NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / CEO / Orang Disabilitas / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kinara, seorang gadis berusia 24 tahun, baru saja kehilangan segalanya, rumah, keluarga, dan masa depan yang ia impikan. Diusir ibu tiri setelah ayahnya meninggal, Kinara terpaksa tinggal di panti asuhan sampai akhirnya ia harus pergi karena usia. Tanpa tempat tujuan dan tanpa keluarga, ia hanya berharap bisa menemukan kontrakan kecil untuk memulai hidup baru. Namun takdir memberinya kejutan paling tak terduga.

Di sebuah perumahan elit, Kinara tanpa sengaja menolong seorang bocah yang sedang dibully. Bocah itu menangis histeris, tiba-tiba memanggilnya “Mommy”, dan menuduhnya hendak membuangnya, hingga warga sekitar salah paham dan menekan Kinara untuk mengakui sang anak. Terpojok, Kinara terpaksa menyetujui permintaan bocah itu, Aska, putra satu-satunya dari seorang CEO muda ternama, Arman Pramudya.

Akankah, Kinara setuju dengan permainan Aksa menjadikannya ibu tiri atau Kinara akan menolak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

“Apa maksudmu … hilang?” suaranya meninggi, tak lagi dingin.

Kinara yang masih duduk di pasir menoleh. Tangannya berhenti membentuk istana kecil itu. Ia langsung berdiri dan mendekat.

“Mas, ada apa?” tanyanya cemas.

Arman mematikan panggilan, napasnya memburu. Kedua tangannya gemetar di sandaran kursi roda.

“Rudi, bilang..." ucapnya parau, “Aksa … Aksa hilang di tempat les.”

Dunia Kinara seolah berhenti sesaat.

“Apa?” matanya membesar.

“Dia tadi masih di kelas,” lanjut Arman cepat, nada suaranya kacau, “tapi pas dijemput, dia nggak ada. Gurunya bilang Aksa keluar dulu dari ruangan … tapi sampai sekarang belum kembali.”

Arman memutar kursi rodanya dengan kasar, ingin segera pergi.

“Kita pulang, sekarang!" katanya tegas, namun terdengar rapuh. “Aku harus cari Aksa.”

Kinara refleks menahan kursi roda itu.

“Mas, tunggu.”

Arman menoleh tajam. “Kinara, jangan tahan aku.”

Alih-alih mundur, Kinara justru berjongkok tepat di hadapan Arman, sejajar dengan pandangannya. Diabmenggenggam kedua tangan pria itu yang gemetar.

“Mas, lihat aku,” ucapnya pelan tapi tegas. Arman mencoba mengalihkan pandangannya, tapi Kinara menahan.

“Mas,” ulang Kinara, “panik nggak akan membantu menemukan Aksa.”

Napas Arman tersengal. “Dia anakku,” suaranya pecah, “aku nggak boleh kehilangan dia.”

Kinara menelan ludah, lalu menggeleng pelan. “Kamu nggak akan kehilangan dia.”

Dia mengusap punggung tangan Arman dengan lembut, ritmenya menenangkan.

“Kita cari Aksa sama-sama,” lanjutnya. “Bukan kamu sendirian. Ada aku, aku juga ibunya,”

Perlahan, Arman berhenti memutar kursi rodanya. Napasnya masih berat, tapi tidak sekacau tadi. Kinara bangkit sedikit, lalu tanpa ragu memeluk Arman. Tangan pria itu kaku beberapa detik sebelum akhirnya membalas pelukan itu erat, seolah berpegangan pada satu-satunya jangkar yang ia miliki.

“Kamu nggak sendiri, Mas,” bisik Kinara di telinganya. “Aku di sini, kita pulang. Kita cari Aksa bersama.”

Arman memejamkan mata, menelan rasa takut yang mencekik dadanya. Keduanya segera berlalu dan meninggalkan tempat itu.

Begitu mobil berhenti di depan gedung les Aksa, suasana langsung berubah tegang.

Arman turun dengan wajah gelap, rahangnya mengeras, tatapannya tajam menusuk siapa pun yang berani menatap balik. Kinara berjalan di belakang mendorong kursi roda, mencoba tetap tenang meski dadanya sendiri sesak.

Belum sempat kepala sekolah menyapa, suara Arman sudah menggema di lorong.

“Di mana anak saya?” bentaknya. “Aksa Pramudya, di mana sekarang!”

Beberapa guru tersentak. Ada yang refleks mundur selangkah. Wajah dingin Arman, ditambah sorot matanya yang penuh amarah dan kecemasan, membuat napas mereka tercekat.

“K-kami masih mencari, Tuan,” ujar seorang guru dengan suara gemetar. “Tadi dia masih di kelas...”

“Mencari?” Arman memotong keras. “Ini tanggung jawab kalian! Anak saya hilang di tempat kalian!”

Suasana makin kacau. Guru-guru saling berpandangan, panik jelas tergambar di wajah mereka. Tak lama, Rudi datang dengan langkah cepat.

“Tuan,” ucapnya serius, “semua CCTV sudah saya periksa. Tidak ada rekaman Aksa keluar dari gerbang, dan tidak ada tanda dia dibawa orang asing.”

Satpam ikut mendekat. “Benar, Tuan. Di sini aturan ketat. Anak tidak boleh keluar sebelum jam les selesai, kecuali dijemput orang tua atau asisten yang terdata. Hari ini tidak ada yang menjemput Aksa lebih awal.”

Arman menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Tangannya mengepal, tapi kali ini bukan karena amarah melainkan menahan ketakutan yang masih tersisa. Kinara, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara.

“Maaf,” katanya tenang namun tegas, “di lingkungan les ini … apakah ada ruang lain? Seperti ruang olahraga, aula, atau tempat bermain?”

Para guru saling berpandangan. Salah satu dari mereka terlihat berpikir keras.

“Ada, Bu,” jawabnya akhirnya. “Di belakang gedung utama ada gedung olahraga. Saat ini sedang ada latihan basket untuk anak-anak.”

Mata Kinara membesar. Kinara teringat beberapa hari terakhir, Aksa berkali-kali bercerita dengan mata berbinar tentang bola besar yang bisa dipantulkan, tentang ring, tentang suara bola yang masuk dan membuatnya merasa keren.

“Aksa suka basket,” gumam Kinara cepat. Ia menoleh ke Arman. “Mas … dia sering cerita soal bola basket.”

Belum menunggu jawaban, Kinara langsung berlari ke arah yang ditunjukkan guru itu.

“Rudi,” perintah Arman singkat tapi tegas, “dorong aku ke sana, sekarang!”

Rudi mengangguk tanpa banyak bicara. Kursi roda bergerak cepat menyusuri lorong, mengikuti Kinara yang berlari lebih dulu menuju gedung olahraga.

Di dada Arman, harapan dan ketakutan beradu keras.

Begitu Kinara tiba di depan gedung olahraga, ia langsung menarik pintu besi ber-AC itu dengan kasar. Suara pintu yang terbuka mendadak mengejutkan semua orang di dalam.

Gedung itu luas dan bahkan sangat luas.

Di beberapa sudut, anak-anak berlatih basket, di sisi lain ada futsal, bahkan sepak bola. Suara pantulan bola, teriakan pelatih, dan tawa anak-anak bercampur jadi satu.

Kinara berdiri terpaku sejenak, matanya bergerak cepat menyapu setiap sudut.

“Di mana…” gumamnya cemas.

Anak-anak yang berlatih kebanyakan sudah usia sekolah dasar. Postur mereka lebih tinggi, gerakan lebih matang. Jantung Kinara kembali berdebar, Aksa bahkan belum masuk SD, baru tahun depan.

Dia melangkah semakin masuk, napasnya menahan.

Dari kejauhan, Kinara melihat seorang anak laki-laki yang lebih besar sedang menunduk, dengan sabar memegang bola basket. Anak itu tersenyum, lalu memantulkan bola pelan dan di depannya Aksa.

Bocah kecil itu berdiri kikuk, dua tangannya berusaha meniru gerakan, wajahnya penuh fokus dan semangat.

Mata Kinara langsung melebar. Rasa syukur menghantam dadanya begitu keras sampai napasnya tercekat.

“Aksa!” teriak Kinara tanpa sadar.

Suara itu menggema di seluruh gedung. Semua anak berhenti, pelatih menoleh. Bola-bola berhenti memantul. Puluhan pasang mata beralih ke arah Kinara.

Aksa menoleh, begitu melihat Kinara berdiri di sana, wajah bocah itu membeku sesaat lalu berubah panik.

“Mommy?”

Belum sempat Aksa bergerak, Kinara sudah berlari menghampirinya. Ia berlutut dan langsung menarik Aksa ke dalam pelukan erat, seolah takut bocah itu akan menghilang lagi.

“Aksa…” suaranya bergetar. “Jangan pernah bikin Mommy takut seperti ini lagi.”

Aksa terkejut, tubuh kecilnya kaku beberapa detik sebelum akhirnya membalas pelukan itu.

“Aksa cuma mau belajar basket…” gumamnya polos. “Aksa nggak kabur…”

Kinara menutup mata, mengusap rambut bocah itu berkali-kali.

“Iya … Mommy tahu. Tapi bilang dulu, ya?”

Di ambang pintu gedung, Arman baru tiba. Kursi rodanya berhenti mendadak.

