NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 - Lingkar yang Sama

...“Tidak semua yang berarti datang dengan pengakuan. Kadang, ia hadir sebagai kebersamaan yang tidak memaksa untuk diberi nama.”...

Happy Reading!

...----------------...

Sejak pagi, hari itu sudah terasa berbeda—bukan karena sesuatu yang istimewa, tapi justru karena terlalu biasa.

Mungkin karena beberapa hari terakhir terasa padat dengan tugas dan rutinitas, sehingga rencana sederhana seperti ini justru terasa seperti jeda yang diam-diam ditunggu. Bukan karena filmnya, bukan juga karena tempatnya—melainkan karena siapa saja yang akan ada di sana.

Tidak ada pesan panjang. Tidak ada janji bertemu lebih dulu. Tidak ada rencana rahasia antara aku dan Raven.

Hanya satu pesan singkat di grup.

“Nonton jadi jam enam. Bioskop biasa.”

Tidak ada emotikon. Tidak ada tambahan penjelasan. Dan anehnya, itu cukup.

Sore itu, Raven menjemputku ke rumah.

Mobilnya sudah terparkir rapi di depan pagar ketika aku keluar. Di dalamnya sudah ada yang lain—Arkan dan Fadly di baris paling belakang, Nara dan Keno di tengah. Suara mereka sudah terdengar bahkan sebelum aku membuka pintu.

Raven duduk di balik kemudi.

Di kursi depan sebelahnya, Nafiz duduk santai, satu tangannya menopang dagu, yang lain sibuk dengan ponsel.

“Sha,” sapa Nara sambil menggeser badannya sedikit agar aku bisa masuk.

Aku duduk di kursi tengah, di antara Nara dan Keno.

Raven menoleh sekilas lewat kaca spion. Tidak lama. Tidak mencolok.

Ia memang jarang menatap lama. Tapi justru karena itu, setiap tatapan singkat darinya terasa seperti kebiasaan yang sudah terbentuk—seolah ia selalu memastikan semua orang baik-baik saja, tanpa perlu menunjukkannya secara terang-terangan.

“Udah?” tanyanya singkat.

“Iya.”

Mobil mulai melaju.

Di kursi depan, Nafiz tiba-tiba bersuara. “Eh Rav, filmnya jangan yang aneh-aneh ya. Gue masih trauma horor kemarin.”

“Makanya jangan sok berani,” jawab Raven datar, matanya tetap fokus ke jalan.

Di belakang, Arkan sudah mulai ribut.

“Gue gamau romance,” katanya.

“Takut baper?” Fadly menyahut.

“Takut bosan.”

Aku hanya tersenyum kecil. Pandanganku tanpa sadar maju ke depan—ke arah Raven. Ia tidak ikut tertawa, tapi sesekali menyela kalau suara di mobil mulai terlalu ramai.

“Udah,” katanya sekali. “Pala gue sakit.”

Ajaibnya, semua langsung agak tenang.

Di lampu merah pertama, Nafiz menoleh ke belakang.

“Sha, lo aman kan di belakang? AC-nya dingin?”

Aku mengangguk. “Iya.”

Tanpa menoleh, Raven menurunkan sedikit AC. Gerakannya cepat. Refleks.

Nara menyenggol lenganku pelan sambil senyum-senyum sendiri. Aku pura-pura tidak sadar.

Sepanjang jalan, obrolan lompat-lompat. Tentang film, tentang sekolah, tentang rencana yang belum tentu jadi. Aku lebih banyak mendengar, tapi tidak merasa tersisih.

Ada kenyamanan aneh ketika berada di tengah mereka. Tidak harus selalu bicara, tidak harus selalu jadi pusat cerita. Cukup hadir, tertawa di waktu yang tepat, dan merasa diterima tanpa perlu berusaha terlalu keras.

Setiap kali aku ikut bicara, Raven selalu merespons—kadang hanya satu kata, kadang anggukan kecil lewat kaca spion.

Di parkiran bioskop, Raven turun lebih dulu. Nafiz ikut turun sambil meregangkan badan.

“Capek nyetir?” tanya Nafiz.

“Biasa.”

Saat aku turun dari mobil, Raven berdiri lebih dekat. Tidak menyentuh, hanya memastikan jarak. Matanya sempat turun ke kakiku.

“Kebesaran?” tanyanya pelan.

“Hm?”

