NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30 Pecahnya Cermin Dimensi

Reruntuhan akademi di Himalaya masih berasap saat Saka dan Anita melangkah keluar dari gerbang kristal yang kini retak seribu. Perasaan lega karena bisa saling menyentuh secara fisik terusik oleh pemandangan di cakrawala. Langit bukan lagi biru atau abu-abu, melainkan tampak seperti pecahan kaca raksasa yang memantulkan ribuan realitas berbeda. Di satu fragmen langit, terlihat hutan purba; di fragmen lain, terlihat kota futuristik yang melayang.

"Gema keberadaan kita menghancurkan sekat antar-dunia," bisik Saka. Ia menggenggam erat Arloji Void yang kini bergetar tanpa henti. "Silas benar. Kita tidak lagi melawan satu musuh, kita melawan tabrakan takdir."

"Kita harus pulang ke Bandung, Saka," kata Anita tegas. Ia bisa merasakan frekuensi kotanya sedang berteriak minta tolong melalui Perpustakaan Hidup di kepalanya. "Bandung adalah titik pusat anomali kita. Jika ada tempat yang paling hancur karena tabrakan ini, itu adalah rumah kita."

Saka mengangguk. Ia memusatkan energinya, menyatukan Tinta Keabadian dalam darahnya dengan koordinat Jalan Braga. Dengan satu hentakan kaki, mereka melompat menembus lipatan ruang.

Bandung, 10 September 2026 – 15.00 WIB

Saka dan Anita mendarat di tengah Jalan Braga, namun mereka tidak mengenali tempat itu. Jalanan itu masih bernama Braga, tapi suaranya adalah deru mesin uap yang berat. Gedung-gedung kolonial yang biasanya cantik kini tertutup pipa-pipa tembaga raksasa dan cerobong asap yang mengeluarkan uap kuningan. Mobil-mobil berganti menjadi kereta uap berkaki mekanik, dan orang-orang berlalu lalang mengenakan kacamata goggles serta jubah kulit.

Ini adalah Bandung Steampunk, sebuah realitas alternatif yang merembes masuk dan menindih Bandung yang mereka kenal.

"Apa yang terjadi dengan rumahku?" Anita berlari menuju arah tempat tinggalnya, namun ia terhenti. Di tempat rumahnya seharusnya berdiri, kini ada sebuah menara transmisi energi uap yang sangat besar.

"Nit, jangan panik. Realitas kita masih di sini, hanya saja tertumpuk," Saka mencoba menenangkan, namun ia sendiri waspada. Ia melihat orang-orang di sekitar mulai menatap mereka dengan curiga. Pakaian modern mereka tampak seperti kostum alien di mata penduduk Bandung Steampunk.

"Lihat! Mereka tidak punya katup uap di lehernya! Mereka adalah The Glitch!" teriak seorang penjaga kota yang mengenakan baju zirah uap berat.

Para penjaga itu mengarahkan senapan uap mereka ke arah Saka. Namun, sebelum peluru melesat, waktu melambat. Bukan karena kekuatan Saka, melainkan karena seseorang dari balik gang meledakkan bom asap kronos.

"Ikut aku jika kalian tidak ingin dihapus oleh Polisi Uap!" sebuah suara serak memanggil.

Mereka berlari mengikuti sosok misterius itu masuk ke dalam ruang bawah tanah di bawah bekas toko Ki Ganda. Di sana, ruangan itu dipenuhi oleh monitor-monitor tua yang menampilkan frekuensi gelombang otak.

Sosok itu membuka jubahnya. Saka dan Anita terperangah. Pria itu adalah Rian. Tapi bukan Rian sahabat mereka, dan bukan Rian Dewasa dari Zona Nol. Rian ini memiliki lengan mekanik perak dan mata yang telah diganti dengan lensa teleskopik.

"Saka... Anita... Akhirnya kalian muncul di koordinat ini," ucap Rian Steampunk itu. "Namaku Kapten Rian, pemimpin pemberontak The Chrono-Resistance. Di duniamu, aku mungkin hanya seorang sahabat. Tapi di sini, aku adalah orang yang mencoba mencegah kotaku hancur karena kedatangan kalian."

Rian menjelaskan bahwa sejak Saka mengusir Sang Arsitek, batas-batas dimensi menjadi cair. Bandung Steampunk sedang "memakan" Bandung Modern untuk bertahan hidup. Jika Saka tidak segera memasang Pasak Waktu di pusat kota, kedua realitas ini akan meledak dan lenyap selamanya.

"Masalahnya adalah," Rian menunjuk ke monitor, "Pasak Waktu itu ada di tangan Gubernur Vena. Di dimensi ini, dia adalah tiran yang menggunakan energi Alexandria untuk menjalankan mesin-mesin uapnya."

Saka mengepalkan tinju. "Lagi-lagi Vena. Tidak peduli di dimensi mana pun, dia selalu menjadi penghalang."

"Bukan sekadar penghalang, Saka," Anita menyela, matanya berkilat perak. "Aku bisa melihatnya. Vena di sini memegang Buku yang Tidak Pernah Ditulis. Jika dia membukanya di tengah kekacauan ini, dia bisa menghapus realitas kita secara permanen dan menjadikan Bandung Steampunk sebagai satu-satunya kenyataan."

Saka menatap Arloji Void-nya.

"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Saka kepada Kapten Rian. "Kita butuh pasukanmu. Aku akan menjadi pengalih perhatian di dimensi bayangan, Anita akan meretas sistem uap mereka dengan pengetahuannya, dan kau... kau pimpin kami ke Menara Vena."

Rian Steampunk tersenyum tipis, mengokang senapan uapnya. "Aku sudah menunggu saat ini selama sepuluh tahun uap, Saka. Ayo kita rebut kembali kota kita."

Saka menggenggam tangan Anita. Kehangatan fisik itu memberinya kekuatan. Meskipun dunia sedang hancur dan realitas sedang bertabrakan, selama ia bisa merasakan detak jantung Anita, ia tahu ia masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan.

Di luar, suara sirine uap meraung membelah langit Bandung yang pecah. Perang Multisemesta baru saja dimulai di tanah kelahiran mereka sendiri.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!