Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Aroma udara segar menyambut mereka saat pintu mobil dibuka.
Beberapa hari kemudian, dokter memperbolehkan mereka untuk pulang ke rumah.
Meski kepala Kinan masih harus dibalut perban kecil dan langkahnya belum sepenuhnya stabil, binar di matanya telah kembali sejak kehadiran Athar di sisinya.
Adnan turun terlebih dahulu, memutari mobil dengan sigap untuk membukakan pintu bagi istri dan anak angkatnya.
Athar, yang mengenakan setelan baju baru pemberian Adnan, melompat turun dengan penuh semangat. Namun, langkah kaki kecilnya mendadak terhenti di atas paving block halaman.
Mata bulat bocah itu mengerjap berkali-kali menatap bangunan dua lantai yang berdiri kokoh dengan arsitektur elegan di hadapannya.
Taman yang tertata rapi dengan bunga-bunga yang sedang mekar membuat tempat itu tampak seperti istana di mata seorang anak kecil.
"I-ini rumah Bunda?" tanya Athar dengan nada tidak percaya. Suaranya terdengar menciut, seolah takut menginjakkan kaki lebih jauh.
Kinan tersenyum tipis, ia melirik ke arah Adnan yang berdiri di sampingnya.
Belum sempat Kinan menjawab, ia mendengar suara Adnan yang menjawab dengan nada datar.
"Bukan, ini rumah Ayah."
Langkah Kinan terhenti. Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kalimat itu seolah mengingatkannya kembali pada batasan-batasan yang pernah membuat hatinya sesak. Namun, sedetik kemudian, ia melihat senyum hangat merekah di wajah Adnan. Adnan segera berjongkok di depan Athar, memegang kedua bahu kecil bocah itu.
"Bukan sayang, ini rumah Ayah dan Bunda," jawab Adnan sambil menatap Kinan dengan penuh arti.
"Dan mulai hari ini, ini juga rumahnya Athar. Tempat Athar bermain, tempat Athar tidur, dan tempat kita akan selalu bersama."
Adnan meraih tangan Kinan, menautkan jemari mereka di depan Athar.
"Rumah ini milik kita semua. Tidak ada lagi milikku atau milikmu, Kinan. Semuanya milik keluarga kita."
Kinan merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangan Adnan.
Kalimat "rumah ayah dan bunda" seolah menjadi fondasi baru yang sedang coba dibangun Adnan di atas puing-puing kepercayaan yang sempat runtuh.
Meski hatinya masih butuh waktu untuk pulih sepenuhnya, Kinan memilih untuk membalas genggaman tangan itu.
"Ayo, Athar. Kita masuk ke dalam. Bunda sudah siapkan banyak hal di dalam," ucap Kinan lembut.
Athar tertawa riang dan berlari menuju pintu utama yang terbuka lebar.
Di ambang pintu, Adnan berbisik pelan di telinga Kinan, "Terima kasih sudah mau pulang ke rumah ini lagi, Sayang."
Kinan hanya mengangguk pelan, membiarkan suaminya menuntun langkahnya masuk ke dalam hunian yang kini terasa memiliki nyawa baru berkat kehadiran seorang anak kecil yang terus memanggilnya 'Bunda'.
Athar berlari kecil di sepanjang koridor lantai atas, mengikuti petunjuk arah yang diberikan Adnan.
Saat pintu berwarna putih dengan papan nama kayu bertuliskan "Athar" itu dibuka, bocah itu terpaku di ambang pintu.
Athar menemukan kamar barunya yang sudah didekorasi oleh Adnan secara diam-diam.
Kamar itu dipenuhi dengan nuansa biru langit, lengkap dengan tempat tidur berbentuk mobil balap dan rak buku yang sudah terisi penuh.
Di sudut ruangan, terdapat meja gambar kecil dengan alat tulis lengkap, seolah Adnan tahu bahwa Athar mewarisi jiwa seni dari bundanya.
"Ini, semua untuk Athar, Ayah?" tanya Athar tak percaya.
Adnan mengangguk, lalu melirik Kinan yang berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca.
Kinan menyadari bahwa selama ia terbaring di rumah sakit, Adnan telah mengerahkan seluruh usahanya untuk memastikan rumah ini menjadi tempat paling nyaman bagi mereka.
Belum sempat mereka menikmati momen haru itu, bel rumah berbunyi.
Pembantu rumah tangga membukakan pintu, dan ternyata itu adalah kedatangan Tuan Aris yang menanyakan soal kontrak kerja yang sempat tertunda beberapa hari lalu.
Mereka pun turun ke ruang tamu. Tuan Aris duduk dengan tenang, menatap Kinan dengan penuh rasa hormat.
Ia meletakkan kembali map hitam yang berisi masa depan karier Kinan.
