Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Xavier
"Apapun yang kalian ucapkan hari ini, tetap saja tidak akan menyurutkan niatku untuk ikut masuk dalam keluarga Alexander." Ucap Bintang dengan mantap.
"Bintang... Hentikan omong kosong mu itu, aku akan tetap tinggal disini, untuk menjadi pelayan, sampai Kakak mu akan menjadi pengusaha dan Dokter yang sukses." Teriak Arga sambil melayangkan tangannya pada Bintang, tapi belum sempat tangan itu mengenai wajah Bintang, sudah ditangkap oleh yang dibawa oleh Xavier.
"Jika, Kau sudah tidak menginginkan tangan ini lagi, maka dengan senang hati aku akan membantu memotongnya untuk mu," Ucap Kenzo sambil tersenyum miring.
"Aurora sudah membuat keinginannya untuk tinggal, maka Bintang akan pergi kekediaman Alexander untuk mengikuti Mommy, Daddy sudah berjanji, jika akan mengizinkan salah satu anak perempuan untuk mengikuti Mommy masuk dalam keluarga Alexander untuk menemaninya." Ucap Bintang sambil melangkah maju.
"Sudah puas kalian menyiksaku, 13 tahun sudah aku bekerja tanpa imbalan sebagai pelayan dirumah ini, aku rasa ituu sudah cukup untuk membayar hutangku pada kalian," Ucap bintang dengan datar.
"Dasar anak durhaka, ingat jika Kau melangkah keluar dari pintu itu, maka Kau bukan lagi anggota keluarga Miller lagi!" Ucap Arga mengancam dengan emosi.
"Baik... Aku Bintang Senja hari ini memutuskan semua hubungan dengan keluarga Miller!!!
"Jadi jika esok ada kejadian apapun yang menimpaku atau menimpa keluarga ini, aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan keluarga ku dan keluarga Miller, aku akan menanggungnya sendiri tanpa melibatkan keluarga Miller begitupun sebaliknya." Ucap Bintang dengan datar dan wajah yang tanpa ekspresi.
Para pria anggota keluarga Miller seketika merasakan sesak dan hati yang berdenyut, tapi mereka hanya diam dan tidak mengerti dengan perasaan itu.
Tapi, berbeda dengan perasaan yang sedang dirasakan oleh Aurora, dia merasa bahagia yang tidak terkira, keinginannya untuk menguasai seluruh kasih sayang dan harta Miller akhirnya terkabul tanpa harus melakukan apapun.
'Dasar bodoh, kau akan menyesal kalau melihat dimasa depan keluarga ini akan sukses, tapi kau bukan lagi anggota keluarga Miller.' Ucap Aurora sambil tersenyum licik, binar puas tercetak jelas diwajahnya.
"Ayo pulang... Aku diperintahkan oleh Nenek untuk menjemputmu." Ucap Xavier sambil mengulurkan tangannya pada Bintang.
Mendengar kata pulang... Mata Bintang seketika menjadi berkaca-kaca, selama ini Dia tidak pernah merasakan pulang karena Dia tidak pernah merasa mempunyai rumah untuk pulang.
Lalu dengan tangan yang bergetar, Bintang menyambut tangan itu dan ikut melangkah keluar dari ruangan itu.
'Brengsek sialan, dalam kehidupan ku dulu yang menjemput ku hanya pelayan, sedangkan Xavier jangankan menjemput bahkan hanya melihatku saja Xavier tidak pernah, kualisi apa yang dimiliki oleh jalang ini hingga bisa membuatnya datang ke rumah ini untuk menjemputnya,' Ucap Aurora dengan geram dan tangan yang meremat bajunya dengan erat.
*
*
*
"Beresi semua barang yang akan kau bawa, besok pagi aku akan membawamu masuk kedalam mansion Alexander sekaligus untuk perkenalan." Ucap Xavier sambil menghirup teh yang disajikan oleh Bintang.
