Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Selalu Harus Kuat
Beberapa hari setelah itu, Senja mulai menyadari sesuatu yang aneh:
jujur ke diri sendiri ternyata lebih melelahkan daripada pura-pura baik-baik saja.
Kalau pura-pura, ia tinggal tersenyum.
Tinggal menjawab “iya” di saat ingin bilang “nggak tau”.
Tinggal ketawa di saat sebenarnya kosong.
Tapi sekarang, ia harus benar-benar mendengar pikirannya sendiri.
Dan itu… ribut.
Kadang ia bangun dengan perasaan ringan.
Kadang ia bangun dengan dada sesak tanpa alasan jelas.
Kadang ia ingin berbicara.
Kadang ia ingin menghilang.
Dan yang paling membingungkan:
semua perasaan itu bisa muncul dalam satu hari yang sama.
Pagi itu, ia hampir membatalkan masuk kelas.
Tangannya sudah memegang ponsel, siap mengetik pesan izin.
“Aku capek,” gumamnya.
Dulu, kalimat itu cukup untuk membuatnya menyerah.
Sekarang, ia bertanya pada dirinya sendiri:
“Aku capek karena butuh istirahat… atau capek karena mau kabur?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam lama.
Akhirnya, ia tetap berangkat.
Bukan karena ia kuat.
Tapi karena ia penasaran apakah dirinya bisa bertahan satu hari lagi tanpa lari.
Di kelas, dosen sedang menjelaskan materi yang biasanya tidak pernah benar-benar masuk ke kepalanya.
Hari ini pun masih sama.
Tapi Senja tidak langsung menyerah.
Ia menulis beberapa kalimat.
Tidak rapi. Tidak lengkap.
Tapi ada usaha.
Di sampingnya, Nara melirik.
“Kamu kenapa kelihatan serius banget hari ini?”
“Lagi nyoba nggak ninggalin diriku sendiri,” jawab Senja jujur.
Nara terdiam sejenak.
“Berat banget jawabannya buat jam sembilan pagi.”
Senja tersenyum kecil. “Aku juga ngerasa gitu.”
Mereka tertawa pelan.
Bukan tawa lepas. Tapi tawa yang lebih hangat.
Siangnya, Kay mengajaknya makan.
“Kamu kelihatan lelah,” kata Kay sambil mendorong piring ke arah Senja.
“Aku memang lelah.”
“Karena hidup, atau karena mikir hidup?”
“Dua-duanya.”
Kay tertawa kecil. “Kombinasi paling capek.”
Senja menusuk nasi dengan sendok.
“Aku baru sadar… selama ini aku selalu berusaha kelihatan kuat. Bahkan ke kamu.”
Kay menatapnya. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku nggak yakin aku mau terus kayak gitu.”
Kay mengangguk. “Kuat itu capek kalau sendirian.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Senja menelan ludah.
“Aku takut kalau aku berhenti jadi kuat, orang-orang bakal pergi,” kata Senja pelan.
Kay menjawab tanpa ragu,
“Orang yang pergi karena kamu jujur, berarti memang cuma kenal versi palsumu.”
Senja terdiam lama.
Kalimat itu terasa menampar, tapi juga menenangkan.
Sore itu, Senja pulang lebih awal.
Ia masuk kamar, duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding.
Tidak membuka ponsel.
Tidak memutar musik.
Tidak melakukan apa-apa.
Ia hanya… membiarkan dirinya ada.
Dan di situ, ia merasakan sesuatu yang selama ini jarang ia akui:
ia lelah bukan karena hidupnya berat,
tapi karena ia terlalu lama memikul semuanya sendirian.
Ia menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia berkata pelan ke dirinya sendiri,
“Aku capek.”
Bukan sebagai alasan.
Bukan sebagai keluhan.
Tapi sebagai pengakuan.
Dan anehnya, setelah mengucapkannya, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Malam itu, ia menulis lagi di catatannya:
“Aku selalu pikir aku harus kuat supaya layak ada.
Tapi mungkin aku layak ada bahkan saat aku lelah, bingung, dan nggak tahu harus apa.
Mungkin aku tidak perlu jadi versi terbaikku setiap hari.
Mungkin cukup jadi versi jujur.”
Ia berhenti mengetik. Menatap layar cukup lama.
Selama ini, ia takut terlihat lemah.
Takut dianggap gagal.
Takut jadi beban.
Padahal, yang paling membuatnya tenggelam justru karena ia tidak pernah mengizinkan dirinya untuk rapuh.
Ia menghela napas panjang.
Merebahkan badan di kasur.
Besok mungkin ia masih akan capek.
Masih akan bingung.
Masih akan merasa kosong.
Tapi malam ini, ia mengerti satu hal penting:
Ia tidak harus kuat untuk tetap hidup.
Ia hanya perlu berhenti memusuhi dirinya sendiri.
Dan untuk Senja,
yang terlalu lama hidup dengan cara bertahan,
itu bukan kelemahan.
Itu awal dari belajar hidup dengan lebih manusiawi.