Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Batas Sang Surya
Suara teriakan Kara yang memanggil nama Aira perlahan-lahan tertelan oleh gemuruh guntur. Di bawah pohon pinus yang menjulang, tubuh tegap itu akhirnya tumbang. Kara terbaring diam di atas lumpur, wajahnya yang pucat menengadah ke langit, membiarkan air hujan membasuh luka dan peluhnya. Sang Matahari telah benar-benar kehabisan apinya.
Aira, yang semula berlari menjauh, tiba-tiba berhenti. Langkahnya tertahan oleh sebuah ikatan batin yang lebih kuat dari rasa takutnya akan kutukan. Ia menoleh ke belakang, ke arah kegelapan yang sunyi. Tidak ada lagi suara teriakan. Tidak ada lagi bunyi ketukan tongkat yang meraba jalan.
"Kara?" bisik Aira parau.
Hening. Hanya ada suara angin yang melolong.
Ketakutan luar biasa menghujam jantung Aira. Ia berbalik, berlari kembali menembus semak-semak yang tajam hingga ia menemukan sosok itu. Aira menjerit histeris melihat Kara yang sudah tak sadarkan diri, badannya mulai membiru karena hipotermia.
"Kara! Bangun! Jangan bercanda, Kara!" Aira memangku kepala Kara, mencoba menggosok tangan laki-laki itu yang sedingin es. "Tolong! Siapa pun, tolong!"
Tak lama, sorot lampu senter membelah kegelapan hutan. Genta dan Kakek Kara muncul dengan napas tersengal-sengal. Mereka menemukan Aira yang sedang mendekap tubuh Kara sambil meraung di tengah hujan.
"Cepat! Angkat ke mobil!" perintah Kakek Kara dengan suara yang bergetar hebat.
Perjalanan kembali ke rumah sakit adalah jam-jam paling menyiksa dalam hidup Aira. Di kursi belakang mobil, ia terus memeluk tubuh Kara yang basah, berusaha memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri yang juga menggigil. Genta mengemudi dengan kecepatan tinggi, menembus kabut dan jalanan yang licin.
Sesampainya di Unit Gawat Darurat (UGD), petugas medis langsung mengerumuni mereka. Tubuh Kara diletakkan di atas brankar dan didorong masuk ke dalam ruang isolasi. Pintu otomatis tertutup, meninggalkan Aira yang berdiri mematung dengan baju yang penuh lumpur dan darah dari luka goresan di tangan Kara.
Ia terjatuh di lantai koridor, menyandarkan punggungnya pada dinding putih yang dingin.
"Ini salahku..." gumam Aira berulang kali. "Harusnya aku tidak membiarkan dia mendekat. Harusnya aku pergi lebih jauh."
Kakek Kara mendekat, duduk di sampingnya dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Beliau tidak marah, tidak juga mengusir. Hanya ada kesedihan yang mendalam di matanya.
"Ini bukan salahmu, Nduk," ujar Kakek lirih. "Ini adalah pilihan Kara. Dia lebih takut kehilangan jiwanya daripada kehilangan raganya. Kamu adalah jiwanya."
Beberapa jam kemudian, dokter keluar dengan raut wajah yang sangat serius. Ia tidak menuju ke arah Aira, melainkan memanggil Kakek dan orang tua Kara yang baru saja tiba dengan wajah kalut.
Aira hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia melihat Ibu Kara menutup mulutnya, lalu jatuh ke pelukan suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Dokter itu terus menjelaskan sesuatu sambil menunjuk hasil pemindaian otak yang baru saja dilakukan.
"Ada penurunan drastis pada fungsi saraf pusatnya," suara dokter itu sayup-sayup terdengar hingga ke telinga Aira. "Bukan hanya saraf optik, tapi sistem degeneratif ini mulai menyerang bagian lain. Kondisi drop di tengah hujan badai tadi mempercepat kerusakan yang seharusnya terjadi dalam hitungan bulan menjadi hitungan jam."
Aira memejamkan mata. Dunia seolah berputar. Diagnosa itu terasa seperti vonis mati. Penyakit yang selama ini bersembunyi di balik tubuh tegap Kara kini bangun sepenuhnya, dipicu oleh kelelahan fisik dan batin yang luar biasa.
Kara tidak hanya buta. Kini, ia sedang berjuang untuk tetap bangun dari kegelapan yang lebih abadi.
**
Lampu neon di koridor rumah sakit berkedip-kedip, seolah ikut merasakan ketidakpastian yang menggantung di udara. Aira masih duduk di tempat yang sama, seragam perawat pantinya kini kering dengan bercak lumpur yang mengeras. Ia tidak dipedulikan oleh orang tua Kara yang sibuk berdiskusi di dalam ruangan dokter, namun ia tetap di sana, menjadi bayangan yang setia menanti kabar.
