NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Suara Masa Lalu

Udara di dalam terowongan itu terasa berat, seolah memiliki massa yang menekan dada setiap kali Elara mencoba menarik napas. Bau tanah basah bercampur dengan aroma logam berkarat menciptakan sensasi anyir yang menusuk hidung, mengingatkannya pada aroma darah yang telah mengering selama puluhan tahun. Cahaya senter di tangannya berkedip lemah, menyoroti dinding bata merah yang berlumut dan meneteskan air hitam pekat seperti keringat dingin dari pori-pori bangunan tua ini.

"Jangan melihat ke samping, Neng Elara. Fokus saja pada punggung saya," suara Pak Darto terdengar parau, memecah keheningan yang mencekam di lorong sempit itu. Pria tua itu berjalan tertatih-tatih di depan, memegang sebuah linggis berkarat yang ditemukannya di ruang generator sebelumnya, seolah senjata itu bisa melindunginya dari apa pun yang bersembunyi di kegelapan.

Elara mengangguk meski tahu Pak Darto tidak bisa melihatnya, kakinya melangkah hati-hati menghindari genangan air yang tingginya semata kaki. Sepatunya yang basah kuyup mengeluarkan bunyi kecipak yang menggema terlalu keras, seakan memberi sinyal keberadaan mereka kepada penghuni tak kasat mata di RSU Cakra Buana. Rasa takut merambat naik dari tulang punggungnya, bukan karena kegelapan itu sendiri, melainkan karena perasaan diawasi oleh ribuan mata dari balik dinding.

"Bapak yakin ini jalan menuju sungai? Kita sudah berjalan hampir dua puluh menit, tapi rasanya kita justru makin masuk ke dalam perut bumi," bisik Elara, suaranya gemetar menahan dingin yang mulai menggigit kulit.

Pak Darto berhenti sejenak, mengarahkan cahaya senternya ke langit-langit lorong yang rendah dan dipenuhi pipa-pipa tua yang meliuk seperti ular raksasa. Dia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang gemetar, matanya menyiratkan keraguan yang berusaha dia sembunyikan.

"Dulu, saat renovasi tahun 80-an, kakek saya pernah bilang ada saluran pembuangan limbah medis yang langsung tembus ke Sungai Citarum lama di belakang rumah sakit. Jalurnya memang memutar, Neng, karena dibangun untuk menyembunyikan sesuatu," jawab Pak Darto, nadanya merendah di akhir kalimat.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan, kali ini medan semakin sulit karena lantai lorong mulai menurun curam dan licin oleh lumpur. Di sisi kiri dan kanan lorong, Elara mulai melihat pintu-pintu besi berkarat dengan jendela kecil berjeruji, mirip sel penjara atau mungkin ruang isolasi bagi pasien gangguan jiwa di masa kolonial. Pintu-pintu itu tertutup rapat, namun ada sensasi aneh seolah ada hembusan napas hangat yang keluar dari celah-celah di bawahnya.

"Jangan berhenti," tegur Pak Darto tajam ketika melihat Elara terpaku menatap salah satu pintu yang memiliki bekas cakaran dalam di permukaannya.

Elara tersentak, memaksakan kakinya untuk bergerak, namun ekor matanya menangkap pergerakan bayangan di dalam salah satu sel itu. Dia menelan ludah, berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya halusinasi akibat kurang oksigen dan rasa takut yang berlebihan. Namun, suara gesekan logam yang terdengar lirih dari belakang mereka membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

"Pak... Bapak dengar itu?" tanya Elara, kali ini dia tidak berani menoleh ke belakang.

Pak Darto tidak menjawab, langkahnya justru semakin dipercepat hingga setengah berlari, menyeret kakinya yang pincang menembus genangan air yang kini setinggi betis. Dia tahu suara itu; suara roda brankar tua yang berdecit karena kurang pelumas, suara yang sering didengarnya saat piket malam di kamar jenazah lantai atas.

Bunyi 'krieeet... krieeet...' itu semakin jelas, berirama, dan mendekat dengan kecepatan yang tidak wajar. Jantung Elara berpacu liar, memompa adrenalin yang memaksanya untuk ikut berlari menyusul Pak Darto. Lorong itu terasa memanjang tanpa ujung, seolah dinding-dindingnya meregang untuk mempermainkan keputusasaan mereka.

"Di depan sana! Ada pintu air!" seru Pak Darto, mengarahkan senternya ke sebuah gerbang besi masif yang tertutup lumut tebal di ujung lorong.

Harapan membuncah di dada Elara, namun segera terhempas ketika mereka menyadari ada gundukan besar yang menghalangi jalan menuju gerbang itu. Itu bukan sekadar tumpukan sampah, melainkan tumpukan peralatan medis tua, kursi roda rusak, dan manekin anatomi yang hancur, membentuk barikade yang mengerikan. Di antara tumpukan itu, Elara melihat sesuatu yang membuatnya mual: potongan-potongan kain putih dengan bercak merah gelap yang tampak masih basah.

"Kita harus memanjatnya, tidak ada jalan lain!" teriak Pak Darto, mulai mendaki tumpukan barang rongsokan itu dengan napas tersengal.

Elara mengikuti, tangannya mencengkeram besi ranjang tua yang dingin untuk menarik tubuhnya ke atas. Saat dia berpijak pada sebuah lemari arsip yang penyok, kakinya tergelincir, menyebabkan tumpukan di sebelahnya runtuh. Sebuah kotak logam jatuh dan terbuka, memuntahkan isinya: ratusan kartu identitas pasien dengan foto hitam putih yang memudar.

Dia terpaku sejenak, matanya menangkap satu nama di kartu yang tergeletak paling atas: 'Subjek 17 - Proyek Arisandi'. Tanggal yang tertera di sana bukan dari masa lalu yang jauh, melainkan baru dua tahun yang lalu. Elara merasakan darahnya membeku; ini bukan sekadar hantu masa lalu, ini adalah bukti kejahatan yang masih berlangsung hingga hari ini.

"Neng Elara! Cepat! Suara itu sudah dekat!" teriakan Pak Darto menyadarkannya.

Elara mendongak dan melihat Pak Darto sudah berada di dekat puncak gundukan, mengulurkan tangan kurusnya. Di belakang mereka, suara decitan roda brankar itu berhenti mendadak, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan. Kegelapan di ujung lorong tempat mereka datang tadi tampak menggeliat, memadat menjadi sosok tinggi besar yang mengenakan jas dokter putih yang kotor.

Sosok itu tidak memiliki wajah, hanya gumpalan daging merah yang berdenyut, namun Elara bisa merasakan tatapan tajam yang menusuk jiwanya. Sosok itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Elara, dan seketika itu juga, tumpukan manekin di sekeliling Elara mulai bergerak, tangan-tangan plastik kaku itu mencoba meraih pergelangan kakinya.

"Tolong!" jerit Elara, menendang sebuah tangan manekin yang mencengkeram celananya.

Pak Darto nekat meluncur turun sedikit, mengayunkan linggisnya untuk memukul manekin-manekin hidup itu. "Naik, Neng! Demi Gusti Allah, naik!" serunya histeris.

Dengan sisa tenaga terakhir, Elara melompat dan menyambar tangan Pak Darto. Pria tua itu menariknya dengan kekuatan yang mengejutkan, menyeretnya hingga ke puncak gundukan sampah medis itu. Mereka berguling jatuh ke sisi lain, tepat di depan gerbang besi besar yang menjadi satu-satunya penghalang menuju kebebasan.

Gerbang itu dikunci dengan rantai besar yang sudah berkarat parah. Pak Darto segera menghantamkan linggisnya ke gembok tua itu, menimbulkan percikan api yang menerangi kegelapan sesaat. "Buka... ayo buka, sialan!" umpatnya di sela napas yang memburu.

Di balik gundukan sampah, suara geraman rendah terdengar, diikuti bunyi benda-benda berat yang dilempar. Sosok tanpa wajah itu sedang mencoba menerobos barikade. Elara membantu Pak Darto, memukul gembok itu dengan batu besar yang ditemukannya di lantai, jarinya lecet dan berdarah namun rasa sakit itu tidak lagi dipedulikannya.

*Krak!* Gembok itu akhirnya patah. Rantai besi jatuh berdentang ke lantai beton.

Mereka berdua mendorong gerbang berat itu dengan sekuat tenaga. Engsel yang sudah puluhan tahun tidak bergerak menjerit memilukan, melawan usaha mereka. Namun perlahan, celah terbuka, membiarkan angin malam yang segar dan aroma sungai masuk menyapu bau kematian di dalam lorong.

Elara dan Pak Darto menyelinap keluar melalui celah sempit itu tepat saat gundukan sampah di belakang mereka meledak berhamburan. Mereka jatuh terguling di atas rumput basah di tepian sungai, di bawah langit malam Kota Arcapura yang mendung. Suara aliran sungai yang deras terdengar seperti musik paling indah yang pernah mereka dengar.

Namun, saat Elara menoleh kembali ke arah pintu terowongan yang setengah terbuka, dia melihat sosok Dr. Arisandi berdiri di sana—bukan hantu, melainkan manusia nyata. Pria itu berdiri tenang di ambang kegelapan, memegang sebuah buku catatan kecil, menatap mereka dengan senyum dingin yang mengerikan sebelum perlahan menutup kembali gerbang besi itu dari dalam.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!