Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Dengan masih memakai balutan kain jarik di tubuhnya, seharusnya wanita cantik bernama Hana itu pulang, tersenyum bahagia sambil menggendong putri pertamanya yang baru saja dirinya lahirkan 2 jam lalu.
Namun, Hana kini harus pulang membawa segenggam luka, ketika kepulangannya ke rumah membawa bayi yang sudah tak bernyawa.
5 tahun penantiannya harus berujung pada luka. Di tengah isakannya menatap sang Bayi yang sudah dibawa menuju pemakaman, keluarga hanya mampu menenangkan.
Setiap malam, Hana kembali lagi menangis. Ia sering membuang Asinya cuma-cuma, sebab d4danya sampai bengkak terasa sakit. Bahkan, Hana juga sering memberikan Asinya pada bayi tetangga yang kebetulan sering ditinggalkan Ibunya bekerja.
Namun tetap saja, sakit itu mengalahkan sesak dalam dadanya.
"Mas, kamu mau kemana? Nanti malam itu 7 hari bayi kita. Ini, kamu siap-siap rapi begini mau kemana?" Hana menatap telisik penampilan Dzaki, meskipun dirinya tak menyangka sang suami akan tega meninggalkanya pagi itu.
Dzaki memegang kedua bahu Hana. Suaranya lembut, tatapanya meyakinkan. "Hana, ada customer yang minta anterin ke luar kota. Palingan kalau nggak macet, sore nanti aku udah pulang. Udah ya, nggak usah mikirin aneh-aneh. Aku hanya bekerja."
Dan memang, selain karyawan kantor biasa, Dzaki juga sering bekerja paruh waktu sebagai driver online, dari sore sampai malam. Hana mencoba mengerti, jika memang suaminya sedang mencari nafkah untuknya.
Pukul 09.00 pagi, Hana juga kedatangan sahabatnya, yakni-Mona. Selama hampir 7 hari itu Mona selalu menyempatkan datang, sekedar menghibur, ataupun memberikan semangat untuk Hana. Sebagai sesama wanita, orang yang pernah ditinggalkan, Mona tahu sesakit apa menjadi Hana, ketika dulu dirinya juga ditinggalkan suami tercinta untuk selama-lamanya.
Mona adalah seorang janda tanpa anak. Suaminya sudah tiada 1 tahun yang lalu.
"Han, maaf kalau nanti aku belum bisa ikut acara 7 harinya anakmu. Aku ada kerjaan ke luar kota. Maaf, ya...." Mona memeluk Hana sekilas, menampakan wajah sedih.
Hana mengangguk kecil, ia usap kasar lengan sahabatnya itu. "Nggak papa, Mon... Namanya juga tanggung jawab. Udah, yang penting kamu ati-ati kerjanya."
Disaat itu, Dzaki keluar dari kamarnya. Pria itu sudah memegang handbag, menatap Mona sekilas, lalu menghampiri Istrinya. "Hana, aku berangkat dulu, ya!" Hana bangkit ketika Dzaki memeluknya sejenak.
Mona yang merasa canggung, kini juga ikut bangkit.
"Han... Aku juga mau pulang, soalnya jam 10 aku nanti aku harus berangkat. Ya sudah," Mona memegang bahu Hana sekilas, berpamitan juga kepada Dzaki.
Namun ketika langkah Mona sampai di ambang pintu, Hana bersuara, "Eh, Mon... Tunggu sebentar!"
Mona menoleh. Dahinya agak mengernyit. Hana sudah berjalan mendekat bersama Dzaki. "Mon, mending kamu bareng aja sama Mas Dzaki pulangnya. Sekalian Mas Dzaki juga mau pergi. Biar kamu nggak jalan kaki."
Dzaki melipat bibirnya dalam, menatap kedua wanita disampingnya secara berganti. Lalu mengangguk kecil sebagai jawaban tidak masalahnya.
"Nggak, Han... Nanti repoti Mas Dzaki," tolak Mona merasa segan.
Hana kembali memegang lengan Mona, tapi matanya menatap Dzaki. "Mas, nggak papa 'kan Mona nebeng bentar. Kasian daripada jalan."
"Nggak papa, lagian 'kan jalanya juga searah." Dzaki menatap Mona, "Ya udah... Ayo Mon sekalian aja."
Mona mengangguk kecil. "Han, aku duluan ya!"
Hana melambaikan tangan pada suaminya. "Mas, hati-hati bawa mobilnya...."
Selepas kepergian dua orang yang paling dirinya percaya, kini langkah Hana di hadang Ibunya ketika akan masuk kamar. Wajah Bu Laksmi agak menyimpan cemas. "Han... Kamu kok biarin Dzaki anterin Mona? Seharusnya kamu biarin aja si Mona jalan kaki, orang rumahnya juga nggak jauh amat."
Hana tersenyum lembut. "Buk, aku percaya kok sama Mas Dzaki dan Mona. Nggak mungkin lah mereka berdua macem-macem. Orang Mas Dzaki juga udah kenal sama Mona dari dulu. Kalau pun iya mereka ada apa-apanya, pasti udah dari dulu lah...." Hana mengusap bahu Ibunya, "Udah ya, Bu... Nggak usah mikirin kemana-mana!"
