NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Caged Bird

Matahari baru saja terbit di atas cakrawala, menyapu atap paviliun dengan cahaya keemasan yang tenang. Namun, di dalam bangunan tersebut, atmosfernya jauh dari kata damai. Sejak insiden di gudang sekolah dan pertemuan "panas" antara Jin dan J-Hope, sesuatu dalam diri Jungkook telah bergeser.

Ia bukan lagi sekadar koki yang menjaga gizi, atau baterai yang memberikan daya. Ia mulai merasa seperti penjaga tunggal bagi sebuah permata yang terlalu indah untuk dilihat dunia luar. Sumpahnya kepada Jin dan Suga—bahwa ia akan menjaga jiwa Shine—kini mulai berakar menjadi sebuah obsesi yang manis namun menyesakkan.

Pagi itu, Shine sedang duduk di teras paviliun, menikmati udara segar yang jarang ia rasakan. Di sana, RM sedang berdiri di dekat gerbang kecil, membawa beberapa dokumen dan sebuah tablet. Mereka tampak sedang berbincang ringan tentang jadwal renovasi taman yang diinginkan Shine.

"Terima kasih, Namjoon Oppa. Ide tentang kolam koi itu sangat bagus. Aku rasa itu akan membuat suasana lebih tenang," ucap Shine sambil memberikan senyum tulus yang lebar—jenis senyum yang membuat matanya menyipit cantik.

RM, pria yang biasanya kaku dan hanya bicara soal efisiensi, tanpa sadar ikut tersenyum tipis. "Sama-sama, Nona. Selama itu membuatmu bahagia, Tuan Jin pasti akan menyetujuinya."

Dari balik jendela dapur, sepasang mata bulat yang gelap mengawasi interaksi itu dengan intensitas yang mengerikan. Jungkook mencengkeram kain lap di tangannya hingga buku jarinya memutih. Rasa panas yang membakar ulu hatinya bukan berasal dari kompor, melainkan dari pemandangan di depan matanya.

Senyum itu... pikir Jungkook. Seharusnya hanya untukku.

Jungkook meletakkan pisau dapur dengan bunyi denting yang keras dan melangkah keluar. Ia tidak mengenakan apron, hanya kaos hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisepnya yang penuh tato.

"Shine," suara Jungkook terdengar rendah, memotong pembicaraan antara Shine dan RM.

Shine menoleh, wajahnya cerah. "Jungkook-ah! Namjoon Oppa baru saja bilang kita bisa punya kolam koi di depan—"

"Masuklah. Angin pagi ini terlalu tajam untuk paru-parumu," potong Jungkook tanpa memandang RM sedikit pun.

Shine berkedip bingung. "Tapi udaranya sangat hangat hari ini—"

"Aku bilang masuk, Shine," Jungkook melangkah maju, tangannya dengan posesif merangkul bahu Shine dan menariknya sedikit menjauh dari RM.

RM yang merasakan ketegangan itu, berdeham pelan. "Jungkook, kami hanya sedang bicara soal taman. Tidak ada yang berbahaya."

Jungkook akhirnya menoleh pada RM. Tatapannya tidak lagi ramah seperti biasanya. Ada kilat otoritas yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang koki tamu. "Namjoon-ssi, kau tahu lebih baik dari siapa pun betapa sensitifnya energi Shine saat ini. Berbicara terlalu lama dengan orang luar, meskipun itu kau, bisa menguras fokusnya. Aku yang bertanggung jawab atas stabilitasnya sekarang."

"Orang luar?" RM mengangkat sebelah alisnya. "Aku sudah berada di keluarga ini bahkan sebelum kau mengenal namanya."

"Dan aku adalah orang yang dia panggil saat dia tidak bisa bernapas semalam," balas Jungkook telak.

Suasana menjadi sangat dingin. Shine bisa merasakan ketegangan yang merambat dari tangan Jungkook ke bahunya. Ia merasa tidak enak pada RM, namun aura Jungkook saat ini begitu dominan hingga ia tidak berani membantah.

"Maaf, Namjoon Oppa. Kurasa aku harus masuk," gumam Shine kecil.

Jungkook menuntun Shine masuk ke dalam paviliun, hampir seperti sedang menggiring tahanan yang sangat berharga. Begitu pintu kaca tertutup dan terkunci, Jungkook melepaskan rangkulannya, namun ia berdiri tepat di depan Shine, menghalangi jalan gadis itu.

"Apa yang kau lakukan tadi?" tanya Jungkook. Suaranya tidak membentak, tapi penuh penekanan yang menuntut.

"Hanya bicara soal taman, Jungkook. Ada apa denganmu?" Shine mulai merasa sesak, bukan karena energinya habis, tapi karena tatapan Jungkook yang seolah ingin menelannya bulat-bulat.

"Kau tersenyum padanya. Kau tertawa seolah kau tidak punya beban," Jungkook maju satu langkah, membuat Shine mundur hingga punggungnya menyentuh dinding marmer. "Kau tahu betapa susahnya aku mengisi energimu semalam? Dan kau membuangnya begitu saja untuk memberikan senyum pada pria lain?"

"Dia itu Namjoon Oppa! Dia sudah seperti kakakku sendiri!" protes Shine, matanya mulai berkaca-kaca karena kaget melihat sisi gelap Jungkook.

"Aku tidak peduli," bisik Jungkook. Ia meletakkan kedua tangannya di dinding, mengunci Shine di tengah-tengahnya. "Mulai hari ini, kau tidak boleh keluar dari paviliun ini tanpa izin dariku. Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku. Jika kau ingin bicara dengan kakak-kakakmu, aku harus ada di sana."

Shine menatap Jungkook dengan tidak percaya. "Kau mengurungku? Kau bahkan lebih parah dari Jin Oppa!"

Mendengar nama Jin disebut, Jungkook tertawa sinis. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Jin mengurungmu karena dia takut kau terluka oleh dunia. Aku melarangmu keluar karena aku tidak sanggup melihat orang lain memiliki sepotong pun dari perhatianmu. Kau adalah milikku, Shine. Jiwamu, energimu, dan senyummu... semuanya sudah ditandatangani di bawah kontrak jiwaku."

Jungkook menunduk, mencium leher Shine dengan kasar, memberikan "tanda" yang sedikit memerah di sana—sebuah pengumuman bisu bagi siapa pun yang berani mendekat.

"Jangan pernah tersenyum seperti itu pada pria lain lagi," bisik Jungkook di telinga Shine. "Atau aku akan memastikan kau tidak punya tenaga bahkan untuk sekadar berdiri dari tempat tidurmu."

Shine gemetar. Ia seharusnya merasa takut, namun ada bagian dari dirinya yang justru merasa "penuh". Rasa posesif Jungkook yang gila ini seolah menjadi pelengkap dari kehampaan yang selama ini ia rasakan sebagai seorang Oracle. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, namun sangkarnya kali ini memiliki detak jantung dan pelukan yang sangat hangat.

Di luar paviliun, RM hanya bisa berdiri diam sambil menatap pintu yang tertutup. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Jin: 'Tuan, sepertinya kita telah memasukkan serigala ke dalam kandang domba. Dan domba kita... sepertinya mulai menyukai serigala itu.'

Malam itu, paviliun menjadi sunyi. Jungkook tidak membiarkan satu pun pelayan masuk. Ia sendiri yang memasak, ia sendiri yang menyuapi Shine, dan ia sendiri yang menidurkan Shine di bawah pengawasannya yang tak berkedip. Penjagaan ini bukan lagi soal medis; ini adalah tentang penguasaan mutlak.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!