"Kamarmu ini seperti kandang, sangat kecil dan pengap," Ucap Xavier sambil mengamati kamar Bintang yang terletak dibelakang bangunan utama, dikamar itu hanya ada meja dan kursi kayu yang sudah tua, lemari kayu yang sudah hilang pintunya dan diganti dengan gorden, serta ranjang kayu yang reot, dinding kamar yang sudah terkelupas dan sirkulasi udara yang tidak lancar.
Xavier hanya mengerutkan dahinya menatap sekeliling kamar itu, benar-benar menyedihkan, namun Xavier merasa nyaman tinggal disana karena kamar itu sangat rapi dan bersih.
"Jangan harap dengan tinggal dikediaman Alexander membuatmu bisa mewujudkan semua keinginan busukmu," Ucap Xavier sambil melangkah mendekati Bintang yang sedang membereskan pakaiannya.
"Kau akan selalu dalam pengawasan ku, jadi hilangkan semua niat busuk mu untuk memanfaatkan kelurga Alexander." Lanjutnya sambil terus melangkah mendekat.
Sedangkan Bintang yang melihat Xavier melangkah mendekatinya tanpa sadar melangkah mundur, hingga tubuh ringkih nya itu terjatuh diatas ranjang lusuh.
dan tampak Xavier yang mencondongkan tubuhnya hingga menghimpit tubuh Bintang lalu meletakkan kedua tangannya dikedua sisinya.
"Jika sampai aku mengetahui niat terselubung mu, aku tidak segan menghabisimu tanpa perkuburan," Ucapnya lagi dengan menyeringai seram.
"Lihatlah betapa kecil leher ini, hanya dengan sedikit gerakan maka nyawamu akan segera melayang," Ucap Xavier sambil mencekik leher Bintang dengan pelan.
Membuat Bintang memucat dan bergetar serta mata bulatnya yang melotot dan berkedip-kedip cepat, karena melihat seringai seram yang tercetak dibibir Xavier serta aura intimidasi yang menekannya.
"Maka dari itu, hilangkan semua ambisi serta niat terselubung mu untuk memanjat keluarga Alexander, maka aku jamin hidupmu akan aman, apa kau mengerti," Ucap Xavier yang tampak menikmati raut ketakutan dan terkejut yang tercetak jelas di wajah Bintang.
Bintang bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara, hanya bisa sedikit, menggerakkan kepala dengan hati-hati, karena takut jika dia salah bergerak maka lehernya akan patah, tanda mengerti.
"Bagus, jika hari ini Kau sudah membereskan semuanya Kau bisa langsung ikut bersamaku." Ucap Xavier sambil menyentuh ujung hidung Bintang pelan, lalu menegakkan lagi tubuhnya dan tampak Dia menepuk-nepuk jas serta celana bahan yang dikenakannya.
"Hei... Apa Kau tertidur?" Tanya Xavier sambil menoleh dan baru menyadari jika Bintang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, wajah itu masih memucat dan mata bulat yang berkedip-kedip serta mulut yang sedikit terbuka.
"Aku beri waktu sepuluh detik, jika Kau tidak bangun dari tempat tidur itu, maka kau akan aku tinggalkan disini," Ucap Xavier datar sambil membuang wajahnya yang terlihat memerah
'Mengapa ekspresi wajahnya jelek sekali, jangan sampai Dia memperlihatkan ekspresi itu pada pria lain,' Ucap Xavier dalam hatinya sambil mengusap ujung hidungnya.
"Kak, Bintang tidak bisa bangun, kaki dan tubuh Bintang terasa lemas," Ucap Bintang dengan lirih sambil tersenyum bodoh.
"Astaga... Kau ini menyusahkan sekali, jika kau begini lagi maka akan aku lempar tubuh jelekmu ini ke kandang buaya dan singa yang ada di rumahku." Ucap Xavier seolah merasa kesal, tanpa Xavier tau, jika ucapannya itu semakin membuat Bintang merasa gemetar dan semakin lemas.
'Jika itu orang lain maka aku dengan senang hati mencabut nyawanya, tapi mengapa dengan gadis kecil ini, semuanya tampak tidak dibuat-buat, itu apa adanya, lagi pula apa aku seseram itu,' Ucap Xavier sambil menahan senyum gelinya, sambil membantu bintang berdiri.
*
*
*