“Sepatunya.”

Aku mengangguk. “Sedikit.”

Raven hanya mengangguk balik. Setelah itu, langkahnya memang tidak berhenti, tapi ritmenya berubah. Sedikit lebih lambat. Seolah tanpa perlu mengatakan apa-apa, ia menyesuaikan kecepatannya dengan langkahku.

Ka Ben dan istrinya datang menyusul dengan motor.

“Wah, rame,” kata Ka Ben sambil tertawa. “Ini baru nonton.”

Di dalam bioskop, posisi duduk kembali diatur. Nafiz di ujung, Arkan dan Fadly bersebelahan, Keno dan Nara di tengah. Kak Ben dan istrinya dikursi barisan depan.

Aku duduk satu kursi dari Raven. Bukan sengaja. Bukan kebetulan.

Lampu meredup. Film dimulai.

“Rav,” bisik Nafiz, “kalau ada jumpscare gue pindah tempat ya.”

“Berisik,” balas Raven.

Aku menahan senyum.

Di tengah film, suara mendadak menggelegar. Aku refleks menegang.

Raven menoleh cepat.

“Tenang,” katanya pelan, hanya untukku. “Bentar lagi lewat.”

Nada suaranya rendah. Stabil.

Seolah ia tidak hanya menonton film, tapi juga memperhatikan reaksiku.

Dan yang membuatku heran, perhatian itu terasa alami. Tidak membuatku canggung, tidak juga membuatku merasa diawasi. Hanya seperti seseorang yang kebetulan selalu tahu kapan harus hadir.

Setelah film selesai, kami berkumpul di luar. Ka Ben dan istrinya pamit lebih dulu.

“Jangan pulang kemaleman,” pesan istrinya.

“Iyaaa,” jawab kami hampir bersamaan.

Dalam perjalanan ke parkiran, aku berjalan sedikit di belakang. Raven menoleh sekali, memastikan jarakku tidak terlalu jauh, lalu memperlambat langkahnya.

Nafiz memperhatikan itu. Ia tersenyum kecil, lalu pura-pura sibuk mengobrol dengan Arkan.

Nafiz memang sering seperti itu—menyadari banyak hal, tapi memilih menyimpannya sebagai lelucon ringan atau sekadar tatapan tahu yang tidak pernah benar-benar ia bahas.

Malam itu tidak diisi pengakuan. Tidak juga pertanyaan. Hanya kebersamaan yang terasa pas.

Di mobil, Nafiz kembali duduk di depan.

“Rav,” katanya sambil menguap, “lain kali gue bawa mobil gue aja. Capek lu nyetir mulu.”

Raven melirik sekilas ke spion tengah—ke arahku.

“Gapapa.”

Tatapan itu singkat.

Di dalam lingkar itu—di tengah tawa dan suara ramai—Raven tidak pernah menjadikanku pusat perhatian.

Ia menjadikanku bagian. Bukan sesuatu yang dipamerkan. Bukan sesuatu yang diumumkan. Tapi terasa jelas—seperti tempat duduk yang selalu tersedia tanpa perlu dipesan.

Dan entah kenapa, itu terasa lebih berarti daripada apa pun yang pernah kuharapkan.

...----------------...

Tidak ada yang benar-benar ingin buru-buru pulang malam itu. Langkah kami menuju tempat makan terasa santai, seperti semua orang sepakat untuk memperpanjang waktu tanpa perlu mengatakannya.

Di tempat makan, kami mengambil dua meja yang digabung. Suasananya ramai, bukan karena musik atau pengunjung lain, tapi karena suara kami sendiri yang saling tumpang tindih.

Arkan langsung membuka menu dan mengeluh.

“Kenapa sih tiap nongkrong harus makan?” katanya. “Abis nonton kan sebenernya udah kenyang.”

“Lu doang,” jawab Nara. “Gue lapar dari tadi.”

Keno mengangguk setuju. “Popcorn bukan makanan berat.”

“Popcorn itu snack,” sahut Fadly.

Aku tertawa pelan, ikut membuka menu. Raven duduk tidak jauh—masih satu meja, tapi tidak tepat di depanku. Posisi yang netral. Aman. Seolah ia sengaja menjaga jarak yang tidak mengundang tafsir berlebihan.

Pelayan datang mencatat pesanan. Satu per satu menyebutkan menu, sampai giliran Raven.

