Deon selalu jadi bulan-bulanan di sekolahnya karena wajahnya yang terlalu tampan, sifatnya penakut, dan tubuhnya yang lemah. Suatu hari, setelah nyaris tewas ditinggalkan oleh para perundungnya, ia bangkit dengan Sistem Penakluk Dunia yang misterius di tubuhnya. Sistem ini memberinya misi-misi berani dan aneh yang bisa meningkatkan kekuatan, pesona, dan kemampuannya. Mampukah Deon membalaskan semua penghinaan, menaklukkan para wanita yang dulu tak mempedulikannya, dan mengubah nasibnya dari korban menjadi penguasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Charlotte yang Nakal
Ia langsung mengenalinya.
Itu tidak lain adalah ayah Finn.
Dengungan rendah mesin terdengar ketika taksi melaju di jalan yang hampir sepi. Di dalam mobil, sang sopir—seorang pria paruh baya dengan janggut tak terurus dan topi yang sudah usang—menyesuaikan kacamatanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap di kemudi.
Lalu, saat ia melirik kaca spion, matanya sedikit menyipit sebelum membelalak karena terkejut.
"Hah?" suara kasar pria itu memecah keheningan. "Deon, apakah itu kau?"
Deon, yang sedari tadi menyandarkan kepalanya ke jendela, dengan malas mengalihkan pandangannya ke arah kaca spion. Begitu melihat wajah yang familiar itu, bibirnya berkedut.
"Pak Frans?"
"Siapa lagi?" Frans mendengus, masih menatap Deon lewat kaca spion. "Sial, nak, aku hampir tidak mengenalimu. Apa yang kau lakukan di luar selarut ini?"
Deon mengangkat bahu. "Naik taksi. Bukankah itu jelas?”
Frans mendengus. "Sok pintar." Lalu, setelah jeda singkat, ia menambahkan, "Jadi? Apa kau baik-baik saja?"
Deon menyandarkan punggungnya ke kursi, meregangkan kakinya saat menjawab, "Ya, aku baik-baik saja."
Frans bergumam, tapi tampak tidak yakin. "Benarkah? Karena putraku mengatakan kalau kau tidak masuk sekolah selama seminggu penuh."
Deon bahkan hampir tidak berkedip. "Oh, itu? Ya, aku pergi melakukan terjun payung."
Mobil itu tersentak sedikit.
Frans melemparkan tatapan tidak terkesan lewat kaca spion. "Terjun payung, ya?"
"Ya," jawab Deon, ekspresinya benar-benar datar. "Kupikir kalau burung bisa melakukannya, kenapa aku tidak?"
Frans memutar matanya begitu keras sampai-sampai jika berputar lebih jauh, mungkin sudah jatuh dari kepalanya. "Hentikan omong kosongmu, nak. Kita berdua tahu kau mungkin keluyuran mengejar para wanita daripada duduk manis di kelas."
Deon meletakkan satu tangan di dadanya, berpura-pura tersinggung. "Pak Frans, kau melukai hatiku. Apa aku terlihat seperti tipe orang yang akan melakukan hal seperti itu?"
"Ya."
Deon mengerutkan keningnya. "Kau bahkan tidak ragu-ragu sedikitpun."
"Karena aku mengenalmu." Frans menggelengkan kepala. "Kau sama persis seperti ayahmu dulu. Bajingan itu sering bolos sekolah, menggoda setiap gadis yang dia lihat, dan membuat segala macam masalah saat kami masih muda."
Deon mengangkat alis. "Benarkah? Ayahku?"
"Tentu saja," gerutu Frans. "Bedanya, tidak seperti kau, setidaknya dia punya nyali untuk mengakuinya."
Deon menghela napas dramatis. "Aku difitnah di hadapanku sendiri. Ini benar-benar titik terendah dalam hidupku."
Frans tertawa terbahak-bahak, tapi percakapan itu segera mereda menjadi hening, saat ia kembali fokus mengemudi. Tidak butuh waktu lama sebelum mereka akhirnya sampai di tujuan yang Deon berikan.
