Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Cinta Lama Belum Kelar
Detakan hak runcing itu begitu intens mengetuk lantai, sebab si pemakainya sibuk mondar mandir mencari alasan.
"Sakit perut aja kali, ya?" lagi-lagi mentok di alasan paling klasik, otaknya sudah memberikan option, meeting dadakan, pura pura sibuk atau pura-pura amnesia? Yang benar saja! Anye baru ingat, kemudian turut berkaca di depan kamera ponsel, menyingkapkan helaian rambut yang menghalangi leher, barangkali yeahh! Barangkali ada vampir liar yang menyesap lehernya kemarin dan berkata---bukan da rah suci---sebab korbannya adalah janda.
Namun untungnya, Anye menyentuh dada lega, Ganesha masih berpikir logis dengan tidak meninggalkan jejaknya. Anye tertawa sendiri dalam diamnya itu, menertawakan ulahnya yang liar sampai menyesap leher Ganesha begitu. Bukan Ganesha yang patut diwaspadai tapi dirinya.
Kembali, Anye melihat ke arah layar ponsel saat tak sama sekali notifikasi ia dapatkan dari Ganesha. Apa lelaki itu lupa? Ada secercah cahaya yang bersinar di wajahnya layaknya bohlam. Semoga Ganesha lupa dan justru sibuk...jadi ia tak harus repot-repot beralasan pada Ganesha.
Anye melirik jam di pergelangan tangan, lalu kembali pada ponsel yang sepi---iya, sepi dari notifikasi maut. Bahkan, sampai Desti menawarinya makan siang pun, Anye masih bertahan di dalam ruangannya.
Merasa kondisi sudah aman terkendali, Anye yakin Ganesha sepertinya lupa dengan janji siang ini, hingga akhirnya ia bisa merasa tenang. Lagi-lagi ia tertawa dengan kekonyolannya itu, seperti maling yang telah jadi buronan.
"Hah!" ia menghela nafas kasar, "makan siang dulu lah!" meskipun jam makan siang sudah terlewati, tak apa! Anye mengangguk mantap, memilih memesan makanan saja lewat online.
Tangannya terulur menscroll resto online memilih makanan yang diinginkannya. Setelah memastikan pesanannya diterima resto dan siap di pick up kurir, Anye beranjak dari ruangan.
"Des," bisiknya menyembulkan kepala dari celah pintu yang ia buka.
"Iya Bu?"
Ada pekerjaan yang ia hentikan, ada fokus yang teralih dari Desti.
"Kalau ada kurir yang anter makan, ambil bawa ke ruangan saya ya."
"Oke. Oh, aku kira ibu tadi lagi motong jatah makan siang?"
Anye hanya tersenyum, "baru laper sekarang."
/
Tidak lama, bahkan baru saja Anye duduk 5 menit setelahnya, Desti sudah kembali, kini dengan wajah paniknya.
"Bu.." ketuknya di pintu langsung membuka saja.
"Kenapa?"
"Kurirnya pake mobil ya?"
Hah?! Bibir Anye tersungging heran, "gimana maksudnya? Ya pake motor lah," dengan polosnya ia menunjukan layar ponsel dimana map driver melaju pelan dengan icon motor dan jaket hijaunya, masih berada di restonya. Lalu bagaimana bisa Desti mengatakan kurir bermobil.
"Kurirnya di depan Bu, aku ngga berani buat kasih tip..." ringisnya. Mau tak mau Anye keluar dari ruangan mengikuti langkah Desti, "mana sih?!"
Anye langsung terjengkat kaget. Wajah yang keruh mendadak berubah syok ketika baru saja kepalanya melongok, "astaga!" ia melihat siapa yang kini sudah duduk di ruangan lounge.
"Kan? Ibu aja ngga berani, apalagi aku..." Desti masuk kembali, sementara Anye yang sempat syok kini menghela nafasnya lelah, nyatanya lelaki itu memang tak pernah lupa dengan janji.
"Ada yang bisa saya bantu?" lirih Anye menunjukan gestur menarik ujung kemeja mencoba tenang selayaknya menghadapi calon klien, dan yeah....padahal hatinya sudah dag--dig--dug.
Pandangan Anye itu, sekuat apapun ia mencoba untuk tak melihat, tapi tetap saja...ia penasaran dengan hasil perbuatannya yang memalukan semalam, untung saja...tidak terlalu terlihat sebab terhalang oleh kerah kemeja Ganesha.
Ganesha mengangkat kresek bening di tangannya tanpa effort berlebih, berisi kotak makan bermerk, dan satu paper bag coklat.
/
Ada halaman kecil di samping bangunan kantor Imaginary, bangku taman yang terbuat dari cetakan beton. Pagar alam yang terbentuk indah dari sejenis alang-alang hias berwarna keunguan, purple fountain grass. Pokoknya, Imaginary agency ini adalah definisi keindahan.
Entah apa fungsinya, sebab sudah jelas si pemilik belum memiliki anak, Anye menambahkan ayunan disana, yap! Disana, diantara taman samping yang bentuknya memanjang itu, lahan kecil yang dulu gersang tanpa apapun saat Anye membelinya kini terlihat cantik dan instagenic.
Disanalah, Anye membawa Ganesha yang mengajaknya bertemu untuk makan siang.
"Maaf ngga bisa kasih tempat yang bagus buat CEO sekelas Ganesha Putra Alvian."
Lebih tepatnya, pulang sana!
Dan lebih sebalnya lagi, Ganesha hanya mengangguk saja seolah memberikan pemakluman dan menyetujui jika Imaginary tak layak untuknya.
Si Alan! Dulu kayanya aku terima lamaran momy Ica sama bang Ganesha sambil merem.
Ganesha sudah duduk, menaruh kresek bening di sana, dan mendorong paper bag yang isinya ternyata sepatu milik Anye dan jepitan mutiara. Anye mengambil itu terlebih dahulu, "makasih." Lirihnya merasa tatapan Ganesha itu terlalu melucutiiinya.
"Abang sampe mau repot-repot datang kesini bukan cuma buat ngembaliin sepatu aku kan? Terus itu, makan siang buatku?" tanya Anye to the point.
Diluar dugaan, nyatanya Ganesha mengangguk.
"Oh waww! Afiqah?" tanya nya lagi.
Ganesha menggidikan bahunya tak acuh, seolah tak begitu peduli, "dia makan siang di tempat kerjanya. Mungkin."
Kedua alis Anye terangkat, mungkin ya? Bisa begitu....pacaran macam apa?
"Kamu sendiri, Ibas?" tanya Ganesha enteng. Tangannya terulur demi membuka kotak makan, ia juga mendorong satu kotak makan lainnya untuk Anye yang juga menggeleng, "hari ini mas Ibas belum hubungin aku, lagian aku sama mas Ibas belum ada komitmen apapun kaya Abang sama Afiqah."
Tapi kemudian Anye memejamkan matanya, bodohh! Lagi-lagi ia malah ceroboh dengan mengatakan fakta, seharusnya kan ia bilang ia dan Ibas bahkan hampir menikah besok.
Ganesha tersenyum tipis, apakah ia merasa senang sekarang? "Temani saya makan."
"Tapi aku udah pe----" Anye tak berani membantah lagi ketika melihat Ganesha langsung melahap menu makan miliknya tanpa mau melihat atau menunggu apapun, jelas ia berbuat semaunya tak peduli ijin dari pihak manapun.
Huuft! "Oke." Anye membuang nafas kasar dan meraih kotak makannya.
"Anye," lirihnya yang membuat wanita ini mendongak diantara kunyahannya.
"Jika ke depannya, Jilo corp akan menjalin kerjasama dengan Imaginary kembali..."
"Bisa."
Anye, tanpa berpikir dua kali justru mengangguk begitu cepat, yang ia sendiri justru terhenyak kaget dengan respon cepatnya itu hingga menghentikan kunyahannya.
Anye tergagap, "maksudnya, kalau Jilo corp mau pake jasa Imaginary, mas Yahya tinggal calling Desti aja....kalau kita ngga full booked Imaginary bisa langsung kerjain project Jilo. Gitu. Tapi belum tentu juga aku yang ada di lapangan..." Anye membuang wajahnya ke samping untuk mengontrol reaksinya sendiri yang kentara betul ia nervous.
Ganesha mengangguk, entahlah... ia merasa lebih bersemangat untuk melahap menu makan siangnya ini sekarang. Sebab, menurutnya makan siang kali ini terasa nikmat sekali...
"Kamu masih suka sama menu ini kan?"
Anye mengangguk sekali, "aku ambil minum dulu ya..." ijinnya pamit masuk ke dalam kantor diokei Ganesha.
Dan siang ini, nyatanya tak ada yang membahas tentang kejadian semalam. Semuanya mengalir apa adanya dan begitu saja, makan siang dengan vibes santai mepet-mepet di pinggir kantor Imaginary yang meskipun anginnya sepoi-sepoi, tapi mampu membelai jiwa nan rindu akan kenyamanan.
.
.
.
.
.
.
.
.
diam diam menenggelamkan ternyata