Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Monster Uap Dari Barat
Berita tentang tenggelamnya kapal korvet Inggris dan putusnya kabel telegraf bawah laut mengguncang bursa saham di London dan Amsterdam. Bagi mereka, Jatmika bukan lagi seorang pemberontak—ia adalah "Teroris Teknologi" yang harus dimusnahkan dengan segala cara. Kolonel Thorne tidak lagi hanya memimpin serdadu Marsose; ia kini memimpin Divisi Sains Khusus yang didatangkan langsung dari pusat industri Inggris, membawa teknologi yang sedang dikembangkan secara rahasia di Eropa.
Di pelabuhan Semarang yang kini dijaga ketat, sebuah kapal pengangkut berat menurunkan kargo yang terbungkus terpal raksasa. Saat terpal itu dibuka, rakyat yang dipaksa bekerja di pelabuhan terperangah. Itu bukan meriam, melainkan sebuah raksasa baja beroda rantai besar yang digerakkan oleh mesin uap tekanan tinggi.
"Ini adalah The Behemoth," ucap Thorne kepada para perwiranya. "Traktor uap lapis baja pertama yang dilengkapi dengan meriam putar. Parit-parit Jatmika tidak akan berguna jika kita melindasnya dengan dua puluh ton baja ini."
Di Kendal, Jatmika sedang berdiri di atas menara komunikasi saat ia melihat melalui teropongnya pergerakan yang tidak biasa di kejauhan. Bukan barisan kavaleri yang lincah, melainkan gumpalan asap hitam pekat yang bergerak lambat namun pasti menuju garis pertahanan terluar kota.
"Suro, lapor!" Jatmika berteriak melalui interkom kabel buatannya.
"Raden, ada sesuatu yang bergerak di jalan utama. Bentuknya seperti benteng yang berjalan. Peluru senapan laras alur kita hanya terpental dari kulitnya!" suara Suro terdengar panik.
Jatmika segera menyadari apa yang ia hadapi: Tank Uap (Steam Tank) Primitif. Ia tahu bahwa taktik pertahanan parit yang ia gunakan sebelumnya akan hancur jika dilindas oleh roda rantai tersebut. Ia harus berpikir cepat menggunakan hukum fisika yang berbeda.
"Jangan tembak kulit bajanya!" perintah Jatmika. "Targetkan kaki-kakinya. Dan siapkan Sistem Perangkap Termit."
Jatmika berlari ke bengkel kimianya. Ia tahu baja The Behemoth mungkin tebal, tapi mesin uap membutuhkan satu hal vital agar tidak meledak: Pendinginan dan Pembuangan Panas. Jika ia bisa meningkatkan suhu di sekitar tank tersebut secara drastis, mesinnya akan mengalami overheat atau boiler uapnya akan meledak dari dalam.
"Yusuf, kumpulkan tim pelempar. Kita akan menggunakan Granat Termit Elektrik," Jatmika menjelaskan sambil merakit tabung berisi campuran serbuk aluminium dan oksida besi dengan pemicu kawat pijar. "Satu granat ini bisa menciptakan suhu tiga ribu derajat Celcius. Jangan lemparkan ke meriamnya. Lemparkan ke arah cerobong asap dan saluran masuk udaranya!"
Pertempuran pecah di pinggiran Kendal. The Behemoth bergerak maju dengan suara gemuruh yang menggetarkan tanah. Meriamnya memuntahkan peluru yang menghancurkan barikade beton pertama Jatmika. Pasukan Belanda di belakang tank tersebut bersorak, merasa kemenangan sudah di depan mata.
Namun, Jatmika telah memasang jebakan. Di bawah jalan tanah yang dilalui tank, ia menanam Ranjau Tekanan Magnetik. Saat roda baja raksasa itu menggilas tanah, sebuah sensor magnetik memicu ledakan kecil—bukan untuk menghancurkan tank, tapi untuk menyemprotkan cairan kental yang sangat mudah terbakar ke seluruh permukaan bawah mesin tersebut.
"Sekarang! Tembakkan Termit!"
Suro dan tim penembak jitunya, yang bersembunyi di lubang-lubang rahasia yang tidak terdeteksi, melontarkan tabung-tabung kimia Jatmika. Satu tabung menghantam tepat di cerobong asap The Behemoth.
Seketika, reaksi termit bekerja. Cahaya putih yang menyilaukan muncul dari atas tank tersebut. Suhu ekstrim itu mulai melelehkan pipa-pipa uap di dalam mesin. Logam baja yang seharusnya melindungi kru di dalamnya justru berubah menjadi oven raksasa yang memanggang mereka.
BOOOOOOMMMM!
Boiler uap utama The Behemoth meledak karena tekanan berlebih yang tidak bisa dibuang. Raksasa baja itu berhenti seketika, terbungkus dalam bola api dan uap panas. Pasukan Belanda yang tadinya berlindung di belakangnya kocar-kacir terkena serpihan baja panas.
Thorne, yang memantau dari kejauhan, menggeram. "Dia menghancurkan mesin uap tercanggih Inggris dengan segenggam bubuk aluminium? Bagaimana mungkin?"
Jatmika berdiri di atas bunker, menatap bangkai besi yang masih membara itu. Namun, ia tidak tersenyum. Ia melihat dari balik teleskopnya bahwa di belakang satu tank yang hancur itu, ada lima tank lagi yang sedang turun dari kapal di kejauhan.
"Suro," panggil Jatmika. "Termit kita terbatas. Kita tidak bisa terus bertempur secara frontal seperti ini. Kita harus menggunakan Perang Asimetris yang lebih canggih. Kita akan membuat 'Hutan' ini menjadi hidup."
Jatmika menyadari bahwa Inggris memiliki sumber daya industri yang hampir tak terbatas. Ia harus beralih ke teknologi yang memanfaatkan lingkungan: Sensor Akustik Bawah Tanah. Ia akan menanam "telinga" di seluruh hutan agar ia bisa mengetahui posisi setiap tank musuh bahkan sebelum mereka terlihat, dan menggunakan Senjata Biologi Ringan untuk melumpuhkan kru tank tanpa harus menghancurkan mesinnya.
"Kita akan membuat mereka takut pada setiap jengkal tanah yang mereka injak," bisik Jatmika.