Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Intrik di Paviliun Rahasia
Bab 27: Intrik di Paviliun Rahasia
Toko buku tua itu berderit saat pintu kayu jati yang berat ditutup oleh Gu Hai. Seketika, hiruk-pikuk pasar Kota Angin Puyuh lenyap, digantikan oleh aroma kertas kuno, tinta herbal, dan keheningan yang dipaksakan oleh formasi kedap suara tingkat tinggi. Lu Chen berdiri di tengah ruangan, matanya menyisap setiap detail rak-rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit gelap.
"Tempat yang menarik untuk seorang 'pengumpul informasi'," ucap Lu Chen, tangannya menyentuh punggung sebuah buku bersampul kulit binatang buas.
Gu Hai melipat kipasnya dengan bunyi klik yang tajam. Wajahnya yang semula tampak jenaka kini berubah menjadi serius. Ia berjalan menuju sebuah meja kayu di sudut ruangan dan memberi isyarat agar Lu Chen dan Yue Bing duduk. "Di Benua Tengah, informasi adalah mata uang yang lebih berharga daripada emas. Dan toko ini... hanyalah fasad untuk Paviliun Rahasia, cabang Kota Angin Puyuh."
[Ding! Memindai Ruangan.]
[Terdeteksi: 12 Formasi Pengintai, 4 Perangkap Gas Beracun, dan 1 Ruang Rahasia di bawah lantai.]
[Status Gu Hai: Tahap Inti Emas - Level 8. Spesialisasi: Teknik Penyamaran dan Manipulasi Bayangan.]
Yue Bing duduk dengan kaku, pedang esnya tetap berada dalam jangkauan tangan. Ia merasa tidak nyaman berada di dekat Gu Hai yang auranya sulit ditebak. "Tadi kau menyebutkan tentang kunci Makam Naga. Apa maksudmu? Peta itu seharusnya masih menjadi rahasia besar."
Gu Hai menuangkan teh hijau ke dalam tiga cangkir kecil. "Tuan Putri, di Benua Tengah tidak ada rahasia yang abadi. Tiga jam yang lalu, seorang penjelajah dari Sekte Pedang Suci menemukan sebuah prasasti kuno di kaki Gunung Langit. Prasasti itu bukan peta, melainkan 'Kompas Jiwa' yang bereaksi terhadap keberadaan Makam Naga Kuno."
Lu Chen menyesap tehnya, matanya tetap tenang. "Jika mereka sudah punya kompasnya, mengapa kau mendatangiku?"
"Karena kompas itu tidak lengkap," Gu Hai mencondongkan tubuh, suaranya merendah. "Kompas itu membutuhkan energi murni dari naga purba untuk menunjukkan koordinat sebenarnya. Sekte Pedang Suci saat ini sedang berburu binatang buas berdarah naga di seluruh benua untuk 'dikurbankan' ke dalam prasasti itu. Tapi kita tahu... darah naga biasa tidak akan cukup."
Gu Hai menatap Lu Chen dengan pandangan yang seolah ingin menelusuri isi jiwanya. "Aura yang kau lepaskan di gerbang tadi... aku belum pernah merasakan energi sekokoh itu. Itu bukan sekadar kekuatan, itu adalah dominasi. Kau punya hubungan dengan naga, bukan?"
"Lu Chen, haruskah aku merobek lidah manusia ini?" Ignis mendesis di dalam kepompong spiritualnya. "Dia terlalu banyak tahu."
"Hubunganku dengan naga bukan urusanmu," jawab Lu Chen dingin. "Katakan padaku, apa rencanamu? Kau tidak mungkin hanya ingin memberitahuku bahwa aku sedang diburu."
Gu Hai tersenyum, menyadari bahwa ia sedang berurusan dengan seseorang yang tidak mudah digertak. "Sekte Pedang Suci telah mengumumkan Sayembara Pahlawan. Mereka mengundang semua kultivator mandiri berbakat untuk bergabung dalam ekspedisi ke Makam Naga. Secara resmi, itu adalah pencarian warisan. Secara tidak resmi, mereka mencari 'kunci manusia'—seseorang yang memiliki resonansi dengan makam tersebut untuk membuka gerbang utamanya."
"Mereka ingin menggunakan orang lain sebagai tumbal," gumam Yue Bing dengan nada jijik.
"Tepat sekali," sahut Gu Hai. "Tawaranku adalah: Aku akan memberimu identitas sebagai Tuan Muda dari Klan Terasing yang hilang. Dengan identitas ini, kau bisa masuk ke dalam jajaran elit ekspedisi tanpa dicurigai sebagai 'sampah' dari wilayah Utara. Sebagai gantinya, saat kita masuk ke dalam makam, aku ingin kau membantuku mengambil satu hal: Gulungan Teknik Bayangan Abadi yang terkubur di sana."
Lu Chen terdiam sejenak. Otak sistemnya sedang mengkalkulasi ribuan kemungkinan.
[Analisis Risiko: 40%. Keuntungan: 90%.]
[Rekomendasi: Terima tawaran. Menyusup ke dalam Sekte Pedang Suci adalah cara tercepat untuk mencapai inti Makam Naga tanpa harus melawan seluruh tentara mereka di luar.]
"Baik," Lu Chen berdiri, auranya mendadak meluap, memenuhi ruangan dengan tekanan yang membuat Gu Hai sedikit gemetar. "Aku akan mengambil identitas itu. Tapi ingat satu hal, Gu Hai. Aku bukan bidakmu. Jika kau mencoba mengkhianatiku di dalam makam, aku akan memastikan bayanganmu sendiri yang akan mencekik lehermu."
Gu Hai menelan ludah, senyumnya sedikit kaku. "Kesepakatan tercapai. Besok pagi, kita akan menuju markas sementara Sekte Pedang Suci di alun-alun kota. Persiapkan dirimu, 'Tuan Muda Lin'. Panggung dunia baru saja disiapkan untukmu."
Setelah Lu Chen dan Yue Bing pergi untuk beristirahat di penginapan rahasia yang disediakan, Lu Chen berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan perak Benua Tengah. Ia mengeluarkan peta dari Kekaisaran Utara.
"Sekte Pedang Suci... mereka pikir mereka sedang memburu naga," gumam Lu Chen sambil mengelus kepompong Ignis yang mulai retak, menunjukkan tanda-tanda evolusi yang hampir selesai. "Mereka tidak sadar, bahwa naga itu sudah ada di depan pintu mereka, siap untuk menelan seluruh kemunafikan mereka."
Di kegelapan malam, petir biru menyambar pelan di ujung jari Lu Chen. Di Benua Tengah yang kejam ini, sebuah badai baru sedang dipersiapkan, dan Lu Chen adalah pusat dari segalanya.