"Bagaimana, Nak Kinan? Kami sangat berharap Anda bersedia bergabung untuk mengembangkan lini perhiasan dan kuliner yayasan. Ini adalah langkah besar bagi kita semua," ucap Tuan Aris lembut.
Kinan terdiam sejenak. Ia melirik Adnan yang duduk di sampingnya.
Adnan hanya memberikan anggukan kecil, seolah berkata bahwa ia mendukung penuh apa pun keputusan istrinya tanpa ada lagi kekhawatiran tentang "masa lalu".
Kinan menarik napas panjang, keyakinannya kini sudah bulat.
Ia tidak ingin lagi hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri, pada Athar, dan pada dunia bahwa ia adalah wanita yang berharga.
"Baiklah, Tuan Aris. Saya akan menerimanya," ucap Kinan dengan suara tegas namun tetap anggun.
"Alhamdulillah, terima kasih Nak Kinan!" seru Tuan Aris dengan wajah sumringah. Ia segera menyodorkan pulpen perak ke arah Kinan.
Dengan tangan yang stabil, Kinan
menandatangani surat kontrak kerja tersebut.
Goresan tintanya di atas kertas seolah menjadi simbol kebangkitannya.
Ia bukan lagi Kinan yang bisa diinjak-injak oleh fitnah, melainkan Kinan yang berdaya dan mandiri.
Adnan menggenggam tangan Kinan di bawah meja, sebuah dukungan tanpa suara yang membuat Kinan merasa bahwa kali ini, mereka benar-benar berada di tim yang sama.
Suasana ruang makan malam itu terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Jika dulu hanya ada keheningan yang kaku atau percakapan formal antara suami istri, kini suara denting sendok beradu dengan piring terasa lebih hidup.
Aroma masakan rumahan yang lezat memenuhi ruangan, menciptakan kehangatan yang sudah lama dirindukan.
Kinan, meski masih harus banyak beristirahat, bersikeras memasak menu spesial untuk menandai hari pertama mereka sebagai keluarga utuh.
Di atas meja tersaji soto ayam bening dan perkedel kentang kesukaan Athar, serta sambal goreng yang aromanya menggugah selera.
Malam harinya makan malam bersama menjadi momen yang sangat sakral.
Adnan duduk di kursi utama, sementara Kinan dan Athar duduk berdampingan di hadapannya.
Athar menyuap nasi dan kuah soto itu dengan lahap.
Pipinya yang gembul bergerak-gerak saat mengunyah. Tiba-tiba, ia meletakkan sendoknya dan menatap Kinan dengan mata yang berbinar terang.
"Masakan Bunda enak sekali!" puji Athar dengan tulus.
"Athar belum pernah makan soto se-enak ini. Terima kasih, Bunda!"
Kinan tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang benar-benar sampai ke matanya.
"Alhamdulillah kalau Athar suka. Habiskan ya, biar Athar cepat besar dan kuat."
Adnan yang melihat interaksi itu merasakan hatinya berdesir.
Ia melihat Kinan yang tampak begitu cantik dengan apron yang masih terikat, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang selama ini sempat redup.
"Bunda memang koki paling hebat, Athar," tambah Adnan sambil melirik Kinan.
"Ayah juga sangat merindukan masakan Bunda. Rasanya, semua beban pikiran Ayah hilang begitu mencicipi masakan ini."
Kinan hanya menanggapi dengan senyuman tipis ke arah Adnan, meski masih ada sedikit jarak di antara mereka, namun pengakuan tulus dari Adnan dan pujian dari Athar membuat hatinya merasa sangat dihargai.
Malam itu, bukan hanya perut mereka yang kenyang, tapi juga jiwa mereka yang mulai mendapatkan asupan kasih sayang.
Di bawah lampu gantung ruang makan, mereka bertiga tampak seperti siluet keluarga sempurna. Sebuah awal yang manis untuk menebus semua pahit yang telah berlalu.
Malam semakin larut, kehangatan di meja makan perlahan berganti dengan suasana tenang menjelang istirahat.
Selesai makan malam, Kinan mengajak Athar tidur.
Ia menuntun langkah kecil bocah itu menuju kamar bernuansa biru yang telah disiapkan Adnan dengan penuh kasih sayang.
Kinan menyelimuti Athar hingga sebatas dada, lalu mengusap keningnya lembut. "Bunda tidur di kamar sebelah ya. Athar berani kan tidur sendiri?" tanya Kinan memastikan.
Athar menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Ia memeluk gulingnya erat, lalu menunjuk ke arah pajangan di sudut lemari.
"Ada robot Ironman, Athar berani Bunda!" ucapnya polos yang membuat Kinan tersenyum bangga sebelum mengecup pipi putra angkatnya itu dan mematikan lampu utama.
Setelah itu, Kinan masuk ke kamarnya. Ruangan itu sunyi, hanya ada cahaya lampu tidur yang temaram. Namun, saat ia hendak melepas kerudungnya, sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Adnan memeluk dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Kinan dengan napas yang terasa berat di lehernya.
"M-mas..." Kinan tersentak.
Seluruh tubuhnya menegang. Ingatan akan kejadian di tangga dan tuduhan-tuduhan keji itu mendadak terputar kembali seperti film horor di kepalanya.
Dengan kekuatan yang tersisa, Kinan mendorong tubuh suaminya hingga pelukan itu terlepas.
Ia berbalik dan menatap Adnan dengan tatapan penuh luka dan kewaspadaan.
"Sayang, jangan hukum aku seperti ini. Aku tidak tahan, Sayang..." rintih Adnan dengan suara serak. Matanya memohon, merindukan keintiman yang sudah lama hilang sejak badai fitnah itu datang.
Kinan menggeleng kuat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Mas, aku tidak mau. Nanti kamu pasti menganggapku melakukan dengan lelaki lain," ucap Kinan dengan suara bergetar.
Kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Adnan. Tuduhan yang pernah ia lemparkan kini menjadi tembok besar yang menghalangi mereka untuk bersatu kembali secara batin.
"Kinan, tidak. Mas tidak akan pernah berpikir begitu lagi. Mas sudah tahu kebenarannya," bela Adnan sambil mencoba meraih tangan Kinan kembali.
"Kebenaran tidak menghapus rasa jijik yang pernah kamu tunjukkan padaku, Mas," balas Kinan pedih.
"Bagaimana aku bisa menyerahkan diriku padamu, jika aku takut suatu saat nanti, setiap sentuhanku justru akan membuatmu teringat kembali pada fitnah-fitnah itu? Aku belum siap, Mas. Tolong hargai itu."
Adnan terpaku di tempatnya berdiri. Ia menyadari bahwa memaafkan adalah satu hal, namun mengembalikan kepercayaan dan rasa aman dalam sebuah sentuhan fisik adalah perjuangan lain yang jauh lebih berat.
Adnan tertunduk lesu, kedua tangannya terkulai di samping tubuhnya.
Ia menatap lantai dengan tatapan hampa, menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu Kinan yang pernah ia permasalahkan kini justru menjadi hantu yang menakutinya balik. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata istrinya—ketakutan akan dihakimi kembali di saat yang paling rentan.
"Maafkan Mas, Kinan. Mas tidak bermaksud menyakitimu lagi," bisik Adnan lirih.
Adnan yang akhirnya mengalah dan memilih tidur di sofa sebagai bentuk penghormatan pada privasi Kinan.
Ia mengambil bantal dan selimut tipis dari lemari, lalu melangkah keluar kamar tanpa berani menoleh lagi.
Ia tidak ingin Kinan merasa terancam di rumahnya sendiri.
Di atas sofa ruang tengah yang keras, Adnan terjaga sepanjang malam, merenungi betapa mahalnya harga sebuah kepercayaan yang telah dihancurkan.
Keesokan paginya, saat mereka harus bersikap "normal" di depan Athar meskipun suasana masih tegang, ruang makan kembali terisi.
Kinan sudah rapi dengan gamis berwarna salem yang elegan, sementara Athar sibuk mengunyah roti bakarnya sambil bercerita tentang mimpi robotnya semalam.
Kinan dan Adnan saling melempar pandang sejenak, namun segera membuang muka.
Ada kecanggungan yang sangat kental, sebuah tembok tak kasat mata yang berdiri kokoh di antara mereka, meski di depan Athar mereka tetap berusaha tersenyum.
"Athar sudah kenyang? Kalau sudah, cuci tangan ya, sayang," ucap Kinan lembut sambil merapikan piring Athar.
Setelah Athar berlari ke arah wastafel, Kinan menatap Adnan yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk kopinya yang sudah dingin.
"Mas, nanti aku ke rumah istri Ustadz Yusuf. Aku bersama Athar," ucap Kinan memecah kesunyian. Suaranya datar, namun ada nada ketegasan bahwa ia ingin mulai beraktivitas kembali tanpa terus terkurung dalam kesedihan.
Adnan menganggukkan kepalanya pelan. Ia tidak memiliki alasan untuk melarang, apalagi ia tahu bahwa istri Ustadz Yusuf adalah salah satu orang yang selalu mendukung Kinan di masa-masa sulit.
"Hati-hati di jalan. Perlu Mas antar?" tawar Adnan dengan nada penuh kehati-hatian.
"Tidak perlu, Mas. Aku sudah pesan taksi daring. Aku ingin belajar mandiri lagi," jawab Kinan tanpa menatap mata suaminya.
Adnan hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, kemandirian Kinan kali ini adalah bentuk pertahanan diri.
Kinan sedang membangun kembali dunianya yang sempat runtuh, dunia di mana ia tidak perlu bergantung pada validasi atau perlindungan dari pria yang pernah meragukannya.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