“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 22
Miranda terus merogoh kantungnya, tetapi tidak ada uangnya.
“Kenapa, Mbak?” tanya Mas tukang pecel lele sambil melihat Miranda dengan intens.
“Anu, Mas… uang saya… uang saya… enggak ada…” ucap Miranda dengan tergagap.
Si penjual pecel lele memandang Miranda, lalu tersenyum.
“Oh, enggak ada ya. Ya sudahlah, kalau memang enggak ada, besok bisa datang lagi ke sini,” jawab pedagang pecel lele.
Miranda merasa lega sekaligus tidak enak dan berniat akan membayar dengan tenaga. Mulut Miranda hendak berucap, tetapi lelaki tinggi kurus menyela.
“Kebiasaan dasar gembel. Lu pasti sering enggak bayar, ya. Kalau enggak punya uang, antre saja di sana, tempat kremasi mayat ada pembagian makanan gratis,” ucap pria tinggi itu dengan nada merendahkan.
Raut muka pedagang pecel lele langsung merasa tidak enak pada Miranda, takut tersinggung.
“Sudah, Mas. Mungkin dia lagi kesusahan,” ucap pedagang pecel lele.
“Ah, dasar. Lu, Pip, gimana lu mau kaya kalau terus begini,” ucap pria tinggi itu.
Seorang wanita sedari tadi duduk dekat pedagang pecel lele melihat perdebatan itu, sesekali melihat Miranda, sesekali mengelus perutnya yang sudah besar karena hamil.
“Benar kata Jono, Mas. Jangan biasakan menggratiskan dagangan, enggak baik buat mereka. Mereka harus belajar bekerja untuk makan, jangan terus meminta,” ucap seorang perempuan yang sedari tadi memperhatikan perdebatan itu.
Jono merasa senang mendapatkan dukungan dari wanita itu yang tak lain istri Apip.
“Tuh, dengar kata si Narti, bini lu. Jangan keseringan ngasih makan gratis, nanti mereka jadi pemalas,” ucap Jono.
Apip melangkah ke dekat istrinya dan membelai kepala istrinya yang tertutup kerudung dengan lembut.
“Sayang,” ucap Apip, “sudah, kamu duduk yang tenang. Kita enggak akan jadi kaya karena 17.000.”
Miranda merasa tidak enak dengan perdebatan itu karena dia makan dan uangnya hilang.
“Mas, bagaimana kalau saya bayar dengan bekerja di sini. Saya bisa cuci piring, mengelap meja, dan ikut bersih-bersih,” ucap Miranda dengan nada serius.
“Jangan ketipu, Pip. Kalau dia bekerja dengan lu, bisa-bisa uang lu habis dicuri sama dia,” ucap Jono.
Miranda merasakan dadanya sesak karena dituduh mencuri, padahal dia sedang kena musibah.
“Jon, jangan sembarangan nuduh, enggak baik. Lagian yang memberi aku, kok, bukan kamu. Kenapa kamu yang repot?” ucap Apip dengan nada ketus.
Jono berdiri dan menatap tajam pada Apip.
“Hey, dengar ya. Gue sebagai keamanan di sini cuma ngingetin lu biar lu enggak kemalingan,” ucap Jono sambil bertolak pinggang.
“Maaf, Mas, saya bukan maling,” ucap Miranda. Sedari tadi dia menahan diri untuk tidak membela.
“Mana ada maling ngaku.”
“Apa buktinya kalau saya mencuri, Mas?” bantah Miranda dengan emosi, nadanya agak tinggi.
“Hey, gembel, jangan bentak gue. Mana ada maling ngaku ha..Lu enggak tahu, ya, siapa gue. Ini wilayah kekuasaan gue. Enggak ada yang berani sama gue di sini,” ucap Jono yang merasa tidak senang dibantah oleh seorang perempuan, apalagi dia seorang gembel.
Beberapa orang datang untuk membeli pecel lele. Apip hendak melerai perdebatan itu dan membiarkan Miranda pergi. Baru saja akan bicara, tiba-tiba terdengar raungan motor dan tepat berhenti di depan pecel lele.
“Wey, geng motor,” teriak seorang pembeli. Baru saja dia akan memesan, malah ada pengacau.
Jono melirik ke belakang. Dia melihat ada sepuluh orang pemuda membawa pentungan kayu dan celurit. Nyalinya langsung ciut. Dia lari terbirit-birit.
Wajah Narti tampak panik dan ketakutan. Padahal suaminya sudah melarang ikut berdagang, tetapi entah kenapa malam ini dia ngotot mau ikut dengan alasan ngidam dan Apip tidak bisa membantah. Tapi kali ini dia menyesal ikut.
Apip juga ketakutan. Andai dia sendiri, maka dia akan melawan berandalan itu, tetapi sekarang ada istrinya yang sedang hamil. Tentu saja dia harus banyak perhitungan, terutama keselamatan istri dan calon anaknya.
