam tiga jam."

Arkan berdiri, jubahnya berkibar dengan aura haus darah yang kembali memuncak. Ia mengulurkan tangannya pada Liora.

"Siap untuk ujian praktik pertamamu, Liora?"

Liora berdiri, matanya berkilat emas putih yang menyilaukan. Ia menggenggam tangan Arkan dengan mantap. "Mari kita tunjukkan pada mereka apa yang terjadi saat matahari sedang marah."

Di atas Pegunungan Himalaya, jutaan portal hitam mulai terbuka di langit, memuntahkan makhluk-makhluk bayangan yang menutupi bulan. Namun, di tengah kegelapan itu, sebuah benteng kristal merah mendadak bersinar dengan cahaya emas yang sangat terang, membelah malam menjadi siang yang membara.

Perang besar pertama antara Crimson Eclipse dan kekuatan penuh Abyss resmi dimulai. Dan kali ini, Sang Sovereign tidak lagi bertarung sendirian.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!