Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Lukisan Punggung.
"Beraninya kau menganggu waktu meneleponku!" Kenzo menggeram marah, dia menendang laki-laki itu dengan kuat sampai membuat rahang laki-laki itu berbunyi dan tubuhnya terpelanting menghantam sudut lemari.
Damian dan Andre yang melihat semua itu langsung menelan salive mereka dengan kasar—merasa ngeri melihat kemarahan sang tuan, sementara Kenzo tampak tidak peduli dan bergegas bicara dengan Rania.
Setelah semuanya selesai, Kenzo beranjak pergi meninggalkan tempat itu menuju apartemen Rania. Dalam perjalanan dia singgah ke sebuah toko bunga, membeli sebuket mawar berwarna merah menyala untuk diberikan pada wanita itu.
Beberapa saat kemudian, sampailah Kenzo di kawasan apartemen Rania. Dia segera keluar dari mobil dan bergegas memasuki tempat itu sembari membawa buket bunganya.
Ting tong.
Rania yang sedang duduk di depan televisi sembari menunggu kedatangan Kenzo, langsung beranjak menunju pintu saat mendengar bel berbunyi. Dengan cepat dia membuka pintu itu. Namun, seketika dia terlonjak kaget saat ada sebuket bunga mawar tepat di hadapannya.
"A-apa yang-" Rania tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat keberadaan Kenzo tepat dibalik buket mawar tersebut, dia menatap laki-laki itu dengan bingung.
"Ambillah," ucap Kenzo.
Rania segera menerima bunga pemberian Kenzo, lalu kembali mendongakkan kepala. "Ini... Untuk apa?" tanyanya pelan.
"Untukmu," jawab Kenzo dengan cepat. Kemudian dia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam apartemen membuat Rania spontan memundurkan tubuhnya.
"Dia membeli semua bunga ini untukku?" Rania tertegun, lalu melihat ke arah buket bunga yang ada ditangannya. Dia memeluk buket itu dengan erat, senyum tipis muncul di wajahnya yang memerah.
Rania lalu membawa buket itu menyusul langkah Kenzo yang sudah masuk duluan. Namun, seketika langkahnya terhenti saat melihat sesuatu di kemeja laki-laki itu—bagian pinggang belakang. Sebuah bercak noda berwarna merah yang sudah hampir mengering, membuatnya langsung mempercepat langkah kakinya dan spontan menarik kemeja Kenzo.
Kenzo menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke arah belakang saat merasa ada yang menarik kemejanya.
"Ini... darah," ucap Rania seraya menatap noda merah itu, sementara Kenzo terdiam sembari memperhatikan apa yang sedang wanita itu lakukan. "Apa kau terluka?" tanya Rania sambil mendongakkan kepala—menatap Kenzo, kalimatnya menggantung. "Darahnya sampai hampir kering."
Kenzo menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai. "Iya, aku terluka." katanya sembari menganggukkan kepala.
"Ke-kenapa bisa sampai terluka?" tanya Rania dengan panik. "Ti-tidak, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang." sambungnya cemas, dia bahkan sampai meletakkan buket bunga yang sejak tadi dipegang ke lantai, lalu memegangi pinggang Kenzo seolah laki-laki itu sedang sekarat.
Kenzo tersenyum, senyum tipis yang nyaris tidak terlihat oleh Rania. "Ini sakit." ucapnya pelan.
Rania tersentak, tangannya yang memegangi pinggang Kenzo langsung bergetar saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Ma-makanya, kita harus segera ke rumah sakit." ajaknya benar-benar panik. Haruskah dia menghubungi Damian dan Andre untuk melaporkan jika Kenzo sedang terluka?
"Tidak." Kenzo menggelengkan kepala, penolakannya membuat Rania langsung menatap tajam. "Aku tidak mau ke rumah sakit." katanya lagi dengan keukeh.
Rania menghela napas. "Kalau gitu biar kulihat dulu lukamu." tawarnya. Jika luka itu parah maka dia akan menarik paksa laki-laki itu ke rumah sakit.
Kenzo mengangguk patuh, lalu dia mengikuti Rania yang menariknya untuk duduk di sofa. Wanita itu juga tampak mengambil kotak P3K untuknya.
"Berbaliklah, lalu buka bajumu," pinta Rania setelah meletakkan kotak yang diambilnya ke atas meja.
Kenzo tersenyum, kemudian berbalik membelakangi Rania. Tangannya sibuk membuka satu persatu kancing kemejanya, lalu perlahan menurunkan kemeja itu untuk memperlihatkan tubuhnya yang terluka.
Deg.
Tubuh Rania seketika menegang, wajahnya memerah, dadanya berdegup kencang saat melihat bahu Kenzo yang mulai terbuka. Dia merutuki dirinya sendiri yang menyuruh laki-laki itu untuk membuka pakaian karena terlalu panik mengetahui jika Kenzo terluka.
Deg.
Kedua mata Rania membelalak lebar saat melihat sebuah tato berukuran besar yang nyaris menutupi seluruh punggung Kenzo, sebuah tato naga dengan hiasan mawar merah menghiasi kulit laki-laki itu. Namun, matanya fokus melihat sesuatu pada tato tersebut, spontan tangannya terangkat menyentuh punggung Kenzo lalu mengusapnya dengan perlahan.
Kenzo terdiam, dia menoleh ke arah belakang saat merasakan usapan tangan Rania di punggungnya yang mulai terasa panas.
"Da-dari mana kau mendapat luka-luka ini?" tanya Rania pelan dengan suara tertahan. Tangannya mengusap punggung Kenzo yang dipenuhi bekas luka, sepertinya luka itu cukup dalam hingga meninggalkan banyak bekas. "Apa karna luka ini kau mentato punggungmu?" sambungnya dengan suara parau, hampir menangis.
Kenzo tersenyum. Tidak disangka Rania bisa melihat luka-luka yang ada di punggungnya, padahal luka-luka itu tertutup sempurna oleh tato naga dan mawar yang sengaja dia buat.
"Benar," jawab Kenzo dengan jujur.
Rania terdiam, matanya memerah sambil terus menatap punggung Kenzo. Sebenarnya apa yang terjadi pada laki-laki itu sampai terluka seperti ini? Dia merasa sedih sekaligus penasaran.
Kemudian Rania menurunkan pandangannya ke pinggang Kenzo, terlihat ada sedikit luka seperti bekas sayatan pisau di sana.
"Aku akan mengobati lukanya, katakan saja kalau sakit," ucap Rania, dia bergegas mengambil kotak yang ada di atas meja dan mulai mengobati luka Kenzo.
Kenzo mengangguk, pandangannya tetap fokus pada Rania, memperhatikan wajah wanita itu yang tengah fokus mengobatinya.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Julian sedang mengamuk karena melihat markasnya hancur dan beberapa anak buahnya terkapar di atas lantai.
"Bajing*an brengs*ek mana yang berani melakukan semua ini?!" teriaknya dengan wajah merah padam. Beberapa anak buahnya tampak menundukkan kepala, sementara yang lain memindahkan anak buahnya yang terkapar di atas lantai.
"Tu-tuan," panggil seorang lelaki yang berada di sudut ruangan. Dia yang sempat pingsan akibat serangan Kenzo, akhirnya bisa membuka mata walau tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Julian segera mendekati anak buahnya itu. "Katakan! Siapa bajing*an yang melakukan ini?!" perintahnya dengan tajam.
"Di-dia, dia adalah laki-laki yang bersama Rania, Tuan."
"A-apa?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda