Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di griya salon
Hari pertama pelatihan terasa begitu ringan bagiku. Agenda hari ini adalah menguasai teknik mencuci rambut atau creambath dengan benar. Aku sangat antusias memperhatikannya.
"Yani, kamu mulai belajar creambath dulu ya," ucap Mbak Rianti, pemilik salon, sambil menatapku lembut. "Untuk Puji, biar dia fokus belajar memijat. Kamu sengaja saya tempatkan di bagian depan salon ini."
Aku agak bingung, namun Mbak Rianti melanjutkan dengan senyum tulus, "Saya suka wajah polosmu. Meski hanya bermodalkan lipstik tipis, kamu terlihat sangat anggun. Apalagi kalau nanti dipoles sedikit, pasti makin cantik."
Mendengar pujian itu, hatiku berbunga-bunga. "Terima kasih banyak, Bu," jawabku tersanjung.
"Sama-sama. Semangat ya untuk kerja hari ini!" kata Mbak Rianti sambil mengangguk mantap.
"Pasti, Bu! Saya akan giat belajar sampai mahir," jawabku penuh tekad.
"Semangat Yani! Kamu pasti bisa!" sahut Lala dari kejauhan. Tangannya nampak lincah memainkan catokan di rambut pelanggan.
"Oke, pasti dong!" balasku dengan jempol terangkat.
Suasana salon hari ini sangat ramai. Rani sibuk di bagian potong rambut, sementara antrean pelanggan mulai memanjang. Salon ini cukup luas; lantai dua dikhususkan untuk manicure, eyelash, dan body spa. Di sana ada Dian dan Vera yang menangani bulu mata serta kuku, sementara Puji dan Mawar bertugas di ruang spa untuk pijat dan perawatan tubuh.
Dian adalah sosok yang paling cerewet di antara kami. Dia lincah dan banyak akal, persis sepertiku. Bedanya, dia tidak tinggal di mes bersamaku, melainkan ngekos bersama Vera. Vera sendiri orangnya agak polos—ya, sebelas dua belas lah sifatnya dengan Lala.
Tak terasa, hari mulai gelap. Satu per satu pelanggan pulang dengan wajah puas. Tes pertamaku dalam mencuci rambut dan gerakan tangan pun dinyatakan lulus. Kabar baiknya, besok aku sudah diperbolehkan pindah ke bagian catok rambut!
"Halo semuanya! Waktunya istirahat ya, sudah malam," seru Mbak Rianti mengumpulkan kami semua. "Ibu punya kabar gembira. Pelanggan kita meningkat pesat! Hari ini di bagian salon bawah ada 11 orang, dan di lantai atas ada 9 orang. Jadi, apa yang harus kita ucapkan?"
"Alhamdulillah! Harus bersyukur!" teriak kami serempak dengan wajah berseri-seri.
"Alhamdulillah, Bu... akhirnya tutup juga. Capek banget, mau istirahat aku, Bu," keluh Lala sambil menguap lebar.
"Iya Bu, kami juga takut kemalaman pulangnya," sahut Vera yang sudah bersiap-siap.
"Iya, sama Bu," timpal Dian.
Mbak Rianti tertawa kecil. "Iya Dian, Vera, Ibu sampai hampir lupa kalian harus pulang ke kosan. Mawar, nanti tolong jangan lupa kunci gerbang ya. Ibu juga mau pamit pulang sekarang. Puji, Yani, dan semuanya, jangan lupa besok harus lebih semangat lagi!"
Mbak Rianti pun bergegas keluar untuk mengantar Dian dan Vera.
"Baik, Bu!" jawab Mawar tegas.
"Mawar, semuanya... gue balik duluan ya! Bye!" pamit Vera melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan!" seru kami kompak.
Begitu mobil Mbak Rianti menjauh, kami yang tersisa segera bahu-membahu merapikan salon. Kursi ditata, peralatan dikembalikan ke tempat semula, dan lantai disapu bersih. Setelah semuanya rapi dan wangi, aku melangkah naik ke lantai atas menuju mes dengan perasaan puas. Hari pertama yang melelahkan, tapi sangat berkesan.
Malam itu, suhu udara terasa lebih menusuk dari biasanya. Aku berdiri di dapur kecil mes kami, menunggu air di dalam panci mengeluarkan bunyi berdesis. Cuaca yang sangat dingin membuatku tak sanggup jika harus mandi dengan air biasa, jadi memasak air hangat adalah satu-satunya jalan ninja bagiku.
Saat aku sedang melamun menatap uap air, tiba-tiba Lala datang bersama Mbak Puji. Mereka langsung mengambil posisi nyaman, bersandar di samping pagar tangga yang menuju ke lantai empat—tempat kami biasa menjemur pakaian.
"Gimana hari pertama kerja kalian? Seru nggak?" tanya Lala membuka obrolan sambil menyeka keringat tipis di dahi, meski cuaca sedang dingin.
Aku menoleh dan tersenyum tipis. "Hmm, kalau menurutku sih enak-enak aja kerjaannya. Cuma ya itu, kaki rasanya mau copot karena berdiri terus. Tapi tetep seneng kok, namanya juga pengalaman baru," jawabku jujur.
Lala manggut-manggut, lalu beralih menatap Mbak Puji. "Kalau Kak Puji gimana? Tadi di bagian spa sibuk banget ya?"
Mbak Puji tertawa kecil, wajahnya tampak percaya diri. "Kalau aku sih seru banget, La. Aku kan nggak perlu belajar dari nol lagi, soalnya basic-ku memang sudah mahir memijat. Jadi tadi tinggal sat-set-sat-set aja!" ucapnya senang.
"Wah, iya bener! Kak Puji itu jago banget mijatnya, pelanggan tadi sampai ada yang ketiduran pulas," tiba-tiba Mawar muncul dari arah tangga dan ikut nimbrung dalam obrolan kami.
Mata Lala langsung membulat sempurna. "Ah, masa sih Kak? Berarti Kak Puji ini suhu-nya pijat spa dong ya! Wah, nanti kapan-kapan pijatin aku juga ya Kak, biar lemak-lemak di pundakku ini luntur," pekik Lala yang selalu saja merasa bahagia kalau dengar ada teman yang hebat.
Aku melihat ke arah kompor, uap sudah mengepul hebat. "Udah ya, kalian lanjutin dulu sidangnya. Aku mau mandi duluan, tuh air hangatku udah mendidih sampai jerit-jerit gitu," ujarku sambil bangkit berdiri dan menyampirkan handuk di bahu.
Sepeninggalanku ke kamar mandi, sayup-sayup masih terdengar suara Lala yang super oon sedang bertanya pada Mawar.
"War, kalau Kak Puji jago mijat, berarti dia bisa mijat perasaan yang lagi galau nggak ya?" tanya Lala dengan nada sangat serius.
"Lala! Itu namanya curhat, bukan pijat! Lagian mana ada perasaan letaknya di punggung!" seru Mawar yang disusul suara tawa pecah dari Mbak Puji.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala di balik pintu kamar mandi. Meski badan capek luar biasa, punya teman-teman ajaib seperti mereka di mes ini rasanya benar-benar menghibur hati.
Aroma sabun yang segar masih tertinggal saat Yani melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan rambut yang masih sedikit basah, ia berjalan menuju kamar. Begitu membuka pintu, ia mendapati Mbak Puji sudah duduk bersantai di sana.
"Mbak, aku habis ini mau buat minuman hangat, kamu mau sekalian nggak?" tawar Yani sambil menyampirkan handuknya.
Mbak Puji menoleh, lalu tersenyum tipis. "Boleh juga, aku mau lah. Tapi aku mau duduk di kamar aja ya, lagi PW nih," jawabnya santai.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Lagian aku juga mau sambil ngabari orang rumah dulu nanti," ucap Yani sebelum beranjak menuju dapur.
Suasana dapur malam itu tidak sepi. Di sana, Yani mendapati Ratih dan Lala yang sedang sibuk di depan kompor, rupa-rupanya mereka sedang memasak mie instan. Aroma gurih bumbunya langsung menyeruak memenuhi ruangan.
Keduanya menoleh serentak saat menyadari kehadiran Yani. "Eh Yan, kamu ke dapur juga? Mau buat mie sekalian?" tanya Ratih menawarkan.
Yani menggeleng sopan sambil meraih panci kecil. "Nggak kok, Kak. Aku mau buat kopi susu aja, rencananya mau nyantai di balkon depan," jawab Yani sembari mengisi panci dengan air.
"Oh, kirain mau makan mie juga. Kalau mau, sekalian aku yang masakin nih biar barengan," tawar Ratih lagi dengan ramah.
"Nggak usah Kak, makasih banyak tawarannya. Lagi pengen yang hangat-hangat aja," tolak Yani halus.
Tiba-tiba, Lala yang sedari tadi sibuk mengaduk mienya menyahut, "Yakin nih nggak mau? Mumpung Ratih lagi rajin, lho. Nanti kalau mienya sudah jadi, aromanya bakal bikin kamu nyesel kalau cuma minum kopi susu!"
Candaan Lala itu disambut tawa kecil oleh Yani dan Ratih. Sambil menunggu airnya mendidih, Yani pun mulai menyiapkan dua buah gelas dan sachet kopi susu, membayangkan betapa nikmatnya menyesap minuman itu di balkon nanti sambil melepas rindu dengan keluarga melalui telepon.
Bersambung...
Sebenarnya cerita di bab ini masih ada namun, aku potong biar nggak kepanjangan. Semoga kalian suka cerita ini ya terimakasih....