Mobil itu berhenti perlahan di depan sebuah jalan yang remang-remang.
Deon meraih gagang pintu, siap turun, tapi sebelum ia bisa pergi—
"Oi."
Suara Frans memanggil dari kursi pengemudi.
Deon menoleh dengan malas. "Ya?"
Pria tua itu mengulurkan tangannya, telapak menghadap ke atas, dan berkata tanpa rasa malu sedikit pun, "Dimana bayaranmu?"
Deon membeku. Kelopak matanya berkedut. "Tunggu, apa?"
"Apa maksudmu 'apa'?" Frans mengerutkan kening, menggoyangkan tangan yang terulur itu dengan tidak sabar. "Kau pikir aku menjalankan amal? Bayar dulu."
Mulut Deon ternganga karena tidak percaya. "Kau benar-benar meminta bayaran dariku?"
"Tentu saja."
Deon mengerang sambil menyandarkan kepalanya ke kursi, menggosok pelipisnya. "Ayolah, pak. Ini aku."
Frans mengangguk. "Justru itu. Makanya aku memastikan aku dibayar. Kau pikir aku percaya padamu?"
Deon menghela napas panjang dan berlebihan sebelum mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan menepukkannya ke tangan Frans.
Pria tua itu tersenyum tanpa malu. "Senang berbisnis denganmu, nak."
Deon menatapnya tajam. "Dasar orang tua pelit!!"
Frans mengangkat bahu, menyelipkan uang itu seolah itu hal wajar di dunia. "Memang begitu. Uang tidak tumbuh di pohon, nak."
Deon mendengus. "Ya, ya, terserah." Ia turun dari taksi, memasukkan tangannya ke saku. Tepat saat ia hendak berjalan pergi, ia mendengar suara Frans lagi.
"Hei, Deon."
Deon menoleh sedikit, mengangkat alis. "Ada apa lagi?"
Frans menghembuskan napas lewat hidung, mengetukkan jarinya ke kemudi. Lalu berkata dengan santai, "Berjalanlah dengan hati-hati. Di sini sangat berbahaya kalau malam hari.”
Deon mendengus. "Pfft. Apa, kau khawatir padaku, pak tua?"
"Tidak sama sekali," jawab Frans dengan cepat. "Kenapa aku harus peduli? Aku hanya tidak mau mendengar putraku merengek kalau sesuatu terjadi pada kau, bodoh."
Deon mendesis. "Tch. Sudah kuduga."
Ia berbalik lagi, mengangkat satu tangan dalam lambaian malas saat mulai berjalan.
"Terserah kau, pak tua. Kau juga hati-hati di jalan."
Di belakangnya, Frans tertawa kecil sambil menginjak pedal gas. "Dan kau coba jangan sampai dipukuli, nak."
Dengan itu, taksi melaju pergi, meninggalkan Deon berdiri sendirian di jalan yang sepi.
Deon menggelengkan kepala, menghembuskan napas lewat hidungnya.
"Dasar, bajingan pelit," gumamnya sebelum berjalan menuju tempat Charlotte.
Deon berjalan santai menyusuri jalan yang remang-remang, tangannya dengan santai terselip di saku sementara matanya sesekali melirik layar ponselnya. Ia menggulir pesan-pesannya, mencari petunjuk arah yang Charlotte kirimkan sebelumnya. Cahaya lampu jalan memantul di layar ponselnya, menerangi wajahnya saat ia membandingkan gambar-gambar dalam ingatannya dengan deretan rumah di hadapannya.
Tidak butuh waktu lama sebelum ia melihat sebuah rumah yang tampak familiar.
"Ini pasti tempatnya," gumamnya pelan, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Melangkah ke depan pintu, ia mengetuk dua kali. Suara langkah kaki terdengar dari balik pintu, lalu—
Klik.
Pintu terbuka, dan Deon hampir lupa cara bernapas.
