Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Zidan Kerja Tiga Pekerjaan
#
Jam tiga pagi. Adzan subuh belum berkumandang. Langit masih gelap pekat. Zidan sudah bangun dengan mata yang masih sembab. Tidurnya cuma dua jam. Dari jam satu sampai jam tiga. Tubuhnya masih remuk. Otot otot di punggung masih nyeri karena kemarin angkat angkat kardus di pasar sampai larut malam.
Dia bangun dari kasur tipis dengan perlahan, nggak mau bangunin Naura yang tidur pulas. Istrinya kelihatan capek banget. Wajahnya pucat. Di bawah matanya ada lingkaran hitam yang makin jelas tiap hari. Dia pasti begadang jahit sampai tengah malam lagi.
Zidan berdiri sebentar sambil menatap istrinya. Dadanya sesak. Pengen nangis tapi nggak boleh. Dia harus kuat. Dia udah janji sama Allah. Janji sama dirinya sendiri. Dia akan jaga Naura. Apapun yang terjadi.
Dia ambil handuk lusuh yang udah warnanya pudar, terus keluar ke kamar mandi untuk wudhu. Air dingin dari bak mandi semen yang hijau itu menyengat kulit. Tapi dia biarin aja. Malah bikin sedikit segar.
Setelah wudhu, dia sholat subuh sendirian di pojok ruangan dengan sajadah lusuh pemberian mas kawin dulu. Dia khusyuk banget. Bacaan qunutnya panjang. Air matanya jatuh di sajadah.
"Ya Allah, kuatkan hamba. Hamba lelah ya Allah. Tubuh hamba sakit semua. Mata hamba rasanya mau copot. Tapi hamba nggak boleh menyerah. Hamba punya tanggungan. Ibu mertua hamba yang sakit. Istri hamba yang harus dijaga. Hutang yang harus dibayar. Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan. Berikanlah hamba rezeki yang halal dan berkah. Jangan biarkan hamba jatuh di tengah jalan. Lindungilah keluarga hamba. Aamiin ya Rabbal alamin."
Suaranya bergetar di akhir doa. Dia sujud lama. Nangis dalam sujud. Nangis yang nggak ada yang lihat. Nangis yang cuma Allah yang tahu.
Setelah selesai sholat, dia duduk sebentar sambil baca Al Quran pelan. Surah Al Insyirah. Surah favorit dia.
"Fa inna ma'al usri yusra. Inna ma'al usri yusra."
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Dia baca berkali kali sambil menutup mata. Nyoba ngeresapi. Nyoba percaya. Meski hatinya udah remuk. Meski badannya udah nggak kuat.
Jam setengah empat pagi, dia udah siap dengan baju kaus lusuh dan celana jeans yang sobek di bagian lutut. Dia ambil tas selempang compang camping yang isinya cuma dompet tipis sama handphone jadul. Sebelum keluar, dia nyium kening Naura yang masih tidur.
"Maaf ya sayang. Maaf aku nggak bisa jadi suami yang sempurna. Tapi aku janji, aku akan terus berjuang buat kamu."
Dia keluar dari kontrakan dengan hati yang berat. Motor bebek tuanya dipanasin dulu sebentar. Knalpotnya berisik. Asapnya item. Tapi ya itu aja yang dia punya.
Dia ngebut ke pasar tradisional yang jaraknya lima kilometer dari kontrakan. Jalanan masih sepi. Cuma ada beberapa tukang sampah sama pedagang yang mau buka lapak.
Sesampainya di pasar, dia langsung cari Pak Marwan. Juragan sayur yang suka nyewa dia buat angkat angkat kardus dari truk ke lapak.
"Zidan! Sini! Banyak nih hari ini! Cepetan!" teriak Pak Marwan dari kejauhan.
Zidan langsung lari ke arah truk yang udah parkir. Di belakang truk ada tumpukan kardus sayuran. Banyak banget. Mungkin dua puluh kardus. Satu kardus beratnya bisa sampai dua puluh kilo.
