" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Haruna Kojima atau yang lebih akrab dipanggil Nana oleh rekan-rekan kantornya sedang merapikan jadwal harian di tabletnya ketika pintu ruangan bertuliskan CEO itu terbuka dengan kasar. Seorang pria dengan setelan jas navy yang licin tanpa cela melangkah masuk. Wajahnya tampan, tipe ketampanan yang bisa membuat wanita menoleh dua kali, namun tatapannya sedingin es di kutub utara.
Abian Pangestu. Nama yang bagi sebagian karyawan adalah simbol kesuksesan, namun bagi sekretarisnya, nama itu adalah sinonim dari kata ujian kesabaran.
Abian berhenti tepat di depan meja Nana. Ia tidak menyapa selamat pagi. Sebaliknya, ia meletakkan sebuah majalah bisnis di atas meja Nana, lalu matanya melirik ke arah ponsel Nana yang tergeletak di samping vas bunga kecil. Layar ponsel itu menyala, menampilkan foto wallpaper Nana bersama seorang pria berkaus oblong yang sedang menyengir lebar.
Abian mendengus. Sebuah dengusan yang mengandung penghinaan tingkat tinggi.
"Tinggalkan saja pacarmu itu, Na. Tampangnya saja seperti tukang galon," ucap Abian tanpa basa-basi.
Nana menghentikan gerakan jemarinya di atas layar tablet. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin. Sebagai gadis keturunan Jepang yang sudah sepuluh tahun menetap di Jakarta, Nana telah mengadopsi budaya lokal dengan baik, termasuk tingkat kesabaran yang luar biasa.
Ia mendongak, menyunggingkan senyum profesional yang sudah ia latih di depan cermin selama ribuan jam.
"Oh, tidak boleh menghina manusia begitu, Pak Abian yang terhormat. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya ke dia itu melebihi luas samudra," jawab Nana dengan nada yang sangat tenang.
Abian memutar bola matanya malas. Ia menyandarkan satu tangannya di meja Nana, mencondongkan tubuhnya hingga aroma parfum sandalwood-nya yang maskulin menusuk indra penciuman Nana.
"Samudra itu banyak sampahnya, Na. Sama seperti selera lelakimu," balas Abian sinis.
"Halah, paling juga nanti kamu nyesal. Jangan datang ke ruangan saya sambil nangis-nangis kalau nanti dia selingkuh sama tukang jamu."
Setelah melempar bom kata-kata itu, Abian melenggang masuk ke ruangannya tanpa rasa berdosa sedikit pun.
Nana tetap diam. Ia hanya mengelus dadanya pelan. Jika kesabaran manusia ada batasnya, maka batas milik Nana mungkin berada di lapisan gunung es di samudera Atlantik.
"Sabar, Nana... sabar. Gaji bulan ini buat beli tas baru," bisik Nana pada dirinya sendiri.
Satu jam kemudian, Nana masuk ke ruangan Abian untuk membawakan dokumen laporan mingguan. Di dalam, ia menemukan bosnya sedang sibuk menatap layar monitor dengan kening berkerut. Abian adalah tipe pria yang menuntut kesempurnaan. Baginya, kesalahan satu koma dalam laporan adalah dosa besar yang bisa mengakibatkan ceramah sepanjang dua jam.
"Ini laporan dari divisi pemasaran, Pak," Nana meletakkan map biru itu di atas meja.
Abian tidak langsung mengambilnya. Ia justru mendongak, menatap Nana dengan tatapan menyelidik.
"Kamu sudah berapa lama pacaran sama... siapa tadi? Si Tukang Galon?"
"Namanya Rian, Pak. Dan kami sudah dua tahun," jawab Nana, masih dengan senyum yang sama.
"Dua tahun? Dan dia belum melamarmu?" Abian tertawa pendek, tawa yang tidak terdengar ramah.
"Tentu saja belum. Untuk beli cincin saja mungkin dia harus jual galon satu kelurahan dulu."
Nana masih berdiri tegak. Di dalam kepalanya, ia membayangkan sedang menyumpal mulut bosnya itu dengan stapler. Namun kenyataannya, ia hanya merapikan letak kacamatanya.
"Bagi saya, kemapanan itu bisa dicari bersama, Pak. Yang penting hatinya baik."
Abian menutup laptopnya dengan suara brak yang cukup keras. Ia berdiri, berjalan mengitari mejanya hingga berdiri tepat di hadapan Nana. Abian jauh lebih tinggi, membuat Nana harus sedikit mendongak.