Setelah itu, Hana masuk kedalam kamarnya begitu saja. Sementara Bu Laksmi, sebagai wanita yang lebih dulu mengenal asamnya hidup, dirinya hanya dapat berdoa, semoga keluarga putrinya selalu dalam lindungan.
7 hari telah berlalu, orang tua Hana juga sudah kembali ke kampungnya. Dan kini, hanya menyisakan dirinya dan sang suami saja. Dalih menenangkan, menghibur Istrinya, Dzaki malah berbuat sebaliknya. Ia sering keluar malam, pulang larut, dan selalu mengacuhkan Hana begitu saja.
Bahkan, Dzaki akhir-akhir ini jarang sekali pulang malam dengan alasan kena macet di jalan sehabis keluar kota.
Hana rasa, hampir mendekati 1 bulan itu, ia telah kehilangan sosok suaminya.
*****
Pagi itu, Hana terbangun sambil meraba bantal suaminya yang masih kosong. Sudah 1 hari semalam ini, Dzaki tidak pernah pulang, alasanya selalu sama terjebak macet.
Semakin hari, perasaan Hana semakin tidak enak. Hana terbangun-menuju kamar mandi sekedar membasuh muka, barulah ia mengambil cardigan rajut, memakainya-lalu keluar dari kamar. Pagi ini Yogya memang agak dingin.
"Mas, kamu masih di jalan, ya? Nanti pulang 'kan? Kalau capek, ijin aja dulu sama kantor."
"Mas, aku masakin apa nanti?"
"Mas, kamu ini sebenarnya kemana sih?"
Disinilah, Hana terduduk diatas sofa dibawah lampu temaram di ruang tamu. Ia membuka gawainya, namun tidak satu pun pesanya dibaca oleh Dzaki. Padahal, suaminya itu baru saja online pukul tengah malam.
Pukul 06.00 pagi, Hana bangkit, ia tekan saklar lampu, lalu beranjak menuju dapur untuk membuat sarapan pagi. Ya, siapa tahu saja-Dzaki pagi ini akan pulang.
Setengah jam kemudian, menu kesukaan Dzaki sudah tersaji diatas meja makan. Tumis kangkung, sambal goreng udang, pelengkapnya hanyalah tempe goreng kriuk. Hana begitu puas menatap hasil olahan tanganya saat ini.
"Semoga aja Mas Dzaki nanti pulang," gumamnya penuh Harap.
Baru saja Hana akan masuk ke kamar mandi, tetiba ia mendengar suara mobil yang memasuki garansi rumahnya. Perasaan Hana menjadi lega, kala ia singkap tirai kordennya, dan ternyata Dzaki pagi ini sudah pulang.
Hana letakan handuk itu diatas kursi. Ia bergegas keluar untuk membukakan pintu suaminya.
Baru saja Dzaki akan mengetuk, namun pintu sudah terbuka terlebih dulu.
Ceklek!
"Mas Dzaki... Kamu pulang akhirnya," Hana sudah bersiap ingin memeluk suaminya, namun kedua tangan Dzaki menahan, menatap Hana dengan dahi berkerut dalam-hingga menelisik.
Dzaki menatap penampilan Istrinya yang hanya menggunakan daster rumahan saja, serta rambut di ikat kuda asal. Tatapan Dzaki pagi ini sukses membuat Hana merasa tak ada harga dirinya.
"Kamu itu bisa nggak sih, Han... Penampilan yang modis sedikit? Kaya Mona, kamu lihat 'kan temen kamu itu? Penampilanya enak di lihat!" cerca Dzaki menghempaskan tangan Istrinya.
Deg!
Hana terpaku. Batinya berisik, dan kenapa harus Mona yang menjadi pandangan mata suaminya.
Namun Hana masih mencoba menepis hal-hal negatif dalam pikiranya. Ia buru-buru masuk mengikuti suaminya. Tujuanya bermaksud menjelaskan.
"Mas, aku hanya belum mandi aja... Aku habis masak buat sarapan kita. Kamu makan, ya?" Hana mencoba memaksakan senyumnya, menggapai lengan Dzaki yang masih di selimuti rasa kesal.
Brak!
Handbag itu Dzaki hempaskan diatas meja, hingga membuat Hana melonjak kaget. Lalu, dengan gerakan cepat, Dzaki tarik lenganya dari tangan Hana.
"Aku selama ini udah tahan-tahan sama kamu, Han... Tapi, semakin hari penampilan kamu itu udah mirip ibi-ibu! Lihat, Mona!" sentak Dzaki menunjuk ke sembarang arah. "Dia bisa berpenampilan menarik! Nggak kaya kamu gini, gak enak dipandang! Bisa-bisa aku sakit mata kalau terus begini. Aku udah capek kerja pagi dari malam, tapi.... Arghhh!!!" geramnya.
Deg!
...----------------...
Assalamualaikum, jumpa lagi sama septi. Mohon dukungan kalian semua dalam cerita Hana ini. Macihhh🙏❤❤