Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: AKADEMI DI ATAS LANGIT
Dunia manusia sedang berada dalam fase transisi yang paling aneh dalam sejarahnya. Pasca kegagalan WHA dan demonstrasi kekuatan Crimson Eclipse di Himalaya, struktur kekuasaan global telah runtuh. Tidak ada lagi negara yang berani mengklaim kepemilikan atas Hunter terkuat mereka. Sebaliknya, jutaan Hunter di seluruh dunia kini menatap ke arah Pegunungan Himalaya dengan penuh damba dan ketakutan. Mereka menginginkan kekuatan yang dimiliki oleh Bastian, Hana, dan yang lainnya. Mereka menginginkan perlindungan dari Sang Sovereign.
Arkan berdiri di balkon utama The Blood Fortress, menatap ke bawah ke arah Kedutaan Besar yang baru saja dibangun. Ia melihat ribuan Hunter dari berbagai negara berkumpul di sana, hanya untuk sekadar menghirup sisa-sisa energi Sanguine yang meluap dari benteng.
"Mereka haus akan kekuatan, Julian," ucap Arkan, suaranya dingin namun penuh rencana.
"Benar, Ayah," Julian muncul di sampingnya dengan daftar data holografik. "Lebih dari sepuluh ribu aplikasi masuk setiap harinya. Mereka ingin menjadi bagian dari kita. Mereka bersedia meninggalkan kewarganegaraan mereka demi menjadi ksatria Anda."
Arkan membetulkan jubah merahnya. "Beri mereka apa yang mereka inginkan. Tapi bukan sebagai bawahan langsung. Kita akan membangun 'Akademi Sanguine'. Kita akan menyeleksi seratus manusia terbaik setiap tahunnya. Kita akan melatih mereka di sini, di bawah pengawasan kita. Jika mereka lulus, mereka akan menjadi tentara elit yang menjaga perbatasan bumi. Jika mereka gagal... darah mereka akan menjadi energi bagi benteng ini."
Proses seleksi dimulai dengan brutal. Arkan tidak menggunakan ujian tertulis atau tes fisik biasa. Ia menggunakan 'Ujian Intimidasi'.
Di kaki gunung, sepuluh ribu Hunter dari Kelas C hingga Kelas S dikumpulkan di sebuah lapangan luas. Tiba-tiba, Arkan melepaskan satu persen dari aura Sovereign-nya ke seluruh area tersebut.
BRAKK!
Sembilan puluh persen dari mereka langsung jatuh pingsan di tempat. Beberapa bahkan mengalami serangan jantung karena tekanan mental yang luar biasa. Hanya tersisa sekitar lima ratus orang yang masih sanggup berdiri dengan lutut gemetar. Di antara mereka, terlihat sosok yang tidak asing: Rian, sang mantan perundung Arkan di sekolah, dan beberapa Hunter dari tim 'Serpent Guard' yang selamat dari Amazon.
"Hanya lima ratus?" Arkan muncul di udara, melayang di atas mereka dengan kemegahan yang membutakan. "Kalian yang masih berdiri... selamat. Kalian telah melewati ujian pertama: bertahan hidup di hadapan Sang Raja."
Liora terbang di samping Arkan, memancarkan cahaya emas yang menenangkan untuk mencegah para peserta itu mati karena ketakutan. "Kalian akan dibawa ke atas. Persiapkan jiwa kalian, karena di sekolah ini, kalian tidak akan belajar dari buku, melainkan dari kematian."
The Blood Fortress – Sektor Akademi, Pukul 15.00.
Bagian timur benteng telah diubah menjadi sebuah kompleks pelatihan yang luar biasa. Ada ruang gravitasi yang dikelola Bastian, labirin bayangan milik Hana, dan taman botani beracun milik Rehan.
Para peserta, termasuk Rian yang kini tampak sangat rendah hati dan penuh ketakutan, menatap sekeliling dengan takjub. Mereka baru saja melihat teknologi dan sihir yang melampaui apa pun yang pernah ada di dunia manusia.
"Dengar, para serangga," Bastian berdiri di depan mereka, memegang palu besar yang terbuat dari kristal gravitasi. "Di sini, tidak ada Kelas S atau Kelas C. Di sini, kalian semua adalah sampah sampai kalian membuktikan bahwa darah kalian layak untuk dialiri sedikit esensi Sovereign."
Latihan hari pertama dimulai. Bastian memaksa mereka melakukan latihan fisik di bawah tekanan gravitasi lima kali lipat bumi. Sementara itu, Hana bergerak di antara mereka, memberikan serangan kejutan yang tidak mematikan namun sangat menyakitkan untuk melatih insting mereka.
Arkan dan Liora mengawasi dari menara pusat.
"Kenapa kamu menerima Rian?" tanya Liora sambil menatap Rian yang sedang bersusah payah merangkak di bawah tekanan gravitasi. "Dia dulu sangat jahat padamu."
