"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Konfrontasi
BRAK!
Pintu kayu jati tebal ruang kerja Elzian terhempas keras hingga menabrak dinding. Suaranya menggelegar, membuat vas bunga di sudut ruangan bergetar.
Di dalam ruangan yang dingin ber-AC itu, Elzian sedang duduk di depan layar besar, melakukan konferensi video dengan jajaran direksi dari Eropa. Dia memakai headset nirkabel, wajahnya serius membahas grafik saham. Namun, keributan di pintu membuatnya berhenti bicara di tengah kalimat.
Ziva melangkah masuk dengan napas memburu. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
Dia tidak peduli ada belasan wajah orang asing di layar monitor Elzian yang kini menatapnya dengan bingung.
"Batalkan," desis Ziva.
Dia berjalan cepat menuju meja kerja Elzian, lalu melempar gumpalan kertas lecek—surat mutasi Rayn—tepat ke atas keyboard laptop Elzian.
"Ziva, aku sedang rapat," ucap Elzian datar. Tangannya bergerak hendak mematikan kamera, tapi Ziva menepis tangannya kasar.
"Persetan dengan rapatmu! Aku bilang batalkan surat gila ini sekarang juga!" bentak Ziva. Suaranya cukup keras hingga pasti terdengar oleh mikrofon Elzian yang masih menyala.
Para direksi di layar mulai berbisik-bisik.
"Maaf, Gentlemen. Istri saya sedang butuh perhatian. Kita lanjutkan nanti," kata Elzian tenang. Dia menekan tombol end call dan menutup laptopnya dengan santai, seolah Ziva hanyalah gangguan kecil seperti kucing yang minta makan.
Elzian memutar kursi kerjanya menghadap Ziva. Dia melipat tangan di dada, menatap istrinya dengan ekspresi bosan yang menyebalkan.
"Kau tidak diajari mengetuk pintu di sekolah kedokteran?" tanya Elzian sinis.
"Kau tidak diajari etika saat menyumbang?" balas Ziva tajam. Dia menunjuk gumpalan kertas di meja. "Apa maksudnya ini, Elzian? Memindahkan Dokter Rayn ke klinik antah berantah dengan alasan 'pemerataan'? Kau pikir aku bodoh?"
"Itu keputusan bisnis," jawab Elzian enteng. "Rumah sakit butuh alat MRI. Aku butuh dokter di klinik perbatasan. Win-win solution."
"Ini bukan bisnis! Ini nyawa manusia!" Ziva menggebrak meja kerja Elzian dengan kedua tangannya, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Matanya berkilat marah.
"Kau pikir rumah sakit itu papan caturmu di mana kau bisa membuang pion sesuka hati? Rayn itu spesialis bedah jantung terbaik yang kami punya. Dia menangani kasus-kasus paling rumit. Memindahkannya ke klinik yang cuma punya stetoskop dan obat sakit kepala itu, sama saja membunuh karirnya! Dan yang lebih parah, kau membahayakan nyawa pasien jantung di sini yang butuh dia!"
Elzian tetap tenang. "Dia cuma pegawai, Ziva. Masih banyak dokter jantung lain. Kalau dia memang hebat, dia akan bersinar di mana saja. Kenapa kau yang repot?"
"Karena ini tidak adil! Kau menyalahgunakan kekuasaanmu cuma untuk..." Ziva berhenti sejenak, menatap Elzian curiga. "Tunggu. Kau melakukan ini bukan karena peduli pada klinik itu, kan? Kau sengaja menargetkan Rayn."
Elzian tidak menyangkal. Dia mengambil gumpalan kertas itu, membuangnya ke tempat sampah di bawah meja dengan gerakan luwes.
"Benar. Aku sengaja," akuinya tanpa rasa bersalah.
Ziva ternganga. "Kenapa? Apa salah Rayn padamu? Dia bahkan tidak kenal siapa kau!"
"Aku tidak suka dia," jawab Elzian singkat.
Ziva mengerjap, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kau... tidak suka dia? Cuma itu?"
Ziva tertawa sumbang, menggelengkan kepalanya. "Kau menghancurkan karir seseorang yang sudah sekolah belasan tahun, memisahkan dia dari pasien-pasiennya, cuma karena kau tidak suka? Alasan macam apa itu, Elzian? Kau ini CEO perusahaan multinasional atau anak TK yang sedang ngambek rebutan mainan?"
"Dia menyentuhmu," potong Elzian dingin.
Tawa Ziva terhenti. "Apa?"
Elzian menjalankan kursi rodanya maju, memaksa Ziva mundur selangkah. Aura di sekitar Elzian berubah menjadi gelap dan menekan. Matanya yang hitam pekat mengunci manik mata Ziva.
"Kemarin sore. Di taman rumah sakit," ucap Elzian pelan, setiap katanya penuh penekanan. "Aku melihatnya menyentuh rambutmu. Menyisir kepalamu. Dan kau membiarkannya."
Ziva mengingat kejadian itu. "Itu... dia cuma mengambil ranting kering yang jatuh di rambutku! Astaga, Elzian! Pikiranmu kotor sekali!"
"Bukan sentuhannya yang membuatku ingin mematahkan tangannya," lanjut Elzian, mengabaikan pembelaan Ziva. Suaranya merendah, terdengar serak dan berbahaya. "Tapi senyummu."
Elzian mencengkeram pegangan kursi rodanya erat-erat, seolah menahan diri untuk tidak berdiri dan melakukan sesuatu yang gila.
"Aku tidak suka caramu tersenyum padanya, Ziva. Kau tertawa lepas. Matamu berbinar. Kau terlihat... bahagia."
Elzian menatap Ziva dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kemarahan, kepahitan, dan keinginan memiliki yang posesif.
"Kau tidak pernah tersenyum seperti itu padaku. Tidak sekalipun sejak kita menikah," ucap Elzian tajam. "Kenapa dia bisa mendapatkan senyum itu dengan gratis, sedangkan aku yang memberimu segalanya cuma dapat wajah judesmu?"
Ziva terdiam kaku. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia menatap Elzian dengan pandangan baru.
Pria di hadapannya ini... CEO kejam yang ditakuti banyak orang, yang baru saja membuang lima puluh miliar rupiah untuk alat MRI... melakukan semua ini hanya karena sebuah senyum?
Rasa marah Ziva perlahan bercampur dengan rasa tak percaya.
"Kau..." Ziva menelan ludah, suaranya pelan. "Kau cemburu?"
Elzian memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Dia tidak menjawab, yang sama saja dengan pengakuan telak.
"Kau cemburu pada rekan kerjaku hanya karena dia mengambil ranting di rambutku?" ulang Ziva, nada suaranya naik satu oktaf. "Ya Tuhan, Elzian. Kau bukan cuma gila, kau benar-benar kekanak-kanakan!"