NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume I — The Day the World Fell Chapter 11 — What Remains Human

Malam turun tanpa permisi.

Lampu-lampu darurat menyala satu per satu di pusat medis lapangan, menggantikan cahaya senja yang tak pernah benar-benar hangat. Generator berdengung seperti napas panjang yang dipaksakan, menjaga dunia tetap hidup dengan usaha terakhirnya.

Daniel berdiri di pos jaga sisi timur lebih lama dari jadwal.

Ancaman yang tadi dilaporkan telah diatasi oleh unit tempur. Tidak ada korban tambahan. Secara teknis, tugasnya selesai. Namun kakinya tidak bergerak. Tangannya tetap di pagar besi dingin, matanya menatap kosong ke arah jalan gelap di luar perimeter.

Pertemuan itu belum selesai di dalam kepalanya.

Aurelia.

Nama itu terus berputar, menabrak ingatan yang ingin ia kunci rapat. Cara tangannya gemetar. Cara suaranya pecah saat menyebut kematiannya—seolah kata itu sendiri adalah dosa.

“Aku lihat kau mati.”

Kalimat itu lebih berat daripada apa pun yang pernah ia dengar.

Daniel menarik napas dalam-dalam.

Segel Pertama tidak bereaksi. Tidak ada dorongan bertahan. Tidak ada peringatan bahaya. Untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, ia sendirian dengan pikirannya sendiri.

Dan itu jauh lebih menakutkan.

Ia akhirnya bergerak ketika seorang perwira muda mendekat. “Kau dibutuhkan di dalam,” katanya singkat. “Debriefing.”

Ruang debriefing adalah bekas ruang rapat—meja panjang, kursi yang tidak serasi, peta kota ditempel seadanya di dinding. Beberapa Hunter sudah duduk di sana. Wajah mereka lelah, sebagian dingin, sebagian tertutup.

Raven ada di ujung meja.

Tatapan mereka bertemu sesaat. Tidak ada ejekan. Tidak ada senyum. Hanya penilaian yang semakin dalam.

Koordinator misi berbicara panjang lebar tentang prosedur, respons, dan catatan teknis. Daniel mendengar—namun sebagian pikirannya tertinggal di tenda medis, pada sepasang mata yang masih basah oleh ingatan kematiannya.

“Daniel.”

Ia tersentak.

“Pendapatmu?” tanya koordinator.

Daniel mengangkat kepala. Semua mata tertuju padanya. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.

“Perimeter timur aman,” katanya. “Tapi pusat medis terlalu terbuka. Jika ancaman datang bersamaan dari dua arah, relawan medis akan terjebak.”

Beberapa Hunter mengangguk.

Raven mendengus pelan. “Selalu bertahan. Tidak pernah menekan.”

Daniel menoleh. “Karena yang kita lindungi di sana bukan target. Mereka manusia.”

Hening jatuh.

Koordinator mengangguk pelan. “Cukup. Rapat selesai.”

Malam semakin larut.

Daniel berjalan menyusuri lorong tenda medis, membantu mengangkat peti logistik, mengganti tabung oksigen, dan mengantar obat. Ia tidak diwajibkan melakukan itu—namun tubuhnya membawanya ke sana, bukan karena Segel Pertama, melainkan rasa bersalah yang belum menemukan tempatnya.

Ia melihat Aurelia dari kejauhan.

Ia sedang menenangkan seorang anak kecil dengan luka di kaki. Suaranya lembut, sabar, meski matanya menyimpan kelelahan yang dalam. Daniel berhenti di balik tiang penyangga, ragu untuk mendekat.

Ia tidak ingin menjadi bayangan kematian di hidup orang lain.

Namun Aurelia menoleh—seolah merasakan kehadirannya.

“Kau tidak perlu bersembunyi,” katanya pelan.

Daniel melangkah keluar. “Maaf. Aku tidak ingin mengganggu.”

Aurelia tersenyum kecil. “Di dunia seperti ini, gangguan yang datang hidup-hidup adalah anugerah.”

Anak itu tertidur. Aurelia berdiri, mengajak Daniel ke sisi tenda yang lebih sepi. Mereka duduk di bangku kayu rendah, cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain—cukup jauh untuk tidak menyentuh.

“Aku takut,” kata Aurelia tiba-tiba.

Daniel menatapnya. “Tentang apa?”

“Setiap kali aku menutup mata,” jawabnya, “aku melihatmu jatuh lagi. Dan kali ini… kau tidak bangun.”

Daniel mengeratkan rahangnya. “Aku juga takut,” katanya jujur. “Aku takut suatu hari nanti, aku bangun dan tidak tahu kenapa aku masih hidup.”

Aurelia menoleh padanya. “Lalu kenapa kau bertarung?”

Daniel terdiam lama.

“Karena… kalau aku tidak bertarung,” katanya akhirnya, “kematianku tidak berarti apa-apa.”

Kata-kata itu menggantung di udara. Tidak dramatis. Tidak indah. Namun nyata.

Aurelia mengangguk pelan. “Kalau begitu,” katanya, “jangan mati lagi.”

Daniel tersenyum—kecil, rapuh. “Aku tidak bisa janji.”

“Bohong sedikit tidak apa-apa,” balasnya, nyaris tertawa.

Saat mereka berpisah, Daniel kembali ke barak dengan langkah berat namun terarah. Ia berbaring di ranjang sempit, menatap langit-langit yang penuh retakan.

Segel Pertama tetap diam.

Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang penting:

Segel itu menjaga tubuhnya tetap hidup.

Tapi orang-oranglah yang menjaga dirinya tetap manusia.

Ia menutup mata.

Di luar, dunia masih terbakar.

Di dalam, Daniel memeluk satu tekad sederhana—

Selama ia masih bisa memilih,

ia akan bertahan tanpa kehilangan alasan untuk hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!