Tatapan pria itu langsung terkunci pada satu pemandangan, Kinara memeluk Aksa erat, sementara bocah kecil itu menempel di dadanya dengan wajah bersalah.

Melihat Kinara memeluk Aksa seperti itu membuat dada Arman terasa sesak dengan perasaan yang tak pernah ia beri nama.

Guru-guru berkali-kali meminta maaf atas kelalaian mereka. Wajah mereka pucat, suara bergetar ketika menjelaskan bahwa Aksa hanya ikut anak-anak yang lebih besar tanpa melapor lebih dulu. Arman mendengarkan dengan rahang mengeras, lalu beralih menatap Aksa.

“Apa kamu tahu betapa paniknya Daddy?” suara Arman rendah, dingin, tapi jelas menahan emosi.

Aksa menunduk. Kinara refleks hendak membela, namun Arman lebih dulu melanjutkan, “Kamu tidak boleh menghilang begitu saja,"

Aksa mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.

Di sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil sunyi. Arman menatap lurus ke depan, tak berkata apa-apa. Aksa beberapa kali melirik ayahnya dari kursi belakang.

“Dad … Aksa minta maaf…” ucapnya pelan.

Tak ada jawaban.

“Aksa janji nggak gitu lagi…”

Arman tetap diam. Kinara yang duduk di kursi kemudi hanya bisa menahan napas, tahu pria itu bukan marah melainkan ketakutan yang belum sepenuhnya reda.

Malam itu, sebelum tidur, Aksa berjalan pelan ke sisi ranjang Arman. Bocah itu berdiri canggung, lalu berbisik,

“Daddy … Aksa benar-benar minta maaf. Aksa nggak mau bikin Daddy dan Mommy khawatir lagi. Aksa janji.”

Arman menoleh, tatapan dinginnya runtuh seketika. Ia menghela napas panjang, lalu membuka kedua lengannya.

“Ke sini.”

Aksa langsung naik ke ranjang dan memeluk ayahnya erat, seolah takut dilepaskan. Arman membalas pelukan itu, tangannya mengusap punggung kecil Aksa dengan gerakan pelan gerakan seorang ayah yang hampir kehilangan anaknya hari itu.

Kinara masuk ke kamar membawa obat untuk Arman. Pemandangan itu membuat langkahnya terhenti sejenak.

“Mommy…” Aksa mendongak. “Tidur bareng lagi, ya?”

Kinara hendak menolak dengan alasan yang sama seperti sebelumnya, namun belum sempat bersuara,

“Iya,” kata Arman singkat.

Kinara menatapnya terkejut. Arman tak menoleh, hanya menambahkan pelan, “Biar dia tenang.”

Kinara tersenyum tipis. Dia meletakkan obat di meja, lalu naik ke ranjang. Aksa langsung menyelinap ke tengah, menggenggam tangan Arman dan Kinara sekaligus.

1
Ahmad Farhan Eka Saputra
Luar biasa
Eka
aska jangan sakitin momy kinara ya bikin momy selalu bahahia,semoga arman bisa nerebut oerusahaan kinara
Eka
arman jangan kasih kesemoatan amira,thor bikin kel.arman bahahia thor kasihan aska
Diez Nazwa Fauzan
kereeeen ceritanya
happy ending
mksh thor
cerita yg elegant tidak berbelat belit
membuktikan yg benar akan bahagia
Eka
persatukan mas arman sama kinara biar aska senang dan punya adek lanjut tjor
Pra Rosila
syukur aska gak hilang
Pra Rosila
bagus pertahan sikap tegas mu kinara ,sekarang sudah ada yang kuat utk melindungimu
bellbell
luar biasa
Trimuntari Darwin
biasanya kalou ada orang ke 3 berhubungan ada rasa was2 jd tambah hmmmmmm
Yulia Rahayu
sy membacanya atw memang ada yg terlewat?? gmn kbr kartika? apa dia jd di penjara??
fatin Rahman
jujur sajalah Arman
terus terang dgn Kirana👍
umiatun
moga aja Abian saudaranya Kinara yg hilang...
O Neil
☝️..aku
lalah rodilah
terima kasih cerita nya..sangat puas baca nya..😍
Trimuntari Darwin
jangan2 ulah ibu tiri kinara mau celakai pp kinara kena ke arman nyimak terus thor
umiatun
dalam dunia bisnis pinter tp dlm semua yg lain sangat bodoh..
TRIDIAH SETIOWATI
ceritanya keren thor....seru /Good//Good//Good/
fsf
aku sukaaaa banget sama karakternya Kinara
Trimuntari Darwin
udh pd gelap mata menyesal kan belakangan
fatin Rahman
perjanjian kontrak yg bakal makan tuan Arman sendiri 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!