NovelToon NovelToon
Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: Guraaa~

Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.

Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.

Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Dataran Kristal dan Ujian Transparansi

Daun Cepat adalah Arbori muda yang lincah dan pendiam, bergerak melalui hutan dengan keanggunan alami, seolah menjadi bagian dari alam itu sendiri. Selama perjalanan dua hari melintasi Hutan Bernyawa, dia mengajari Kaelen dasar-dasar bahasa tumbuhan—bagaimana memahami pesan dari gemerisik daun, pola pertumbuhan lumut, dan nyanyian bunga. Kaelen belajar dengan cepat, kemampuan adaptasinya yang luar biasa membuat pemandunya terkesan.

"Matahari Hijau kita berbeda dari bintangmu," kata Daun Cepat suatu siang, menunjuk ke matahari berwarna hijau lembut di langit. "Ia memberikan energi kehidupan langsung, tetapi juga dapat memperkuat Korupsi jika disentuh oleh kegelapan."

Kaelen memperhatikan bahwa siklus siang-malam di Arborea lebih panjang daripada di Xuan Liang. Satu hari di sini sekitar tiga puluh jam standar. Dia menggunakan waktu ekstra untuk berlatih menyerap energi dunia baru. Dia menemukan bahwa aura di sini kaya dengan elemen kayu dan kehidupan, yang membantu menyembuhkan luka-luka sisa pertempuran sebelumnya dan mengkonsolidasikan level kultivasinya di puncak Lapis Keempat Qi Gathering (setara dengan sistem kekuatan dunia ini, meskipun klasifikasinya berbeda).

Pada hari ketiga, mereka mencapai tepi hutan. Di depan mereka terbentang Dataran Kristal—hamparan luas kristal yang tumbuh dari tanah seperti hutan mineral, memantulkan cahaya dari dua bulan dan matahari hijau, menciptakan pemandangan yang mempesona namun menakutkan. Kristal-kristal itu berwarna biru, ungu, hijau, dan merah muda, berkilauan dengan cahaya internal mereka sendiri. Tidak ada tanda-tanda kehidupan hewan atau tumbuhan di sini, hanya keheningan yang terpecah oleh dengungan halus dari kristal yang bergetar.

"Di sinilah kita berpisah," kata Daun Cepat, suaranya bergetar sedikit. "Aku tidak bisa melangkah lebih jauh. Kristal-kristal itu akan bereaksi terhadap energiku yang berpusat pada kehidupan dan mungkin menjadi agresif. Tapi mereka mungkin menerimamu karena kau asing. Ingat, jaga pikiranmu tetap jernih dan tenang. Emosi negatif—ketakutan, kemarahan, keraguan—dapat memicu serangan."

Kaelen mengangguk, mengucapkan terima kasih kepada pemandunya. Daun Cepat memberinya sekantong buah kering dan sebotol air embun sebelum berbalik dan menghilang kembali ke dalam hutan.

Dengan hati-hati, Kaelen melangkah ke dataran. Saat kakinya menyentuh tanah berdebu di antara kristal, getaran halus merambat melalui sol sepatunya. Kristal di sekitarnya bergetar, mengeluarkan suara seperti lonceng kecil. Dia merasakan kesadaran samar dari kristal-kristal itu—kesadaran kolektif yang primitif namun kuat, peka terhadap gelombang pikiran dan energi.

Dia berjalan perlahan, menjaga pikirannya tetap fokus pada tujuannya: mencapai lereng gunung di seberang dataran, di mana jalan menuju Kerajaan Awan dikatakan dimulai. Namun, kenangan dari dunia sebelumnya mengganggunya—wajah Lio, tatapan waspada Lin Xia, senyum sinis Arlan. Kecemasan akan Pemburu yang membuntutinya juga merayap di benaknya.

Tiba-tiba, kristal di sebelah kirinya bergetar keras, lalu tumbuh dengan cepat, membentuk duri tajam sepanjang pedang yang menyerang ke arahnya! Kaelen melompat mundur tepat waktu, duri kristal itu menancap di tanah tempat dia berdiri beberapa detik sebelumnya.

