Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa di Atas Pecahan Kaca
Gaun satin berwarna merah darah itu melekat sempurna di tubuh Alea, menjuntai hingga menyapu lantai marmer. Alea menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar penthouse. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajah. Ia tampak seperti wanita kelas atas, sangat jauh dari citranya sebagai fotografer yang biasa berkeringat di bawah terik matahari.
Namun, di balik keanggunan itu, jantungnya berdegup seperti genderang perang.
"Berhenti meremas tanganmu sendiri. Kau akan merusak kuku yang baru saja dipoles Maria," suara bariton Arka memecah keheningan dari arah pintu.
Alea berbalik. Arka berdiri di sana, mengenakan tuksedo hitam pekat dengan kemeja putih yang kontras. Ia terlihat sangat tampan, sekaligus sangat mematikan. Pria itu berjalan mendekat, lalu mengulurkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya terdapat kalung berlian dengan mata zamrud yang berkilau tajam.
"Pakai ini. Ini milik mendiang ibuku. Di dunia mafia, perhiasan adalah baju zirah," ucap Arka.
Alea mematung saat Arka berdiri di belakangnya, menyisihkan rambutnya ke samping untuk memasangkan kalung itu. Jemari Arka yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Alea, mengirimkan sensasi aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Kenapa harus seserius ini? Ini hanya makan malam bisnis, kan?" bisik Alea, berusaha mengabaikan kedekatan mereka.
Arka mengunci pengait kalung itu, lalu menatap mata Alea melalui cermin. "Ini bukan sekadar makan malam. Ini adalah The Lion’s Den. Keluarga besar Malik dan para sekutunya akan hadir. Mereka akan mencarimu, menilaimu, dan jika kau menunjukkan sedikit saja ketakutan, mereka akan merobekmu hidup-hidup untuk menjatuhkanku."
Alea menelan ludah. "Kau membuatku merasa seperti umpan."
"Kau memang umpan, Alea," Arka berbalik dan menawarkan lengannya untuk digandeng. "Tapi kau adalah umpan yang paling berharga. Ingat, jangan bicara kecuali aku memberimu kode. Dan apa pun yang terjadi, jangan pernah melepaskan tanganku."
Acara tersebut diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima milik keluarga Malik. Suasananya begitu megah,
dipenuhi aroma cerutu mahal dan parfum desainer. Namun, bagi Alea, udara di sana terasa berat oleh intrik.
Saat mereka melangkah masuk, percakapan di ruangan itu seolah terhenti selama satu detik sebelum kemudian pecah kembali dalam bisikan-bisikan tajam. Arka berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan.
"Tersenyum, Alea. Kau sedang jatuh cinta pada miliarder paling diinginkan di kota ini, bukan sedang menuju tiang gantungan," bisik Arka di samping telinganya, bibirnya hampir menyentuh pelipis Alea.
Alea memaksakan senyum manis yang paling palsu dalam hidupnya. "Aku mencoba, tapi jasmu terlalu bau otoriter."
Arka terkekeh pelan—suara yang sangat jarang didengar orang lain—dan itu justru membuat beberapa tamu undangan terperangah. Mereka melihat sisi Arka yang "manusiawi", dan itulah yang diinginkan Arka: menciptakan narasi bahwa Alea adalah kelemahannya yang baru.
Seorang pria tua dengan rambut perak dan tongkat berkepala singa mendekati mereka. Namanya adalah Baron Malik, paman Arka yang sudah lama ingin mengudeta posisi CEO.
"Arkaen, keponakanku yang cemerlang," suara Baron serak dan penuh kepura-puraan. "Jadi ini gadis yang membuatmu melupakan kontrak dengan keluarga keluarga Valerius di Italia?"
Mata Baron yang kecil dan licik memindai Alea dari atas ke bawah. Alea merasa seperti sedang dipindai oleh sinar-X yang kotor.
"Alea Senja, Paman," jawab Arka tenang. "Dia bukan sekadar gadis. Dia adalah alasan kenapa aku sekarang punya sesuatu yang lebih berharga untuk diperjuangkan daripada sekadar saham."
Baron tertawa, namun tawanya tidak sampai ke mata. "Menarik. Sangat menarik. Nona Alea, apakah kau tahu bahwa di keluarga ini, orang asing biasanya memiliki... umur simpan yang sangat pendek?"
Alea merasakan cengkeraman tangan Arka di pinggangnya mengerat. Ini adalah ancaman terang-terangan. Namun, entah dari mana, keberanian Alea yang biasanya muncul saat ia menghadapi polisi di lokasi penggerebekan kini bangkit kembali.
"Terima kasih atas kekhawatirannya, Tuan Baron," ucap Alea dengan nada tenang namun tegas. "Tapi saya seorang jurnalis. Saya sudah biasa berurusan dengan objek yang berbahaya dan... kedaluwarsa. Jadi saya rasa saya akan baik-baik saja."
Alis Baron terangkat. Arka menyeringai tipis, merasa puas dengan jawaban tajam Alea.