Berdiri di hadapannya, Charlotte bersandar pada bingkai pintu, mengenakan pakaian paling menggoda dan berbahaya yang pernah ia lihat.
Ia mengenakan jubah satin tipis oversize yang diikat longgar di pinggangnya, meninggalkan sebagian besar dadanya terbuka. Kain itu hampir tidak menutupi pahanya, dan mata Deon tak bisa menahan diri untuk mengikuti lekuk kaki panjangnya yang putih.
Dan bagian terburuknya? Ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
Pikiran Deon menjadi liar.
"Sial, aku tahu gadis ini sedang merencanakan sesuatu!" ia berteriak dalam hati. "Ini akan sangat seru."
Namun di luar, ia menjaga ekspresinya tetap tenang—yah, setenang mungkin saat setengah dari payudara-nya hampir keluar tepat di depan matanya.
Charlotte sedikit memiringkan kepalanya, lalu berkata sambil tersenyum menggoda. "Kau hanya akan berdiri di sana dan menatapku, atau kau mau masuk?"
Ia berdehem, memaksa dirinya untuk mengalihkan pandangan (untuk saat ini) sambil melangkah masuk.
Begitu ia masuk, ia melirik sekeliling dengan cepat. Tempat itu terasa nyaman, dengan perpaduan furnitur modern. Aroma vanila melayang di udara, bercampur dengan sesuatu yang lain—sesuatu yang memabukkan.
Matanya kembali tertuju padanya, dan ia hampir lupa apa yang hendak ia katakan.
"Jadi... Apa kau tinggal sendirian disini?" tanyanya, sebagian besar hanya untuk mencegah otaknya korslet.
Charlotte bersandar ke dinding, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Aku tinggal dengan kakakku, tapi dia sedang ke luar kota karena pekerjaan."
Deon mengangguk pelan. "Benar. Tentu saja begitu."
"Kenapa?" Charlotte memiringkan kepalanya, senyumnya semakin lebar. "Kau gugup, Deon?"
Deon mendesis, bersandar di sandaran sofa. "T-tidak. Aku tidak pernah gugup."
Namun saat ia memusatkan seluruh perhatiannya padanya, ia sejenak terkejut.
Charlotte bukan hanya menatapnya—dia memandangnya dengan penuh nafsu.
Lalu, dengan nada paling lembut dan menggoda, ia berbisik— "Aku sudah menunggu lama untuk ini."
Detak jantung Deon melonjak.
Deon mengira ia akan mengatakan sesuatu yang manis, mungkin bahkan sedikit terbata-bata. Ia sudah menyiapkan pidato 'aku sedang dekat dengan seseorang' di kepalanya, siap menolaknya dengan halus.
Namun Charlotte?
Charlotte punya sesuatu yang sama sekali berbeda dalam pikirannya.
Karena alih-alih berbicara...
Ia berjalan mendekat kearah Deon.
Dan menciumnya.
Mata Deon terbuka lebar.
Untuk sejenak, otaknya tidak berfungsi.
Ini bukan seperti yang ia bayangkan akan terjadi.
Namun kemudian—instingnya bekerja.
Karena, jujur saja, orang bodoh macam apa yang akan menolak ciuman dari Charlotte?
Pikirannya dipenuhi kilasan kenangan di sekolah—bagaimana setiap pria akan berebut perhatiannya, bagaimana mereka berbisik tentangnya.
Dan sekarang?
Gadis yang sama itu sedang menciumnya.
‘Sialan, sistem ini ternyata tidak sepenuhnya tidak berguna.’
Tangan Deon bergerak dengan sendirinya.
Satu melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat, sementara yang lain meluncur ke rahangnya, memperdalam ciuman itu.
Charlotte mengeluarkan desahan lembut dari bibirnya, menekan tubuhnya ke arahnya, dan Deon—yah, Deon lebih dari siap untuk melihat ke mana semua ini akan berlanjut.