Pintu ruangan dokter terbuka. Ayah dan Ibu Kara keluar dengan langkah gontai. Ibu Kara tampak lebih tenang, namun ketenangan itu justru terasa lebih menakutkan—ketenangan orang yang baru saja kehilangan harapan.
Kakek Kara yang baru saja kembali dari menebus obat, segera menghampiri dokter. Aira memberanikan diri untuk berdiri dan mendekat, tetap menjaga jarak agar tidak memicu emosi Ibu Kara.
"Dokter, tolong jelaskan yang sebenarnya," pinta sang Kakek.
Dokter itu menghela napas, ia memegang map berisi hasil MRI terbaru. "Kami sudah melakukan evaluasi menyeluruh. Apa yang dialami Abyasa bukan sekadar komplikasi pasca-operasi. Dia menderita Atrofi Saraf Degeneratif yang agresif. Sederhananya, sistem kekebalan tubuhnya perlahan menyerang jaringan sarafnya sendiri."
Jantung Aira seolah berhenti berdetak.
"Kondisi pingsan di bawah hujan badai tadi menyebabkan shock pada sistem sarafnya yang sudah rapuh," lanjut Dokter. "Ini bukan hanya soal penglihatan lagi. Jika degenerasi ini berlanjut ke sistem motorik, dia akan mengalami kesulitan bergerak, kehilangan koordinasi, dan mungkin... fungsi organ lainnya."
"Apa bisa disembuhkan?" tanya Ayah Kara dengan suara serak.
Dokter terdiam sejenak. "Dalam ilmu medis saat ini, kami hanya bisa menghambat progresnya. Tapi untuk kembali normal... kemungkinannya sangat kecil. Kita harus mempersiapkan diri untuk skenario terburuk."
Mendengar kata "skenario terburuk", Ibu Kara menoleh ke arah Aira. Namun, kali ini tidak ada teriakan atau makian. Ia hanya menatap Aira dengan tatapan kosong dan dingin.
"Kamu dengar itu, kan?" bisik Ibu Kara. "Bukan cuma matanya. Sekarang seluruh tubuhnya. Kamu bilang kamu mencintainya, tapi lihat apa yang tersisa dari dia setelah mengenalmu."
Aira tidak menjawab. Kata-kata itu tidak lagi terasa seperti serangan, melainkan sebuah fakta yang menghancurkan jiwanya. Ia merasa "Ain" dalam dirinya bukan lagi sekadar mitos, melainkan monster nyata yang perlahan-lahan memakan hidup Kara dari dalam.
Malam itu, Aira diizinkan masuk ke ruang perawatan karena Kara terus mengigau memanggil namanya di bawah pengaruh obat bius.
Kamar itu sunyi, hanya ada bunyi mesin monitor yang teratur. Kara terbaring dengan berbagai selang yang terhubung ke tubuhnya. Wajahnya yang dulu selalu terlihat cerdas dan penuh wibawa, kini tampak sangat tirus.
Aira duduk di samping ranjang, ia tidak berani menyentuh tangan Kara, takut jika sentuhannya akan mempercepat penyakit itu.
"Kara..." isak Aira pelan. "Kenapa kamu harus seberani itu? Kenapa kamu tidak biarkan aku pergi saja?"
Di dalam tidurnya yang tidak tenang, jari-jari tangan Kara bergerak sedikit. Bibirnya bergumam tanpa suara yang jelas, namun Aira tahu laki-laki itu sedang mencarinya.
Aira menunduk, menyandarkan keningnya di pinggiran ranjang besi. Ia merasa hancur. Ia merasa bahwa cintanya benar-benar telah memadamkan matahari yang paling terang. Jika cinta adalah tentang memberi hidup, maka ia merasa cintanya adalah tentang memberi kematian.
"Aku akan membayarnya, Kara," bisik Aira dengan tekad yang lahir dari keputusasaan. "Jika aku adalah kegelapanmu, aku akan belajar bagaimana caranya agar kegelapan ini tidak membunuhmu. Aku akan mencari cara... meskipun aku harus memohon pada takdir yang paling kejam sekalipun."
Malam itu, di tengah aroma obat-obatan, Aira menyadari bahwa pelariannya telah berakhir. Ia tidak bisa lari lagi. Ia harus menghadapi "monster" dalam dirinya, karena hanya dengan berdamai dengan kutukannya sendiri, ia mungkin bisa menyelamatkan apa yang tersisa dari sang Matahari.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