Dia menarik napas dalam-dalam. Kendalikan emosimu. Dia memulai latihan pernapasan meditatif, membersihkan pikirannya dari semua gangguan. Dia membayangkan dirinya sebagai batu di sungai, membiarkan pikiran mengalir tanpa melekat. Perlahan, kristal di sekitarnya menjadi tenang kembali, dan dengungan mereka kembali lembut.

Dia melanjutkan perjalanan, sekarang dengan fokus yang lebih tajam. Namun, tantangan tidak berakhir di sana. Dataran itu luas, dan dia harus menemukan jalan yang tepat. Peta mental yang diberikan Sulur Utama menunjukkan bahwa dia harus mengikuti pola tertentu—berjalan di mana bayangan dari puncak kristal tertentu jatuh saat matahari berada di puncak.

Dia menunggu hingga matahari hijau tepat di atas kepala, lalu mengamati bayangan. Sebuah kristal raksasa berbentuk piramida di kejauhan melemparkan bayangan yang membentuk jalan lurus menuju timur. Dia mengikutinya.

Setengah jalan melintasi dataran, dia menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan: jejak kaki. Bukan dari Arbori, tapi dari sepatu boot—jejak manusia. Dan ada beberapa set, baru saja. Pemburu! Mereka telah melewati sini, mungkin menuju ke tujuan yang sama.

Dia mengikuti jejak dengan hati-hati, berusaha menghindari pertemuan langsung. Jejak mengarah ke sebuah formasi kristal besar di tengah dataran—sebuah lingkaran batu yang terbuat dari pilar kristal raksasa, setinggi sepuluh meter. Saat mendekat, dia mendengar suara-suara yang teredam.

Dia bersembunyi di balik pilar dan mengintip. Ada lima Pemburu, semuanya mengenakan jubah hitam dengan simbol Ordo Penghapusan—mata tertutup dengan garis melintang di atasnya. Mereka sedang memeriksa sebuah peta holografik yang diproyeksikan dari sebuah artefak berbentuk bola.

"Sumbernya mengarah ke sini, di lingkaran ini," kata salah satu dari mereka, seorang wanita dengan suara tajam dan bernada tinggi. "Tapi kita butuh kunci untuk membuka jalan ke atas."

"Kita bisa memaksa dengan bom energi. Hancurkan kristal ini," usul seorang pria bertubuh besar.

"Bodoh! Itu akan memicu reaksi berantai dan menghancurkan kita semua," sanggah wanita itu. "Kita harus menemukan cara lain."

Kaelen melihat ke arah lingkaran. Di tengah, ada sebuah altar dengan lekukan berbentuk bintang bersegi lima. Bentuknya mengingatkannya pada medali Alaric—mungkin medali itu juga berfungsi di sini? Atau mungkin fragmennya sendiri adalah kunci.

Dia harus melewati mereka atau mengusir mereka. Tapi melawan lima Pemburu sendirian terlalu berisiko. Dia memutuskan untuk menunggu dan melihat.

Pemburu-pemburu itu terus berdebat. Tiba-tiba, kristal di sekeliling lingkaran bersinar dengan cahaya putih terang, dan sebuah suara bergema seperti kristal yang pecah: "Hanya yang murni hatinya dan memiliki Cahaya Bintang yang dapat membuka jalan."

Para Pemburu terkejut. "Cahaya Bintang? Itu pasti merujuk pada fragmen! Siapa yang membawanya?"

Mereka mulai memindai area dengan alat detektor berbentuk cakram. Kaelen bersembunyi lebih dalam, tetapi detektor mereka berbunyi bip keras ke arahnya. Mereka menemukannya!

"Di sana! Keluar!" teriak pemimpin wanita.

Kaelen tidak punya pilihan. Dia melompat keluar dari persembunyiannya, menghadapi mereka. "Saya tidak ingin bertarung. Biarkan saya lewat."

"Fragmen! Serang!" Mereka menyerang tanpa ragu.

Kaelen bertarung dengan sengit. Dia menggunakan teknik barunya, memanipulasi energi kristal di sekitarnya untuk menciptakan penghalang dan serangan. Dengan pemahaman barunya tentang Hukum Resonansi, dia menyuruh kristal kecil bergetar dan meledak, menghalangi pergerakan musuh. Tapi lima lawan satu sulit. Mereka terlatih dan bekerja sama dengan baik. Dia terluka lagi, terkena pedang energi di lengan dan tendangan di tulang rusuk, terdesak ke arah altar.

Dalam keputusasaan, dia mengambil medali Alaric dari sakunya dan menempatkannya di lekukan berbentuk bintang di altar. Tidak terjadi apa-apa. Tapi kemudian, dia mengeluarkan energi fragmennya—cahaya biru lembut dari dua fragmen memancar dari dadanya.

Altar bereaksi! Pilar-pilar kristal bersinar terang, dan sebuah jalan cahaya muncul dari altar, mengarah ke atas ke langit, seperti tangga yang terbuat dari sinar matahari yang dipadatkan. Para Pemburu terpesona untuk sesaat oleh pemandangan itu.

Kaelen tidak membuang waktu. Dia melompat ke tangga cahaya dan mulai berlari ke atas. Tangga itu stabil di bawah kakinya, meskipun tampaknya terbuat dari cahaya. Para Pemburu mencoba mengikutinya, tapi tangga itu menolak mereka, mengeluarkan gelombang kejut yang melemparkan mereka kembali ke tanah.

"Gagal lagi! Tapi kita akan menunggumu di atas!" teriak pemimpin wanita dengan amarah.

Kaelen mendaki tangga cahaya yang naik melalui lapisan awan. Di bawahnya, Dataran Kristal semakin kecil, sampai akhirnya menghilang di balik kabut. Setelah mendaki selama mungkin lima belas menit, dia mencapai puncak—sebuah platform awan yang padat, seperti tanah berwarna putih dan abu-abu, di depan gerbang besar yang terbuat dari kabut dan cahaya. Gerbang ini menuju Kerajaan Awan.

Dia melangkah melalui gerbang, dan tangga cahaya di belakangnya menghilang. Dia aman untuk sementara. Tapi dia tahu Pemburu akan menemukan cara lain. Dia harus bergerak cepat.

Di depan, terbentang Kerajaan Awan—sebuah dunia di atas awan, dengan istana yang terbuat dari kristal dan kabut, sungai-sungai cahaya cair, dan makhluk-makhluk bersayap yang elegan terbang di langit. Ini adalah rumah para Sylph.

Seorang Sylph, humanoid dengan sayap seperti kupu-kupu raksasa yang transparan dan tubuh yang hampir tidak kasat mata, mendekatinya dengan gerakan melayang. "Pejalan dari Bawah. Ratu menunggumu. Ikuti aku."

Kaelen, lelah tetapi penuh harapan, mengikuti Sylph itu menuju Istana Awan, di mana fragmen ketiga dan ujian baru menantinya.

Bab 13: Istana Awan dan Ratu yang Terasing

Istana Awan adalah struktur yang memesona, terbuat dari kristal yang tampaknya terbuat dari kabut yang dipadatkan dan es. Seluruh istana mengapung di atas lautan awan, dengan jembatan cahaya yang menghubungkan menara-menara yang menjulang tinggi. Sylph, makhluk udara yang anggun dengan sayap yang berkilauan seperti kaca patri, meluncur di sekitarnya, menyanyikan melodi yang menenangkan yang terdengar seperti angin sepoi-sepoi melalui daun.

Kaelen dibawa ke aula utama, sebuah ruangan luas dengan langit-langit setinggi yang tak terlihat, dihiasi dengan gumpalan awan berwarna yang bergerak lambat seperti lukisan hidup. Di ujung aula, di atas takhta yang terbuat dari kristal es murni, duduk Ratu Sylph.

Ratu Sylph adalah sosok yang memesona. Dia memiliki keindahan yang tak terkatakan, dengan fitur wajah halus seperti dipahat dari es, mata biru tua seperti langit malam yang bertabur bintang, dan rambut panjang berwarna platinum yang bergerak perlahan seolah tenggelam dalam air. Sayapnya sangat besar dan indah, seperti kaca patri yang memantulkan semua warna pelangi. Namun, wajahnya menunjukkan kesedihan yang dalam, dan matanya memancarkan kelelahan yang telah berlangsung lama.

"Pejalan dengan Jiwa Bintang," suara Ratu seperti angin sepoi-sepoi yang merdu, bergema di seluruh aula. "Kau datang untuk Yang Ketiga."

Kaelen membungkuk dengan hormat. "Ya, Yang Mulia. Saya mencari bagian dari diri saya yang hilang."

"Yang Ketiga ada di dalam diriku," kata Ratu, mengejutkan Kaelen. "Bukan sebagai benda fisik, tapi sebagai bagian dari kesadaranku. Dahulu kala, untuk menyelamatkan kerajaanku dari bencana besar—badai energi yang akan menghancurkan semua kehidupan awan—aku menyatu dengan fragmen itu. Itu memberiku kekuatan untuk menenangkan badai dan mempertahankan awan serta kehidupan di dalamnya, tetapi juga mengurungku di takhta ini. Jika kau mengambilnya, keseimbangan yang rapuh ini mungkin runtuh, dan kerajaanku akan binasa."

Ini adalah dilema yang tidak terduga. Kaelen tidak bisa begitu saja mengambil fragmen itu tanpa menyebabkan kehancuran. "Apakah ada cara lain? Mungkin saya tidak perlu mengambilnya sepenuhnya?"

"Ada satu cara," kata Ratu, suaranya sedikit lebih cerah. "Kau harus menemukan akar dari masalah yang awalnya memaksaku menyatu dengan fragmen itu. Korupsi yang sama yang kau lihat di hutan Arborea, juga mengancam kerajaanku. Sumbernya adalah sebuah kristal kegelapan yang tertanam di jantung Badai Abadi, jauh di utara istana. Hancurkan kristal itu, dan ikatan antara diriku dan fragmen akan melemah, memungkinkan pemisahan tanpa kehancuran. Tapi Badai Abadi adalah tempat yang sangat berbahaya, dijaga oleh makhluk angin yang telah terganggu oleh korupsi."

Kaelen setuju tanpa ragu. Dia tidak punya pilihan lain. Ratu memberinya peta kristal yang menunjukkan rute ke Badai Abadi dan sebuah jimat angin berbentuk bulu burung yang akan membantunya bernapas di dalam badai dan melindunginya dari angin yang paling ganas. Dia juga memperingatkannya tentang Pemburu. "Mereka telah mencoba mencapai Badai Abadi, tapi sejauh ini gagal. Namun, mereka gigih. Kau harus waspada."

Kaelen berangkat dengan seorang pemandu Sylph bernama Zephyr, seorang Sylph muda dengan sayap berwarna biru pucat. Mereka terbang menuju utara menggunakan sayap angin yang diciptakan oleh jimat Ratu. Perjalanan udara memakan waktu beberapa jam melewati pemandangan awan yang indah tapi sunyi—lautan awan putih, pulau-pulau awan berwarna, dan formasi kristal es yang mengambang.

Badai Abadi terlihat dari kejauhan—pusaran raksasa awan hitam dan abu-abu, dengan petir berwarna ungu dan hijau menyambar tanpa henti. Angin yang keluar darinya bahkan dari jarak jauh terasa seperti pisau. Saat mereka mendekat, kekacauan energinya terasa menyakitkan di kulit Kaelen. Zephyr tidak bisa masuk lebih jauh. "Aku akan menunggumu di sini, di tepi badai. Hati-hati, Pejalan. Badai ini telah menelan banyak petualang."

Kaelen mengangguk dan menerjang masuk ke dalam badai.

Di dalam, dunia berubah menjadi neraka angin dan petir. Angin berteriak dengan suara yang hampir manusiawi, mencoba merobeknya berkeping-keping. Dia menggunakan jimat untuk menstabilkan dirinya dan bergerak menuju jantung badai, di mana peta menunjukkan lokasi kristal kegelapan. Visibilitas hampir nol; dia hanya bisa bergantung pada indera energinya untuk bernavigasi.

Dia merasakan sumber korupsi—sebuah kehadiran gelap yang berdenyut seperti jantung yang sakit. Saat mendekat, dia melihatnya: sebuah kristal hitam besar, setinggi manusia, mirip dengan yang di hutan Arborea tetapi jauh lebih besar, mengambang di tengah pusaran angin. Di sekelilingnya, makhluk angin—entitas yang terbuat dari udara yang dipadatkan dan petir—berputar-putar dengan mata merah menyala, dikendalikan oleh korupsi kristal.

Dia harus menghancurkan kristal itu. Tapi makhluk angin menyerang begitu dia mendekat. Mereka cepat dan mematikan, menyerang dengan cakar angin dan sambaran petir. Pertempuran sengit terjadi. Kaelen menggunakan kekuatannya untuk menciptakan perisai angin dan menyerang dengan energi pemurnian dari fragmennya. Satu per satu, dia mengusir makhluk angin, tetapi mereka terus datang tak henti-hentinya, seperti badai itu sendiri.

Dia menyadari bahwa dia tidak bisa menghancurkan kristal sambil terus bertahan. Dia harus mengambil risiko. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, dia berlari langsung ke arah kristal, mengabaikan makhluk angin yang mencakar dan menyambarnya. Dia mengumpulkan semua energinya menjadi satu titik di tangannya, dipenuhi dengan niat pemurnian murni dari fragmennya.

Makhluk angin menyerangnya dengan ganas, melukai punggung dan bahunya, darah berceceran dan langsung tersapu angin. Tapi dia terus maju, matanya tertuju pada kristal hitam.

Dia mencapai kristal dan menempatkan tangannya yang bercahaya di atasnya. Energi gelap mencoba menggerogotinya, rasa sakit yang membakar menyebar melalui lengannya. Tapi dia bertahan, memfokuskan semua keinginannya untuk memurnikan. Prosesnya lambat dan menyakitkan. Darah mengalir dari hidung dan telinganya, dan penglihatannya mulai kabur. Tapi dia tidak menyerah.

Akhirnya, dengan erangan terakhir, kristal itu retak, lalu pecah berkeping-keping. Gelombang energi murni menyebar dari titik itu, membersihkan korupsi dengan cepat seperti tinta yang larut dalam air. Badai mulai mereda. Angin berhenti berteriak, berubah menjadi desahan lembut. Petir berhenti. Makhluk angin berhenti menyerang, mata merah mereka menghilang, dan mereka melayang pergi dengan tenang, kembali menjadi angin biasa.

Kaelen, dengan tenaga terakhir, jatuh ke awan yang lembut, hampir pingsan. Tapi sebelum dia kehilangan kesadaran, dia merasakan sesuatu—sebuah kehangatan lembut dari Istana Awan jauh di selatan. Fragmen ketiga terlepas dari Ratu dan bergerak menuju dirinya, seperti anak panah cahaya biru terang yang melintasi langit. Cahaya itu memasuki dadanya, dan gelombang ingatan serta kekuatan baru membanjiri dirinya.

Dia melihat kehidupan fragmen ini—sebagai penjaga keseimbangan di dunia awan, lalu menyatu dengan Ratu untuk menyelamatkan kerajaan dari korupsi sebelumnya. Pengetahuan tentang elemen angin dan cuaca, tentang seni mengendalikan awan dan kabut, menjadi miliknya. Dia juga merasakan lokasi fragmen keempat: di dunia lautan di seberang portal lain, sebuah tempat bernama Aquaria.

Dia terbangun di istana, dirawat oleh Sylph penyembuh. Ratu Sylph berdiri di sampingnya, sekarang terlihat lebih muda dan bebas, wajahnya cerah tanpa beban. "Terima kasih, Pejalan. Kau telah menyelamatkan kerajaanku dan membebaskanku. Sebagai rasa terima kasih, kami akan membantumu mencapai portal ke dunia berikutnya. Tapi bersiaplah, karena Pengintai kami melaporkan bahwa Pemburu telah mengumpulkan kekuatan mereka di gerbang portal."

Kaelen berdiri, merasa lebih kuat dari sebelumnya. Dengan tiga fragmen, level kekuatannya setara dengan Foundation Establishment awal, dan pemahamannya tentang Hukum semakin dalam. Dia siap untuk menghadapi Pemburu dan melanjutkan perjalanan.

Ratu memberinya petunjuk ke portal, yang terletak di Puncak Angin, puncak tertinggi di Kerajaan Awan, di mana langit bertemu langit. Dia berangkat dengan ditemani sekelompok kecil prajurit Sylph elit, mengetahui bahwa pertempuran besar menantinya di gerbang antara dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!