Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 14
Karin pulang ke Indonesia dengan rasa hampa.
Ada sesuatu yang tertinggal di Korea—sesuatu yang tidak bisa ia masukkan ke dalam koper. Perasaan indah. Kebahagiaan sederhana. Rasa ringan yang selama ini James berikan padanya.
Ia pulang dengan tangan yang terasa kosong, meski koper-kopernya penuh oleh barang. Oleh oleh untuk ibunya. Hadiah kecil untuk teman-temannya. Namun semua itu tak mampu menggantikan sesuatu yang ia tinggalkan.
Di dalam pesawat, Karin hanya mendengarkan musik. Lagu-lagu yang pernah ia dengarkan bersama James di Pulau Jeju. Salah satunya adalah lagu Indonesia yang pernah ia perkenalkan padanya—Bawalah Cintaku milik Afgan. James menyukai lagu itu. Ia bilang melodinya tenang, dan meski tak mengerti liriknya sepenuhnya, ia bisa merasakan maknanya.
Kini lagu itu mengalun sendirian di telinga Karin.
Sesampainya di Indonesia, Karin menyapa ibunya dengan senyum yang indah. Senyum yang sudah lama tidak ibunya lihat dalam beberapa bulan terakhir. Sang ibu memeluknya erat, matanya penuh rasa syukur. Ia melihat putrinya telah tumbuh—lebih dewasa, lebih tenang.
Karin yang kembali adalah Karin yang lama.
Karin yang ceria.
Karin yang optimis dalam menulis.
Karin yang suka mengeluh dengan nada lucu.
Karin yang suka mengadu.
Karin yang manis.
Hari-hari Karin kembali dimulai dengan menulis. Ia juga mulai rutin berolahraga. Kebiasaan yang tumbuh sejak di Jeju—karena James sering mengajaknya berjalan pagi dan menghirup udara segar. Kini, di Indonesia, Karin melanjutkannya sendiri.
Ibunya melihat perubahan itu. Dan ia tahu—ada seseorang yang pernah meninggalkan jejak baik di hidup putrinya.
Sesekali, Karin membuka galeri ponselnya. Ia melihat foto-foto bersama James. Senyum mereka. Langit Jeju. Sungai. Gunung. Dan jeruk khas Pulau Jeju yang pertama kali James perkenalkan padanya.
Ia teringat pertemuan pertama mereka.
Di Pulau Jeju.
Di konser itu.
Saat James mengajaknya naik gunung.
Saat mereka berdiri di puncak dan tertawa bersama.
Karin mengingat semuanya.
Ia merindukan kenangan itu.
Rasa sakit yang ia rasakan bukan karena James menyakitinya. Bukan pula karena pengkhianatan. Melainkan karena ia merindukan masa itu—masa ketika hatinya terasa ringan dan utuh.
Sejak hari ia menolak James, berbulan-bulan telah berlalu. James tidak pernah menghubunginya. Dan Karin pun tidak menghubunginya. Mereka seperti dua orang asing yang tak pernah saling mengenal.
Namun di hati Karin, James tetap seorang pemuda yang baik.
Bahkan di Indonesia—tempat yang dulu selalu dipenuhi oleh Arka—semuanya kini terasa berbeda. Tawa dan canda yang dahulu diisi oleh Arka tak lagi terasa hidup. Karin bahkan tak lagi memedulikan foto dirinya dan Arka yang terpajang di dinding.
Seolah foto itu kehilangan maknanya.
Seolah ia hanya menjadi benda mati.
Bukan karena Karin membenci Arka.
Bukan pula karena ia lupa.
Hanya saja… hatinya telah berubah.
Mungkin karena Arka tidak lagi berdiri di hadapannya.
Atau mungkin karena Karin telah belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Hari ini, Karin berada di sebuah kafe.
Kafe itu tenang, tidak terlalu ramai. Musiknya pelan, dan aroma kopi memenuhi udara. Di sanalah Karin duduk, menatap layar laptopnya, jemarinya bergerak perlahan—menulis.
Sejak pulang dari Jeju, Karin mulai terbiasa menulis di kafe. Sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan. Dahulu, ia hanya menulis di kamar. Bersama Arka.
Di kamar itu, Arka sering memberinya ide. Mereka berdiskusi, saling melempar gagasan, lalu tertawa bersama. Arka selalu ada di sampingnya, membantu menyusun alur, menguatkan konflik, dan memberi sudut pandang baru. Delapan tahun bersama membuat Karin terbiasa dengan kehadirannya. Terlalu terbiasa.
Maka saat Arka pergi, Karin sempat merasa seperti tong kosong—berbunyi nyaring, tetapi hampa di dalamnya. Ia menulis, namun tak merasa hidup. Kata-kata tetap keluar, tapi maknanya terasa jauh.
Namun kini, semuanya telah berubah.
Karin menemukan tempat baru. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin. Ia menemukan ide dari hal-hal sederhana di sekitarnya—dari percakapan orang asing, dari hujan di balik jendela, dari imajinasinya sendiri. Ia tidak lagi menulis bersama Arka. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia bisa berdiri sendiri.
Mungkin… ia telah melupakan pemuda itu.
Atau mungkin ia hanya belajar melepaskan.
Saat ini, Karin telah menjadi penulis yang bisa dibilang sangat dikenal. Lebih terkenal dari sebelumnya. Cerita-ceritanya telah diadaptasi menjadi novel. Film-film yang diangkat dari tulisannya mulai mendapat perhatian. Dan satu novelnya—novel yang sangat ia banggakan—akan diadaptasi menjadi film di Inggris.
Minggu ini, Karin akan terbang ke Inggris. Ia akan menandatangani kontrak untuk proyek film yang akan ia kerjakan bersama seorang sutradara dari sana.
Ia tersenyum sendiri.
“Semangat, Karin,” gumamnya pelan, penuh antusias.
Ia bahkan tak peduli dengan pengunjung lain di kafe itu. Tidak peduli pada tatapan atau suara di sekitarnya. Saat ini, dunianya hanya ada pada layar di depannya. Pada cerita yang sedang ia bangun. Pada dirinya sendiri.
Waktu berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu, bulan pun berganti bulan. Tanpa Karin sadari, kini ia sudah berada di Inggris.
Pesawat yang membawanya dari Indonesia mendarat dengan selamat. Karin melangkah keluar bandara seorang diri, seperti yang sudah sering ia lakukan. Tak ada tangan yang digenggam, tak ada bahu tempat bersandar. Namun kali ini, langkahnya terasa lebih mantap.
Ia datang ke Inggris bukan untuk berlibur.
Ia datang untuk bekerja.
Salah satu novelnya akan difilmkan di sini. Sebuah pencapaian besar yang dulu hanya berani ia tuliskan sebagai mimpi. Udara Inggris terasa dingin, berbeda dengan Indonesia, berbeda pula dengan Jeju. Namun Karin menyukainya. Ada rasa asing yang justru membuatnya merasa hidup.
Ia menarik napas pelan, menatap langit yang kelabu.
“Ini benar-benar terjadi,” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.
Karin tahu, perjalanan ini akan mengubah banyak hal. Bukan hanya tentang kariernya sebagai penulis, tapi juga tentang dirinya—tentang luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, tentang kenangan yang masih sesekali datang tanpa permisi.
Namun untuk saat ini, Karin memilih melangkah maju.
Dengan koper di tangannya dan cerita di kepalanya, Karin berjalan menyusuri kota asing itu. Inggris bukan sekadar tujuan baru, tapi awal dari bab lain dalam hidupnya. Bab yang belum ia ketahui akhirnya, namun siap ia tuliskan dengan berani.