"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kunjungan kerumah Sakit
Setelah kepergian Liam ke rumah sakit, suasana di rumah terasa sunyi, namun tidak dengan pikiran Ameera. Gemuruh di dadanya belum sepenuhnya reda. Jiwa Ameera yang berani dan penuh strategi sisi dirinya yang dulu pernah menjadi ratu di pergaulan Jakarta mendadak bangkit kembali. Telepon pagi dari Asena bukan hanya memicu cemburu, tapi juga memicu insting perlindungan seorang istri.
Ameera menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia tidak lagi memakai daster rumahan. Ia memilih gamis berbahan premium silk berwarna hijau zamrud yang elegan, yang jatuh dengan pas di tubuhnya. Ia sengaja tidak memakai outer yang longgar; ia ingin siluet perutnya yang sudah membuncit cantik itu terlihat jelas. Ia memulas wajahnya dengan riasan tipis yang segar, memberikan kesan bumil yang bercahaya dan berkelas.
"Mari kita lihat, sehebat apa Dokter lulusan Jerman itu," bisik Ameera pada dirinya sendiri dengan senyum tipis yang penuh arti.
Lobi rumah sakit yang biasanya formal dan sibuk mendadak terasa sedikit melambat saat Ameera melangkah masuk. Dengan tas tangan branded di lengan dan langkah yang anggun namun tenang, ia menjadi pusat perhatian. Para perawat dan staf administrasi saling berbisik.
"Siapa itu? Cantik sekali, sedang hamil pula," bisik seorang perawat di meja informasi.
Ameera berjalan lurus menuju nurse station di departemen bedah saraf. Ia menanyakan ruangan Liam dengan nada suara yang sangat lembut namun tegas.
"Permisi, apakah Dokter Liam Al-Gazhi ada di ruangannya? Saya ingin bertemu," ucap Ameera sambil tersenyum manis.
Perawat yang berjaga, termasuk Suster Maya yang dulu sering memuja Liam, tertegun. "Oh, Dokter Liam sedang ada di ruangannya, Bu. Tapi biasanya beliau sangat sibuk. Apakah ada janji? Atau Ibu kerabat beliau?"
"Saya ingin berkonsultasi soal pemeriksaan bayi saya," jawab Ameera tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, namun tangannya secara sengaja mengusap perut buncitnya dengan gerakan yang sangat posesif.
Para perawat saling berpandangan. "Ah, mungkin sepupu Dokter Liam," pikir mereka. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Liam yang sangat tertutup itu sudah memiliki istri secantik ini.
Saat Ameera berjalan menuju ruang kerja Liam, ia melihat dari kejauhan seorang wanita berjas dokter sedang berdiri di depan pintu ruangan suaminya. Wanita itu sedang tertawa kecil sambil memegang sebuah berkas, tampak sedang berusaha menahan Liam yang hendak masuk ke ruangan.
Ameera mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan berwibawa.
"Mas Liam," panggil Ameera dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya, namun tetap terdengar manja.
Liam dan Asena serentak menoleh. Mata Liam membelalak tak percaya. Ia segera meninggalkan Asena dan setengah berlari menghampiri Ameera.
"Ameera? Sayang Kenapa kau di sini? Kau naik apa? Kenapa tidak menelepon Mas dulu?" tanya Liam beruntun, nada suaranya penuh dengan kekhawatiran yang nyata. Tangannya langsung merengkuh bahu Ameera, menjaganya agar tidak tersenggol orang yang lewat.
"Tiba-tiba aku rindu, Mas. Dan perutku terasa sedikit kencang, aku ingin Mas yang memeriksa anak kita hari ini," ucap Ameera sambil menatap Liam dengan tatapan yang sangat dalam, lalu perlahan melirik ke arah Asena yang berdiri mematung di belakang mereka.
Asena merasa seperti disambar petir di siang bolong. Ia menatap Ameera dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita di depannya ini bukan hanya cantik, tapi memiliki aura pemilik yang sangat kuat. Dan yang paling menghancurkan ego Asena adalah melihat bagaimana sikap Liam berubah 180 derajat.
Liam, yang biasanya sedingin es dan selalu menundukkan pandangan kepada Asena, kini menatap wanita di depannya dengan binar mata yang begitu memuja.
"Mas, siapa?" tanya Ameera sambil menatap Asena, pura-pura tidak tahu.
Liam segera berbalik, namun tangannya tidak lepas dari pinggang Ameera, menarik istrinya lebih dekat ke sisinya. "Oh, ini Dokter Asena, rekan kerja yang tadi pagi menelepon. Asena, perkenalkan... ini Ameera, istri saya."
Kata istri saya itu menggema di koridor. Beberapa perawat yang berpura-pura lewat langsung berhenti bernapas sejenak. Duar! Gosip paling besar tahun ini akhirnya pecah. Dokter Liam yang selama ini dianggap lajang ternyata sudah memiliki istri yang sedang mengandung anaknya.
Asena mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. "Oh... jadi ini istrinya? Selamat ya, aku tidak tahu kalau kau sudah... berumah tangga," ucap Asena dengan suara yang sedikit bergetar.
"Terima kasih, Dokter Asena," balas Ameera dengan senyum kemenangan. "Maaf ya kalau tadi pagi saya sedikit mengganggu pembicaraan kalian. Saya sedang sensitif, maklum... bayi kami sangat ingin ayahnya selalu fokus pada kami di rumah."
Liam tidak mempedulikan wajah pucat Asena. Ia justru sibuk membetulkan posisi jilbab Ameera yang sedikit miring karena angin. Di depan mata Asena dan seluruh perawat yang menonton, Liam melakukan hal yang tidak pernah mereka bayangkan.
Ia membungkuk sedikit, mencium perut buncit Ameera di depan umum, lalu mengecup kening istrinya dengan sangat lembut.
"Ayo masuk ke dalam, Sayang. Di luar terlalu ramai. Mas akan periksa sendiri kondisi bayinya. Mas tidak akan membiarkan ada yang mengganggu waktu kita, bahkan pekerjaan sekalipun," ucap Liam dengan nada suara yang begitu protektif.
Liam membukakan pintu untuk Ameera, mempersilakannya masuk layaknya seorang ratu, dan sebelum menutup pintu, ia memberikan anggukan sopan namun dingin kepada Asena, isyarat bahwa urusan profesional mereka benar-benar sudah berakhir.
Di koridor, Asena hanya bisa berdiri kaku. Harapannya hancur berkeping-keping. Sementara para perawat hanya bisa berbisik iri, "Ternyata Dokter Liam kalau sudah cinta, bucinnya nggak main-main ya!"
Di dalam ruangan, Ameera tersenyum puas. Jiwa mudanya merasa menang. Ia berhasil menunjukkan pada dunia, dan terutama pada Asena, bahwa meskipun ia pernah tersesat, ia adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat seorang Liam Al-Gazhi bertekuk lutut dalam cinta yang halal.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