Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni di Menara Kaca
Setelah malam eksekusi publik di hotel, kediaman Malik kembali sunyi, namun bukan kesunyian yang menenangkan. Aira duduk di sofa ruang kerja Aristhide, masih mengenakan gaun merah darah yang kini tampak seperti seragam perang yang ternoda. Aristhide berdiri memunggungi jendela, menatap layar ponselnya dengan rahang yang mengeras.
Pesan singkat tentang "siapa yang membayar jaminan rumah sakit Sofia" terus berputar di kepala Aristhide. Selama sepuluh tahun, ia yakin Bramantyo adalah otak tunggal di balik penderitaan ibunya. Namun, informasi ini menunjukkan adanya kekuatan finansial yang jauh lebih besar, sosok yang tetap berada di bayang-bayang saat Bramantyo melakukan pekerjaan kotornya.
"Aristhide, ada apa?" tanya Aira, menyadari perubahan aura pria itu. "Kau tampak... tidak tenang. Bukankah mereka sudah tertangkap?"
Aristhide berbalik perlahan. Matanya tampak lelah, sebuah pemandangan yang jarang ia tunjukkan. "Bramantyo hanyalah pion, Aira. Pion yang bodoh dan serakah. Tapi pion tidak akan bisa merancang pertukaran bayi di rumah sakit kelas atas tanpa bantuan dari 'pemilik papan catur'."
"Apa maksudmu?"
"Ibuku bukan berasal dari keluarga sembarangan. Sebelum menikah dengan ayahku, dia adalah pewaris tunggal dari Narendra Group. Saat ia dinyatakan depresi dan meninggal, seluruh saham Narendra Group raib, tertelan oleh merger yang rumit dengan perusahaan-perusahaan cangkang di luar negeri," Aristhide berjalan mendekati Aira, berlutut di depannya agar mata mereka sejajar. "Tadi malam, aku baru menyadari bahwa jaminan rumah sakit Sofia bukan dibayar oleh Bramantyo. Dia tidak punya uang sebanyak itu saat itu. Jaminan itu dibayar oleh seseorang bernama Adipati."
Aira mengerutkan kening. Nama itu terdengar asing, namun sangat berwibawa. "Siapa Adipati?"
"Itu yang sedang dicari Yudha," jawab Aristhide singkat.
Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka dengan kasar. Yudha masuk dengan napas tersengal. "Tuan, ada masalah di kantor polisi. Bramantyo... dia menuntut untuk bertemu dengan Nona Aira secara pribadi. Dia bilang, jika Aira tidak datang dalam satu jam, dia akan menghancurkan satu-satunya hal yang masih tersisa dari Sofia Malik."
"Apa lagi yang bisa dia hancurkan?" desis Aira dengan amarah yang kembali membuncah.
"Dia bilang, dia tahu di mana 'surat terakhir' Sofia disimpan. Bukan surat wasiat, tapi surat pengakuan tentang siapa ayah kandung Aira yang sebenarnya," Yudha menunduk, takut akan reaksi Aristhide.
Ruangan itu mendadak terasa dingin. Aristhide bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat cepat hingga kursinya terguling. "Ayah kandung? Apa maksudmu? Ayahku adalah suami Sofia!"
"Bramantyo mengklaim bahwa Sofia berselingkuh sebelum mereka menikah, dan pria itu... pria itu masih hidup dan mencari anaknya selama dua puluh tahun ini," lanjut Yudha.
Aira merasa dunianya berputar. Jadi, penculikan itu bukan hanya soal harta, tapi juga soal menyembunyikan identitas darahnya dari seseorang yang sangat berpengaruh?
Satu jam kemudian, Aira dan Aristhide tiba di markas kepolisian. Suasana di ruang kunjungan sangat suram. Bramantyo duduk di balik kaca pembatas, tangannya terborgol ke meja. Ia tidak lagi tampak seperti pengusaha arogan; ia tampak seperti tikus tanah yang terjepit, namun masih memiliki taring yang beracun.
Aira duduk di kursi di depan kaca tersebut, sementara Aristhide berdiri di belakangnya seperti patung pelindung.
"Kau datang juga, putriku tersayang," suara Bramantyo terdengar hambar melalui interkom.
"Aku bukan putrimu. Jangan pernah sebut kata itu lagi," sahut Aira tajam. "Katakan di mana surat itu, dan mungkin aku akan meminta Aristhide untuk tidak menghancurkan Aina sepenuhnya."
Bramantyo tertawa, suara tawa yang kering dan pecah. "Aina? Dia sudah hancur sejak lahir karena memiliki darahku. Tapi kau... kau berbeda. Kau adalah tiket emasku yang gagal kutukarkan tepat waktu."
Bramantyo mendekatkan wajahnya ke kaca, matanya memerah. "Kau pikir Aristhide Malik mencintaimu? Dia hanya menginginkan darahmu, Aira. Darah Adipati yang mengalir di tubuhmu. Dia tahu jika dia memilikimu, dia memiliki kunci untuk menguasai seluruh sektor industri di negeri ini."
Aira menoleh ke arah Aristhide, mencari bantahan. Namun, Aristhide hanya diam, matanya terpaku pada Bramantyo dengan intensitas yang mengerikan.
