Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Mantan
Itu tadi kamu menekankan kata kejujuran di kalimat kamu." Ganesha menuduh. Jelas disini yang merasa sedang berada di tempat dan waktu yang salah adalah Desti dan Yahya. Lain Yahya lain Desti, jika Yahya hanya bisa menghela nafas, menyesap latte dan memotong kue dengan tenang, Desti justru merasa harus merosot dari kursinya sekarang. Meleleh seperti mentega kena panas.
Anyelir menatap Ganesha penuh sorot ketidakpercayaan, ia lantas mendengus, hah! Matanya teralihkan, menatap sekeliling, jelas kini konteksnya bukan lagi kerja sama.
Dan Anyelir mencoba menggiring kembali obrolan itu ke jalur yang benar, "apa ada kalimat dari ucapan saya yang menyinggung nama anda atau Jilo corp, pak? Saya minta maaf, tapi bukan itu maksud saya...saya hanya berbicara, jika kejujuran itu akan jadi pegangan kami dalam bekerja. Dalam membangun kepercayaan pelanggan maupun klien. Saya tidak sedang memberikan gambaran diri seseorang atau sebuah perusahaan."
"Saya bisa jamin pak, setiap agen yang bernaung di Imaginary agency itu adalah agen yang profesional, cakap, baik dalam penampilan, gigih dan jujur. Termasuk Imaginary agency sendiri yang----" ia meminta Desti untuk menunjukan laman di iPad nya, dimana testimoni para klien yang telah dipuaskan dengan hasil kerja Imaginary agency.
Sorot mata Anyelir itu, sesekali ada rasa jengkel yang terselip menatap Ganesha, meskipun kini...ia begitu mati-matian ingin menjambak rambut rapi sang mantan suaminya itu.
Sabar Anye...sabar, ada waktunya kamu bisa santet lelaki satu ini. Oh, atau nanti pas keluar, dorong saja ia secara tak sengaja biar langsung ketabrak.
Anyelir paham kalau Ganesha begitu. Sebab ia tau, sang mantan adalah modelan manusia perfeksionis, yang akan cerewet jika sayur kurang garam sedikit saja. Sementara Anye, ia tak akan ribet dengan menambahkan garam setoples sekalian.
"Ada lagi yang masih terasa mengganjal dan kurang puas, pak?"
Ganesha mengangguk, kembali gestur itu membuat siapapun manusia lawan bicaranya akan merasa jika lelaki ini-----menyebalkan, meremehkan dan angkuh.
"Kapan bisa kita mulai?" tanya Ganesha.
"Kapan saja, pak. Sesuai permintaan klien, kami----"
"Hari ini, bisa?" tembak Ganesha membuat Desti tersedak salivanya sendiri, posisinya tegang benar-benar dibuat syok dunia akhirat, sementara Yahya menunjukan ekspresi dan reaksi yang sama dengan Anye, "hari ini, Nesh?" refleksnya yang kemudian ia menunduk meminta maaf, "maksudnya pak. Hari ini, pak?"
Wajah Anye yang dibuat sudah damai itu, siapa sangka jika ia tengah mengumpat kencang di dalam hatinya, ia tak menduga jika mantan suaminya itu benar-benar menyebalkan lebih dari apa yang dibayangkan dan terjadi selama ini.
Sosok pendiam, baik, dan kaku itu, hanya topeng dari sifat menyebalkan dan kejamnya, atau memang beginilah Ganesha jika sedang bekerja? Deal...ia deal malam ini untuk mendatangi dukun terhebat.
Tangannya sudah mengepal kencang di pangkuan. Namun, Anye menunjukan wajah ramahnya yang klise itu, "maaf. Kalau hari ini mustahil, teken kontrak saja belum pak. Kami juga harus menyiapkan tim marketing dan menyusun scriptnya, toh mas Yahya saja belum kasih kami gambaran kondisi unit properti yang akan kami kerjakan, kan?"
Haha! I'm the winner!!! Tawa jahat Anye yang tentunya hanya bisa ia utarakan di dalam hati. Namun, hal itu tak berlangsung lama sebab....
"Oh, Bu Anye belum tau kawasan elite Kemang yang baru menyedot perhatian para pemburu properti? Sayang sekali, kemana saja Imaginary agency selama ini..." ucapnya, atau lebih tepatnya, kemana saja Anyelir selama setahun ini...
Whattttt?!! Hampir saja bola mata indah Anye menggelinding dari tempatnya.
"Saya tau pak, tapi belum tau bagaimana detailnya setiap unit." Ia sudah menggigit keinginannya mengacak-acak wajah Ganesha, sampai-sampai kedua rahangnya saling menggertak.
"Saya kira bagi Imaginary tak ada hal yang mustahil. Toh tadi anda bicara kapan saja, ternyata anda mengingkari ucapan sendiri." Ia mengangguk-angguk seperti sedang menganggap semuanya enteng. Anye menatap Ganesha yang sudah meraih sendok caramel cake dan menyendok itu ke dalam mulutnya.
Jika hal ini tak akan membuatnya masuk penjara, mungkin Anye sudah naik ke atas meja, mendorong tangan Ganesha yang tengah menyuapkan potongan cake agar sendoknya ikut masuk tertelan menghalangi sirkulasi pernafasan kemudian mati.
Desti, ia sudah menunduk takut sang atasan berubah jadi zombi saat ini, sabar bu...sabar ...ingat! Marah itu temannya se tan.
"Ya sudah, mana perjanjian kontraknya?" tanya Ganesha, matanya sempat kabur dari tatapan Anye membuat kedua asisten disana langsung sibuk. Kini tanpa mengalihkan pandangan dari Anyelir lelaki itu menandatangani kontrak kerjasama mereka. Dan Anyelir melakukannya setelah Ganesha.
Terbersit bayangan waktu lalu, waktu keduanya dihadapkan pada kondisi saling menandatangani surat. Keduanya cukup sering terlihat dalam penandatanganan surat perjanjian bersama.
Anyelir selesai membubuhkan tanda tangannya, namun adu tatapan itu belum usai dari mereka, seolah ada hal yang belum dan tidak bisa selesai hanya dengan kontrak kerjasama Jilo corp dan Imaginary agency.
Kondisi tegang itu, untung saja tak bertahan lama. Cukup teralihkan oleh dua orang yang datang bersama dan menghampiri mereka.
"Anye, Ganes?" mereka mendongak, "Yahya juga? Wah pada lagi ngumpul, reuni atau...."
"Oh, Hay Afiqah." Jawab Yahya yang turut diangguki Ganesha, sementara Anye,
"Udah lama ngga ketemu!!!!" kompak Afiqah dan Anyelir saling menyapa rindu. Melihat gelagat terjadinya obrolan sepasang teman, Ganesha memilih pamit undur diri saja dari sana.
"Semuanya sudah selesai untuk hari ini, kalau begitu kami pamit."
Ganesha memilih untuk tidak mengulurkan tangannya dan pergi begitu saja disusul Yahya yang sudah membayar tagihan meja 5 dan sempat menjabat tangan Anye dan Desti.
Afiqah, ia menggeser kursi dan duduk bersama teman kerjanya, "eh kenalin ini Sintya temen kantorku. Sin, ini Anye...temen kuliahku."
"Hay...ini Desti asistenku." Anye memperkenalkan Desti.
"Kebetulan lagi cari meja. Disini aja..."
Obrolan berlanjut pada kesibukan masing-masing, sampai Afiqah menyeret topik yang menjadi rasa penasarannya, "Nye...tadi itu Ganesha, kalo boleh aku tanya kabar kamu sama Ganesha cerai itu-----" Afiqah terlihat berhati-hati namun Anyelir tak sungkan mengangguk, "ya...aku sama bang Ganesha udah pisah."
Terlihat wajah menyesal dan menyayangkan Afiqah, "wah sayang banget, kok bisa ..padahal kamu sama Ganesha kelihatannya baik, cocok."
Anyelir menggeleng, seolah menunjukan gestur tak ingin lagi membahas hal itu, "panjang, rumit."
Afiqah mengangguk-angguk paham, namun kemudian wajahnya terlihat usil dan menggoda, "kalo gitu udah jalur bebas masing-masing dong, ya? Wahhh, gue bisa curi start buat daftar sama duren dong." tawanya.
Desti mengangkat kedua alisnya merasa jika obrolan ini begitu sensitif, ia kembali minum demi menghindari obrolan itu, andai kata di bawah sana ada hole in the world, maka ia tak segan untuk langsung melompat.
Anye mengehkeh garing nan sumbang, "oh haha. Silahkan aja, kenapa jadi harus ngomong ke gue. Gue udah bukan siapa-siapa Ganesha lagi."
Sungguh Anyelir tak mau lagi terlihat urusan atau obrolan menyangkut Ganesha selain dari pekerjaan sekarang.
Afiqah tertawa, "haha, canda. Eh tapi, nomor Ganesha masih yang dulu kan?"
Anyelir menggeleng, "udah ganti."
Kembali Afiqah mengangguk, "wah, berarti kalo nanti ngajakin reuni susah dong....gue boleh tau nomornya?"
.
.
.
pera klien nya emang yg tertarik dg gaya marketing imaginary... bukan nya mengubah strategi malah njegal perusahaan lain
sehat2 trus yaa Teh