“Mas, serahkan saja semua uang yang kita miliki, Mas,” ucap Narti.
“Ya, Sayang,” bisik Apip.
Para berandalan semakin dekat ke tenda pecel lele. Tinggal Apip, Narti, dan Miranda.
Miranda diam-diam melangkah mengambil golok yang ada dekat ember tempat cuci piring.
“Serahkan uang kalian,” ucap seorang pria kurus dengan memakai jaket salah satu geng motor yang kerap kali membuat onar.
Dengan tangan gemetar, Apip mengambil uang dari laci.
“Oh, rupanya kalian lagi, ya.”
Miranda berkata. Matanya menatap tajam. Goloknya dia acungkan ke para berandalan itu. Rupanya mereka para berandalan yang pernah mengganggu Miranda.
Pria yang tadi membentak Miranda menatap Miranda.
“Hah, kau wanita gila. Kenapa ada di sini?” ucapnya dengan raut heran.
“Aku memang mencari kalian. Masalah kita belum selesai. Ayo ikut aku ke neraka,” ucap Miranda. Tangannya masih mengacungkan golok.
Berandalan itu diam, melirik teman-temannya.
Miranda tidak akan membiarkan mereka. Miranda melangkah dengan mengacungkan golok.
“Cepat maju. Akan kutebas kepala kalian. Hari ini sudah banyak penderitaan yang kualami. Aku sudah bosan hidup, dan dari kemarin aku mencari teman ke neraka.”
Untuk menghadapi berandalan, pengalaman menunjukkan kalau itu hanya persoalan nyali. Toh, kalau sudah memberikan uang, tidak ada jaminan mereka tidak akan melakukan tindakan lebih kejam.
“Maju kalian semua,” teriak Miranda melengking menggelegar.
Perlahan mereka mundur. Miranda melangkah terus dan kembali berteriak lantang, “Maju kalian semua!”
“Lari, wey. Lari. Dia wanita gila. Dia mah enggak takut mati. Percuma melawan dia,” ucap lelaki itu sambil berlari ke motornya.
Miranda berlari dan mereka semakin cepat berlari serta menghidupkan motor dengan terburu-buru. Raungan motor terdengar. Miranda menyabet-nyabetkan golok ke udara.
“Kenapa lari?” teriak Miranda. “Aku tunggu kalian di sini besok. Mari kita ke neraka,” teriak Miranda hampir saja suaranya serak.
Miranda kembali ke tenda pecel lele.
Apip dan Narti masih terpaku, tak percaya. Wanita yang tadi disepelekan Jono yang sok jago itu sudah mengusir para berandalan.
“Mba, mba, terima kasih, Mba,” ucap Narti. Air mata sedari tadi sudah keluar karena takut dan sekarang karena haru serta merasa bersalah karena tadi sudah ikut merendahkan Miranda.
“Sama-sama, Bu,” jawab Miranda. “Kalau hamil, lebih baik di rumah. Jakarta akhir-akhir ini tidak aman.”
“Maafkan saya, Mba,” ucap Narti.
“Tidak masalah, Bu,” jawab Miranda.
Miranda menatap Apip lalu berkata, “Mas, saya boleh bayar pakai tenaga, Mas?” tanya Miranda.
“Tidak usah, Mba. Malahan saya sudah berutang, sudah diselamatkan Mba. Andai tidak ada Mba, saya enggak tahu harus bagaimana,” ucap Apip.
Setelah beberapa kali perdebatan, akhirnya Apip mengalah dan mengizinkan Miranda bekerja. Awalnya dia mengira Miranda akan kerja asal-asalan, nyatanya Miranda bekerja dengan cekatan dan rapi.
Biasanya ada seorang pegawai, namun malam itu pegawai Apip tak datang.
Malam itu pelanggan pecel lele lumayan ramai. Apip sedikit kewalahan, untung saja ada Miranda. Walau pelanggan banyak, tetapi tidak keteter. Apip bagian memasak, Narti bagian menyajikan dan menerima pembayaran, dan Miranda bagian mencuci piring serta membersihkan meja.
Jam 12.00 malam Miranda berpamitan setelah ikut merapikan peralatan. Giliran Apip memaksa Miranda menerima uang 50.000.
Dan malam itu mereka saling berkenalan.bercengkrama sambil bekerja terasa hangat penuh canda tawa
“Mir, kalau mau makan, ke sini aja,” ucap Narti.
“Iya, saya ke sini, dan lain kali saya akan bawa uang,” jawab Miranda.
“Enggak usah bayar, enggak usah nolak. Ini keinginan bayi saya,” ucap Narti.
Mendengar hal itu, Miranda hanya bisa menganggukkan kepala.
.
Jam 1 malam Miranda mencari tempat untuk istirahat. Dia mencari tempat di dekat gang batu agar subuh bisa langsung ke Bu Salamah.
Di sebuah ruko terdengar suara tangisan anak yang memilukan. Penasaran, Miranda mendekati asal suara itu.
gemes bgt baca ceeitanya