NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Satu Atap

Pagi pertama sebagai Nyonya Wijaya tidak dimulai dengan romantis.

Alina terbangun bukan karena sentuhan lembut atau pelukan hangat, melainkan karena suara ketukan pintu yang teratur dan tegas.

“Non, sarapan pukul tujuh tepat,” suara seorang wanita terdengar dari luar. “Nyonya besar tidak suka menunggu.”

Alina membuka mata perlahan.

Langit di luar jendela masih berwarna abu-abu pucat. Ia menoleh ke samping.

Arsen sudah tidak ada di tempat tidur.

Bagian seprai di sisi pria itu sudah rapi, seolah tidak pernah dipakai. Disiplinnya terasa bahkan dari jejak yang ia tinggalkan.

Alina duduk, menarik napas dalam.

Ini rumah suaminya. Rumah keluarga besar Wijaya. Dan mulai hari ini, setiap langkahnya akan diperhatikan.

Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan memandangi bayangannya di cermin. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan kewaspadaan.

“Kau memilih ini,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Dan ia tidak pernah lari dari pilihannya.

Ruang makan keluarga Wijaya luas dan megah. Meja panjang dari kayu solid mengilap di bawah lampu gantung kristal. Kursi-kursi tersusun rapi seperti formasi yang sudah diatur sejak lama.

Ibu Arsen sudah duduk di ujung meja, mengenakan kebaya elegan berwarna krem. Di sisi kanan kirinya, dua anggota keluarga lain berbincang pelan.

Arsen duduk di tempat biasanya, membaca tablet sambil menyeruput kopi hitam.

Ketika Alina melangkah masuk, percakapan berhenti sesaat.

Tatapan itu kembali.

Mengukur. Menilai.

Alina berjalan dengan tenang, lalu menunduk sopan. “Selamat pagi.”

“Pagi,” jawab ibu Arsen datar. “Duduklah.”

Alina mengambil kursi di samping Arsen. Ia bisa merasakan aroma parfum pria itu samar-samar maskulin, bersih, dan mahal.

Sarapan tersaji sempurna. Roti panggang, telur setengah matang, buah-buahan segar, dan kopi.

Tapi yang terasa paling jelas adalah suasana.

“Bagaimana tidurmu?” tanya ibu Arsen tiba-tiba.

Alina mengangkat wajah. “Baik, Bu.”

“Arsen sering bekerja sampai larut. Kuharap kau tidak merepotkannya dengan hal-hal sepele.”

Kalimat itu halus, tapi maksudnya jelas.

Arsen tidak mengangkat kepala dari tabletnya. Seolah percakapan itu bukan urusannya.

Alina tersenyum tipis. “Saya akan memastikan tidak ada yang perlu direpotkan.”

Ibu Arsen menatapnya lebih lama dari yang diperlukan.

“Bagus,” katanya akhirnya.

Keheningan kembali turun.

Beberapa menit kemudian, seorang pria muda sepupu Arsen menyeringai kecil.

“Kudengar perusahaan ayahmu sedang bermasalah,” katanya santai sambil memotong roti. “Beruntung sekali kau menikah tepat waktu.”

Suasana mengeras.

Alina menyesap air putihnya sebelum menjawab. “Keberuntungan kadang datang dalam bentuk yang tidak terduga.”

Pria itu terkekeh pelan. “Semoga saja keberuntunganmu bertahan lama.”

Arsen akhirnya mengangkat kepala.

“Cukup,” ucapnya singkat.

Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat sepupunya terdiam.

Ia menoleh sedikit ke arah Alina. “Setelah sarapan, ikut aku ke kantor.”

Alina terkejut sesaat, tapi cepat mengangguk. “Baik.”

Ibu Arsen menatap Arsen tajam. “Untuk apa?”

“Sebagai istriku, dia harus tahu lingkungan kerjaku,” jawab Arsen datar.

Alina tidak tahu apakah itu bentuk perlindungan atau sekadar strategi. Tapi ia mencatatnya.

Gedung pusat Wijaya Group menjulang tinggi di pusat kota. Kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi, membuatnya tampak semakin megah.

Begitu mereka masuk ke lobi, bisik-bisik langsung terdengar.

“Itu istrinya?”

“Cantik juga…”

“Tapi bukankah keluarganya hampir bangkrut?”

Alina berjalan di samping Arsen, menjaga jarak yang sopan. Ia bisa merasakan tatapan pegawai yang penasaran.

Lift khusus direktur membawa mereka ke lantai paling atas.

Ruang kerja Arsen luas, minimalis, dengan jendela kaca besar menghadap kota. Meja kayu gelap berdiri kokoh di tengah ruangan.

“Kau bisa duduk di sana,” ujar Arsen, menunjuk sofa di dekat jendela.

Alina duduk dengan anggun, memperhatikan sekeliling tanpa terlihat terlalu ingin tahu.

Beberapa menit kemudian, rapat dimulai.

Para direktur masuk satu per satu. Ketika melihat Alina, sebagian dari mereka tampak terkejut.

“Kita mulai,” kata Arsen tegas.

Presentasi berjalan cepat. Grafik ditampilkan. Proyek-proyek dibahas.

Alina mendengarkan dengan saksama.

Dan ia langsung menyadari sesuatu.

Angka-angka itu tidak stabil.

Ada kebocoran dana di salah satu proyek properti luar negeri. Skema pembiayaannya terlalu berisiko.

Ia menahan diri.

Ini bukan urusannya.

Tapi ketika salah satu direktur berkata, “Kita hanya perlu tambahan pinjaman untuk menutup kekurangan,” Alina akhirnya angkat suara.

“Maaf,” katanya lembut.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Arsen menatapnya datar. “Ada yang ingin kau katakan?”

Alina bangkit perlahan. “Jika kalian mengambil pinjaman tambahan dengan bunga variabel di kondisi pasar seperti ini, risiko fluktuasi nilai tukar bisa melipatgandakan kerugian.”

Ruangan mendadak sunyi.

Salah satu direktur mengernyit. “Anda mengerti tentang ini?”

Alina menatap layar presentasi. “Proyek ini bergantung pada pemasok luar negeri. Jika kurs naik lima persen saja, margin keuntungan kalian hilang.”

Beberapa direktur saling pandang.

Arsen tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Alina dengan tatapan yang lebih tajam dari biasanya.

“Menurut Anda, solusinya?” tanyanya akhirnya.

Alina menatapnya balik. “Alihkan sebagian pendanaan ke skema obligasi jangka menengah dengan lindung nilai. Lebih stabil.”

Hening.

Salah satu direktur berdeham pelan. “Itu… masuk akal.”

Arsen perlahan menyandarkan tubuhnya di kursi. “Lakukan evaluasi ulang dengan skema yang dia sarankan.”

“Baik, Tuan.”

Rapat berakhir lebih cepat dari biasanya.

Ketika ruangan kosong, hanya mereka berdua yang tersisa.

Arsen berdiri, berjalan mendekat.

“Kau bilang tidak akan mencampuri urusan bisnis,” katanya pelan.

Alina menahan tatapannya. “Aku hanya memberi opini.”

“Opini yang cukup akurat.”

Jarak di antara mereka menyempit lagi.

“Di mana kau belajar itu?” tanya Arsen.

Alina tersenyum tipis. “Membaca.”

Arsen jelas tidak sepenuhnya percaya, tapi ia tidak memaksa.

“Kau penuh kejutan,” gumamnya.

Sebelum Alina sempat menjawab, pintu diketuk.

Asisten Arsen masuk dengan wajah tegang. “Tuan, ada masalah.”

“Apa lagi?”

“Salah satu investor utama menarik diri dari proyek pusat perbelanjaan di Singapura.”

Alina merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Singapura.

Ia mengenal proyek itu.

Terlalu mengenal.

Arsen menghela napas pelan. “Atur pertemuan darurat.”

Asisten itu ragu sesaat sebelum berkata, “Investor itu… berasal dari kelompok finansial Altera.”

Alina terdiam.

Altera.

Nama yang tidak pernah disebutkan secara publik sebagai milik keluarganya.

Arsen menoleh perlahan ke arah Alina.

Tatapannya berubah.

“Kenapa wajahmu berubah?” tanyanya pelan.

Alina cepat mengendalikan ekspresinya. “Tidak.”

Tapi Arsen bukan pria yang mudah dibohongi.

Investor dari Altera.

Kelompok finansial terbesar yang selama ini beroperasi di balik layar dunia bisnis.

Dan mereka baru saja menarik diri dari proyek Wijaya Group.

Kebetulan?

Atau peringatan?

Arsen menatap Alina lebih lama dari biasanya.

Di balik ketenangan wajah istrinya, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang tidak cocok dengan citra wanita terdesak yang menikah demi menyelamatkan perusahaan ayahnya.

Sementara itu, di dalam hati Alina, satu pikiran berputar pelan.

Permainan mulai bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Dan Arsen… sudah mulai mencium baunya.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!