Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang Dingin
Semburat jingga di langit Aeryon City mulai memudar, tertutup oleh awan kelabu yang menggantung rendah di atas gedung-gedung universitas. Seraphina melangkah menyusuri selasar luas menuju gerbang utama, diikuti oleh Dareen yang berjalan tiga langkah di belakangnya dengan tas ransel tersampir di bahu. Keheningan di antara mereka terasa berat, sisa dari ketegangan di restoran Le Sapphire tadi siang.
"Sera! Tunggu!"
Suara cempreng Julian memecah kesunyian. Pria itu berlari kecil menyusul mereka, masih dengan wajah penuh percaya diri meski tadi sempat ditinggalkan di restoran. Dia tidak menyerah. Bagi seorang pewaris bank, mendapatkan Seraphina Aeru bukan lagi soal perasaan, melainkan soal piala yang harus dimenangkan.
Julian mengadang langkah Seraphina tepat di depan gerbang. "Kau pergi begitu saja tadi. Aku belum sempat memberikan perpisahan yang manis," ujarnya dengan nada yang berusaha terdengar romantis.
Tanpa peringatan, Julian meraih jemari kanan Seraphina. Dia membungkuk, berniat mendaratkan ciuman di punggung tangan gadis itu sebagai bentuk klaim kepemilikan di depan mahasiswa lain yang masih berlalu-lalang.
Seraphina tidak menarik tangannya. Dia melirik ke arah Dareen lewat sudut matanya, ingin melihat bagaimana reaksi sang pengawal.
Namun, sebelum bibir Julian menyentuh kulit halus Seraphina, sebuah benda hitam tipis—ponsel milik Dareen—tiba-tiba menyelinap di antara wajah Julian dan tangan Seraphina. Bibir Julian justru mendarat di atas layar dingin ponsel tersebut.
"Apa-apaan kau?!" Julian tersentak mundur, mengusap mulutnya dengan ekspresi jijik.
Dareen berdiri di sana, posisinya kini tepat berada di tengah, memisahkan mereka berdua. Wajahnya sedatar permukaan danau yang membeku. "Mohon maaf, Tuan Julian. Tuan Seldin sedang menelepon di saluran ini. Beliau ingin berbicara dengan adiknya ... sekarang juga."
Seraphina mengernyit. "Seldin menelepon?"
"Sangat mendesak, Nona," sambung Dareen tanpa berkedip. Dia menyodorkan ponselnya yang layarnya sebenarnya gelap total kepada Seraphina.
Julian menggeram, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kau selalu saja punya alasan, Pengawal. Kau pikir kau bisa terus menghalangiku?"
Dareen menatap Julian dengan tatapan yang sangat tajam, sebuah intensitas yang hanya dimiliki oleh pria yang pernah melihat maut. "Saya tidak menghalangi Anda, Tuan. Saya hanya menjalankan tugas untuk memastikan Nona Seraphina tidak melakukan hal-hal yang membuang waktu."
"Ayo, Nona. Mobil sudah menunggu," lanjut Dareen sambil meraih pergelangan tangan Seraphina dengan tarikan yang tegas namun lembut, menuntunnya menjauh dari Julian yang masih mengumpat di belakang.
Begitu mereka masuk ke dalam kabin sedan mewah yang kedap suara, Seraphina langsung melemparkan tasnya ke kursi samping. Dia menoleh ke arah Dareen yang sedang mengenakan sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin.
"Seldin tidak menelepon, kan?" tanya Seraphina dengan nada mengejek.
Dareen tidak menoleh. Dia menginjak pedal gas, membawa mobil itu meluncur membelah kemacetan Skytown. "Tidak, Nona. Ponsel saya mati kehabisan baterai sejak satu jam yang lalu."
Tawa Seraphina meledak. Tawa yang renyah namun penuh provokasi. "Jadi kau berbohong? Dareen Christ yang suci baru saja berbohong demi melindungiku dari ciuman tangan?"
Seraphina mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga aroma parfumnya memenuhi indra penciuman Dareen. "Katakan padaku, Robot. Kau cemburu melihat Julian menyentuhku, atau kau hanya takut kehilangan pekerjaanmu jika Seldin tahu kau membiarkan sembarang pria mencium tanganku?"
Dareen memutar kemudi dengan tenang, meski urat-urat di tangannya tampak menegang. Dia menarik napas panjang, berusaha menjaga suaranya tetap berada di frekuensi yang datar.
"Tugas saya adalah menjaga keamanan Anda, Nona. Dan itu termasuk menjaga kebersihan tangan Anda dari kuman yang mungkin dibawa oleh pria seperti Tuan Julian," jawab Dareen dingin.
Seraphina mencibir, kembali bersandar di kursinya. "Kuman? Kau menyebut pewaris bank terbesar sebagai kuman? Alasanmu payah sekali, Dareen."
"Dia pria yang tidak higienis bagi masa depan Anda, Nona," sahut Dareen pendek.