"Berani juga dia," gumam Baron sebelum akhirnya menjauh dengan wajah masam.
"Bagus," bisik Arka saat mereka menjauh menuju area VIP. "Tapi jangan terlalu berani. Kau baru saja memasukkan namamu ke daftar hitamnya."
"Aku sudah terbiasa ada di daftar hitam penagih hutang, jadi ini tidak ada bedanya," balas Alea ketus.
Namun, ketegangan belum berakhir. Di pojok ruangan, seorang wanita cantik dengan gaun hitam transparan yang provokatif berdiri sambil menyesap sampanye. Dia adalah Bianca, putri dari ketua sindikat rekanan Arka yang selama ini dijodohkan dengannya.
Bianca berjalan menghampiri dengan langkah anggun namun penuh racun. "Arka, Sayang. Aku tidak percaya kau membawa... ini... ke acara kita." Ia menunjuk Alea dengan gerakan kepala yang merendahkan.
"Bianca," sapa Arka singkat dan dingin.
"Aku dengar dia hanya fotografer jalanan? Benar-benar selera yang eksotis, Arka. Tapi ingat, kau tidak bisa memasangkan berlian dengan batu kali selamanya," Bianca tersenyum sinis ke arah Alea. "Nona, berapa harga yang Arka bayar untuk peran ini? Aku bisa memberimu dua kali lipat asal kau pergi malam ini juga."
Alea merasakan panas menjalar di pipinya. Ia ingin sekali menyiramkan gelas sampanye di tangannya ke wajah wanita sombong itu. Tapi ia teringat kata-kata Arka: jangan menunjukkan ketakutan.
Sebelum Alea menjawab, Arka menarik Alea lebih dekat, hingga tubuh mereka menempel sempurna. Arka menunduk dan mencium kening Alea di depan Bianca dan semua orang yang menonton.
"Dia tak ternilai, Bianca. Sesuatu yang bahkan tidak akan pernah bisa kau pahami meski kau menjual seluruh hartamu," ucap Arka dengan suara yang menggelegar meski diucapkan dengan pelan.
Wajah Bianca memerah karena malu. Ia mendengus dan berbalik pergi dengan langkah seribu.
"Itu... tadi itu terlalu berlebihan," bisik Alea dengan napas memburu. Jantungnya kini berdetak bukan karena takut, tapi karena perlakuan Arka yang tiba-tiba.
"Itu perlu dilakukan," sahut Arka, matanya kembali menjadi dingin dan waspada. "Sekarang, diamlah. Ada yang tidak beres."
Tiba-tiba, lampu ballroom berkedip sekali, lalu mati total. Kegelapan pekat menyergap. Suara teriakan panik mulai terdengar dari para tamu undangan.
Dalam kegelapan itu, Alea merasakan tangan kuat Arka menariknya ke belakang pilar besar. "Tetap di belakangku, Alea! Jangan lepaskan gaunmu dari jangkauanku!"
DOR!
Suara tembakan pecah, diikuti oleh suara kaca jendela yang hancur berantakan. Kekacauan pecah seketika. Di tengah kegelapan, Alea melihat titik laser merah bergerak-gerak di lantai marmer, mencari sasaran.
"Mereka di sini," desis Arka. Ia mengeluarkan pistol Glock hitam yang tersembunyi di balik jasnya—senjata yang Alea bahkan tidak tahu ada di sana sejak tadi.
"Siapa?!" tanya Alea setengah berteriak di tengah kebisingan.
"Orang-orang yang ingin melihatku mati tanpa ahli waris,"
jawab Arka. Ia menekan tubuh Alea ke dinding, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. "Alea, dengar. Di luar ada mobil hitam dengan kode plat 01. Larilah ke sana jika kita terpisah. Mengerti?!"
"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini!" teriak Alea, meski ia tidak tahu kenapa ia mengatakan itu.
Arka menatapnya di tengah keremangan, sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak menyala oleh adrenalin dan sesuatu yang menyerupai proteksi. "Jangan membantahku untuk sekali ini saja! Pergi!"
Arka melepaskan satu tembakan ke arah langit-langit untuk mengalihkan perhatian, lalu ia mendorong Alea menuju pintu darurat sementara ia bergerak ke arah berlawanan untuk menghadapi para penyusup.
Alea berlari, gaun mahalnya terasa berat dan menghalangi langkahnya. Ia menoleh ke belakang sejenak, melihat siluet Arka yang bergerak lincah di antara bayang-bayang, menembak dengan presisi seorang pembunuh profesional.
Saat ia mencapai pintu keluar, sebuah tangan kasar membekap mulutnya.
"Ketemu," sebuah suara asing berbisik di telinganya.
Alea meronta, namun kesadarannya mulai memudar saat ia mencium aroma kimia dari kain yang membekap wajahnya. Hal terakhir yang ia lihat sebelum semuanya menjadi hitam adalah sosok Arka yang sedang dikepung oleh tiga orang bersenjata.
Arka...