Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23 — PEMIMPIN WANGGUAN YANG BARU
Sementara itu, di jalanan.
Xiu Zhu berjalan. Sendirian. Tanpa Kenzo. Untuk pertama kalinya sejak tiba. Untuk pertama kalinya merasa telanjang.
Kota ini aneh.
Bukan aneh biasa.
Tapi aneh yang sengaja dibuat.
Setiap bangunan adalah tempat judi.
Setiap sudut adalah club malam.
Tak ada toko roti.
Tak ada sekolah.
Hanya hiburan.
Hanya kesenangan.
Hanya kehancuran yang dibungkus lampu neon.
("Jangan-jangan mereka punya orang di pemerintahan.")
("Yang membantu mendirikan kota Bai Ma.")
("Yang membuat semua ini legal. Di atas kertas. Di bawah meja.")Pikir Xiu Zhu dalam hati.
Kaki nya melangkah menyusuri setiap sudut tenang Mencari dan Mengintai
Menunggu kesalahan.
Di pinggiran. Sebuah bar. Tua. Rusak. Papan nama pudar. Tapi truk mewah di belakang. Truk militer. Warna hijau tua. Plat nomor dicoret. Seperti wajah yang disembunyikan. Seperti kejahatan yang pura-pura jadi tentara.
Xiu Zhu mendekat. Perlahan. Di balik tong sampah. Di balik bayangan. Di balik apa pun yang bisa menyembunyikan.
Pintu truk terbuka.
Beberapa pria dengan Seragam militer.
Bukan militer sungguhan tetapi pura-pura. Anggota badut.
Penjahat dengan seragam.
Mengangkut sesuatu. Dari bar. Ke truk.
Bukan barang.
Gadis.
Muda. Tiga orang. Pakaian robek. Mulut disumpal. Mata terbuka lebar. Takut. Seperti hewan yang akan disembelih. Seperti produk. Seperti barang.
Xiu Zhu mengeluarkan ponsel. Rekam. Diam-diam. Tangan bergetar. Bukan karena takut. Tapi karena marah. Karena ingin membunuh. Karena ingin menghancurkan semua ini.
"Ini bukti."
"Bukti kejahatan Hong Feng."
"Bukti yang kita cari."
Tapi sebelum selesai.
Sesuatu di belakang. Bayangan. Napas. Bau parfum mahal dan keringat. Bau yang familiar. Bau dari rapat tadi.
Cao Xiu.
Tangan naik. Ke belakang kepala. Cepat. Tanpa suara. Tanpa ampun.
BRAAKKK!!!
Xiu Zhu terjatuh. Ponsel terlepas. Dunia gelap. Sebelum sempat berteriak. Sebelum sempat melawan. Sebelum sempat jadi pahlawan.
Cao Xiu berdiri. Melihat tubuh di lantai. Senyum tipis. Bukan senyum gembira. Tapi senyum dendam. Senyum kemenangan. Senyum orang yang akhirnya bisa balas.
"Dasar perempuan sialan."
"Kau pikir kau bisa mengintai kami?"
"Kau pikir kau bisa mengalahkan kami?"
Dia mengangkat tubuh Xiu Zhu. Seperti karung. Seperti sampah. Membawanya ke dalam bar.
Pintu tertutup.
Jalan kembali sunyi.
Sementara itu, Kenzo.
Di Wangguan. Club malam. Pusat kota. Tempat Michel Tang dulu berkuasa. Tempat Kenzo sekarang akan berkuasa. Atau akan mati.
Ponsel di tangan. Ditekan. Lagi. Lagi.
Tak ada jawaban.
Hanya nada sibuk. Hanya keheningan. Hanya sesuatu yang salah.
"Kemana dia?"
"Kenapa tidak mengangkat?"
Kenzo berjalan. Menuju pintu. Langkah cepat. Tapi teratur. Seperti harimau yang mencium darah. Seperti monster yang merasa kehilangan mangsanya.
Wangguan.
Tiga lantai. Lampu neon. Merah. Biru. Ungu. Musik dari dalam. Bukan musik. Tapi deru mesin. Deru kehancuran. Deru uang dan darah.
Di depan pintu, seorang pria. Tinggi. Atletis. Kemeja hitam. Celana hitam. Rambut tersisir. Mata seperti Michel Tang. Tapi lebih muda. Lebih dingin. Lebih berbahaya.
"Apakah anda Tuan Kenzo? Pemimpin baru kami?"
"Kau..."
"Maaf, Tuan. Nama saya Daniel Tang."
Daniel Tang.
Kenzo terkejut. Bukan di wajah. Tapi di dalam. Di hati. Di tempat yang tak bisa dilihat.
"(Washau... Keluarga Tang?)"
"Apa hubunganmu dengan Michel Tang?"
"Dia kakak sepupuku."
Senyum Daniel. Tipis. Seperti pisau. Seperti sayatan yang belum sembuh.
"Hahahaha... Tuan Kenzo tak perlu khawatir."
"Walaupun kami satu keluarga, hubungan kami tak begitu baik."
"Kami saling membunuh. Kalau bisa."
Kenzo diam. Memandang. Menilai. Menghitung kemungkinan. Menghitung cara membunuh.
"(Jangan-jangan dia dikirim Hong Feng.)"
"(Untuk mengawasi gerak-gerikku.)"
"(Untuk menikamku dari belakang.)"
"(Bajingan.)"
Pikir Kenzo. Dalam hati.
"Tuan Kenzo, silahkan."
Daniel membuka pintu. Wangguan. Dunia baru. Atau dunia lama. Yang penuh darah dan uang. Yang penuh pengkhianatan.
Mereka masuk. Lorong panjang. Merah. Seperti usus. Seperti neraka. Seperti jalan menuju kematian.
"Kita punya pelanggan dari Bai Ma. Juga dari luar kota."
"Orang kaya. Orang miskin yang pura-pura kaya. Semua sama di sini. Semua akan kalah."
"Daniel."
"Apa penduduk Bai Ma tak ada warga sipil?"
"Empat puluh persen anggota Hong Feng. Enam puluh persen warga sipil."
"Hampir setengahnya."
Daniel mengangguk. Lambat. Seperti orang yang tahu sesuatu. Seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.
"Ini ruangan kerja Tuan."
Meja kayu. Besar. Kursi kulit. Hitam. Di belakang, lukisan. Naga. Merah. Menganga. Seperti akan melahap siapa pun yang duduk di sini.
Kenzo duduk. Bukan empuk. Tapi pas. Seperti kursi yang menunggu pemiliknya. Seperti takhta yang menunggu raja baru. Atau mayat baru.
"Daniel. Berikan laporan keuangan Michel."
"Semua kasino. Semua bar. Yang dia kelola."
"Baik, Tuan. Aku akan ambil."
"Oh ya. Satu lagi."
"Panggil aku Kak Ken."
"Baik. Aku mengerti, Kak Ken."
Daniel pergi. Pintu tertutup.
Kenzo sendirian. Di ruangan merah. Di kursi hitam. Menunggu. Menghitung. Merencanakan.
Beberapa jam. Atau beberapa menit. Waktu di sini berbeda. Waktu di sini milik yang berkuasa.
Pintu terbuka. BRAAKK!!!
Bukan ketukan. Tapi tendangan. Atau lupa. Atau sesuatu yang buruk.
Daniel masuk. Dengan berkas. Tapi bukan sendiri.
Pria lain. Lebih pendek. Lebih gemuk. Mata melotot. Melihat Kenzo. Seperti melihat hantu. Seperti melihat makanan. Seperti melihat sesuatu yang tak bisa dipahami.
"Kak Daniel...!!"
"Lancang!! Kau masuk tanpa mengetuk!!"
"Maaf, Kak."
Pria itu memandang Kenzo. Dari ujung kaki ke ujung kepala. Seperti menghitung. Seperti menilai. Seperti mencari kelemahan.
"Kak, siapa dia?"
"Jaga mulutmu."
"Dia Kak Kenzo Huang. Bos baru kita."
"Hah?? Kenzo Huang?? Siapa dia?"
Kenzo berdiri. Perlahan. Kursi seret. Bunyi seperti gigi bergesek. Seperti tulang patah.
Dia memandang. Tajam. Langsung. Ke mata pria gemuk itu.
Mata berubah.
Bukan coklat. Bukan hitam.
Tapi merah.
Bukan metafora. Bukan sihir.
Tapi kemarahan. Yang terlalu dalam. Yang terlalu lama ditahan. Yang akhirnya pecah.
Pria gemuk terduduk. BRAAKK!!!
Tulang panggul bertemu marmer. Bunyi seperti patah. Seperti akhir.
"M-Moster..."
Ucapnya. Suara tercekat. Seperti anak kecil. Seperti orang yang melihat maut datang.
Daniel berbalik.
Memandang Kenzo.
Dan melihat.
Aura.
Dingin,Kejam,Seperti es ribuan tahun,Seperti pisau yang baru saja menusuk,Seperti monster yang akhirnya pulang ke rumah.
Tangan Daniel gemetar tanpa sadarinya. Tanpa bisa dikendalikan oleh nya seperti tangan orang lain.
"Ohhh... Jadi... menurutmu aku siapa?"
Kenzo bicara suaranya pelan tetapi menggema seperti di dalam gua.
Seperti di kuburan.
Seperti suara dari neraka.
Pria gemuk menangis air mata dan ingus semua keluar.
Semua tak bisa ditahan seperti anak kecil.
Seperti orang yang tahu dia akan mati.
"A-Ampun Ketua... Maafkan kelancanganku..."
"Daniel, ada apa?"
Kenzo duduk di kursi kulit. Kaki di atas meja. Rokok di tangan. Asap naik. Ruangan gelap. Hanya lampu neon merah dari luar.
"Malam ini Cao Xiu mengundang kita."
"Untuk apa?"
"Pertarungan bebas. Di tempat mereka."
...$ BERSAMBUNG $...