NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.

Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.

[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Sihir Lonceng Kecil dan Senior yang Posesif

|Panggung Kecil - Boulevard Universitas Mulia|

Ilusi itu nyata.

Bagi ratusan mahasiswa yang memadati area boulevard, dunia kampus yang panas dan bising seolah lenyap seketika.

Saat jari-jari Raka menari di atas tuts piano, mereka tidak lagi merasa berdiri di atas aspal Jakarta yang berdebu. Mereka merasa seolah diteleportasi ke Musikverein, Vienna Golden Hall di Austria.

Di hadapan mereka bukan lagi seorang Maba yang dituduh "titipan orang dalem". Di hadapan mereka adalah seorang Virtuoso.

Ting... Ting ting ting...

Melodi "La Campanella" (The Little Bell) karya Franz Liszt bergema jernih. Lagu ini terkenal bukan karena melodinya yang mendayu-dayu, tapi karena tingkat kesulitannya yang tidak masuk akal. Tangan kanan Raka melompat-lompat dengan interval lebar yang memusingkan mata, namun setiap nadanya mendarat dengan presisi.

Cepat. Akurat. Dan penuh jiwa.

Bella Anindya, yang awalnya sempat khawatir Raka akan mempermalukan diri sendiri atau setidaknya main lagu standar seperti River Flows in You, kini menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Matanya terkunci pada jari-jari Raka.

Sebagai seseorang yang belajar piano klasik selama 10 tahun, Bella tahu betul apa yang sedang dia lihat.

"Teknik fingering-nya..." desis Bella tak percaya. "Itu bukan teknik manusia biasa. Jari kelingkingnya... kuat banget."

Lompatan oktaf yang biasanya membuat pianis profesional berkeringat dingin, dilakukan Raka dengan senyum tipis yang santai. Seolah dia sedang mengetik pesan WhatsApp, bukan memainkan salah satu etude tersulit di dunia.

Para mahasiswa yang tadi menghujat termasuk si cowok berkacamata yang menuduh Raka tidak punya bakat kini mematung. Mulut mereka terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Hati mereka bergetar.

Musik itu membawa imajinasi mereka terbang. Mereka seolah mendengar denting lonceng kecil di padang rumput yang luas. Ada perasaan kemenangan, kegembiraan, dan keagungan yang meledak-ledak di setiap crescendo.

Raka memejamkan matanya, menikmati aliran skill [God of Music] yang memandu otot-ototnya. Dia tidak perlu berpikir. Musik itu mengalir keluar dari jiwanya.

Dan kemudian... Klimaks.

Raka menekan rangkaian akord terakhir dengan tenaga penuh, menciptakan dentuman penutup yang megah dan final.

JLEG.

Suara piano berhenti. Raka mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu membiarkannya menggantung di udara sejenak, menahan hening.

Satu detik. Dua detik. Lima detik.

Keheningan di boulevard itu begitu mutlak hingga suara angin yang menggesek daun pohon pun terdengar jelas. Tidak ada yang berani bergerak, takut merusak momen sakral itu.

Lalu...

PLOK.

Seseorang di barisan belakang mulai bertepuk tangan. Lalu diikuti orang di sebelahnya. Lalu sepuluh orang. Lalu seratus orang.

"WOAAAAAHHHH!!!!"

Tepuk tangan itu meledak menjadi gemuruh yang memekakkan telinga. Teriakan kekaguman membahana dari segala penjuru.

"GILA! KEREN BANGET!" "MERINDING GUE BANGSAT!" "ITU TANGAN APA MESIN?!" "ENCORE! LAGI! LAGI!"

Raka berdiri perlahan. Dia mengambil jas Louis Vuitton-nya dari tangan Bella yang masih bengong, lalu menyampirkannya ke bahu dengan gaya cool.

Dia berjalan ke tepi panggung, menatap kerumunan yang tadi mencemoohnya.

Raka tersenyum miring. Tatapannya tajam, menyapu wajah-wajah yang kini merah padam karena malu.

"Gimana?" tanya Raka, suaranya tenang tapi terdengar jelas di sela-sela tepuk tangan yang mulai mereda.

"Sekarang... kalian masih mau bilang ini 'Ordal'?"

"Masih ada yang mau bilang gue nggak punya bakat?"

"Atau gue perlu mainin satu album Beethoven lagi buat buktiin?"

Pertanyaan itu menohok ulu hati para haters. Si cowok berkacamata menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata Raka.

Ini bukan ordal. Ini bakat murni yang melampaui level "Mahasiswa". Raka masuk ke Divisi Seni bukan karena nepotisme, tapi justru Divisi Seni yang beruntung mendapatkan monster seperti dia.

"Enggak, Bro! Lo keren parah!" teriak salah satu mahasiswa. "Sori tadi gue suudzon!"

"Ampun Bang Jago! Lo pantes masuk!"

Suasana berbalik 180 derajat. Raka yang tadinya Public Enemy, kini menjadi Campus Idol instan.

