Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 Ketika kebenaran dipertaruhan
Pagi itu, Sakira terbangun dengan perasaan tidak tenang.
Bukan karena mimpi buruk.
Tapi karena firasat.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang kamar besar yang masih terasa asing meski sudah beberapa bulan ia tempati. Rumah megah itu tak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Terlalu luas. Terlalu sunyi. Terlalu penuh rahasia.
Semalam, Raga tertidur di ruang kerja lagi.
Bukan karena pertengkaran.
Tapi karena tekanan.
Sejak gosip tentang pernikahan kontrak mereka mencuat, situasi berubah drastis. Direksi mulai mempertanyakan keputusan Raga. Media mulai berspekulasi. Dan keluarga besar Mahendra menatap Sakira seolah ia adalah kesalahan terbesar dalam hidup CEO muda itu.
Ponselnya bergetar.
Satu notifikasi berita muncul di layar.
Sakira membeku saat membaca judulnya.
“CEO Raga Mahendra Diduga Menikah Demi Warisan: Pernikahan Rekayasa Terkuak?”
Jantungnya seperti jatuh ke dasar.
Tangannya gemetar membuka artikel itu. Foto dirinya dan Raga terpampang jelas di halaman utama portal bisnis nasional. Di bawahnya, tertulis spekulasi tentang perjanjian tersembunyi.
Kontrak.
Itu kata yang ditulis berulang-ulang.
Sakira menutup layar dengan cepat. Napasnya terasa berat.
Ini bukan lagi ancaman kecil.
Ini perang terbuka.
Raga berdiri di depan jendela ruang kerjanya ketika Sakira masuk. Jasnya masih tergantung di kursi, dasinya terlepas, rambutnya sedikit berantakan — tanda ia hampir tidak tidur.
“Kamu sudah lihat?” tanyanya tanpa menoleh.
Sakira mengangguk pelan.
“Ini dari Vanessa?” bisiknya.
Raga menghela napas panjang. “Belum ada bukti langsung. Tapi hanya dia yang punya motif dan akses.”
Sakira menelan ludah. “Kalau ini terus menyebar…?”
“Saham bisa turun. Direksi bisa meminta peninjauan ulang kepemimpinanku
Ia akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, tapi lelah.
“Dan mereka pasti akan menyalahkanmu.”
Kalimat itu seperti pisau tipis.
Sakira menunduk. “Kalau aku pergi sekarang, mungkin semua bisa berhenti.”
Raga melangkah cepat mendekat. “Jangan pernah bicara seperti itu lagi.”
“Aku tidak mau jadi alasan kamu kehilangan semuanya.”
“Kamu bukan alasan. Kamu istriku.”
Kata itu terdengar tegas.
Namun Sakira tahu… di atas kertas, ia memang istri. Tapi di hati Raga?
Ia belum pernah benar-benar yakin.
Siang harinya, ruang rapat direksi terasa seperti ruang sidang.
Beberapa anggota dewan menatap Sakira tanpa senyum. Ada yang terang-terangan berbisik saat ia masuk.
Raga berdiri di ujung meja.
“Kita di sini untuk membahas kinerja perusahaan, bukan kehidupan pribadi saya,” ucapnya tegas.
Seorang direksi senior menyilangkan tangan. “Dengan segala hormat, Tuan Raga, reputasi perusahaan terkait langsung dengan kredibilitas Anda.”
“Apakah benar pernikahan Anda hanya formalitas?”
Sakira merasakan semua mata beralih kepadanya.
Ia ingin menghilang.
Namun Raga menjawab tanpa ragu, “Tidak.”
“Kami mendengar ada dokumen perjanjian.”
Hening.
Sakira menggenggam tangannya sendiri agar tidak terlihat gemetar.
“Setiap pasangan memiliki kesepakatan,” lanjut Raga dingin. “Itu bukan urusan perusahaan.”
Beberapa direksi tampak tidak puas.
“Jika isu ini terbukti benar dan publik merasa dibohongi, dampaknya akan fatal.”
Rapat berakhir tanpa keputusan, tapi satu hal jelas — posisi Raga tidak lagi aman.
Dan Sakira tahu, ia berada di tengah pusaran itu.
Keesokan paginya, keadaan semakin memburuk.
Wartawan mulai memenuhi halaman kantor pusat.
Kamera, mikrofon, suara pertanyaan yang saling tumpang tindih.
Raga menggenggam tangan Sakira sebelum mereka turun dari mobil.
“Apapun yang terjadi, tetap di sampingku,” bisiknya.
Sakira mengangguk.
