Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Andrew Piston
Queen sedang menimang putrinya Sofia, sementara Ellara membuka mata sambil menggeliat. Queen tertawa melihat kedua mata bayi itu terbuka. Dia merasa semakin hari keduanya terlihat semakin mirip. Mungkin karena keduanya menyusu padanya, sehingga membuat mereka terlihat mirip.
"Nyonya, ada pesan dari tuan Piston."
Pengasuh Sofia yang kebetulan duduk di dekat meja sempat melirik pesan di ponsel Queen. Meski ini sebuah tindakan yang tidak sopan, tetapi pengasuh itu tahu bagaimana Queen dalam memperlakukan pekerjanya.
"Berikan ponselnya padaku." Queen menyerahkan Sofia pada pengasuh. Dia membuka pesan dari pengacaranya. Mereka sudah janjian untuk bertemu. Meski begitu tetap saja Queen selalu aktif bertanya. Kali ini pengacaranya memberitahukan jika ada beberapa berkas yang cacat hukum.
Setelah Queen bertanya dan meminta ijin pada Bryan untuk mengundang pengacaranya ke kediaman Lewis dan diperbolehkan, Queen lantas mengirim alamatnya pada Andrew Piston.
Di sebuah firma hukum, Andrew Piston membaca alamat yang tertera di ponselnya. Dia tidak dapat menahan senyum, ternyata musuh selalu bertemu di jalan.
Andrew Piston dan Bryan Lewis dulunya teman sekelas waktu sekolah. Bryan merupakan murid pindahan dan Bryan memang merupakan salah satu murid tertampan dan memiliki sikap dingin. Hal itu menarik perhatian Amy kekasih Andrew. Gadis itu diam-diam terpesona pada Bryan. Namun, sebanyak apapun dia mencoba mencari perhatian pada pria itu, Bryan sama sekali tidak mempedulikan gadis itu. Sampai suatu saat, Amy mendatangi Andrew dan menangis di pelukannya sambil berkata jika Bryan melecehkan dirinya.
Merasa terhina karena kekasihnya dilecehkan, Andrew tanpa mencari tahu kebenarannya mendatangi Bryan. Dia memaki Bryan dan menunjuk kekasihnya. Bryan hanya melirik mereka tanpa minat, lalu kemudian berjalan kembali. Andrew yang sudah diliputi kemarahan tidak dapat menahan emosinya. Dia menarik bahu Bryan dan berniat memberi Bryan pelajaran. Namun, yang terjadi justru membuat Andrew malu bukan kepalang karena Bryan seketika itu memutar sedikit tubuhnya dan menarik lengan Andrew dan lalu menjatuhkan Andrew dalam sekali gerakan.
Amy menjerit ketakutan dan segera mendekati Andrew. Namun, karena jeritannya itu, Orang-orang tiba-tiba berkerumun mengelilingi mereka. Andrew merasa semakin terhina dan malu.
Saat Andrew mencoba bangkit, Bryan tiba-tiba bersuara, "Kalau masih tidak terima, datangi aku lagi. Aku tidak akan segan segan menjatuhkanmu untuk yang ke sekian kalinya dan yang perlu kamu ingat aku tidak tertarik dengan barang murahan. Sebaiknya kamu periksa latar belakang wanita ini."
Bryan menatap Andrew dengan tatapan meremehkan. Sejak kecil dia sudah didik untuk menjadi seorang pemimpin, dia tidak akan mudah diintimidasi oleh orang lain.
Setelah kejadian itu, Andrew benar-benar termakan omongan Bryan dan mulai menyelidiki latar belakang Amy, setelah mengetahui kebenarannya, Andrew merasa malu. Namun, harga dirinya melarangnya untuk meminta maaf pada Bryan. Sejak saat itu hingga saat ini, mereka seperti musuh. Setiap Bryan melihatnya, dia akan membuang muka, begitu juga sebaliknya.
Lalu sekarang kliennya yang merupakan adik kenalannya mengajaknya bertemu di rumah Keluarga Lewis. Ini mungkin akan menjadi peristiwa seru. Andrew merasa tertarik dan segera menentukan jamnya.
Bryan tidak tahu jika pengacara yang disewa Queen adalah Andrew piston, orang yang dulu pernah dia jatuhkan hanya karena kesalahpahaman.