Arkan menyesap teh darahnya dengan tenang. "Justru karena itu, Liora. Orang yang pernah berada di puncak kesombongan dan kemudian dihancurkan sampai ke dasar, seringkali memiliki keinginan untuk bangkit yang lebih besar daripada orang biasa. Aku ingin melihat apakah dia bisa mengubah rasa malunya menjadi kekuatan."
Liora tersenyum tipis. "Kamu benar-benar tipe guru yang kejam, Arkan."
Malam harinya, di asrama Akademi.
Rian duduk di tepi tempat tidurnya, seluruh tubuhnya memar dan gemetar. Ia menatap tangannya yang lecet. Ia teringat bagaimana dulu ia meremehkan Arkan. Sekarang, ia menyadari bahwa Arkan bukan hanya lebih kuat, tapi berada di dimensi yang berbeda.
"Aku akan membuktikannya..." bisik Rian. "Aku tidak akan menjadi sampah lagi."
Tiba-tiba, Alice Pendragon masuk ke asrama mereka untuk membagikan jatah 'Sanguine Elixir'. Saat ia sampai di depan Rian, ia berhenti sejenak.
"Jangan pernah berpikir untuk mengkhianatinya lagi, Rian," ucap Alice dengan nada dingin. "Aku sudah melihat apa yang dia lakukan pada kakakku dan pada para Penatua London. Jika kau melakukan satu kesalahan kecil saja... kau bahkan tidak akan punya waktu untuk memohon kematian."
Rian hanya bisa mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi.
Di sisi lain benteng, Arkan sedang melatih Liora secara pribadi. Mereka berada di ruang meditasi matahari. Arkan mencoba mengajarkan Liora cara menyatu dengan 'Sanguine Link' untuk memantau seluruh akademi.
"Tutup matamu, Liora. Rasakan setiap detak jantung para murid di bawah sana. Rasakan aliran darah mereka," perintah Arkan.
Liora memejamkan mata. Seketika, ia bisa merasakan ratusan denyut nadi. Ia bisa merasakan kelelahan Rian, ambisi Hunter lain, dan ketakutan yang tersembunyi.
"Aku bisa merasakannya, Arkan... tapi rasanya sangat berat. Terlalu banyak emosi negatif."
Arkan memegang tangan Liora, memberikan energinya sebagai jangkar. "Itulah tugas seorang penguasa, Liora. Kau harus merangkul semua itu—kebencian, ambisi, dan ketakutan mereka—lalu mengubahnya menjadi loyalitas. Kau adalah matahari yang memberi mereka energi, tapi aku adalah darah yang memastikan mereka tidak meledak karena energi itu."
Tiba-tiba, Elara (Seer) masuk dengan wajah yang sangat serius. "Tuan, ada masalah di sektor perbatasan akademi. Salah satu murid... dia bukan Hunter manusia. Dia adalah mata-mata dari The Great One yang menggunakan teknik penyamaran tingkat transenden. Dia baru saja mencoba mencuri esensi elixir di ruang penyimpanan."
Arkan menyipitkan matanya. "Sepertinya Abyss mulai mengirimkan murid untuk belajar di sekolahku. Menarik."
Arkan berdiri, jubahnya berkobar. "Julian, biarkan dia melarikan diri sejenak. Aku ingin dia membawa 'hadiah' kembali ke tuannya. Aku telah menyuntikkan virus pelacak ke dalam elixir yang dia ambil."
Malam itu, di kedalaman dimensi Abyss, sesosok bayangan yang menyamar kembali ke hadapan 'The Great One'. Ia membawa botol elixir yang ia curi.
"Tuan, ini adalah sumber kekuatan mereka," ucap sang penyusup.
Namun, saat botol itu dibuka, alih-alih energi, justru muncul proyeksi hologram raksasa dari Arkan di tengah-tengah istana Abyss.
"Selamat malam, Penguasa Abyss," suara Arkan bergema di dimensi gelap tersebut. "Terima kasih telah mengirimkan kurir untuk menjemput surat tantanganku. Akademi-ku baru saja dibuka, dan aku butuh beberapa target latihan untuk murid-muridku. Bersiaplah, karena dalam satu tahun, manusia-manusia yang kau anggap ternak ini akan mengetuk gerbangmu dengan tanganku yang memimpin mereka."
Hologram itu meledak, melepaskan gelombang energi Sanguine yang menghancurkan sebagian istana Abyss.
Arkan kembali ke singgasananya di Himalaya, menatap Liora yang menunggunya. "Ujian sekolah sudah selesai, Liora. Sekarang, kita akan memulai kurikulum yang sebenarnya: Penaklukan Total."
Dunia kini bukan lagi tentang pertahanan. Dengan berdirinya Akademi Sanguine, Arkan mulai menciptakan pasukan yang akan mengubah nasib umat manusia selamanya.