"Siapa Adipati sebenarnya?" tanya Aira dengan suara bergetar.
"Adipati Narendra," ujar Bramantyo dengan nada hormat yang aneh. "Pria terkaya di negeri ini yang mengasingkan diri setelah kehilangan wanita yang dicintainya—Sofia. Aku menukarmu bukan hanya untuk memeras Malik, tapi untuk menjauhkanmu dari kekuasaan Narendra. Karena jika Narendra tahu kau masih hidup, dia akan menghancurkan siapa pun yang menyentuhmu. Termasuk aku. Dan Aristhide tahu itu."
Bramantyo tersenyum licik. "Aristhide membawamu ke sini bukan untuk menyelamatkanmu, Aira. Dia membawamu sebagai 'persembahan' atau 'senjata' untuk menghadapi Adipati. Tanya padanya, apa yang dia diskusikan dengan pengacaranya pagi ini soal merger dengan Narendra Group."
Aira berdiri, melepaskan tangan Aristhide yang mencoba menyentuh bahunya. Ia merasa dikhianati untuk kesekian kalinya. Apakah semua orang dalam hidupnya hanya melihatnya sebagai aset? Sebagai jaminan? Sebagai alat?
"Apakah itu benar, Aristhide?" bisik Aira.
Aristhide tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Bramantyo dan memberi isyarat pada petugas untuk membawa pria itu kembali ke sel.
"Aira, dengarkan aku—" Aristhide mencoba bicara saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Jangan sentuh aku!" teriak Aira. Hujan mulai turun, membasahi wajahnya, menyatu dengan air mata yang tak terbendung. "Selama ini aku mengira kau adalah satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia. Ternyata kau hanya pembeli yang lebih cerdik dari Bramantyo. Kau membeliku seharga lima puluh miliar untuk mendapatkan kerajaan triliunan rupiah dari Adipati, kan?"
"Bukan begitu, Aira! Aku memang tahu siapa ayahmu, tapi itu bukan alasan aku menjemputmu!"
"Lalu kenapa kau merahasiakannya?" Aira berhenti di depan mobil, tubuhnya gemetar karena dingin dan sakit hati. "Kenapa kau membiarkan aku mencintaimu di atas kebohongan baru?"
Sebelum Aristhide sempat menjawab, sebuah mobil sedan hitam berhenti dengan suara rem yang mencit. Empat pria berpakaian safari turun dengan sigap. Mereka tidak membawa senjata api, melainkan sebuah lencana perak dengan lambang garuda emas dan inisial AN.
"Nona Aira Kirana?" salah satu pria itu membungkuk sangat rendah, sebuah gestur penghormatan yang sangat formal. "Tuan Besar Adipati Narendra sudah menunggu kepulangan Anda di kediaman utama. Kami di sini untuk memastikan Anda kembali ke tempat yang seharusnya."
Aira menatap pria-pria itu, lalu menatap Aristhide. Aristhide tampak kaku. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ia ingin melawan, namun ia tahu siapa yang sedang ia hadapi.
"Jangan pergi dengannya, Aira," bisik Aristhide, suaranya penuh keputusasaan yang nyata. "Adipati adalah pria yang berbahaya. Dia tidak pernah mengenalmu selama dua puluh tahun. Baginya, kau hanya sebuah klaim kepemilikan."
Aira menatap Aristhide dengan tatapan yang menghancurkan hati pria itu. "Setidaknya dia tidak pernah pura-pura mencintaiku untuk mendapatkan tanda tanganku di atas dokumen bisnis. Dia hanya menginginkan anaknya kembali."
Aira masuk ke dalam mobil sedan hitam itu tanpa menoleh lagi. Saat mobil itu melaju meninggalkan kantor polisi, Aristhide jatuh berlutut di aspal yang basah. Ia telah memenangkan perang melawan Bramantyo, namun ia baru saja kehilangan jiwanya.
Di dalam mobil, Aira menatap ke luar jendela. Ia tidak tahu siapa Adipati Narendra, namun ia tahu satu hal: Ia telah selesai menjadi korban. Jika ia harus menjadi bagian dari permainan kekuasaan, maka ia akan menjadi pemainnya, bukan lagi bidaknya.
Namun, yang tidak diketahui Aira adalah di kursi belakang mobil itu, terdapat sebuah tablet yang menyala. Sebuah video panggilan tersambung. Di layar, tampak seorang pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi dan tatapan mata yang identik dengan mata Aira.
"Selamat datang kembali, Putriku," ujar suara di tablet itu. "Maafkan Ayah karena membiarkanmu berada di tangan orang-orang rendahan itu terlalu lama. Sekarang, mari kita tunjukkan pada dunia apa yang terjadi jika seseorang menyentuh milik keluarga Narendra."
Aira menatap wajah pria itu—ayah kandungnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat bayangan kekuasaan yang sesungguhnya. Kekuasaan yang bisa menghancurkan Aristhide Malik hanya dengan satu jentikan jari.
"Apakah Aira akan menggunakan kekuasaan ayahnya untuk membalas dendam pada Aristhide? Ataukah ia akan menyadari bahwa Aristhide sebenarnya sedang melindunginya dari monster yang lebih besar? yang penasaran tungguin bab selanjut nya yah!!"