Tiba waktunya pertemuan, Queen baru saja selesai menyusui Ellara dan Sofia. Dia segera bersiap untuk menemui pengacaranya. Tak disangka Bryan pulang lebih awal.
"Kamu sudah kembali?"
"Ya, aku hanya mengecek beberapa hal di luar. Lagi pula untuk sementara semua sudah diurus kakek dan yang lainnya. Jadi aku hanya perlu membubuhkan tanda tangan saja."
"Enak sekali."
"Kamu lebih enak. Tidak kerja, tapi mendapatkan deviden yang sangat besar, bahkan sampai membiarkan suamimu memanjakan selingkuhannya dengan uang devidenmu."
"Bryan, mulutmu lebih tajam dari pisau dapur," ujar Queen kesal. Meski kesal, tetapi Queen tidak benar-benar marah pada pria itu.
Seorang kepala pelayan tiba-tiba muncul di depan Bryan dan Queen. Di belakangnya berdiri seorang pria berusia sepantaran dengan Bryan dan Blake. Dia terlihat karismatik dan memiliki aura tersendiri. Saat Queen menatapnya, dia sedikit terkagum melihatnya. Sementara itu, alis Bryan berkerut melihat sosok itu.
"Andrew, untuk apa kamu di rumahku?"
"Aku kemari karena ada urusan dengan nyonya Queenza. Bukan mencarimu."
"Kalian saling kenal?" Queen tampak keheranan melihat aura permusuhan yang mendadak muncul ini.
"Ya." Jawab keduanya kompak.
Entah mengapa tatapan Queen pada keduanya tampak lain. Queen merasa kemistri diantara mereka benar-benar cocok.
"Jadi kamu pengacara Queen?"
"Ya dan apa hubunganmu dengannya?"
"Itu rahasia. Kamu hanya perlu menjalankan tugasmu. Tidak usah mencampuri hal yang bukan menjadi urusanmu," ujar Bryan datar. Dia menatap Andrew seperti dulu dia menatapnya. Kedua tangan Andrew mengepal, rasanya dia ingin menghajar laki-laki di depannya ini.
Queen berdehem. "Kalian kalau mau lanjut, silahkan saja. Aku akan menunggu di sini dan tidak akan mengganggu kalian."
Queen duduk di sofa. Bryan dan Andrew menatapnya dengan ekspresi aneh. Dua pria lajang itu akhirnya tidak berkata-kata dan memilih untuk duduk. Bryan duduk tepat di sebelah Queen. Alis Andrew mengeryit.
"Apakah kakakmu tahu jika kamu tinggal di sini?"
"Seluruh keluargaku tahu," jawab Queen singkat. "Dokumen mana yang menunjukkan cacat hukum?"
"Ini dokumen serah terima saham milikmu. Di halaman ke dua ada sebaris tulisan yang menjelaskan saham itu diberikan pada Xavier Bucher dalam konteks pinjaman bukan permanen. Mungkin saat tanda tangan Xavier terlalu senang sampai tidak membaca semua klausul. Tanpa perlu banyak drama kamu bisa mengajukan cerai terhadapnya dan meninggalkan pria itu tanpa apa-apa."
Queen yang semula mendengar penjelasan Andrew tiba-tiba tertawa. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak awal? Ya, pasti itu keluarganya sengaja menyembunyikan hal ini darinya.
Bryan yang duduk di samping Queen mengernyitkan alisnya. "Ada apa?"
"Bryan, ini kabar yang baik. Aku tidak perlu berlama lama menunggu untuk menceraikan dia"
Bryan tersenyum melihat wajah Queen yang tampak bahagia. Entah mengapa melihat senyum itu, membuat Bryan juga bisa merasakan kebahagiaannya.
Andrew yang duduk di depan Bryan dan Queen, semakin mengerutkan alis. Ini luar biasa. Seingatnya, Bryan selalu memasang wajah datar dan dingin setiap berhadapan dengan perempuan. Akan tetapi, seperti nya kali ini benar-benar spesial.
Andrew pikir dia akan memberitahu Blake nanti. Dia pasti akan pusing saat mengetahui adiknya didekati pria datar seperti ini.
Setelah membicarakan beberapa hal, Andrew pun pamit. Namun, yang membuat Bryan kesal adalah Andrew hanya berpamitan pada Queen tanpa bermaksud menyapanya.
Lihat saja nanti. Kalau kamu datang berkunjung lain waktu. Aku akan membuatmu mengerti apa artinya kesopanan.