NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: ESCAPE VELOCITY

Surabaya hari ini sedang tidak main-main. Matahari seolah punya dendam pribadi pada aspal Jalan Dharmahusada, memantulkan hawa panas yang bikin siapa saja ingin merendam kepala di kulkas. Di koridor SMA Cakrawala Terpadu yang ber-AC sentral pun, ketegangan terasa menguap dari pori-pori para siswa kelas XI yang mulai diteror pertanyaan: "Mau kuliah di mana?"

Di sudut kantin yang agak tersembunyi, Keyla Aluna menatap secarik kertas *sticky note* kuning pucat dengan tangan gemetar. Itu balasan Bintang yang ia temukan terselip rapi di halaman 56 buku paket Fisika-nya—halaman tentang Hukum Gravitasi Newton. Cara Bintang menyelipkannya semakin *smooth*, seolah cowok itu mulai menikmati permainan kucing-kucingan ini.

"Baca, Nona Muda. Jangan cuma dipelototi kayak itu kertas tagihan utang," desak Dinda sambil mengunyah pentol kasar dengan beringas.

Keyla menarik napas panjang, lalu membaca tulisan tangan Bintang yang kali ini terlihat lebih tajam dan tertekan, seakan pulpennya ditekan kuat-kuat ke kertas.

*Cassiopeia,*

*Teorimu tentang Dark Matter kemarin benar. Kadang yang tak terlihat justru yang menahan segalanya agar tidak hancur berantakan.*

*Tapi rasanya 'materi gelap' di hidupku terlalu berat. Ayahku baru saja mendaftarkanku les intensif Kedokteran. Dia bilang Arsitektur cuma buang-buang otak encerku. Dia bilang aku harus jadi dokter bedah, meneruskan legasi keluarga.*

*Rasanya aku sedang ditarik gravitasi lubang hitam, Cass. Semakin aku mencoba lari, semakin aku terhisap. Apa bintang masih bisa bersinar kalau dia sendiri remuk ditelan gravitasinya?*

*- R.*

Keyla menurunkan kertas itu perlahan. Dadanya sesak. Selama ini ia hanya melihat Bintang Rigel sebagai objek kekaguman yang bersinar terang di lapangan basket. Ia lupa, bahkan bintang pun harus menanggung tekanan fusi nuklir yang mahadahsyat di intinya.

"Anjir," komentar Dinda, mendadak kehilangan selera makannya. "Ternyata jadi *The Royals* nggak seindah FTV ya. Bapaknya Bintang itu Dokter Spesialis Jantung yang punya rumah sakit di Surabaya Barat itu, kan? Pantesan ambis pol."

"Dia nggak mau jadi dokter, Din," lirih Keyla, matanya menerawang. "Dia mau bangun gedung. Dia suka struktur, dia suka *cantilever*, dia suka ngeliat sesuatu berdiri tegak dari nol."

"Terus kon mau lapo?" Dinda menatap sahabatnya serius. "Ini kesempatanmu. Vanya mungkin bisa nyolong info soal arsitektur buat caper, tapi dia nggak punya *soul* buat ngerti perasaannya Bintang."

Keyla mengangguk mantap. Tekadnya membulat. Ia mengeluarkan buku catatan khususnya. Kali ini, ia tidak akan menggunakan metafora yang rumit. Ia akan memberikan Bintang rumus untuk bertahan.

***

Jam istirahat kedua. Mading sekolah di koridor utama dipadati siswa. Poster besar bertuliskan "KUOTA SNBP & SNBT TAHUN INI" terpampang nyata, menjadi sumber kecemasan massal.

Bintang Rigel berdiri di sana, di barisan paling depan. Postur tubuhnya yang tinggi membuatnya mudah dikenali, tapi bahunya yang biasanya tegap kini terlihat turun. Ia menatap deretan logo universitas dengan tatapan kosong. Di sebelahnya, Aldi sedang sibuk menunjuk-nunjuk logo universitas negeri di Depok.

Keyla berjalan mendekat, jantungnya berdegup kencang. Ini bukan tentang menaruh surat. Ia hanya ingin... berada di sana. Ia berdiri dua langkah di belakang samping kiri Bintang, berpura-pura membaca pengumuman lomba mading.

"Berat ya, Tang?" suara Aldi terdengar samar.

"Lumayan, Di," jawab Bintang singkat. Suaranya serak dan lelah.

Keyla meremas ujung roknya. *Ngomong sesuatu, Key. Ngomong!* teriak batinnya. *Bilang kalau kamu ngerti. Bilang kalau dia nggak sendirian.*

Tapi lidahnya kelu. Sindrom *invisible girl*-nya kumat di saat yang paling tidak tepat. Ia hanya mampu berdiri diam, menjadi satelit bisu yang mengorbit dalam diam.

Tiba-tiba Bintang menoleh ke samping, menyadari keberadaan seseorang. Matanya bertemu dengan mata Keyla.

"Eh... Keyla, kan?" sapa Bintang canggung. Senyum tipis terbit di wajahnya, senyum sopan yang ia berikan pada 'rakyat jelata' sekolah.

Keyla panik. "Eh, iya, Kak. Eh, Bintang. Anu... permisi."