"Angkat semua ini ke lapak gue ya. Gue kasih dua puluh ribu kalau selesai sebelum jam lima."
Dua puluh ribu. Lumayan. Bisa buat bayar bensin motor sama beli nasi bungkus.
Zidan langsung kerja. Dia angkat satu kardus, taruh di pundak, terus jalan ke lapak yang jaraknya sekitar dua puluh meter. Turun. Balik lagi. Angkat lagi. Turun lagi. Balik lagi.
Berulang ulang.
Kardus demi kardus.
Keringat udah ngucur dari menit pertama. Bajunya basah kuyup. Napasnya ngos ngosan. Punggungnya mulai pegel. Tapi dia nggak berhenti. Dia harus selesai sebelum jam lima. Dia butuh uang itu.
Kardus kelima belas, kakinya mulai gemetaran. Kardus hampir jatuh. Tapi dia tahan dengan susah payah.
"Hup! Hati hati! Jangan sampe jatuh ntar sayurnya rusak!" teriak Pak Marwan sambil ngerokok.
Zidan cuma ngangguk sambil jalan sempoyongan. Lututnya rasanya mau copot. Pinggang belakang nyeri luar biasa. Tapi dia terus jalan.
Kardus terakhir. Dia angkat dengan tenaga sisa. Kakinya nyaris roboh. Matanya mulai berkunang kunang. Tapi dia tahan. Sampai di lapak. Turunin dengan hati hati.
Beres.
Dia duduk di pinggir lapak sambil ngos ngosan parah. Kepalanya pusing. Matanya kayak mau keluar dari tempatnya. Tangan tangannya gemetar.
Pak Marwan datang sambil nyodorin dua lembar sepuluh ribuan yang udah lusuh dan lecek.
"Nih. Bagus kerjanya. Besok dateng lagi ya."
"Iya Pak. Terima kasih." Zidan terima uang itu dengan tangan gemetar terus masukin ke kantong celana.
Dia nggak langsung pulang. Dia beli nasi bungkus seharga lima ribu rupiah di warung pinggir pasar. Nasi putih sama tempe goreng doang. Dia makan di situ sambil duduk di pinggir jalan. Makannya cepet banget. Nggak dinikmati. Cuma buat ganjel perut doang.
Jam enam pagi, dia udah sampai kontrakan lagi. Naura udah bangun. Lagi masak air buat kopi.
"Mas udah pulang? Dari mana pagi pagi?" tanya Naura sambil noleh.
"Dari pasar. Ada kerjaan angkat angkat barang."
Naura menghentikan tangannya yang lagi aduk kopi. Dia noleh dengan mata yang mulai berkaca kaca. "Mas... Mas kerja lagi? Kan Mas udah kerja sopir angkot. Kenapa masih harus kerja lagi?"
"Biar cepet lunas hutangnya sayang. Biar bisa bayar biaya rumah sakit Ibu juga."
"Tapi Mas... Mas nggak capek? Mas nggak tidur dengan bener. Mas pasti sakit nanti..."
Zidan mendekati istrinya terus peluk dari belakang. Dia sandarkan dagunya di pundak Naura. "Aku nggak apa apa. Aku kuat kok. Yang penting kamu sehat. Ibu juga sehat."
Naura nangis. Nggak kuat nahan. "Mas... aku nggak mau Mas sakit gara gara kerja terlalu keras..."
"Ssshh. Aku nggak akan sakit. Percaya sama aku."
Tapi dalam hati, Zidan sendiri nggak yakin. Tubuhnya udah ngasih sinyal. Pusing yang nggak ilang ilang. Nyeri di dada yang kadang muncul. Mata yang sering berkunang kunang. Tapi dia pendem semua itu. Nggak mau Naura khawatir.
