Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekam medis yang berduri
Mencari dokter yang bisa "dibeli" di Jakarta ternyata tidak semudah membalik telapak tangan, terutama jika kamu adalah menantu seorang Jenderal. Setiap klinik besar punya mata-mata, dan setiap dokter ternama adalah kolega dari keluarga Baskoro.
Namun, Laras punya satu nama. Sebuah klinik fertilitas kecil dan eksklusif di pinggiran kota yang dijalankan oleh seorang dokter senior yang dikenal "fleksibel" jika bayarannya tepat.
"Kamu yakin ini aman?" bisik Arka saat mereka melangkah masuk ke lobi klinik yang bernuansa pastel itu. Arka mengenakan topi dan kacamata hitam, mencoba sebisa mungkin tidak terlihat seperti putra mahkota Baskoro.
"Hanya ini pilihan kita, Ka. Dokter ini butuh dana untuk riset pribadinya, dan kita punya dana itu. Dia nggak akan tanya kenapa kita butuh surat keterangan 'penundaan karena alasan medis'," jawab Laras dengan langkah mantap.
Mereka duduk di ruang tunggu yang sepi. Laras sedang membolak-balik brosur kesehatan saat pintu ruang praktik terbuka. Seorang wanita dengan jas dokter putih keluar, sedang berbicara dengan suster. Begitu wanita itu menoleh ke arah ruang tunggu, langkahnya terhenti.
Arka mendongak, dan seketika tubuhnya membeku.
"Arka?" suara wanita itu lembut, namun bagi Arka, itu terdengar seperti hantaman palu godam.
"Nadia?" gumam Arka. Suaranya hampir hilang.
Laras menoleh dengan cepat. Wanita itu Nadia sangat cantik dengan cara yang natural dan tenang. Ada binar kehangatan di matanya yang kini berubah menjadi keterkejutan yang dalam.
"Nadia adalah... teman lama saya, Laras," Arka mencoba menjelaskan dengan suara yang kaku, namun ia bahkan tidak sanggup menatap Laras.
"Teman lama?" Nadia tersenyum tipis, ada jejak luka di sana. "Kita hampir bertunangan empat tahun lalu, Arka. Sebelum kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar."
Laras merasakan atmosfer di ruangan itu berubah drastis. Jadi ini adalah potongan puzzle Arka yang hilang. Nadia adalah wanita yang mungkin dicintai Arka sebelum ayahnya menghancurkan segalanya.
"Nadia, aku " Arka berdiri, namun ia tampak seperti orang yang ingin melarikan diri.
"Aku yang menjalankan klinik ini sekarang, Arka," potong Nadia, matanya kini beralih ke Laras. "Dan aku asumsikan... ini adalah istrimu yang baru saja menghiasi semua tajuk berita itu?" Laras berdiri, mengulurkan tangannya dengan profesionalitas baja yang ia miliki. "Laras. Senang bertemu denganmu, Dokter Nadia."
Nadia menjabat tangan Laras. Tatapannya tajam, seolah sedang mendiagnosis kebenaran di balik pernikahan mereka. "Silakan masuk ke ruanganku. Kurasa kalian tidak ke sini untuk sekadar reuni, kan?"
Di dalam ruang praktik yang beraroma antiseptik itu, kebenaran tumpah. Arka dan Laras menjelaskan kebutuhan mereka akan laporan medis palsu tentang "ketidaksuburan sementara" untuk meredam tuntutan Jenderal Baskoro.
Nadia duduk di balik mejanya, menyilangkan tangan di depan dada. Ia menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadi, kamu menikahinya hanya untuk menjadikannya tameng dari ayahmu? Lagi?"
"Nadia, ini berbeda "
"Berbeda karena kali ini kamu berhasil melakukan ijab kabul?" Nadia tertawa getir. "Arka, kamu masih pria yang sama. Pria yang terlalu takut melawan ayahnya secara langsung sehingga harus melibatkan orang lain dalam kekacauanmu."
Laras merasa dadanya sesak. Mendengar Arka disudutkan seperti itu membuatnya ingin membela, namun ia sadar bahwa Nadia adalah korban nyata dari sistem keluarga Baskoro di masa lalu.
"Dokter Nadia," suara Laras terdengar tegas. "Kami di sini untuk transaksi bisnis. Kami butuh surat itu agar kami punya waktu untuk membangun kekuatan kami sendiri. Arka sedang berjuang, dengan caranya sendiri."
Nadia menatap Laras cukup lama. "Kamu sangat mencintainya sampai mau melakukan penipuan medis seperti ini?"
Laras terdiam. Pertanyaan itu menghujam jantungnya. Ia melirik Arka yang kini tertunduk lesu.
"Ini aliansi, Dok," jawab Laras pelan. "Dan dalam aliansi, kita melindungi kepentingan satu sama lain."
Nadia menghela napas panjang. Ia mengambil selembar kertas, mulai menuliskan rekam medik yang diminta. " "Aku akan bantu. Bukan karena aku memaafkanmu, Arka. Tapi karena aku tahu betapa mengerikannya menjadi orang yang tidak diinginkan oleh ayahmu. Aku tidak ingin wanita lain termasuk istrimu mengalami kehancuran yang sama sepertiku."
Nadia menyerahkan berkas itu kepada Laras, bukan kepada Arka. "Jaga dia, Laras. Arka adalah pria yang baik, tapi dia adalah 'pembawa sial' bagi siapa pun yang dicintainya selama Jenderal masih berkuasa." Saat mereka keluar dari klinik, Arka berjalan dengan langkah gontai. Begitu sampai di mobil, ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia mencengkeram kemudi dengan sangat kuat.
"Dia benar," bisik Arka parau. "Aku menghancurkan hidupnya empat tahun lalu. Ayahku mengancam akan menghancurkan karier keluarganya kalau aku tidak memutuskan hubungan dengan Nadia. Jadi aku pergi begitu saja. Tanpa kata." Laras menatap Arka. Untuk pertama kalinya, ia melihat Arka bukan sebagai rekan yang kuat, tapi sebagai seseorang yang membawa beban rasa bersalah yang teramat besar.
"Itu bukan salahmu, Arka. Itu salah ayahmu," Laras menyentuh lengan Arka dengan lembut. "Tapi sekarang kita punya surat ini. Kita punya waktu."
"Laras..." Arka menoleh, matanya merah. "Apa kamu merasa menjadi korban selanjutnya? Seperti yang Nadia bilang tadi?" Laras tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung keberanian sekaligus kepasrahan. "Nadia adalah porselen yang pecah karena benturan itu, Ka. Tapi aku? Aku adalah beton yang kamu bangun sendiri. Kita nggak akan hancur dengan cara yang sama."
Malam itu, mereka kembali ke rumah selatan dengan membawa "kebohongan resmi" di tangan mereka. Namun, kemunculan Nadia telah membuka luka lama yang membuat Arka semakin menarik diri ke dalam kegelapan batinnya. Persaingan mereka bukan lagi melawan Jenderal, tapi melawan bayang-bayang masa lalu yang mulai menghantui setiap sudut rumah baru mereka.