NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Desas-Desus

Sebelum sore hari itu berakhir, Naya mencoba kembali mengetuk kediaman sederhana Addam. Rasa was-was karena kiriman foto Astrid dari akun misterius itu terus menggelayuti pikiran Naya.

“Nay? Ada apa?” Addam berdiri di ambang pintu.

Saat itu Naya hanya menatap Addam sebentar kemudian menyerahkan ponselnya. Mulutnya tak kuasa mengatakan kengerian yang didapatnya dari pesan itu.

“Astaga…!” Addam melotot melihat pesan di layar ponsel Naya. Bulir air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya lalu ia seka dengan cepat.

“Nay-“ suara Addam tercekat. Mulutnya diam tetapi sorot matanya mengatakan semuanya. Jelas sekali sebuah badai besar tengah menghantam relung hatinya. Dadanya mendadak sakit seperti dihujam dengan banyak belati.

Lalu entah datang dari mana keberanian itu, kedua tangan Naya terangkat dan tubuhnya itu merengkuh pria tinggi di hadapannya.

Tanpa diduga, Addam menyambut uluran tangan Naya dengan isak tangis yang tak bisa lagi ia bendung. Derai air mata yang sempat diusirnya itu kini terjun bebas dan jatuh dalam dekapan Naya.

Saat itu Addam tak sadar bahwa pelukan itu perlahan membuat dadanya terasa lebih lapang. Meski singkat dan tanpa kata, tetapi untuk sesaat, badai di dalam dirinya seakan mereda.

Beberapa saat setelahnya, pelukan hangat itu akhirnya terpisah. Addam menyapu air mata di wajahnya sementara Naya tak berani menatap pria di hadapannya. Mendadak dirinya marasa canggung setelah menyadari hal yang baru saja terjadi.

Pada momen itu, ponsel Naya berbunyi karena sebuah pesan. Kali ini, pengirim pesan itu adalah Mahesa.

“Kak,” Naya memanggil Addam sambil kembali menunjukkan ponselnya. Saat itu mereka bersama-sama membaca pesan yang Mahesa kirimkan.

Mahesa || Nay, nanti malem ketemu, bisa? Ajak si Addam sekalian.

Addam dan Naya saling bertatapan kemudian Addam mengangguk. Segera setelahnya Naya membalas pesan itu.

Naya || Bisa Kak. Jam berapa?

Dan tak menunggu lama, muncul pesan balasan dari Mahesa.

Mahesa || Sekitar jam 8/9. Nanti aku kabarin lagi.

Naya || Oke kak…

Addam dan Naya kembali diserang berbagai macam pertanyaan yang langsung memenuhi isi kepala mereka.

Hingga waktu yang ditentukan akhirnya datang. Addam dan Naya tampak bersama-sama memasuki sebuah taksi yang berhenti di depan area tempat tinggal mereka. Keduanya kini tengah dalam perjalanan menuju tempat pertemuan mereka dengan Mahesa.

Addam, Naya, dan Mahesa kini telah berada di sebuah kafe dua lantai. Lantai pertama tempat itu cukup ramai oleh pengunjung yang tampaknya merupakan beberapa rombongan besar. Berbeda dengan lantai dua yang terasa lebih tenang. Di sana lah ketiga orang itu melangsungkan pertemuan mereka.

Setelah beberapa saat hanya ada hening yang tak nyaman. Addam akhirnya membuka obrolan mereka malam itu.

“Sa. Perlu banget ya kita ketemuan di sini?” Addam mencoba tersenyum walau rasanya getir.

Mahesa melengkungkan senyum yang jelas sekali dipaksa muncul. “Karena buat ngomongin ini perlu energi yang besar, Dam,” ucapnya penuh arti.

Addam dan Naya saling melempar tatapan. Mereka memang belum memahami maksud ucapan Mahesa, tapi entah bagaimana keduanya seolah bisa merasakan kedatangan hal yang rasanya akan mengejutkan.

Mahesa berdeham. “Dam…”

Belum selesai Mahesa dengan ucapannya, Addam keburu menyela dan menyuruh Mahesa mengatakan seluruh kabar yang diketahuinya tanpa ragu. “Jujur gue lebih deg-degan kalo lo ngomong ngegantung gitu, Sa.”

“Oke, gue mulai. Jadi tadi sore gue baru dapet kabar; kalau laporan soal menghilangnya Astrid itu udah ditutup karena hasil penyelidikan yang bilang Astrid menghilang ketika dia cuti. Dan katanya, pihak keluarga terlapor sudah dihubungi tim terkait. TAPI…” Mahesa menaikkan nada suara pada kata itu karena ia melihat Addam akan kembali memotong ucapannya, “gue belum dapet lagi info soal siapa keluarga yang dikabarin itu. Karena selain gue gak terlibat langsung sama laporan itu, gue juga gak punya koneksi yang bagus sama tim yang urus...”

Mahesa menatap Addam dan Naya bergantian. Raut wajahnya yang lesu menyiratkan bagaimana beratnya pria itu mengatakan ucapannya.

Addam terkesiap. Bagai tersambar petir disiang bolong, pria itu tampak diam membisu di tempatnya. Naya yang duduk di sebelahnya juga merasa terkejut setengah mati. Tatapannya yang tadi membulat penuh rasa terkejut itu kini terlihat kosong.

“Dam… Nay… Gue tahu ini semua seperti mimpi buruk yang gak ada ujungnya. Gue ngerti gimana syoknya kalian denger apa yang gue bilang barusan. Gue gak bakal nyuruh kalian kuat atau nyuruh kalian sabar. Kalau kalian memang pengen matah, nangis dan luapin perasaan kalian atau apapun itu, it’s okay. Tapi gue harap, kalian bisa terus yakin kalau Astrid pasti bakal baik-baik aja…”

Kalimat panjang yang Mahesa katakan terasa seperti upaya menumbuhkan sebuah tunas kecil harapan di atas lahan ketidak pastian. Saat itulah tangis Addam akhirnya kembali pecah mendengar ucapan Mahesa. Addam menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun, nafasnya tak teratur.

Hampir sama seperti Addam. Naya merasa dadanya mendadak sesak dan napasnya terasa berat. Meski tak mudah, Naya berusaha keras untuk tidak membiarkan air matanya jatuh.

“Kak Addam...” Naya membekap mulutnya dengan kedua tangan. Ia tak mau perasaan sendu hatinya itu menambah pelik keadaan mereka.

Mahesa sangat paham akan perasaan kedua temannya itu. Karenanya, ia membiarkan sejenak Addam dan Naya untuk larut dalam perasaan mereka masing-masing.

Tapi sebelum Addam dan Naya jatuh terlalu larut, Mahesa mencoba membawa mereka kembali kedalam inti pertemuan mereka malam itu.

“Dam, Nay... Ngomong-ngomong, gimana hasil kunjungan kalian ke sekolah tempat Astrid ngajar?”

Lalu beberapa saat setelah Mahesa bertanya demikian, raut wajah Addam dan Naya terlihat mulai berubah. Keduanya jelas tengah menata kembali fokus dan hati mereka.

“Kita... Dapet beberapa poin yang cukup mencurigakan,” Naya menyedot ingus.

Kedua alis Mahesa tertaut, sebuah pertanyaan lalu kembali meluncur. “Mencurigakan gimana?”

Sepersekian detik setelah pertanyaan singkat itu terucap, Mahesa merogoh ponselnya dan menaruhnya di atas meja. “Dam, Nay, sorry. Gue izin rekam obrolan kita.”

“Iya, Sa. Rekam aja, takut lupa. Jadi, dari info yang didapat waktu kita ke sekolahan adek gue, kita baru tahu kalau katanya adek gue ngajuin cuti selama satu minggu. Dan alesannya, adek gue digosipin mau pindah kerja,” Addam berusaha keras menyingkirkan kesedihan yang tadi menguasai hatinya.

“Tapi Astrid gak beneran mau pindah kerja, kan?” Mahesa menyilangkan tangan di dada.

Seperti berbagi jawaban melalui telepati, Addam dan Naya tampak kompak menggelengkan kepala.

“Gak ada. Adek gue gak pernah ngasih tahu gue ataupun Naya soal rencana pindah sekolah. Dan katanya guru-guru di sana juga gak ada yang pernah dikasih tahu sama dia langsung...”

“Jangankan untuk keputusan sebesar itu, perkara sederhana seperti tingkah laku muridnya aja Astrid sering cerita ke aku, Kak...” sambung Naya.

“Hmmm...” Mahesa menatap jauh ke arah depan seperti mencari jawaban diantara udara dan cahaya lampu. “Terus mereka bisa tahu Astrid mau pindah dari mana?”

“Yang waktu itu kita tanyain sih satpam yang jaga di sana. Karena dia gak ngizinin kita buat ketemu sama guru kalau gak ada janji,” ungkap Naya dengan nada suara yang semakin lesu.

Mahesa mengambil nafas dalam. “Ada yang aneh... Info dari tim terkait juga bilang kalau laporan itu ditutup karena kabar terakhir korban dianggap cukup. Anehnya, kalian malah gak dikabarin sama sekali soal penutupan laporan itu. Jadi di sini ada dua poin yang belum terjawab. Pertama, orang yang bilang Astrid mau pindah. Kedua, siapa sosok yang dikabarin sama tim polisi...”

Addam dan Naya seketika terlihat tegang. Jelas sekali rasa cemas kembali hadir di benak mereka.

“Kita ke pertanyaan lain. Kalian tahu siapa lagi orang yang lagi dekat sama Astrid? Mungkin lagi dekat, pernah dekat,” Mahesa mengendikkan bahu, “orang-orang di sekitar Astrid yang harus segara kita gali keterangannya Dam, Nay...”

Kedua mata Naya tampak melebar seperti tengah berteriak. “Kita tahu ada satu orang yang sempet dekat sama Astrid, Kak!”

“Siapa, Nay? Mungkin kita bisa cari tambahan informasi dari orang itu...!” Mahesa bersemangat.

“Maksud kamu Irvan, Nay? Kita gak bisa dapet info apa-apa dari orang yang udah meninggal itu.” Addam menatap Naya dingin.

“M-meninggal?” Mahesa menatap Addam dan Naya bergantian. “ Siapa yang meninggal?”

“Jadi gini, Kak. Astrid pernah deket sama salah satu guru di tempat dia ngajar, namanya Irvan. Tapi kata satpam yang kita temuin, guru yang namanya Irvan itu sudah meninggal, mungkin sekitar satu minggu yang lalu...” terang Naya pada Mahesa.

“Meninggalnya kenapa?”

“Katanya dia kena serangan jantung waktu pulang kampung ke Wonosobo,” Naya mengendikkan bahu.

“Ya Tuhan...” Mahesa menutup mulutnya yang terperangah dengan kedua tangannya. “Jadi orang itu sudah meninggal beberapa hari sebelum Astrid menghilang, ya...”

Alih-alih menjawab ucapan Mahesa, Addam dan Naya justru saling berpandangan. Keduanya merasakan kehadiran perasaan aneh dalam dada mereka. Ucapan Mahesa barusan terasa memantik keraguan akan keberadaan celah besar yang mungkin saja mereka lewatkan.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!