Jam tujuh pagi, Zidan udah jalan lagi buat kerja sebagai sopir angkot. Angkot nomor B12 jurusan Terminal ke Pasar Baru. Dia nyetir dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore. Bolak balik. Naik turunin penumpang. Teriak teriak nyari penumpang di terminal. Kejar setoran ke bos angkot.
Hari itu penumpang lagi sepi. Dia cuma dapet seratus ribu kotor. Dipotong bensin tiga puluh ribu, setoran ke bos lima puluh ribu. Sisanya cuma dua puluh ribu.
Dua puluh ribu.
Dari pagi sampai sore cuma dapet dua puluh ribu.
Dia duduk di angkot yang udah parkir di terminal sambil megang uang receh itu. Dadanya sesak. Mata panas.
"Ya Allah... ini kurang banget. Ini nggak cukup. Aku butuh lebih banyak. Aku harus bayar hutang tanggal lima besok. Masih kurang banyak. Gimana ini..."
Dia teringat kerja malam. Jadi tukang parkir di mal kecil deket terminal. Dari jam tujuh malam sampai jam dua belas malam. Bayarannya tiga puluh ribu per malam.
Dia harus kesana. Nggak ada pilihan.
Jam tujuh malam, Zidan udah standby di parkiran mal dengan rompi orange lusuh dan peluit di leher. Dia atur parkir mobil motor yang datang. Kadang bantu bawain belanjaan ibu ibu yang kasihan liat dia kurus dan pucat.
"Dek, ini buat kamu ya. Beli makan." Seorang ibu ibu nyodorin uang lima ribu.
"Terima kasih Bu. Terima kasih banyak." Zidan nerima sambil sedikit membungkuk.
Tapi uang lima ribu itu nggak dia pake buat makan. Dia masukin kantong. Buat ditabung. Buat bayar hutang.
Jam sepuluh malam, dia mulai nggak kuat. Kakinya lemes. Kepalanya pusing parah. Matanya kayak ditarik tidur paksa. Dia coba berdiri tegak tapi badan sempoyongan.
"Dek, kamu nggak apa apa? Mukamu pucet banget." Satpam mal yang jaga nanya sambil natap khawatir.
"Nggak apa apa Pak. Cuma capek dikit."
"Capek dikit? Lu kelihatan mau pingsan. Udah makan belum?"
"Udah Pak. Tadi pagi."
"Tadi pagi? Sekarang udah malem! Lu nggak makan seharian? Sini, gue beliin nasi."
"Nggak usah Pak. Saya nggak apa apa."
Tapi satpam itu udah pergi ke warung sebelah terus beli nasi bungkus. Dia kasih ke Zidan dengan paksa.
"Makan! Sekarang! Di depan gue!"
Zidan nggak bisa nolak. Dia buka bungkus nasi itu terus makan dengan tangan gemetar. Nasinya masuk ke mulut tapi susah ditelan. Tenggorokan kering. Tapi dia paksa.
Setelah selesai makan, dia ngerasa sedikit mendingan. Tapi tetep aja capek luar biasa.
Jam dua belas malam, shift parkir selesai. Dia dapat tiga puluh ribu dari koordinator parkir. Dia langsung pulang naik motor dengan mata yang setengah merem.
Di jalan, matanya terus mau nutup. Dia tampar pipinya sendiri berkali kali biar melek. Tapi tetep aja ngantuk parah.
Lampu merah. Dia berhenti. Mata mulai nutup. Kepalanya jatuh ke depan.
Tertidur.
Tiba tiba ada suara klakson keras dari belakang.
TINNN TINNNN!
Zidan terbangun kaget. Lampu udah ijo. Mobil di belakang pada klakson marah marah.
"Hei! Jalan dong! Pada tidur apa lo!"
Zidan langsung gas motornya dengan panik. Tapi karena masih setengah sadar, dia nggak lihat ada motor dari kanan yang jalan kenceng.
CKIIIITTT!
Motor itu ngerem mendadak. Nyaris nabrak Zidan.
"Anjir! Hati hati dong nyetir! Mau mati apa lo!"
Zidan cuma bisa minta maaf sambil ngacir. Jantungnya berdebar kenceng. Keringat dingin mengucur. Dia baru sadar dia nyaris kecelakaan. Nyaris mati.
"Astghfirullah... astghfirullah... Ya Allah maafin aku. Aku hampir... aku hampir..." Dia nggak bisa ngelanjutin kata katanya. Nangis sambil nyetir.
Sampai kontrakan jam setengah satu pagi. Naura masih melek. Lagi jahit dengan lampu lima watt yang redup. Begitu dengar suara motor, dia langsung keluar.
"Mas! Alhamdulillah udah sampe. Aku khawatir..." Naura langsung peluk suaminya yang masih di atas motor.
Zidan turun dari motor dengan langkah sempoyongan. Begitu kakinya ngelangkah, lututnya langsung lemes.
BRUK!
Dia jatuh.
"MAS!" Naura teriak panik sambil langsung jongkok nahan tubuh suaminya yang hampir ambruk total.
"Naura... aku... aku cuma capek dikit..." Suara Zidan lemah banget.
"Capek dikit? Mas pingsan! Mas... Ya Allah... Mas kenapa sih? Kenapa Mas kayak gini?"
Naura nangis sambil narik Zidan masuk ke dalam kontrakan dengan susah payah. Dia rebahkan suaminya di kasur tipis. Wajah Zidan pucat pasi. Bibir kering pecah pecah. Mata cekung banget. Tulang pipi keliatan jelas. Badan kurus tinggal tulang berbalut kulit.
Naura ambil handuk basah terus usapin ke wajah suaminya sambil nangis terus. "Mas... Mas bangun... jangan kayak gini Mas... aku takut..."
Zidan buka mata perlahan. Dia lihat istrinya nangis. Dia angkat tangan gemetar buat usap pipi Naura.
"Maaf ya... aku bikin kamu khawatir..."
"Mas udah kerja dimana aja sih? Kenapa Mas bisa capek sampe kayak gini? Kenapa Mas nggak cerita ke aku?"
Zidan menarik napas pelan. "Aku... aku kerja tiga tempat sayang. Pagi di pasar angkat barang. Siang sopir angkot. Malem jadi tukang parkir. Aku... aku butuh uang buat bayar hutang. Buat biaya Ibu. Buat kita..."
Naura nangis makin keras. "Mas gila apa? Kerja tiga tempat? Mas nggak tidur dong? Mas nggak makan dengan bener? Mas... Mas mau bunuh diri apa?"
"Aku nggak mau bunuh diri. Aku cuma... aku cuma mau jadi suami yang berguna. Suami yang bisa kasih nafkah. Suami yang..."
"Mas..." Naura memotong sambil pegang wajah suaminya dengan dua tangan. Matanya menatap dalam. "Aku nggak butuh suami yang kaya. Aku nggak butuh suami yang bisa kasih aku segalanya. Yang aku butuh cuma suami yang sehat. Yang hidup. Yang ada di samping aku. Kalau Mas sakit, kalau Mas mati, aku mau hidup sama siapa? Aku mau peluk siapa? Aku mau nangis ke siapa?"
Air mata Naura jatuh ke wajah Zidan. Zidan nangis juga. Mereka berdua nangis sambil pelukan.
"Maafin aku... maafin aku Naura... aku cuma... aku cuma nggak mau ngecewain kamu..."
"Mas nggak pernah ngecewain aku. Justru aku yang ngerasa nggak berguna. Aku nggak bisa bantu Mas dengan lebih baik. Aku cuma bisa jahit baju dengan bayaran recehan. Aku..."
"Jangan bilang kayak gitu." Zidan menatap mata istrinya. "Kamu udah sangat membantu. Kamu udah jadi istri terbaik. Kamu udah ngejahit sampai jari jari kamu luka. Kamu udah rela makan seadanya. Kamu udah sabar nemenin aku di saat susah. Kamu itu istri yang luar biasa."
Naura menggeleng sambil nangis. "Tapi aku nggak mau Mas sakit kayak gini. Aku nggak mau kehilangan Mas. Mas... please... jangan kerja tiga tempat lagi. Cukup dua aja. Atau satu aja. Aku nggak peduli uang kita sedikit. Yang penting Mas sehat."
Zidan diam lama. Dia tahu istrinya benar. Tubuhnya udah nggak kuat. Tadi aja dia nyaris kecelakaan. Tapi di sisi lain, dia mikirin hutang. Mikirin biaya rumah sakit Ibu Siti. Mikirin hidup mereka yang serba kekurangan.
"Aku... aku akan pikirin lagi. Tapi untuk sekarang, aku masih harus kerja. Tanggal lima besok aku harus bayar hutang ke Pak Burhan. Kalau telat, dendanya besar."
Naura memeluk suaminya sambil menangis di dada yang kurus itu. Dia ngerasain tulang rusuk yang menonjol. Detak jantung yang cepat nggak beraturan. Napas yang pendek pendek.
"Ya Allah... Ya Allah lindungi suamiku. Kuatkan dia. Jangan ambil dia dariku. Aku mohon... aku mohon..." Doa Naura keluar sambil terisak.
Zidan mengusap punggung istrinya pelan. "Aku nggak akan kemana mana. Aku janji. Aku akan tetap di sini. Di samping kamu. Selalu."
Mereka berpelukan lama di malam yang dingin itu. Lama sekali. Sampai Naura tertidur di pelukan suaminya karena kecapekan nangis. Zidan yang ngeliat istrinya tidur langsung geser perlahan biar Naura bisa tidur dengan nyaman. Dia selimuti dengan selimut tipis yang udah bolong di beberapa bagian.
Dia duduk di pinggir kasur sambil menatap wajah istrinya yang damai. Cantik. Polos. Tulus.
Tangan kanannya dia letakkan di perut Naura yang masih rata. Dia belai pelan.
"Suatu saat nanti, di sini akan ada calon anak kita. Anak yang akan jadi penyemangat hidup kita. Aku harus kuat demi kamu dan calon anak kita, Naura. Aku harus. Nggak boleh menyerah. Nggak boleh lemah."
Dia berdiri lalu ambil sajadah. Dia sholat tahajud sendirian di pojok ruangan. Sujudnya lama. Doanya panjang. Air matanya nggak berhenti.
"Ya Allah, aku lelah. Tapi aku nggak boleh menyerah. Berikan aku kekuatan. Berikan aku kesabaran. Berikan aku rezeki yang halal dan berkah. Lindungi istriku. Lindungi calon anakku. Lindungi ibu mertuaku. Dan berikan aku jalan keluar dari semua masalah ini. Aamiin ya Rabbal alamin."
Setelah selesai sholat, dia berbaring di samping Naura dengan hati yang sedikit lebih tenang. Dia peluk istrinya dari belakang. Cium puncak kepalanya.
"Aku sayang kamu. Lebih dari apapun di dunia ini."
Dan malam itu, dia tidur dengan senyum tipis di bibir.
Meski besok dia harus bangun jam tiga lagi.
Meski besok dia harus kerja keras lagi.
Meski tubuhnya udah nggak kuat.
Tapi dia akan tetap berjuang.
Karena cinta.
Cinta yang tulus.
Cinta yang rela berkorban.
Cinta yang sayangnya... akan diuji dengan sangat berat di masa depan.
Tapi untuk malam ini, cinta itu masih murni.
Masih indah.
Masih jadi satu satunya alasan dia bertahan hidup.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja