Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - KEBINGUNGAN HATI
TAMAN SAMPING DOJO - LANJUTAN
Akselia menatap Rangga yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh harap dan kegelisahan. Jantungnya berdebar bukan karena senang, tapi karena bingung.
"Rangga, aku..." dia menarik napas panjang, "...aku tidak tahu harus bilang apa."
"Kamu tidak perlu bilang apa-apa sekarang." Rangga tersenyum, meski terlihat tegang. "Aku cuma ingin kamu tahu perasaanku. Itu saja."
"Tapi aku harus jujur padamu..." Akselia menatap matanya langsung, "...aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Satu tahun terakhir ini aku fokus membangun dojo, membangun ulang diriku. Aku... aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa merasakan hal seperti itu lagi."
Rangga mengangguk mengerti. "Aku paham. Dan aku tidak akan paksa kamu untuk merasakan sesuatu yang tidak ada. Tapi..." dia melangkah sedikit lebih dekat, "...boleh aku coba? Coba tunjukkan kalau ada pria yang tidak akan sakiti kamu? Yang akan menghargai kamu apa adanya?"
Akselia merasakan dadanya sesak. Kata-kata Rangga mengingatkannya pada Kevin yang dulu juga bilang hal serupa. Tapi bedanya, Rangga sudah membuktikan dirinya selama hampir setahun. Dia tidak pernah sekali pun melewati batas, selalu profesional, selalu menghormati.
"Aku butuh waktu," katanya akhirnya. "Untuk berpikir. Untuk... untuk tahu apa yang aku rasakan."
"Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan." Rangga tersenyum tulus. "Aku akan tetap di sini. Sebagai instruktur, sebagai teman, atau kalau kamu mau sebagai sesuatu yang lebih."
***
SIANG HARI - RUANG KANTOR DOJO
Setelah Rangga kembali ke Bandung, Akselia duduk di kantornya, menatap kosong ke layar laptop. Pikirannya kacau.
Pak Dharma mengetuk pintu, masuk dengan dua cangkir kopi. "Aku lihat kamu gelisah sejak tadi. Ada apa?"
Akselia ragu sebentar, lalu menceritakan semuanya. Tentang konfesi Rangga, tentang kebingungannya, tentang ketakutannya.
Pak Dharma mendengarkan dengan sabar, tidak menyela. Setelah Akselia selesai, dia menyesap kopinya dulu sebelum bicara.
"Kamu tahu apa bedanya antara Kevin dan Rangga?"
Akselia menggeleng.
"Kevin mendekatimu dengan janji-janji manis sejak awal. Dia pakai kata-kata untuk manipulasi. Tapi Rangga, dia buktikan dirinya lewat tindakan. Hampir setahun dia kerja denganmu, tidak pernah sekali pun dia coba apa-apa. Sampai hari ini, saat dia tidak bisa tahan lagi baru dia bilang."
Akselia merenungkan kata-kata mentornya.
"Aku tidak bilang kamu harus terima dia," lanjut Pak Dharma. "Tapi aku bilang, jangan tolak dia hanya karena kamu takut. Takut itu wajar. Tapi kalau kamu biarkan takut kendalikan setiap keputusanmu, maka kamu tidak akan pernah hidup sepenuhnya."
"Tapi bagaimana kalau dia juga mengecewakan aku nanti?"
"Mungkin. Tidak ada jaminan dalam hubungan mana pun." Pak Dharma menatapnya tajam. "Tapi kamu sekarang bukan lagi Akselia yang dulu... lemah dan bergantung pada pria. Kamu sekarang Akselia yang kuat, mandiri, punya dojo sendiri, punya kehidupan sendiri. Kalau Rangga mengecewakan, kamu tidak akan hancur seperti dulu. Karena kamu sudah punya pondasi kuat."
Kata-kata itu menohok tepat di hati.
Benar. Dia bukan lagi Akselia yang dulu.
***
MALAM HARI - APARTEMEN AKSELIA
Akselia berbaring di kasur, menatap langit-langit. Ponselnya ada di samping, sudah beberapa kali dia mau kirim pesan ke Rangga tapi batal.
Apa yang aku rasakan sebenarnya?
Dia coba mengingat, bagaimana perasaannya saat pertama bertemu Rangga. Biasa saja. Profesional.
Lalu saat bekerja sama dengannya. Nyaman. Rangga mudah diajak bicara, visinya sejalan, kerjanya bisa diandalkan.
Saat Rangga kirim video call kemarin, ada sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang dia abaikan karena tidak mau berpikir terlalu jauh.
Dan hari ini, saat Rangga konfesi ada sesuatu yang bergetar di hatinya. Bukan panik. Bukan takut.
Tapi... kemungkinan?
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rangga. [Maaf kalau tadi aku terlalu tiba-tiba. Aku harap tidak membuat kamu tidak nyaman. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap profesional. Terima kasih sudah mendengarkan. Selamat malam, Akselia.]
Akselia menatap pesan itu lama. Cara Rangga menulis terlihat sopan, penuh hormat, tidak memaksa.
Sangat berbeda dengan Kevin yang dulu selalu pushy, selalu ingin dapat jawaban cepat.
Jemarinya mengetik perlahan. [Tidak apa-apa, Rangga. Terima kasih sudah jujur. Aku menghargai keberanianmu. Beri aku waktu, ya. Aku akan pikir baik-baik.]
Balasan datang cepat. [Tentu. Ambil sebanyak yang kamu butuhkan. Aku tidak akan kemana-mana.]
Akselia tersenyum tipis membaca itu. Lalu menutup ponsel dan mencoba tidur, meski pikirannya masih penuh dengan wajah Rangga.
***
SEMINGGU KEMUDIAN - MEETING DENGAN INVESTOR
Arjuna mengatur pertemuan dengan investor besar yang tertarik mendanai ekspansi lima cabang sekaligus. Akselia datang dengan proposal lengkap yang dia dan tim susun seminggu penuh.
Investor itu ternyata seorang perempuan berusia empat puluhan... Ibu Ratna, pengusaha sukses yang juga aktivis pemberdayaan perempuan.
"Nona Akselia, saya lihat liputan kejuaraan Anda. Luar biasa." Ibu Ratna tersenyum hangat. "Dan yang lebih luar biasa, misi Anda. Memberdayakan perempuan lewat bela diri. Ini yang Indonesia butuhkan."
"Terima kasih, Bu. Itu juga motivasi saya mendirikan dojo ini."
"Saya mau investasi bukan cuma karena ini menguntungkan secara bisnis, tapi karena ini sejalan dengan nilai yang saya pegang." Ibu Ratna membuka laptop. "Lima kota... Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, dan Makassar. Saya akan danai sepenuhnya. Tapi saya punya satu syarat."
Akselia dan Arjuna saling pandang. "Syarat apa, Bu?"
"Setiap cabang harus punya program beasiswa untuk perempuan dari keluarga tidak mampu atau korban kekerasan. Minimal sepuluh persen dari total murid."
Akselia tersenyum lebar. "Itu bukan syarat, Bu. Itu justru yang sudah kami rencanakan dari awal."
Ibu Ratna tertawa puas. "Sempurna. Kalau begitu kita sepakat."
Mereka berjabat tangan, deal terbesar dalam hidup Akselia.
***
SORE HARI - TELEPON DENGAN RANGGA
Setelah meeting sukses, Akselia menelepon Rangga untuk beri kabar.
"Rangga, kita dapat pendanaan untuk lima cabang baru!"
"Serius?! Itu luar biasa, Akselia!" Suara Rangga penuh antusias. "Kota mana saja?"
"Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, Makassar."
"Wah, itu... itu besar sekali. Kamu pasti butuh banyak instruktur."
"Ya. Dan aku pikir..." Akselia ragu sebentar, "...aku mau kamu yang handle perekrutan dan pelatihan instruktur baru. Kamu paling paham standar kita."
Hening sebentar di seberang.
"Akselia... aku terima kasih sudah percaya padaku untuk tanggung jawab sebesar ini."
"Kamu yang paling layak, Rangga. Bukan karena... bukan karena yang lain. Tapi karena kamu memang yang terbaik."
"Aku mengerti." Rangga tertawa kecil. "Dan aku senang kamu bisa pisahkan profesional dan personal. Itu... itu bikin aku makin yakin kamu perempuan luar biasa."
Akselia merasakan pipinya sedikit panas. "Jangan mulai lagi."
"Oke, oke. Profesional mode on." Rangga kembali serius. "Kapan kita mulai proses rekrutmen?"
Mereka diskusi detail selama satu jam sepenuhnya profesional, tapi ada kehangatan baru di antara mereka. Sesuatu yang tidak ada sebelumnya.
Dan Akselia mulai menyadari, mungkin dia memang merasakan sesuatu.
Sesuatu yang belum berani dia akui.
***
MALAM HARI - BALKON APARTEMEN
Akselia duduk di balkon dengan secangkir teh, menatap bintang yang mulai terlihat di langit Jakarta.
Ponselnya berdering. Video call dari Bella.
"Hai, Akselia!" Bella tersenyum lebar di layar. "Aku lihat berita! Lima cabang baru? Kamu hebat banget!"
"Terima kasih, Bella. Bagaimana kabarmu?"
"Baik! Aku baru terima di program keperawatan. Mulai bulan depan!" Bella terlihat sangat bahagia, jauh dari Bella yang dulu hancur karena Kevin.
"Aku bangga dengarnya."
"Dan kamu? Ada kabar soal... soal cowok?" Bella mengedipkan mata nakal.
Akselia tertawa. "Kenapa semua orang tiba-tiba concern soal kehidupan cintaku?"
"Karena kamu layak bahagia! Dan aku dengar dari Rina, ada instruktur ganteng di Bandung yang naksir kamu?"
"Rina dan mulut besarnya," gumam Akselia.
"Jadi benar dong?!" Bella excited. "Cerita dong!"
Dan entah kenapa, Akselia menceritakan semuanya pada Bella. Tentang Rangga, tentang konfesinya, tentang kebingungannya.
Bella mendengarkan dengan seksama. Setelah Akselia selesai, dia berkata, "Akselia, dengar. Aku tahu kamu takut. Aku juga takut setelah Kevin. Tapi dari ceritamu, Rangga terdengar seperti pria baik. Dan kamu layak dapat pria baik."
"Tapi bagaimana kalau..."
"Tidak ada jaminan. Itu risiko cinta." Bella tersenyum lembut. "Tapi kalau kamu tidak pernah coba, kamu tidak akan pernah tahu. Dan aku rasa kamu sudah cukup kuat untuk handle apa pun yang terjadi."
Setelah menutup video call, Akselia merenungkan kata-kata Bella.
Mungkin sudah saatnya dia coba lagi. Coba membuka hati dengan hati-hati, dengan bijak, tapi tetap coba.
Karena hidup bukan cuma soal melindungi diri dari luka. Tapi juga soal memberi kesempatan pada kebahagiaan.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
semangat❤️