“Sama kayak tadi aja,” katanya singkat.

Pelayan mengangguk.

Aku baru sadar—tanpa banyak bicara, Raven selalu memilih yang praktis. Tidak ribet. Tidak banyak pertimbangan. Tapi selalu konsisten.

Dan tanpa kusadari, konsistensi itu justru membuatnya mudah dikenali. Bukan lewat kata-kata, tapi lewat pola kecil yang selalu berulang.

Saat makanan datang, suasana kembali cair. Nafiz sibuk mengomentari film barusan, lengkap dengan ekspresi dramatis yang membuat Arkan tertawa terbahak.

“Lu kalau jadi aktor figuran horor cocok,” kata Arkan.

“Banget,” sahut Fadly. “Figuran yang mati duluan.”

Nafiz mendengus tidak terima.

Aku makan pelan, lebih banyak mendengar. Sesekali menimpali kalau pembicaraan mengarah ke aku. Dan setiap kali itu terjadi, Raven selalu menoleh. Tidak lama. Tidak intens. Hanya cukup untuk memastikan aku masih ada di ritme yang sama.

Di tengah makan, aku hampir menjatuhkan sendokku. Tanganku refleks meraih, tapi terlambat.

Raven lebih cepat.

Sendok itu berhenti di tangannya, sebelum benar-benar jatuh ke lantai.

“Ini,” katanya sambil meletakkannya kembali di atas piringku.

Sederhana. Tanpa reaksi lanjutan.

“Thanks,” kataku.

Ia mengangguk. Kembali ke makanannya.

Tidak ada yang menyorot. Tidak ada yang menggoda. Seolah itu hal paling normal di dunia. Padahal, hal-hal kecil seperti itu sering kali justru yang paling lama tinggal di ingatan.

Setelah makan, kami kembali ke parkiran. Udara malam lebih dingin, tapi tidak menusuk. Lampu-lampu jalan membuat bayangan kami memanjang di aspal.

Aku berjalan sejajar dengan Nara. Di depan, Raven dan Nafiz berdampingan. Nafiz bicara panjang lebar tentang rencana liburan yang entah kapan terealisasi.

Raven hanya sesekali menanggapi.

“Ngaco,” katanya satu kali.

Nafiz tertawa sendiri.

Di perjalanan pulang, suasana lebih tenang. Keno tertidur setengah, kepalanya bersandar ke jendela. Arkan dan Fadly sibuk dengan ponsel masing-masing. Nara memainkan playlist pelan—lagu-lagu yang tidak menuntut untuk dinyanyikan bersama.

Lagu-lagu itu hanya mengisi ruang di antara percakapan yang mulai mereda, menciptakan suasana tenang yang membuat malam terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap lampu-lampu yang lewat.

Raven tetap fokus menyetir.

Di satu titik, mobil sedikit mengerem mendadak karena kendaraan di depan. Aku refleks memegang kursi.

“Sorry,” kata Raven cepat.

“Nggak apa-apa,” jawabku.

Ia mengangguk, lalu kembali ke ritmenya.

Sampai di depan rumahku, Raven memarkir mobil dengan rapi.

“Sha, duluan,” kata Nafiz dari depan.

“Iya,” kataku sambil membuka pintu.

Saat aku turun, Raven ikut turun sebentar. Bukan untuk mengantar sampai pintu. Hanya berdiri di dekat mobil, memastikan aku aman masuk pagar.

“Hati-hati,” kataku singkat.

“Iya.”

Aku melangkah masuk, lalu menoleh sekali. Raven sudah kembali ke kursinya.

Mobil itu melaju pergi.

Di dalam rumah, aku duduk sebentar sebelum benar-benar masuk kamar. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada notifikasi baru.

Dan anehnya, aku tidak menunggu apa pun.

Malam itu terasa penuh, meski tidak diisi hal besar.

Tidak ada yang berubah secara status. Tidak ada yang diumumkan. Tidak ada yang dimiliki.

Tapi aku tahu satu hal—

Kebersamaan tidak selalu harus dirayakan dengan momen besar. Kadang, ia tumbuh diam-diam dari hal-hal sederhana yang terus berulang.

Di antara banyak orang, di tengah lingkar yang ramai, aku tidak pernah dibuat merasa sendirian.

Dan untuk saat itu, itu sudah lebih dari cukup.

...----------------...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!