Bodoh. Keyla malah mundur teratur dan berbalik pergi, meninggalkan Bintang yang menatapnya dengan kening berkerut bingung. Keyla mengutuk dirinya sendiri sepanjang koridor menuju kelas XI IPA 2. Di dunia surat, dia adalah Cassiopeia yang bijak dan puitis. Di dunia nyata, dia cuma Keyla yang gagu.

Namun, misi utama harus tetap berjalan. Sebelum kabur tadi, tangan terampil Keyla yang sudah terlatih berbulan-bulan sempat melakukan manuver kilat. Saat ia berpura-pura tersandung sedikit di dekat Bintang, ia menyelipkan amplop biru laut—warna baru untuk suasana hati yang baru—ke dalam saku samping tas ransel Bintang yang disampirkan di bahu kanan.

***

Sepulang sekolah, di tribun lapangan basket yang mulai sepi.

Bintang duduk sendirian, memutar-mutar bola basket di jarinya. Pikirannya ruwet. Latihan hari ini berantakan; ia gagal melakukan *three points* tiga kali berturut-turut. Teriakan pelatih masih terngiang, tapi teriakan ayahnya di meja makan tadi pagi lebih menyakitkan.

Ia merogoh tasnya untuk mengambil air minum, tapi jarinya menyentuh tekstur kertas *fancy* yang familiar.

Jantungnya melonjak. *Ada lagi?*

Ia menarik amplop biru laut itu. Tidak ada gambar roket kali ini, hanya sketsa sederhana sebuah roket yang sedang meluncur meninggalkan atmosfer bumi.

Bintang membuka lipatannya dengan hati-hati.

*Untuk Rigel,*

*Di astrofisika, ada istilah 'Escape Velocity' atau Kecepatan Lepas. Itu adalah kecepatan minimum yang dibutuhkan sebuah objek untuk melepaskan diri dari medan gravitasi benda langit tanpa perlu dorongan lebih lanjut.*

*Untuk lepas dari gravitasi Bumi, roket butuh kecepatan 11,2 km/detik. Memang butuh energi besar di awal. Butuh pembakaran masif yang mungkin terasa menyakitkan dan menakutkan. Tapi begitu kamu mencapai angka itu, gravitasi sekuat apa pun tidak akan bisa menarikmu jatuh kembali.*

*Tekanan Ayahmu adalah gravitasi itu. Tapi mimpimu? Itu bahan bakarmu. Jangan takut terbakar saat meluncur naik. Sakitnya hanya sementara sampai kamu mencapai orbitmu sendiri.*

*Kamu adalah arsitek untuk masa depanmu sendiri. Fondasinya ada di kepalamu, bukan di kata-kata orang lain.*

*- Cassiopeia*

Bintang terpaku. Matanya menyusuri setiap lengkungan huruf tegak bersambung itu. Hawa dingin merambat di tengkuknya, bukan karena takut, tapi karena rasa dimengerti yang begitu dalam hingga membuatnya merinding. Cassiopeia tidak menyuruhnya melawan orang tua dengan kasar, gadis itu memberinya kerangka logika fisika untuk membenarkan perjuangannya.

Sebuah senyum lebar, yang benar-benar lepas, merekah di wajah Bintang. Ia melipat surat itu rapi, lalu mencium sekilas kertas beraroma vanila itu sebelum memasukkannya ke saku celana abu-abunya.

"Oke. *Escape Velocity*," gumamnya pada bola basket di tangannya. Semangatnya kembali menyala.

Di seberang lapangan, di dekat pintu ruang ganti cheerleader, Vanya Clarissa berdiri mematung. Matanya menyipit tajam seperti elang mengincar mangsa.

Ia melihat semuanya. Ia melihat momen ketika bahu Bintang yang tadinya turun, tiba-tiba tegap kembali setelah membaca kertas itu. Kertas berwarna biru laut.

"Biru..." desis Vanya pelan.

Memorinya memutar ulang kejadian-kejadian sebelumnya. Keyla di perpustakaan memegang buku tentang bintang. Keyla yang keluar dari kelas Bintang pagi-pagi buta. Dan surat yang Vanya curi kemarin—surat tentang *Fondasi Bangunan*—ditulis di atas kertas hitam dengan tinta perak.

"Kemarin hitam, sekarang biru," gumam Vanya. Ia meremas pom-pom di tangannya.

Kecurigaannya terkonfirmasi. Siapapun Cassiopeia, dia punya pola. Dan pola itu mengarah pada satu nama yang paling tidak masuk akal di benak Vanya: Keyla Aluna, si upik abu yang ia labrak tempo hari.

Vanya mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan di grup *Cheerleaders Elite*:

*"Guys, mulai besok, pantau Keyla kelas XI IPA 2. Laporin ke gue setiap kali dia deket-deket kelas IPA 1 atau bawa kertas aneh. Don't ask why."*

Ia menatap Bintang yang kini sedang mendribble bola dengan lincah di tengah lapangan. "Nikmati senyummu selagi bisa, Bintang," bisik Vanya licik. "Karena sebentar lagi, aku bakal bikin 'roket' kesayanganmu itu meledak sebelum sampai orbit."

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!