Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Malam itu hujan kembali turun tipis-tipis di Kota Golden Core. Xiao Han baru saja pulang mengantar Hua Ling’er ke kosannya, motornya masih basah saat dia memarkir di depan kontrakan. Xiao Mei sudah tidur, ibunya tertidur lelap setelah terapi sore tadi. Xiao Han duduk di teras kecil, memandang genangan air di jalan sambil mengeringkan rambut dengan handuk lusuh.
Tiba-tiba ponselnya berdering—nada dering biasa, bukan nada khusus dari Lin Qing atau Hua Ling’er. Nomor tak dikenal, tapi nama kontaknya sudah tersimpan: **Aria**.
Xiao Han menatap layar beberapa detik, lalu menjawab.
“Halo?”
Suara Aria di seberang terdengar cepat, agak terengah, seperti orang yang sedang berusaha tenang tapi gagal.
“Kak Han… maaf ganggu malam-malam. Ini Aria.”
“Iya, aku tahu. Ada apa? Kamu baik-baik aja?”
Ada jeda singkat. Xiao Han mendengar suara hujan di latar belakang, seolah Aria sedang di luar.
“Aku… lagi pindah kosan malam ini juga. Pemilik kos lama tiba-tiba bilang harus kosongin kamar besok pagi karena ada penyewa baru yang bayar lebih mahal. Aku nggak punya banyak barang, tapi aku sendirian… dan malam-malam gini aku nggak tahu harus minta tolong siapa.”
Xiao Han langsung duduk tegak.
“Kamu di mana sekarang?”
“Masih di kos lama, deket kampus. Alamatnya Jalan Bunga Raya Gang 3, nomor 12. Aku udah packing, tapi truk sewaan yang aku pesan batal karena hujan deras. Aku… nggak kenal banyak orang di sini, Kak. Aku dari luar kota, cuma ke Golden Core buat kuliah. Teman cewekku pada pulang kampung atau nggak bisa malam-malam gini. Kamu… kamu orang pertama yang aku pikir bisa aku percaya.”
Xiao Han diam sejenak, memandang pintu kontrakan yang tertutup. Ibu dan Xiao Mei sudah tidur. Dia tahu kalau pergi sekarang, dia akan pulang larut sekali.
Tapi suara Aria terdengar rapuh, hampir memohon.
“Oke. Aku ke sana sekarang. Tunggu ya. Jangan keluar dulu kalau hujan deras. Aku bawa motor, tapi aku hati-hati.”
“Terima kasih, Kak… aku tunggu di depan kosan. Aku udah siapin barang di teras.”
Panggilan terputus.
Xiao Han masuk sebentar ke kamar, mengambil jaket tahan air dan helm cadangan. Dia menulis catatan kecil di meja: “Kak pergi bantu teman sebentar. Pulang malam. Jangan khawatir.” Lalu dia keluar lagi, menstarter motor, dan melaju menembus gerimis.
Perjalanan ke Jalan Bunga Raya memakan waktu hampir 40 menit karena jalan licin dan beberapa ruas banjir kecil. Begitu sampai, Aria sudah berdiri di teras kosan tua bercat krem yang mulai mengelupas. Dia mengenakan hoodie abu-abu besar, celana jogger, dan sepatu kets basah. Di sampingnya ada tiga kardus sedang dan satu koper roda, ditutupi plastik sampah agar tidak kehujanan.
“Kak Han!” Aria melambai pelan, wajahnya lega tapi lelah.
Xiao Han turun dari motor, melepas helm.
“Kamu baik-baik aja? Dingin nggak?”
Aria menggeleng, tapi giginya sedikit bergemeretak.
“Agak dingin. Tapi senang Kakak datang. Aku beneran nggak tahu harus gimana kalau sendirian.”
Xiao Han memandang barang-barangnya.
“Ini semua? Nggak banyak ya.”
“Iya, aku nggak bawa banyak dari kampung. Cuma baju, buku kuliah, laptop, sama beberapa barang pribadi.”
Xiao Han mengangguk, langsung mengangkat dua kardus sekaligus.
“Aku muat ke motor dulu yang kecil-kecil. Sisanya kita pesan ojek online atau taksi. Kosan baru di mana?”
“Di deket kampus juga, Jalan Melati Gang 5. Cuma 15 menit dari sini kalau nggak macet.”
Mereka bekerja cepat meski hujan masih gerimis. Xiao Han memuat kardus di jok belakang motor, mengikat dengan tali yang dia bawa dari kontrakan. Aria membantu mengangkat koper. Dalam 20 menit, sebagian besar barang sudah aman.
“Kita antar dulu yang ini. Aku antar kamu naik motor, barangnya ikut. Sisanya nanti aku balik lagi ambil.”
Aria mengangguk, matanya berkaca-kaca.
“Kak… makasih banyak. Aku beneran nggak nyangka Kakak mau datang malam-malam gini.”
Xiao Han tersenyum tipis, memasangkan helm cadangan ke kepala Aria.
“Aku juga nggak nyangka kamu telpon. Tapi kalau kamu percaya aku, aku nggak akan nolak.”
Aria naik ke jok belakang, memeluk pinggang Xiao Han pelan. Motor melaju pelan menembus malam yang dingin dan basah. Di punggung Xiao Han, Aria bersandar lebih erat—bukan karena takut jatuh, tapi karena merasa aman untuk pertama kalinya sejak pindah ke kota besar ini.
Sampai di kosan baru—sebuah rumah kontrakan dua lantai yang lebih rapi dan terang—mereka langsung bongkar barang. Pemilik kos sudah menunggu dengan kunci, dan Aria langsung membayar sewa bulan ini.
Setelah selesai, Aria berdiri di depan pintu kamar barunya, memandang Xiao Han yang basah kuyup.
“Kak… masuk dulu? Minum air hangat minimal. Kamu kedinginan.”
Xiao Han menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa. Aku harus balik ambil barang sisanya. Kamu istirahat aja. Besok pagi kalau perlu bantu susun barang, aku datang lagi.”
Aria mengangguk, tapi matanya masih menatap lama.
“Janji ya, Kak? Besok pagi datang lagi.”
“Janji.”
Xiao Han memakai helm lagi, menstarter motor, dan melaju kembali ke kosan lama. Di perjalanan pulang yang kedua, hujan sudah berhenti. Angin malam terasa lebih dingin, tapi dadanya hangat.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa berguna bukan karena uang atau status—tapi hanya karena dia ada di saat dibutuhkan.
Dan Aria, gadis dengan mata biru abu-abu itu, mulai terasa seperti angin segar yang tak terduga di tengah kehidupannya yang semakin rumit.