"Hati yang baik tidak bisa membayar tagihan listrik, Na. Kamu itu pintar, lulusan terbaik, wajahmu juga tidak jelek-jelek amat. Kamu bisa dapat yang jauh lebih baik dari sekadar pria yang selera fashion-nya seperti orang mau pergi ke pos ronda."
"Terima kasih atas pujian dan penghinaannya yang digabung jadi satu itu, Pak. Tapi saya bahagia," balas Nana tegas.
Abian mendengus lagi. "Bahagia itu kata kiasan untuk orang yang belum sadar kalau dirinya sedang susah. Pergi sana. Buatkan saya kopi. Hitam, tanpa gula. Pahitnya harus sama seperti kenyataan hidupmu."
Nana membungkuk sopan lalu berbalik pergi. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia mendengar Abian bergumam pelan, namun masih bisa didengar telinganya.
"Dasar gadis aneh. Padahal kalau dia minta, saya bisa carikan anak direktur bank."
Nana hanya menggelengkan kepala. Abian Pangestu memang ajaib. Pria itu bisa sangat pedas kepada siapa saja. Kemarin, kepala bagian keuangan hampir menangis karena dibilang
"cara kerjanya lebih lambat dari siput yang sedang stroke".
Minggu lalu, seorang klien penting hampir membatalkan kontrak karena Abian mengomentari dasi klien tersebut yang katanya
"mirip taplak meja warteg".
Anehnya, perusahaan di bawah pimpinan Abian justru berkembang pesat. Mungkin karena semua orang takut melakukan kesalahan dan harus berhadapan dengan mulut tajam sang bos.
Sore harinya, saat kantor mulai sepi, Nana sedang merapikan meja kerjanya sebelum pulang. Tiba-tiba, telepon internal di mejanya berdering.
"Ya, Pak?"
"Ke ruangan saya sekarang. Bawa tasmu sekalian."
Nana mengernyit. Apakah ia akan dipecat karena membela pacarnya tadi pagi? Atau ada pekerjaan mendadak yang mengharuskannya lembur sampai subuh? Dengan perasaan was-was, Nana masuk ke ruangan Abian.
Pria itu sudah mengenakan jasnya kembali. Ia sedang merapikan jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.
"Antar saya ke butik di Grand Indonesia," perintah Abian.
"Lho, Pak? Kan ada sopir, Pak Bambang?"
"Bambang sedang istrinya melahirkan. Kamu kan asisten saya, jadi jangan banyak tanya. Cepat, saya ada acara jam tujuh malam ini."
Nana menghela napas. "Baik, Pak."
Di dalam mobil, suasana terasa sangat canggung. Abian duduk di kursi belakang, sementara Nana yang menyetir. Abian terus memperhatikan jalanan, lalu tiba-tiba ia berucap.
"Kenapa kamu masih betah kerja sama saya, Na?"
Pertanyaan itu mengejutkan Nana. Ia melirik melalui spion tengah. "Maksud Bapak?"
"Saya tahu mulut saya pedas. Karyawan lain sering membicarakan saya di kantin, bilang saya iblis berbaju Prada atau semacamnya. Tapi kamu... kamu tidak pernah sekalipun terlihat tersinggung. Apa saraf perasamu sudah putus?"
Nana terkekeh kecil. "Mungkin karena saya anak teknik dulu, Pak. Biasa dibentak asisten laboratorium dan dosen penguji. Jadi, omongan Bapak itu sebenarnya cuma seperti musik latar buat saya. Masuk telinga kanan, dikit diolah di otak buat bahan evaluasi, sisanya dibuang lewat telinga kiri."
"Jadi saya cuma dianggap musik latar?"
"Musik latar yang mahal, Pak. Mengingat gaji yang Bapak bayar ke saya," tambah Nana dengan nada bercanda.
Abian menyeringai tipis. Itu adalah pertama kalinya Nana melihat bosnya tersenyum, meski itu adalah seringai tipis yang penuh misteri.
"Setidaknya kamu jujur. Tapi tetap saja, saran saya tadi pagi itu serius, Na. Tinggalkan si Tukang Galon itu. Kamu butuh pria yang bisa menyeimbangi otak encermu, bukan pria yang cuma bisa nungguin tanggal gajian kamu."
"Kita lihat saja nanti, Pak. Siapa tahu nanti Bapak malah yang nyesal sudah menghina dia," ucap Nana pelan.
"Saya tidak pernah menyesal, Haruna," balas Abian penuh percaya diri.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama