Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chat Pengungkap Pengkhianatan
Deretan jarum pentul berjejer rapi di bantal kecil berbentuk hati, menunggu giliran untuk menancap di kain satin putih gading yang kini membalut tubuh Yumna. Di hadapannya, cermin tiga sisi memantulkan bayangannya, membuat Yumna seolah dikelilingi oleh klon dirinya yang tersenyum malu-malu. Senyum yang merekah di bibirnya tak hanya karena gaun pengantin kebaya modern itu begitu pas melingkupi lekuk tubuhnya, tetapi juga karena sebentar lagi, ia akan sah menjadi Nyonya Desta Kayandra.
“Yumna, angkat sedikit tangan kirinya, Nak,” pinta Bi Sumi, penjahit langganan keluarga Yumna yang tangannya sudah lihai mengukur dan merapikan. Tangannya yang keriput tapi cekatan sibuk meratakan kain di bagian lengan kebaya, memastikan payet-payet mutiara putih tidak terasa gatal atau mengganjal.
Yumna menurut. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan lengan kebaya yang terbuat dari brokat semi-transparan dengan hiasan payet yang berkilauan. Kebaya muslimah modern itu memadukan elegansinya dengan sentuhan syar’i di bagian leher dan dada, namun tetap memperlihatkan keindahan rambut hitam Yumna yang kini digelung rapi untuk fitting. Desainnya anggun, tidak berlebihan, dan Yumna merasa seperti putri dongeng yang siap dijemput pangerannya.
“Cantik sekali, Nak Yumna. Pasti Mas Desta terpesona melihatnya,” puji Bi Sumi, seraya menepuk pelan punggung Yumna.
Yumna tersipu. Bayangan wajah Desta melintas di benaknya. Desta, tunangannya, pria dengan senyum menawan dan karier menjanjikan di perusahaan properti besar, tempat Yumna sendiri bekerja sebagai staf marketing. Cinta mereka bersemi di antara deadline dan target, tumbuh subur di bawah naungan gedung pencakar langit kota metropolitan.
“Semoga saja, Bi,” jawab Yumna, tawanya renyah. Ia membayangkan Desta akan menatapnya dengan mata berbinar di pelaminan, mengucapkan janji suci yang akan mengikat mereka selamanya. Perasaan hangat menjalar di dadanya. Lima hari lagi. Lima hari lagi semuanya akan sempurna.
Selesai fitting, Yumna berganti pakaian. Gaun pengantin itu dengan hati-hati dilipat dan dimasukkan ke dalam kantong kain khusus, siap untuk diambil beberapa hari lagi.
Di luar, langit mulai merona oranye. Yumna melirik jam tangannya. Pukul lima sore. Ia harus segera pulang, membantu Ibu menyiapkan makan malam, lalu mungkin akan menghabiskan malam dengan video call bersama Desta, merencanakan hal-hal kecil untuk hari-H.
Sesampainya di rumah, aroma tumis kangkung dan ikan goreng sudah menyambutnya di dapur. Ibu sedang sibuk menata meja makan, ditemani Ayah yang asyik membaca koran di ruang tamu. Yumna meletakkan tasnya dan langsung bergabung membantu.
“Gimana fitting-nya, Nak? Pas?” tanya Ibu sambil menyendok nasi.
“Pas banget, Bu! Cantik deh kebayanya. Yumna sampai nggak sabar,” jawab Yumna antusias.
Ayah tersenyum dari meja makan. “Semoga lancar sampai hari-H ya, Nak.”
Malam itu, seperti biasa, Yumna menghabiskan waktu dengan Desta. Bukan secara fisik, tentu saja, karena mereka masih dalam ‘masa pingitan’ yang walaupun tidak ketat-ketat amat, tapi membuat mereka rindu setengah mati. Video call adalah solusinya.
“Capek banget, Sayang. Tadi meeting sama klien penting. Untung berhasil dapat proyeknya,” cerita Desta dengan wajah lelah tapi senyum bangga.
“Syukurlah! Kamu memang hebat,” puji Yumna tulus. “Jangan lupa istirahat ya. Lima hari lagi kamu harus ganteng maksimal di pelaminan.”
Desta tertawa. “Tentu saja. Kamu juga harus jaga kesehatan. Nanti kalau sakit pas hari-H, aku bisa batalin nikah lho.”
“Ih, jahat!” Yumna mencubit-cubit pipinya sendiri di layar ponsel, pura-pura kesal. Desta hanya terkekeh. Obrolan mereka berlanjut tentang dekorasi bunga, daftar lagu untuk resepsi, dan impian bulan madu di Bali. Semua terasa indah dan sempurna.
Keesokan harinya, Yumna sibuk membantu keluarga mempersiapkan seserahan dan hal-hal kecil lainnya. Hari ini, ia kembali masuk kantor. Setidaknya sampai besok, ia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting sebelum mengambil cuti panjang.
Pagi itu, suasana kantor cukup ramai. Deadline proyek baru membuat semua orang sibuk di meja masing-masing. Yumna menatap layar komputernya, mengerutkan kening, mencoba memecahkan masalah dalam laporan penjualan. Tiba-tiba, ponsel Desta yang tergeletak di meja sampingnya (Desta duduk di kubikel sebelahnya dan saat itu sedang ke ruangan sebelah) bergetar. Yumna tak sengaja melirik. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar.
Cindy (Bos) : Sayang, nanti siang makan siang di tempat biasa ya. Kangen masakan kamu sih. Tapi lain kali aja kita main di apartemen kamu. Jangan lupa bawain dokumen meeting kita, aku mau revisi sebelum presentasi.
Yumna membaca lagi. Cindy (Bos) . Sayang? Jantung Yumna mencelos. Cindy adalah atasan Desta, dan juga adik angkat dari Evander Sky Moreno, CEO perusahaan mereka yang terkenal dingin dan kejam. Selama ini Yumna tahu Desta memang dekat dengan Cindy karena urusan pekerjaan, tapi kata "Sayang" itu… itu terlalu personal.
Awalnya Yumna mencoba berpikir positif. Mungkin itu kesalahan ketik? Atau Cindy hanya bercanda? Tapi instingnya menjerit tak terima. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Ia menelan ludah. Tangannya gemetar saat diam-diam ia mengambil ponsel Desta. Layar ponsel tidak terkunci. Dengan berani (atau lebih tepatnya, dengan dorongan rasa ingin tahu yang membara dan ketakutan yang mencekik), Yumna membuka aplikasi WhatsApp.
Jantungnya berdebar kencang, seperti genderang yang ditabuh ribuan kali lipat. Matanya menyapu percakapan paling atas. Dan yang ia temukan… lebih buruk dari dugaannya.
Cindy (Bos) : Semalam enak banget ya, Sayang. Aku jadi nggak fokus kerja nih.
Desta: Haha, kamu juga bikin aku lupa diri, Sayang. Kapan-kapan lagi ya. Yang penting jangan ketahuan Yumna aja.
Cindy (Bos) : Tenang aja, dia kan polos. Mana mungkin curiga. Dia lagi berbunga-bunga tuh karena kalian bentar lagi nikah. Lagipula, dia kan cuma staf biasa, masa berani sama aku?
Desta: Betul juga sih. Tapi aku ngerasa bersalah juga, Cindy. Kasihan Yumna. Padahal beberapa hari lagi kami nikah.
Cindy (Bos) : Kasihan? Syukur-syukur kamu mau nikahin dia. Lagian, dia cuma pengalih perhatian aja, kan? Kamu lebih berhak dapat yang lebih baik. Yang selevel, denganku misalnya. Aku cantik, menarik, mapan, dan yang pasti jabatanku jauh lebih bagus dari calon istrimu itu. Pokoknya setelah nikah, kita tetap ketemuan kayak biasa, ya. Aku gak mau diabaikan demi dia."
Desta: Tentu sayang. Itu pasti. I love you, Cindy.
Cindy (Bos) : I love you too, Desta. Sampai ketemu nanti siang.
Dunia Yumna seolah berhenti berputar. Udara di sekitarnya menipis. Otaknya seperti korslet, tidak bisa memproses informasi yang baru saja ia baca. Desta selingkuh. Dengan Cindy. Bosnya sendiri. Dan mereka sudah... sudah melakukan itu. Tidak hanya itu, Desta juga merendahkan Yumna, menganggapnya 'polos' dan 'pengalih perhatian'.
Tangannya melemah. Ponsel di genggamannya terasa semakin berat, seolah seluruh beban hidupnya bertumpu pada benda kecil itu. Pandangannya buram, tulisan-tulisan di layar saling tumpang tindih, tapi kata-kata menyakitkan itu tetap terpatri jelas di kepalanya.
Dadanya terasa sesak. Napasnya tercekat.
Ada sesuatu yang panas merambat dari ujung mata, perih, menekan, tak tertahankan.
Yumna mengedip.
Sekali. Dua kali.
Namun air itu tetap jatuh.
Dan saat itulah Yumna sadar,
air mata pertamanya telah tumpah,
menandai runtuhnya semua yang selama ini ia sebut bahagia.
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...