NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 tangan penghancur bintang dan percikan di ibu kota

Suasana di Lantai Bawah Tanah Kedua jauh lebih mencekam daripada perpustakaan di atasnya. Jika lantai pertama adalah kumpulan memori dalam bentuk kertas, maka lantai kedua ini adalah kuburan bagi keinginan yang tak terpenuhi. Senjata-senjata yang tergantung di dinding batu atau tergeletak di dalam peti kaca yang retak masih memancarkan aura haus darah, seolah-olah mereka masih menunggu tuan mereka kembali dari kematian.

Xing Shenyuan berjalan perlahan, langkah kakinya menggema pelan. Di bawah jubah hitamnya, Zirah Bayangan Bintang yang baru saja ia perbaiki sebagian terasa dingin di kulitnya, memberikan sensasi perlindungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia berhenti di depan sebuah pilar batu tunggal yang berada di tengah ruangan. Di atas pilar itu, terdapat sebuah lempengan logam yang tidak memiliki tulisan, melainkan cetakan telapak tangan manusia yang sangat dalam.

"Arsip Terlupakan bukan hanya soal barang, tapi juga soal warisan fisik," gumam Shenyuan.

Ia memanggil sistemnya untuk melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas keselamatannya.

> [Sistem Login Harian Makam Bintang]

> [Lokasi: Pilar Warisan (Lantai Bawah Tanah Kedua)]

> [Status: Siap untuk Check-in.]

>

"Login."

> [Ding! Check-in berhasil!]

> [Selamat, Tuan mendapatkan: "Cairan Pemurni Sumsum Naga" (x1 Botol) dan "Pencerahan Instan: Teknik Tangan Penghancur Bintang" (Tingkat Dasar).]

> [Catatan: Pencerahan Instan hanya memberikan pemahaman teoretis. Keberhasilan fisik tergantung pada densitas Inti Emas pengguna.]

>

Mata Shenyuan sedikit melebar. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pencerahan teknik secara langsung. Detik berikutnya, arus informasi yang sangat padat membanjiri benaknya. Gambar-gambar tentang aliran Qi yang terpusat pada satu titik di telapak tangan, getaran energi yang mampu meretakkan atom, dan filosofi tentang bagaimana bintang-bintang runtuh ke dalam dirinya sendiri sebelum meledak.

Shenyuan menarik napas panjang, menahan rasa pening di kepalanya. Ia menatap telapak tangan kanannya.

"Tangan Penghancur Bintang... teknik ini tidak membutuhkan pedang atau senjata. Senjatanya adalah densitas energi itu sendiri."

Ia menempelkan telapak tangannya ke cetakan di pilar batu. Perlahan, ia mulai menyalurkan Qi ungu dari Inti Emas Sempurna-nya. Jika sebelumnya energinya seperti air yang mengalir, kini ia memaksanya menjadi seperti logam cair yang berat.

Wuuuunnggg—

Pilar batu itu mulai bergetar. Cahaya ungu merambat dari tangan Shenyuan ke seluruh permukaan pilar.

Di Balik Tembok Ibu Kota: Langkah Pertama Su Yan

Sementara Shenyuan bergulat dengan teknik kuno, Su Yan telah menginjakkan kakinya di Distrik Giok, area perdagangan paling mewah di Ibu Kota Kekaisaran Bintang Agung.

Ia telah menyewa sebuah bangunan tua berlantai dua yang dulunya adalah toko sutra. Dengan efisiensi yang menakutkan, ia mengubah tempat itu menjadi Paviliun Seratus Herbal. Namun, ia tidak menjual ramuan umum. Di etalase utama, ia hanya memajang botol-botol giok kosong dengan label harga yang membuat para pedagang kaya mengerutkan kening.

Su Yan duduk di balik tirai bambu di lantai dua, menyesap teh melati sambil menatap kerumunan di bawah. Ia mengenakan cadar tipis yang hanya memperlihatkan matanya yang tajam dan misterius.

"Nona, ada tamu di bawah," lapor seorang pelayan yang ia sewa—seorang yatim piatu yang ia selamatkan dari jalanan hanya beberapa jam setelah ia tiba. "Dia mengaku sebagai pelayan dari kediaman Pangeran Ketiga, Xing Feng."

Su Yan tersenyum di balik cadarnya. Pangeran Ketiga. Saudara tiri Shenyuan yang paling ambisius namun memiliki bakat yang pas-pasan. Target yang sempurna.

"Biarkan dia menunggu sepuluh menit," ucap Su Yan tenang. "Berikan dia teh kualitas terendah kita. Jika dia mengeluh, katakan bahwa Paviliun Seratus Herbal hanya memberikan yang terbaik bagi mereka yang mengerti nilai, bukan bagi mereka yang hanya membawa nama besar."

Strategi ini berisiko, namun Su Yan tahu bahwa di Ibu Kota, kesombongan adalah mata uang. Jika ia terlihat terlalu mudah didekati, ia hanya akan menjadi mainan para bangsawan. Namun jika ia terlihat tinggi dan misterius, mereka akan merangkak untuk mendapatkan perhatiannya.

Sepuluh menit kemudian, Su Yan turun. Seorang pria paruh baya dengan pakaian pelayan mewah tampak marah, wajahnya merah padam karena merasa dihina.

"Beraninya kau memperlakukan utusan Pangeran Ketiga seperti ini?!" terur pria itu saat melihat Su Yan.

Su Yan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meletakkan sebuah botol kecil di meja kayu di depan pria itu. Ia membuka tutupnya sekejap, melepaskan aroma Pil Pemurni Jiwa yang ia racik di makam.

Aroma itu begitu murni hingga udara di ruangan itu terasa menjadi lebih segar seketika. Kemarahan pelayan itu membeku, digantikan oleh ketamakan yang nyata di matanya.

"Ini..."

"Katakan pada Pangeran Ketiga," suara Su Yan rendah dan merdu, namun membawa otoritas yang dingin. "Jika dia ingin sembuh dari hambatan meridian yang dideritanya sejak dua tahun lalu akibat salah latihan, datanglah sendiri besok malam. Bawa informasi tentang pergerakan penjaga di perbatasan utara, atau pil ini tidak akan pernah menyentuh tangannya."

Tanpa menunggu jawaban, Su Yan berbalik dan naik kembali ke lantai atas. Ia tahu pelayan itu akan segera berlari kembali ke istana. Benih pertama telah ditanam.

Latihan yang Menghancurkan

Kembali di Lantai Bawah Tanah Kedua, keringat membanjiri tubuh Xing Shenyuan. Pikirannya hampir meledak karena mencoba mempertahankan kepadatan Qi yang dibutuhkan untuk Tangan Penghancur Bintang.

Brak!

Pilar batu warisan itu tidak hancur, namun sebuah retakan halus muncul tepat di tengah cetakan telapak tangan. Bagi pilar yang telah berdiri ribuan tahun dan didesain untuk menahan serangan ahli Jiwa Baru Lahir, ini adalah pencapaian yang gila bagi seorang kultivator Inti Emas.

Shenyuan menarik tangannya, napasnya memburu. Tangannya terasa panas, seolah-olah darahnya telah berubah menjadi api.

"Masih terlalu lambat," gerutunya. "Aku butuh waktu tiga detik untuk memadatkan energinya. Dalam pertempuran sungguhan, tiga detik adalah kematian."

Ia mengeluarkan Cairan Pemurni Sumsum Naga yang ia dapatkan dari sistem. Tanpa ragu, ia meminum cairan itu. Seketika, rasa dingin yang ekstrem menyerang tulang-tulangnya, menetralisir panas dari latihan sebelumnya. Ia merasa sumsum tulangnya diperkuat, membuat kerangka tubuhnya mampu menahan beban energi yang lebih besar lagi.

Tiba-tiba, ia merasakan getaran melalui formasi makam. Seseorang atau sesuatu sedang mendekati perbatasan luar makam.

Penjaga Kecil di Tengah Kabut

Lin Xiaoyue berdiri di depan gerbang batu yang menuju ke area bawah tanah. Tangannya memegang busur kayu hitam—bukan busur biasa, tapi busur yang telah ia modifikasi dengan energi api feniksnya.

Di kejauhan, di antara kabut tebal, ia melihat tiga bayangan bergerak dengan sangat hati-hati. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna abu-abu, khas mata-mata dari Departemen Bayangan Kekaisaran.

"Guru bilang tidak boleh ada yang lewat," bisik Xiaoyue pada dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, namun matanya tetap fokus.

Ia tidak segera menyerang. Ia menunggu mereka masuk ke dalam zona jebakan yang telah ia siapkan bersama Shenyuan. Saat mata-mata pertama menginjak sebuah batu nisan yang tampak miring, Xiaoyue menarik tali busurnya.

"Api Biru: Panah Pembeku Roh!"

Siuuuuu—

Panah yang terbuat dari api biru jernih meluncur tanpa suara. Begitu panah itu mendarat di depan kaki para mata-mata, api itu tidak meledak, melainkan menyebar seperti jaring es di tanah, membekukan pergerakan mereka seketika.

"Ada penjaga! Cepat mundur!" teriak salah satu mata-mata.

Namun, mereka sudah terlambat. Xiaoyue muncul dari balik kabut, dikelilingi oleh lingkaran api biru yang memancarkan suhu panas sekaligus dingin yang aneh.

"Kalian masuk ke tempat yang salah," ucap Xiaoyue dengan nada yang meniru dinginnya Su Yan. Meskipun ia masih muda, aura yang dipancarkannya kini memiliki berat yang tidak bisa diabaikan.

Satu mata-mata mencoba melepaskan diri dan menyerang dengan belati beracun, namun sebelum ia sempat bergerak dua langkah, sebuah tekanan masif jatuh dari langit, membuat mereka bertiga tersungkur ke tanah, muntah darah.

Shenyuan telah tiba.

Ia berjalan keluar dari kegelapan lorong bawah tanah, jubah hitamnya berkibar pelan. Zirah Bayangan Bintang di balik pakaiannya membuat sosoknya terlihat seperti hantu yang nyata.

"Guru!" Xiaoyue menoleh, wajahnya kembali menjadi ceria seketika. "Aku menangkap mereka!"

Shenyuan mengangguk pelan, matanya menatap dingin ke arah ketiga mata-mata yang gemetar. "Kerja bagus, Xiaoyue. Tapi kau terlalu banyak bicara. Musuh yang sudah masuk ke area ini tidak butuh peringatan, mereka butuh tujuan akhir."

Shenyuan mengangkat tangan kanannya. Cahaya ungu mulai berkumpul di telapak tangannya. Ia tidak menggunakan teknik penuh, hanya sebagian kecil dari Tangan Penghancur Bintang.

Ia menekankan telapak tangannya ke udara kosong di arah para mata-mata.

BOOM!

Bukan ledakan api, melainkan gelombang kejut transparan yang meratakan area di depan mereka. Ketiga mata-mata itu tidak sempat berteriak saat tubuh mereka hancur menjadi debu organik dalam sekejap, diserap langsung oleh tanah makam untuk dijadikan nutrisi formasi.

Xiaoyue menelan ludah. "Guru... teknik apa itu?"

"Sesuatu yang akan memastikan tidak ada lagi yang berani mengintip ke rumah kita," jawab Shenyuan. Ia menatap ke arah selatan, ke arah Ibu Kota. "Su Yan sudah mulai bergerak. Kita juga harus mempercepat persiapan kita. Lantai bawah tanah kedua masih menyimpan banyak hal, dan aku butuh kau untuk naik ke ranah berikutnya, Xiaoyue."

Shenyuan menyerahkan sebuah botol pil kepada Xiaoyue. "Masuklah ke meditasi terdalam. Aku akan menjaga gerbang sendiri untuk beberapa hari ke depan."

Penutup Bab

Malam itu, di Ibu Kota, Pangeran Ketiga Xing Feng tidak bisa tidur. Ia menatap laporan dari pelayannya tentang "wanita misterius" di Paviliun Seratus Herbal. Di tangannya, selembar kertas informasi tentang penjaga perbatasan utara sudah siap.

"Jika dia benar-benar bisa menyembuhkan meridianku," bisik Xing Feng dengan mata berkilat gelap, "aku tidak peduli siapa dia atau siapa yang dia wakili. Aku akan memberinya apa pun."

Tanpa ia sadari, ia telah menjadi pion pertama yang digerakkan oleh Xing Shenyuan dari jauh, di dalam kegelapan makam yang dingin.

[Status Sistem:]

 * Kultivasi: Puncak Inti Emas (Sempurna).

 * Teknik Baru: Tangan Penghancur Bintang (Pemahaman 20%).

 * Energi Kematian: 500 Unit (Bertambah dari penyerapan mata-mata).

 * Misi Berjalan: Operasi "Catur Ibu Kota" (Su Yan).

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!