Konferensi pers dimulai.
Seorang wartawan langsung bertanya, “Apakah benar pernikahan Anda diatur demi memenuhi syarat warisan keluarga?”
Raga menjawab tenang, profesional. “Tidak ada yang melanggar hukum dalam pernikahan kami.”
“Tapi apakah ada kontrak pribadi?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Sakira bisa merasakan napasnya sendiri terdengar terlalu keras.
Dan tiba-tiba—
“Saya bisa menjawabnya. Suara itu muncul dari belakang kerumunan.
Vanessa.
Ia melangkah maju dengan percaya diri, membawa map tipis di tangannya.
“Saya memiliki salinan dokumen yang membuktikan bahwa pernikahan ini memiliki batas waktu.”
Kerumunan langsung gaduh.
Flash kamera menyala tanpa henti.
Sakira merasa dunia berputar.
Vanessa membuka map itu sedikit, cukup untuk memperlihatkan tanda tangan di bagian bawah halaman.
Tanda tangan Sakira.
Dan Raga.
Wajah Raga berubah dingin.
“Kamu melakukan pelanggaran hukum berat,” katanya tajam.
Vanessa tersenyum tipis. “Aku hanya mengungkap kebenaran.”
Seorang wartawan langsung mengarahkan mikrofon pada Sakira.
“Bu Sakira, apakah Anda mencintai suami Anda? Atau ini hanya kesepakatan bisnis?”
Pertanyaan itu seperti palu yang menghantam dada.
Ini bukan lagi soal reputasi.
Ini soal hatinya.
Sakira menatap Raga.
Tatapan mereka bertemu.
Di sana ada ketegangan. Ada rasa takut. Ada sesuatu yang belum pernah mereka ucapkan dengan jelas.
Jika ia diam, publik akan menganggap semuanya benar.
Jika ia berbohong, ia menghianati dirinya sendiri.
Sakira menarik napas panjang.
“Aku menikah bukan karena dipaksa,” ucapnya perlahan.
Semua orang terdiam.
“Dan apapun kesepakatan di awal… yang terjadi setelahnya adalah pilihan.”
“Jadi Anda mencintainya?” wartawan itu kembali mendesak.
Sakira menutup matanya sesaat.
Lalu membuka kembali dengan keberanian yang bahkan ia tak tahu ia miliki.
“Iya.”
Satu kata.
Jujur.
Raga menoleh cepat ke arahnya.
Sakira melanjutkan, suaranya semakin mantap, “Kontrak mungkin mengatur awalnya. Tapi perasaan tidak pernah bisa diatur.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Vanessa terlihat kehilangan senyum percaya dirinya.
Konferensi itu berakhir tanpa kepastian hukum, namun opini publik mulai berubah arah.
Bukan lagi hanya tentang kontrak.
Tapi tentang keberanian seorang perempuan mengakui cintanya.
Malam itu, rumah terasa lebih hening dari biasanya.
Tidak ada wartawan. Tidak ada kamera. Tidak ada Vanessa.
Hanya Sakira dan Raga.
Sakira berdiri di ruang tengah, masih mengenakan gaun yang sama.
“Kamu tidak perlu mengatakan itu,” ucap Raga pelan.
“Kata yang mana?”
“Kamu mencintaiku.”
Sakira tersenyum lemah. “Itu bukan strategi.”
“Apakah itu benar?”
Pertanyaan itu membuat jantungnya bergetar lagi.
“Iya,” jawabnya tanpa ragu kali ini. “Aku tidak tahu kapan tepatnya. Tapi aku tahu perasaanku bukan pura-pura.”
Raga mendekat perlahan.
“Aku takut,” katanya pelan.
“Kamu takut apa?”
“Kalau semua ini hancur… aku tidak hanya kehilangan jabatan. Aku kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat mata Sakira berkaca-kaca.
Namun sebelum jarak di antara mereka menghilang sepenuhnya, ponsel Raga berbunyi.
Pesan dari keluarga masuk.
“Raga, besok rapat keluarga besar. Hak warismu akan ditinjau ulang sampai isu ini selesai.”
Langit yang sempat cerah kembali gelap.
Ancaman kini nyata.
Bukan hanya gosip.
Tapi kekuasaan.
Raga menatap Sakira dengan sorot mata yang lebih dalam dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menandatangani kontrak itu, Sakira sadar—
Ini bukan lagi tentang sandiwara.
Ini tentang apakah mereka cukup kuat untuk memilih satu sama lain ketika seluruh dunia mencoba memisahkan mereka.
Dan badai itu… baru saja dimulai.
Bersambung...