Bella tersadar dari keterpanaannya. Dia melihat Raka yang berdiri gagah di panggung, bermandikan sorak sorai. Jantungnya berdegup kencang bukan main.

Ganteng. Kaya. Dan Jenius Musik. Fix. Cowok ini harus jadi milik gue.

Bella buru-buru naik ke panggung, berdiri di samping Raka sambil bertepuk tangan bangga. Dia memamerkan senyum kemenangannya ke arah kerumunan, seolah berkata: "Liat kan? Pilihan gue nggak pernah salah."

"Raka! Kamu luar biasa!" bisik Bella antusias, meremas lengan Raka.

Raka menoleh. "Thanks, Kak. Jadi gimana? Formulir saya diterima?"

"Diterima?! Itu understatement!" seru Bella. "Kamu langsung lolos! Tanpa syarat!"

Bella kemudian mengambil formulir pendaftaran yang tadi diisi Raka.

Sementara itu, beberapa Wakil Ketua Divisi Seni dan senior-senior cewek lain mulai merubung mendekat. Mata mereka berbinar lapar melihat Raka.

"Eh, Kak Bella! Formulirnya Raka mana? Sini biar kita yang proses administrasinya!" kata Rini, salah satu wakil, sambil mengulurkan tangan.

"Iya, Kak! Biar aku yang input datanya ke sistem!" timpal senior lain genit. "Sekalian mau verifikasi nomor WA-nya, hehe."

Bella menyadari bahaya. Saingan. Para srigala betina ini ingin mencuri start.

Dengan gerakan cepat, Bella melipat formulir itu dan memasukkannya ke dalam saku blazer-nya sendiri. Dia mendekapnya erat.

"Enak aja!" semprot Bella sambil memasang wajah galak yang imut. "Siapa bilang butuh kalian? Urusan administrasi Raka, biar aku sendiri yang urus personally."

"Yah... Kak Bella curang!" protes Rini. "Masa dimonopoli sih? Kakak kan Ketua, harusnya delegasi dong!"

"Iya nih! Kak Bella mau makan sendiri ya?!"

Bella batuk-batuk kecil, mencoba menutupi niat modusnya. "Uhuk! Sembarangan! Ini... ini prosedur khusus! Data Raka itu... ehem... konfidensial! Sensitif! Nggak boleh sembarangan orang liat!"

"Halah! Alasan!" Rini memicingkan mata curiga. "Pasti Kak Bella mau nyimpen nomornya Raka buat dimodusin nanti malem kan?"

"Dih! Nggak ya!" Bella membela diri, wajahnya memerah. "Aku ini profesional! Ketua yang bertanggung jawab!"

"Bohong! Tadi aku liat Kakak masukin formulirnya ke saku dalem, deket jantung!"

"Rini!!!" pekik Bella panik. "Diem nggak?! Atau nilai keaktifan kamu aku potong?!"

"Tuh kan, penyalahgunaan kekuasaan lagi!"

"Bodo amat! Wlek!" Bella menjulurkan lidah, lalu menoleh ke Raka.

"Raka, kamu ikut Kakak ke ruang sekretariat sekarang. Kita... verifikasi data lanjutan. Berdua aja. Biar nggak diganggu para fans fanatik ini."

Tanpa menunggu jawaban, Bella langsung menggandeng (menyeret) lengan Raka kabur dari panggung, meninggalkan para wakil ketua yang menggerutu kecewa.

"Awas ya Kak Bella! Kita laporin ke Presma kalau Kakak bucin sama Maba!"

Raka hanya tertawa kecil sambil membiarkan dirinya ditarik oleh senior cantiknya yang posesif itu.

"Kak, pelan-pelan. Jas saya kusut nanti," goda Raka.

"Biarin! Yang penting kamu aman di tangan Kakak!"

1
:)
harus banget ya king scuma sungkem
Jujun Adnin
ngopi dulu mas raka
ABIMANYU CHANNEL
kasih yg banyak....
rani: siap kak. paling nanti pindah ke max kalo nda lolos.
total 5 replies
Gege
kereen...ditunggu adegan kulit ketemu kulit dan bulu ketemu bulunya...kan udah gede..🤣🤭
Gege
kereen alurnya.. meski banyak mainkan durasi...lanjuuttt thoor..
rani: wkwk. tau aja kak. 🤭
total 1 replies
Arya Rizki Sukirman
mana ini Thor updatenya
rani: besok lagi kak, sehari 3 bab.
makasih sudah baca.
total 1 replies
rani
besok lagi kak. saya updatenya jam 00.00 😁
ellyna munfasya
lanjut Thor 😤
ellyna munfasya
up lagi Thor nanti siang pokoknya 😤
Monchery
kalau ini menurut ku terlalu berlebihan
rani: apanya yg berlebihan kak?. 🤭
total 1 replies
ellyna munfasya
alur nya seru
ellyna munfasya
gak mau tau nanti pagi harus up Thor 😤😤😤
rani: siap kak, sebntar saya upload. 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!