Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Pengacara Murah
Pagi di pusat kota Linhai bergerak cepat dan tanpa ekspresi. Gedung-gedung kaca memantulkan cahaya matahari musim gugur dengan dingin, seolah seluruh distrik bisnis ini dibangun dari logika dan kontrak, bukan emosi.
Gu Yanqing berdiri di depan sebuah gedung tiga puluh lantai dengan papan nama firma hukum terpasang rapi di dinding marmer. Jasnya sederhana, sepatu bersih, map dokumen di tangan kiri.
Ia masuk tanpa ragu.
Lobi luas, lantai granit mengilap. Resepsionis mengenakan setelan profesional, senyum terlatih, suara terkontrol.
“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?”
“Saya ingin berkonsultasi terkait gugatan perdata terhadap perusahaan logistik,” jawab Gu Yanqing singkat.
“Apakah sudah ada janji temu?”
“Belum. Ini ringkasan kasusnya.”
Resepsionis menerima map tipis itu dengan dua jari, membaca cepat halaman pertama. Wajahnya tetap sopan.
“Mohon menunggu sebentar.”
Lima menit kemudian, ia kembali dengan ekspresi yang sama, hanya nada suaranya lebih formal.
“Kami mohon maaf. Saat ini jadwal pengacara kami penuh untuk beberapa bulan ke depan. Kasus yang melibatkan korporasi besar memerlukan tim khusus, dan kami tidak memiliki kapasitas.”
Jawaban standar.
Gu Yanqing mengangguk. “Baik.”
Ia mengambil kembali mapnya tanpa protes. Tidak ada negosiasi. Tidak ada permohonan.
Ia keluar.
Gedung kedua lebih megah. Logo firma terpampang di dinding kaca, dikenal luas di Linhai. Di dalam, suasana lebih sunyi, lebih eksklusif.
Prosesnya hampir sama.
Resepsionis membaca ringkasan. Kali ini, ia berhenti sedikit lebih lama ketika sampai pada satu baris.
Tergugat: Dongkou Port Group.
Senyumnya tidak hilang, tetapi menjadi tipis.
“Maaf, Tuan. Untuk kasus dengan ruang lingkup seperti ini, kami harus melakukan peninjauan konflik kepentingan terlebih dahulu.”
“Saya bisa menunggu.”
“Tidak perlu. Kami telah memeriksa secara internal. Saat ini firma kami memiliki relasi bisnis yang mungkin berpotensi konflik. Kami tidak dapat menerima perwakilan dalam perkara ini.”
Kata-kata dipilih dengan hati-hati.
Relasi bisnis.
Bukan kapasitas. Bukan kompleksitas.
Gu Yanqing mengangguk lagi. “Saya mengerti.”
Ia tidak menanyakan relasi seperti apa. Jawabannya sudah jelas.
Di firma ketiga, ia bahkan tidak perlu menyebut detail lengkap.
Begitu nama Dongkou Port keluar dari mulutnya, konsultan awal yang duduk di ruang pertemuan kecil itu langsung menyandarkan tubuh ke kursi.
“Kami menyarankan Anda mempertimbangkan mediasi,” katanya dengan nada profesional. “Litigasi terhadap perusahaan seperti itu memakan biaya besar dan waktu panjang.”
“Saya sudah mempertimbangkannya.”
“Kami tidak dalam posisi menerima kasus ini.”
Penolakan lebih cepat. Lebih tegas.
Montase itu berulang sepanjang siang.
Gedung kaca. Lobi luas. Resepsionis ramah. Kata-kata sopan. Penolakan dingin.
Alasan selalu masuk akal di atas kertas:
“Kasus terlalu kompleks.”
“Tim kami sedang menangani perkara serupa.”
“Potensi konflik kepentingan.”
Namun pola yang sama muncul setiap kali.
Nama Dongkou Port mengubah ritme percakapan.
Sebelum nama itu disebut, mereka berbicara tentang prosedur.
Setelah disebut, mereka berbicara tentang batasan.
Menjelang sore, Gu Yanqing berdiri di depan pintu kaca sebuah firma lain. Di balik kaca, ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri—tenang, tidak menunjukkan kelelahan.
Namun di dalam, ia menyusun kesimpulan.
Pengaruh perusahaan itu bukan hanya di pelabuhan.
Ia menyentuh jaringan hukum kota ini.
Tidak perlu ancaman terbuka. Cukup relasi jangka panjang, kontrak konsultasi, atau proyek bersama.
Firma besar tidak akan mempertaruhkan klien korporasi demi satu gugatan kecelakaan kerja lama.
Itu rasional.
Dan justru karena rasional, sulit ditembus.
