NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.Membuat perhitungan.

Kuil di Desa Ying berdiri di atas tanah paling tinggi.

Bukan karena dibangun megah.

Melainkan karena orang-orang percaya dewa lebih mudah turun ke tempat yang lebih dekat dengan langit.

Tangga batunya panjang, sempit, dan selalu lembap oleh lumut. Di kanan-kiri, pohon cemara tua berdiri seperti penjaga sunyi, menghalangi angin desa naik terlalu jauh.

Yun Lan menapaki tangga itu tanpa ragu.

Kakinya yang gemuk biasanya akan cepat lelah di anak tangga ke tiga puluh.

Hari ini, napasnya stabil.

Langkahnya ringan.

Dan yang paling aneh—dadanya terasa hangat.

Bukan hangat karena emosi.

Tapi seperti ada bara kecil menyala di dalam tulang rusuknya.

Ia tidak mengerti.

Namun ia tidak berhenti.

Di kehidupan sebelumnya, ia naik tangga ini dengan tangan terikat.

Didorong.

Diseret.

Ditangisi ibunya.

Ditonton penduduk desa seperti menonton upacara perayaan.

Hari ini, ia naik dengan kakinya sendiri.

Tidak ada yang mengawal.

Tidak ada yang tahu.

Hanya suara burung dan gesekan kain bajunya.

Di puncak tangga, gerbang kayu kuil berdiri tinggi dan berat. Ukiran awan dan naga menghiasinya, cat merahnya mulai mengelupas karena usia.

Dulu, pintu ini terasa seperti gerbang kematian.

Sekarang, Yun Lan memandangnya dengan dingin.

Pendeta itu ada di dalam.

Pria tua yang di kehidupan sebelumnya berbicara paling keras tentang “kehendak dewa”.

Pria yang menunjuknya di tengah kerumunan dan berkata, “Gadis ini dipilih.”

Pria yang memimpin ritual pembakaran.

Jarinya mengepal.

Tanpa berpikir panjang, Yun Lan mendorong pintu itu.

BRAK!

Suara kayu berat terbanting ke dinding dalam dengan dentuman keras yang menggema ke seluruh ruangan.

Burung-burung di atap kuil terbang panik.

Debu kayu berjatuhan dari langit-langit.

Dan dengan mudahnya pintu kuil yang besar itu rusak begitu saja sekali dorongan.

Yun Lan membeku.

Ia menatap tangannya sendiri.

Baru saja… ia mendobrak pintu kuil yang biasanya harus dibuka dua orang dewasa.

Ia menelan ludah.

“Ini…”

Di dalam, aroma dupa tebal memenuhi udara.

Seorang pria tua berjubah abu-abu sedang bersila di depan altar, mata terpejam, jari membentuk mudra meditasi.

Dentuman pintu membuat matanya terbuka lebar.

Pendeta itu menoleh.

Dan membeku.

Seorang anak perempuan gemuk berdiri di ambang pintu, napas tenang, mata gelap menatap lurus ke arahnya.

Namun entah kenapa—

tubuh pendeta itu merinding.

Bukan karena ia mengenali Yun Lan.

Melainkan karena ia merasakan sesuatu yang salah.

Sangat salah.

“L-Lan’er?” suaranya goyah. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Yun Lan melangkah masuk.

Pelan.

Langkahnya menggema di lantai kayu kuil.

Tok.

Tok.

Tok.

Setiap langkah seperti menghantam jantung pendeta itu.

Yun Lan berhenti di tengah ruangan.

Matanya menyapu altar.

Tempat ia dulu diikat.

Tempat kayu bakar ditumpuk.

Tempat orang-orang berlutut memohon panen baik sambil membakar hidupnya.

Dadanya bergetar.

Bukan karena takut.

Karena marah yang terlalu lama terpendam.

“Kau ingat aku?” tanya Yun Lan pelan.

Pendeta itu berkedip cepat. “Tentu saja. Anak keluarga Li. Kenapa kau datang sendirian?”

Yun Lan tertawa kecil.

Tawa yang tidak terdengar seperti anak sebelas tahun.

“Kau tidak ingat,” gumamnya.

“Apa yang harus kuingat?”

Yun Lan mengangkat wajahnya.

Matanya yang biasanya bulat dan lembut kini terlihat tajam, terlalu tajam untuk anak seusianya.

“Aku datang untuk menagih hutang.”

Pendeta itu tertawa canggung. “Hutang? Keluargamu tidak pernah berhutang pada kuil—”

BRAK!

Yun Lan menghantam meja kayu kecil di sampingnya hanya dengan telapak tangan.

Meja itu retak.

Retak dari tengah seperti dipukul palu besi.

Pendeta itu tersentak berdiri.

Wajahnya pucat seketika.

Yun Lan sendiri menatap tangannya kaget.

Ia tidak bermaksud menghancurkan meja.

Ia hanya… marah.

Dan meja itu pecah begitu saja.

Bara di dadanya terasa menyala lebih besar.

Hangat.

Mengalir ke lengan.

Pendeta itu mundur satu langkah.

“Apa… apa ini…”

Yun Lan mengangkat kepalanya pelan.

Di dalam pikirannya, kenangan itu datang seperti banjir.

Suara pendeta ini.

Teriakannya di tengah desa.

“Dewa Yun menuntut pengorbanan!”

“Gadis ini dipilih!”

“Kalau tidak, musim dingin akan membunuh kita semua!”

Yun Lan menggertakkan gigi.

“Kau menjualku,” katanya lirih.

Pendeta itu menggeleng cepat. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!”

“Kau menunjukku.”

“Aku tidak pernah—”

Yun Lan melangkah lagi.

Setiap langkah membuat lantai kayu berderit keras.

Pendeta itu kini benar-benar ketakutan.

Bukan karena kata-kata Yun Lan.

Karena aura yang tidak bisa ia jelaskan.

Seperti berdiri di depan jurang yang dalam tanpa tahu seberapa dalamnya.

“A-Apa yang kau inginkan?” suaranya bergetar.

Yun Lan berhenti tepat dua langkah di depannya.

Ia lebih pendek.

Jauh lebih kecil.

Namun pendeta itu merasa seperti berdiri di bawah bayangan gunung.

“Kau tahu apa yang paling lucu?” bisik Yun Lan.

Pendeta menelan ludah.“Ak... aku tidak tahu. ”

“Kau sendiri tidak tahu kesalahanmu.”

Pendeta itu gemetar. “Kalau aku salah, aku minta maaf! Tapi aku benar-benar tidak tahu!”

Yun Lan menatapnya lama.

Ia tahu.

Pendeta ini di kehidupan sebelumnya bukan jahat.

Ia bodoh.

Ia takut.

Ia percaya takhayul lebih dari akal.

Dan karena kebodohannya, ia menyerahkan seorang anak ke api.

Itulah yang membuatnya lebih sulit dimaafkan.

Yun Lan mengangkat tangannya.

Pendeta itu langsung berlutut.

“Ampun! Ampun! Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tolong jangan sakiti aku!”

Tangannya gemetar, dahinya menyentuh lantai.

Yun Lan memandangi pria tua itu.

Bara di dadanya berdenyut pelan.

Ia bisa merasakan—

kalau ia mau, ia bisa mematahkan tulang pria ini dengan mudah.

Kekuatan itu nyata.

Mengalir di nadinya.

Sesuatu yang ia bawa dari kematian.

Namun Yun Lan menahan diri.

Ia tidak datang untuk membunuh.

Ia datang untuk mengubah.

“Kau akan mendengar baik-baik,” katanya pelan.

Pendeta itu mengangguk cepat tanpa berani mengangkat kepala.

“Empat tahun dari sekarang,jika aku dengar kamu akan memilih warga desa untuk melakukan pengorbanan.Maka sebelum warga desa menjadi korban,kepalamu itu akan aku putus dan ku berikan kepada dewa agung mu.”

Pendeta itu membeku.

Yun Lan melanjutkan, suaranya tenang seperti menceritakan cuaca.

“Jika aku dengar kamu memerintahkan warga desa untuk percaya dengan takhayul mu itu, bukan empat tahun lagi.Sekarang juga aku korbankan kepalamu itu untuk dewa mu.”

Keringat dingin mengalir di pelipis pendeta.

“Aku tidak pernah—”

“Ingat pesan ku,” potong Yun Lan.

Sunyi.

Hanya suara dupa terbakar.

“Dan mulai hari ini,” lanjut Yun Lan pelan, “kau tidak akan pernah lagi berbicara tentang pengorbanan manusia.”

Pendeta itu mengangguk cepat. “Iya! Iya! Aku janji!”

“Kau akan mengatakan pada orang-orang bahwa Dewa Yun tidak pernah meminta nyawa manusia.”

“Iya! Iya!”

“Kau akan menyebarkan itu. Pelan-pelan. Setiap doa. Setiap khotbah.”

Pendeta itu mengangguk sampai dahinya hampir memar.

Yun Lan menatapnya tajam.

“Karena kalau empat tahun lagi kau berani mengucapkan satu kata pun tentang pengorbanan…”

Ia berhenti.

Tidak mengancam.

Tidak perlu.

Pendeta itu sudah gemetar seperti daun.

“Aku mengerti! Aku mengerti!”

Yun Lan mundur satu langkah.

Dadanya masih hangat.

Namun kemarahannya mulai mereda.

Ia sadar satu hal penting.

Takdir bukan hanya soal dewa.

Takdir juga soal manusia bodoh yang mempercayainya.

Dan hari ini, ia memotong akar kebodohan itu.

Ia menoleh ke altar sekali lagi.

Lalu berjalan keluar.

Pendeta itu masih bersujud, tidak berani bergerak.

Saat Yun Lan melewati pintu besar, angin gunung berembus masuk, meniup dupa hingga asapnya kacau.

Yun Lan berhenti sebentar.

Ia menatap tangannya lagi.

Kekuatan itu masih ada.

Tenang.

Terkendali.

“Apa ini hadiah dari kematian…” gumamnya pelan.

Angin menjawab dengan sunyi.

Namun jauh, sangat jauh di perbatasan utara—

seorang pria bernama Xin Hong Lin tiba-tiba menoleh ke arah selatan tanpa tahu kenapa.

Seolah sesuatu baru saja berubah di dunia.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!