Tangan Deon masih terkunci di tubuhnya, panas tubuhnya menekan ke arahnya saat ciuman mereka semakin dalam. Charlotte menarik diri sedikit hanya untuk menarik napas, bibirnya berjarak beberapa inci dari bibirnya. Sebelum Deon sempat memproses apa yang terjadi, ia meraih pergelangan tangannya, dan menariknya ke arah sofa.
"Datang kemari," bisiknya, suaranya lembut dan menggoda, seolah dia menantangnya untuk mengimbangi.
Deon tergopoh-gopoh mengikutinya, detak jantungnya berdebar kencang, pikirannya masih berputar karena ciuman itu. Dia tidak memberinya kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Dengan dorongan nakal, dia mendorongnya turun ke bantal empuk sofa. Dan sebelum dia bisa duduk tegak, Charlotte sudah berada di atasnya.
Dia mengayunkan satu kaki ke atas pangkuannya, menindihnya.
Jubah satin tipis itu bergeser mengikuti gerakannya, melorot berbahaya ke bawah, dan mata Deon tak bisa menahan diri untuk mengikuti cara kain itu melekat pada lekuk tubuhnya.
Charlotte mendekatkan diri, tangannya bertumpu di bahunya, menahannya di tempat. Tersenyum puas. Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia menciumnya lagi.
Kali ini, ciuman itu lebih lambat, lebih panas, dan lebih sengaja. Mulutnya bergerak melawan mulutnya dengan yang membuat kepalanya pusing, dan ketika bibirnya terbuka, Deon tidak ragu-ragu. Lidahnya langsung meluncur masuk, menyerbu mulutnya, dan—sial.
‘Sangat nikmat!!!’
Tangannya bergerak secara naluriah, meluncur ke bawah hingga menemukan pantatnya.
Dia meremasnya.
Charlotte mengeluarkan desahan lembut, "Hmmmm," getarannya terasa di bibirnya, dan Deon bersumpah dia merasakannya sampai ke tulang-tulangnya.
Lalu, jarinya menangkap ikatan longgar jubahnya. Dengan tarikan cepat, dia melepaskannya, dan satin itu meluncur dari bahunya. Kain itu mengumpul di sekitar pinggangnya, meninggalkan tubuhnya telanjang dari dada ke atas, dan napas Deon tercekat di tenggorokannya.
Payudaranya terdorong ke depan, menekan dadanya. Putingnya—merah muda dan tegak dan mata Deon menatap pemandangan itu seperti orang kelaparan.
Satu tangan meluncur naik dari punggungnya, ragu-ragu pada awalnya, lalu semakin berani. Dia memegang salah satu payudaranya, jempolnya menyentuh putingnya. Deon meremasnya dengan lembut, lalu lebih kuat, menguji reaksinya. Kepala Charlotte mendongak sedikit, lalu mendesah, "Mmmmm." Matanya terpejam, dan suara itu, membuat bagian bawah Deon berkedut-kedut.
Deon tak puas. Tangan satunya ikut bergabung, meremas keduanya sambil menatap wajahnya. Dia mendekatkan diri padanya, dadanya menekan lebih dekat, dan mengeluarkan suara "Ahwwwwn…”
Tangannya terus bekerja, dan reaksi Charlotte hanya membuatnya semakin bergairah. Dia menggeliat di pangkuannya dan tangannya naik keatas untuk mencengkram bahunya, kuku menancap cukup untuk menimbulkan rasa perih. "Hnnng," dia mengerang, lebih keras kali ini, napasnya tersendat saat dia mencubit salah satu putingnya dengan pelan.
Pikiran Deon kacau—setengahnya berteriak bahwa ini tidak benar, setengah lainnya berteriak lagi, lagi, lagi. Dia condong ke depan, menciumnya lagi. Satu tangan meluncur kembali ke pantatnya, mencengkeramnya dengan keras, sementara yang lain tetap di dadanya
Tak berselang lama, Charlotte menarik diri dari ciuman itu, matanya menatap mata Deon dengan tajam. Dia tidak mengatakan apa-apa—hanya menatapnya.
Dan Deon? Dia tidak berniat berhenti.
semangat terus bacanya💪💪