Panel sistem muncul singkat, seolah mencatat situasi.
Lingkungan Eksternal: Tekanan Korporasi Tinggi
Kemungkinan Representasi Firma Arus Utama: Rendah
Satu baris tambahan muncul.
Rekomendasi: Pengacara tingkat risiko tinggi terdeteksi.
Gu Yanqing tidak langsung menekan apa pun.
Ia hanya membaca.
Tingkat risiko tinggi.
Maknanya jelas.
Tidak terikat jaringan besar.
Reputasi tidak stabil.
Mungkin pernah bermasalah.
Atau terlalu berani untuk nyaman.
Ia menutup panel.
Sore mulai turun. Lalu lintas di jalan utama padat. Gedung-gedung tinggi memanjang dalam bayangan.
Gu Yanqing berdiri beberapa detik sebelum berbalik dari pintu kaca terakhir yang tertutup.
Pintu itu tidak pernah benar-benar terbuka untuknya.
Bukan karena kasusnya lemah.
Melainkan karena lawannya terlalu besar.
Ia melangkah turun ke trotoar dengan ritme yang sama seperti saat datang.
Jika arus utama tertutup, maka jalur di luar arus utama yang tersisa.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, optimisme tipis—sangat tipis—muncul bukan dari harapan, melainkan dari logika sederhana.
Jika semua firma besar menolak dengan pola yang sama, berarti ada sesuatu yang mereka hindari.
Dan sesuatu yang dihindari oleh banyak orang sering kali bernilai.
Panel sistem tidak berbicara lagi.
Kali ini, keputusan ada sepenuhnya pada dirinya.
...
Gedung itu berdiri di ujung jalan lama yang tidak lagi menjadi pusat perhatian kota.
Cat dindingnya mengelupas di beberapa sudut. Lift berderit saat naik. Tidak ada lobi marmer. Tidak ada resepsionis dengan senyum terlatih.
Hanya papan nama kecil di depan pintu kayu.
Zhao Haoran — Konsultan Hukum.
Gu Yanqing berhenti sejenak sebelum mengetuk.
Panel sistem tidak muncul. Tidak ada rekomendasi tambahan.
Ini bukan pilihan yang diarahkan. Ini pilihan yang ia ambil.
“Masuk.”
Suara dari dalam terdengar datar, sedikit serak.
Ruangan itu sempit namun rapi. Rak buku memenuhi satu sisi dinding, sebagian berisi berkas dengan label tangan. Meja kerja kayu tua berada di tengah, dengan laptop terbuka dan secangkir teh yang sudah setengah dingin.
Zhao Haoran terlihat lebih muda dari yang Gu Yanqing bayangkan—sekitar awal tiga puluhan. Jasnya tidak baru, tetapi bersih. Tatapannya tajam, tidak ramah, juga tidak bermusuhan.
“Duduk,” katanya singkat.
Gu Yanqing duduk tanpa basa-basi, meletakkan map dokumen di meja.
“Saya ingin mengajukan gugatan terhadap Dongkou Port Group.”
Zhao Haoran tidak bereaksi langsung. Ia membuka map itu, membaca halaman pertama. Matanya bergerak cepat, berhenti pada beberapa bagian yang disorot.
“Kasus kecelakaan kerja lama,” gumamnya. “Laporan internal hilang. Indikasi manipulasi data keselamatan.”
Ia mengangkat kepala. “Anda sudah mendaftarkan gugatan?”
“Sudah.”
“Sendiri?”
“Ya.”
Hening beberapa detik.
Zhao menutup map, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Anda tahu reputasi perusahaan itu di Linhai?”
“Saya tahu.”
“Firma besar tidak akan menyentuhnya.”
“Saya tahu.”
“Tekanan akan datang. Tidak selalu dalam bentuk surat resmi.”
Gu Yanqing menatapnya lurus. “Saya juga tahu.”
Zhao Haoran mengamati wajahnya lebih lama kali ini, seolah mencoba menemukan keraguan.
“Kenapa tidak mediasi?” tanya Zhao.
“Karena mediasi berarti pengakuan bahwa ini hanya soal kompensasi,” jawab Gu Yanqing tenang. “Ini soal tanggung jawab.”
Jawaban itu tidak dramatis. Tidak berapi-api.
Hanya pernyataan logis.
Zhao mengetuk meja dengan ujung jarinya. “Anda punya bukti kuat?”
“Cukup untuk membuka pintu penyelidikan lebih lanjut.”
“Cukup bukan berarti menang.”
“Saya tidak mencari jaminan menang. Saya mencari peluang sah untuk menekan mereka ke meja pengadilan.”
Zhao tersenyum tipis. Bukan senyum hangat—lebih seperti pengakuan bahwa lawan bicaranya tidak naif.
“Dana Anda?” tanyanya tiba-tiba.
“Terbatas.”
“Seberapa terbatas?”
“¥50.000 untuk tahap awal. Dialokasikan legal.”
Zhao mengangkat alis. “Itu bahkan tidak cukup untuk satu tim litigasi penuh.”
“Saya tidak membutuhkan tim penuh. Saya membutuhkan orang yang berani membuka kasus.”
Kalimat itu membuat suasana ruangan berubah sedikit.
Bukan karena emosinya, melainkan karena kejujurannya.
Zhao Haoran kembali membuka map. Kali ini ia membaca lebih dalam. Ia berhenti di bagian kronologi kecelakaan, lalu di bagian dugaan penghilangan laporan.
“Jika ini benar,” katanya pelan, “maka mereka bukan hanya lalai. Mereka sadar.”
“Ya.”
“Dan jika Anda kalah, Anda akan menghadapi biaya balik, tekanan reputasi, mungkin juga pembekuan sumber daya.”
“Saya sudah mempertimbangkannya.”
Zhao menatapnya tajam. “Kenapa Anda begitu tenang?”
Gu Yanqing tidak menjawab dengan panjang.
“Karena panik tidak mengubah angka dan prosedur.”
Hening lagi.
Di luar, suara kendaraan lewat samar terdengar dari jendela yang sedikit terbuka.
Zhao berdiri, berjalan ke rak buku, mengambil satu berkas kosong, lalu kembali duduk.
“Saya tidak terikat dengan Dongkou Port,” katanya. “Itu keuntungan.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi reputasi saya tidak stabil. Saya pernah mengambil kasus melawan perusahaan konstruksi besar. Saya kalah. Klien saya tidak siap menanggung konsekuensinya.”
“Apakah Anda melakukan kesalahan prosedur?” tanya Gu Yanqing.
“Tidak.”
“Berarti kekalahannya karena bukti dan tekanan?”
“Ya.”
“Kalau begitu itu bukan kegagalan kompetensi.”
Jawaban itu membuat Zhao tertawa pelan—singkat, tanpa suara berlebihan.
“Anda cukup rasional untuk seseorang yang sedang menggugat raksasa.”
“Saya tidak punya pilihan untuk menjadi irasional.”
Zhao Haoran menutup map itu perlahan.
“Baik,” katanya akhirnya.
Gu Yanqing tidak langsung bereaksi. Ia menunggu kalimat lengkapnya.
“Saya akan menangani kasus ini.”
Tidak ada efek dramatis. Hanya keputusan profesional.
“Tanpa bayaran awal,” lanjut Zhao.
Gu Yanqing sedikit menyempitkan mata, bukan karena terkejut, melainkan menghitung.
“Syaratnya?” tanyanya.
“Jika kita menang dan ada kompensasi atau ganti rugi, saya ambil persentase. Kita sepakati angka nanti secara tertulis.”
“Jika kalah?”
“Biaya operasional minimum tetap Anda tanggung. Tapi saya tidak akan membebani honor tambahan.”
Itu bukan kemurahan hati. Itu taruhan.
Zhao menatapnya lurus. “Saya tidak menerima kasus ini karena simpati. Saya menerimanya karena ada celah hukum yang menarik. Dan karena firma besar terlalu nyaman.”
Gu Yanqing mengangguk.
“Saya juga tidak mencari simpati,” katanya.
Zhao menyodorkan tangan.
“Kalau begitu, kita mulai.”
Gu Yanqing menjabatnya dengan mantap.
Tidak ada saksi. Tidak ada kontrak resmi yang ditandatangani saat itu juga. Hanya kesepakatan awal antara dua orang yang sama-sama memahami risiko.
Di dalam ruangan kecil itu, untuk pertama kalinya, gugatan terhadap Dongkou Port tidak lagi berdiri sendirian.
Gu Yanqing berdiri untuk pergi.
Di ambang pintu, Zhao berkata tanpa menoleh, “Begitu surat pengadilan itu sampai ke meja direksi mereka, mereka akan bereaksi. Bersiaplah.”
“Saya memang menunggu reaksi itu,” jawab Gu Yanqing.
Ia keluar ke lorong gedung tua yang remang.
Langkahnya stabil.
Permainan yang sebelumnya sepihak kini memiliki dua pemain.
Dan di suatu tempat di gedung tinggi pusat kota, sebuah perusahaan besar mungkin baru saja menyadari bahwa nama mereka tidak lagi disebut dalam bisikan—melainkan dalam dokumen resmi pengadilan.