Seraphina tersenyum puas. Dia menyukai permainan ini. Dia menyukai bagaimana dia bisa mengaduk emosi pria yang selalu mengklaim dirinya tidak memiliki perasaan ini. Rasa haus akan perhatian yang tidak pernah dia dapatkan dari kakaknya, kini ia lampiaskan sepenuhnya pada Dareen.
"Benarkah?" Seraphina memutar bola matanya, lalu suaranya mendadak berubah menjadi lirih dan rapuh. "Tapi aku merasa kedinginan sekarang, Dareen. Dan aku merasa ... takut. Kejadian di lift itu masih membuatku sering merasa sesak secara tiba-tiba."
Dareen melirik melalui spion tengah. "AC-nya akan saya kecilkan, Nona."
"Bukan itu maksudku," potong Seraphina cepat. Dia menatap punggung kepala Dareen dengan pandangan menuntut. "Aku butuh sesuatu yang lebih hangat. Kau ingat di mobil waktu itu? Saat kau memelukku karena aku memintanya?"
Mobil itu sedikit bergoyang saat Dareen secara tidak sengaja menekan rem terlalu mendadak.
"Itu adalah pengecualian, Nona. Dan saya sudah meminta Anda untuk tidak memintanya lagi," suara Dareen terdengar lebih serak sekarang.
"Tapi aku majikanmu, Dareen. Dan ini adalah perintah. Aku merasa tidak aman, dan pengawalku harus memberikan kenyamanan," Seraphina mulai menggunakan senjata pamungkasnya. "Atau kau ingin aku menelepon Seldin dan memberitahunya bahwa kau menolak menjalankan tugas dasar sebagai pelindungku?"
Dareen menghentikan mobilnya di sebuah area parkir darurat di pinggir jalan yang sepi, di bawah jembatan layang yang gelap. Dia mematikan mesin. Keheningan seketika menyergap, hanya menyisakan suara detak jantung Seraphina yang berpacu.
Dareen melepaskan sabuk pengamannya. Dia berbalik, menatap Seraphina dengan mata yang berkilat antara amarah dan sesuatu yang jauh lebih dalam. "Anda sedang bermain api, Seraphina."
"Dan kau adalah pemadam apinya, bukan?" balas Seraphina menantang.
Dareen menghela napas berat, sebuah suara yang terdengar seperti kekalahan. Dia tahu dia tidak bisa membantah perintah ini tanpa memicu konflik yang lebih besar. Perlahan, dia mengulurkan lengannya.
Seraphina bergerak mendekat, merangkak sedikit dari kursi belakang ke arah depan, hingga dia bisa masuk ke dalam dekapan Dareen. Dareen menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Kali ini, tidak ada rasa trauma. Tidak ada lift yang macet. Hanya ada mereka berdua di dalam mobil yang sunyi.
Pelukan Dareen terasa berbeda. Lebih erat. Lebih posesif. Seraphina bisa merasakan wajah Dareen terbenam di antara rambut dan lehernya. Pria itu tidak lagi memeluk seperti seorang pengawal yang sedang menenangkan korban. Dia memeluk seperti seorang pria yang sudah terlalu lama menahan lapar.
Jari-jari Dareen yang kasar meraba punggung Seraphina, memberikan tekanan yang membuat Seraphina merinding. Seraphina memejamkan mata, menikmati detak jantung Dareen yang berdentum keras di dadanya—sebuah bukti nyata bahwa "robot" ini sedang mengalami malfungsi hebat.
"Kau berdebar, Dareen," bisik Seraphina di telinga pria itu, bibirnya nyaris menyentuh kulit Dareen.
Dareen tidak menjawab. Dia justru semakin mempererat pelukannya, seolah-olah jika dia melepaskannya, Seraphina akan lenyap atau—lebih buruk lagi—kembali ke tangan pria seperti Julian. Dalam kegelapan mobil itu, Dareen membiarkan dinding profesionalnya runtuh berkeping-keping. Dia tahu ini salah. Dia tahu Seldin akan membunuhnya jika tahu. Tapi untuk beberapa detik ini, dia memilih untuk menjadi manusia.
"Sudah cukup, Nona," suara Dareen terdengar pecah saat dia akhirnya melepaskan pelukannya.
Dia segera kembali ke posisi duduknya, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak menatap Seraphina saat menyalakan kembali mesin mobil.
"Jangan pernah ... melakukan ini lagi di tempat publik," ujar Dareen, napasnya masih belum stabil.
Seraphina kembali ke kursi belakang dengan senyum kemenangan yang tersamar. Dia tidak lagi merasa bosan. Dia menyadari bahwa dia tidak hanya memiliki pengawal yang hebat, tapi dia memiliki seorang pria yang hatinya sedang dia genggam dengan sangat erat.
"Berarti kita bisa melakukannya di tempat private?" gumam Seraphina sambil menatap pemandangan kota yang lewat di jendela, yang tak dihiraukan oleh Dareen.
Mobil itu terus melaju, membawa mereka kembali ke rumah besar yang dingin, namun di dalam kabin itu, sebuah api baru saja menyala—api yang tidak akan bisa dipadamkan oleh protokol keamanan mana pun di Aeruland.