Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. kepergiannya membuatku menangis.
Mobil berhenti tepat di depan rumah saat langit mulai gelap. Lampu teras menyala otomatis, memantulkan cahaya hangat ke jalan yang masih basah sisa hujan sore.
“Terima kasih sudah menjemput,” kataku sambil membuka pintu.
Haruka mengangguk singkat. “Masuk. Istirahat.”
Nada suaranya terdengar normal. Wajahnya juga sama seperti biasanya—tenang, rapi, tanpa cela. Tapi entah kenapa, ada jarak kecil yang tidak bisa kujelaskan.
Kami masuk ke rumah bersamaan. Ia meletakkan kunci mobil, membuka jasnya, lalu berkata datar,
“Aku ada urusan. Mungkin tidak pulang beberapa hari.”
Aku menoleh cepat. “Urusan apa?”
“Pekerjaan,” jawabnya singkat. Terlalu singkat.
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi langkahnya sudah menjauh. Tidak ada penjelasan. Tidak ada janji kapan kembali. Hanya pintu yang tertutup pelan di belakangnya malam itu.
Aku tidak tahu…
bahwa itu adalah awal dari tiga hari terpanjang dalam hidupku.
Hari pertama, aku masih mencoba tenang.
Mungkin memang sibuk, pikirku.
Hari kedua, pesanku hanya dibaca.
Tidak dibalas.
Hari ketiga, bahkan tidak terkirim.
Rumah terasa kosong dengan cara yang menyakitkan. Setiap sudut mengingatkanku padanya—kursi tempat ia biasa duduk menghadap pintu, cangkir kopinya yang tidak disentuh, balkon lantai tiga yang kini sunyi.
Aku menangis malam itu. Diam-diam.
Bukan karena marah.
Tapi karena takut.
Takut jika suatu hari ia benar-benar pergi tanpa pamit.
Pagi hari keempat, aku pulang dari kampus dengan mata sembab dan kepala berat. Aku membuka pintu rumah dengan langkah lelah—dan berhenti seketika.
Haruka berdiri di ruang tamu.
Rambutnya rapi. Wajahnya tampak… segar. Terlalu segar untuk seseorang yang baru saja menghilang tiga hari. Kulitnya tidak sepucat sebelumnya. Matanya lebih hidup.
Aku tidak berpikir.
Tidak ragu.
Tidak peduli apa pun.
Aku berlari dan langsung memeluknya.
Pelukanku keras. Mendadak. Penuh emosi yang kutahan selama tiga hari.
Haruka terkejut. Tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya diam—menerimanya.
“Alya…?” suaranya terdengar bingung.
Aku menekan wajahku ke dadanya. Tangisku pecah.
“Kamu ke mana saja…?” suaraku bergetar. “Aku pikir—aku pikir kamu benar-benar pergi.”
Tangannya perlahan terangkat, lalu memelukku balik. Canggung. Hati-hati. Seperti seseorang yang tidak terbiasa dipeluk karena dirindukan.
“Aku tidak pergi,” katanya pelan. “Aku kembali.”
Aku mendongak. Menatap wajahnya.
“Wajahmu…” bisikku. “Kamu terlihat berbeda.”
Ia terdiam sesaat, lalu menghela napas.
“Aku tidak ingin kamu tahu sebelumnya.”
“Kenapa?” tanyaku cepat.
Karena aku takut kamu menangis seperti ini, jawab matanya.
“Aku operasi,” katanya akhirnya. “Tiga hari lalu.”
Dunia terasa berhenti.
“Operasi…?” napasku tercekat.
“Paru-paru,” lanjutnya pelan. “Berhasil.”
Kakiku melemas. Tanganku kembali mencengkeram bajunya, seolah takut ia akan menghilang lagi.
“Kamu menjalani itu sendirian…?” suaraku hampir tak terdengar.
“Aku sudah terbiasa,” jawabnya jujur.
Jawaban itu menyakitiku lebih dari apa pun.
“Aku menangis tiga hari karena kamu tidak ada,” kataku lirih. “Dan kamu bilang terbiasa sendirian?”
Ia menunduk.
“Aku tidak terbiasa… ditunggu.”
Air mataku jatuh lagi, tapi kali ini berbeda. Lebih hangat. Lebih lega.
“Mulai sekarang,” kataku sambil memeluknya lebih erat,
“jangan biasakan pergi tanpa pamit.”
Ia membalas pelukanku. Lebih kuat dari sebelumnya.
“Aku akan mencoba,” katanya. “Karena sepertinya… aku tidak ingin pulang ke rumah yang tidak ditunggumu.”
adegan pelukan itu, menjaga emosinya tetap dalam, pelan, dan tidak berlebihan.
Pelukan itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.
Dan Haruka menyadarinya lebih dulu.
Tubuhnya sedikit menegang. Tangannya yang semula memelukku perlahan melemah, lalu ia menggeserkan lengannya—berusaha melepaskan diri tanpa menyakitiku.
“Alya,” ucapnya pelan, nyaris seperti peringatan. “Cukup.”
Aku merasakannya. Gerakan kecil itu. Jarak yang ingin ia ciptakan.
Dan tanpa berpikir, aku justru memeluknya lebih erat.
Tanganku mencengkeram punggungnya sekuat tenaga, seolah jika kulepaskan satu detik saja, ia akan kembali menghilang seperti tiga hari lalu.
“Jangan,” kataku cepat, suaraku bergetar. “Tolong… jangan sekarang.”
Ia terdiam.
Aku bisa merasakan napasnya tepat di atas kepalaku. Berat. Tidak stabil. Seolah ada pertempuran kecil di dadanya—antara kebiasaan menarik diri dan keinginan untuk tinggal.
“Alya,” katanya lagi, kali ini lebih rendah, “kita tidak seharusnya...”
“Aku tahu,” potongku, suaraku pecah. “Aku tahu ini kontrak. Aku tahu kita punya batas. Tapi aku hampir kehilanganmu tanpa tahu apa-apa. Dan sekarang kamu ada di sini… hidup… bernapas…”
Aku menggeleng kecil di dadanya.
“Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku hanya ingin memastikan kamu nyata.”
Tangannya yang semula menggantung akhirnya berhenti bergerak.
Lalu perlahan—sangat perlahan—ia berhenti mencoba melepaskanku.
Aku tidak tahu apakah itu karena lelah, karena sakit, atau karena sesuatu di dalam dirinya akhirnya menyerah.
“Kalau kau terus seperti ini,” katanya pelan, “aku akan lupa bahwa aku seharusnya menjaga jarak.”
“Kalau kamu terus menjaga jarak,” jawabku lirih, “kamu akan terus sendirian.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Aku merasakan dadanya naik turun tepat di pelipisku. Napasnya sedikit tersendat—hampir tidak terdengar, tapi cukup untuk membuatku sadar betapa rapuhnya tubuh yang kupeluk ini.
“Aku tidak ingin kau terikat pada seseorang seperti aku,” ucapnya akhirnya. “Aku bisa pergi kapan saja."
Tanganku mencengkeram bajunya lebih kuat.
“Dan aku bisa menangis lagi,” kataku jujur. “Tapi itu tidak akan membuatku berhenti peduli.”
Ia menutup mata.
Aku tahu karena aku merasakan dahinya menyentuh rambutku—sentuhan singkat, ragu, namun penuh arti.
“Kau membuat segalanya menjadi sulit,” katanya.
Aku tersenyum kecil di balik air mata.
“Dan kamu membuatku tetap tinggal.”
Untuk beberapa detik—atau mungkin menit—kami hanya berdiri di sana. Tidak ada ciuman. Tidak ada janji. Hanya dua orang yang terlalu sadar bahwa apa yang mereka lakukan perlahan melanggar batas… namun juga menyelamatkan satu sama lain.
Akhirnya, Haruka menghela napas panjang dan berkata pelan, hampir menyerah,
“Baik. Sebentar saja.”
Dan itu cukup.
Karena untuk pertama kalinya, aku tidak memeluk pria yang dingin dan tak tersentuh.
Aku memeluk seseorang yang baru saja kembali dari ambang kematian—
dan memilih untuk tidak pergi lagi.