Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Gejolak Malam
Suasana di dalam pondok kayu itu mendadak berubah menjadi medan tempur yang sangat aneh. AL, sang predator Enigma yang sanggup meratakan satu batalyon tentara dengan tangan kosong, kini justru gemetar hebat karena ditindih oleh seorang wanita mungil berbau harum mawar yang sedang mabuk berat.
"Moa... kau... kau sangat berat, eh maksudku kau sangat bersemangat," ucap AL dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup sangat kencang, memberikan sensasi panas yang menjalar hingga ke ujung kuku-kukunya.
Esme, yang otaknya sudah sepenuhnya dikuasai oleh ramuan "Madu Hutan Merah" milik Bang Togar, tidak lagi peduli pada logika. Dia menarik-narik kerah kemeja AL hingga kancingnya kembali berhamburan ke lantai. "Aleksander... kenapa kau banyak bicara sekali? Bukankah Bang Togar bilang... kau harus dominan? Tunjukkan padaku... mana insting pria itu?"
Esme menundukkan wajahnya, membenamkan hidungnya di leher AL, menghirup aroma lavender dan maskulin yang kuat dari tubuh pria itu. "Kau bau sangat enak... aku ingin menggigitmu."
AL membelalak. "Menggigit?! Moa, aku bukan apel! Bang Togar tidak bilang ada bagian gigit-menggigit dalam ritual ini!"
AL mencoba memegang pinggang Esme untuk menjauhkannya, namun sentuhan tangannya yang besar pada kulit pinggang Esme yang halus justru membuat Esme mengeluarkan suara lenguhan kecil.
"Ah... itu dia... suara burung yang kau cari tadi siang, kan?" bisik Esme tepat di depan bibir AL. Matanya sayu, menatap AL dengan tatapan yang bisa meluluhkan besi baja.
AL merasa seluruh sistem sarafnya mengalami korsleting. Di satu sisi, bagian purba dari otaknya—sang Enigma—berteriak untuk segera membalikkan posisi, mengunci Esme di bawahnya, dan mengikuti insting reproduksi yang sangat kuat. Namun, bagian "Aleksander sang suami" yang dia pelajari dari Esme terus berbisik, "Anak baik tidak boleh memanfaatkan istri yang sedang sakit lampu dua."
"Moa, dengar," AL memegang kedua bahu Esme dengan kekuatan yang sangat ia kontrol agar tidak menyakiti wanita itu. "Kau sedang sakit karena cairan merah Bang Togar. Jika kita melakukan ritual merangkak sekarang, nanti kau akan menyesal saat kepalamu tidak lagi ada dua."
"Aku tidak peduli!" Esme malah mulai menciumi rahang AL dengan tidak beraturan. "Aku mau sekarang... Aleksander... kau suamiku, kan?"
Kalimat "kau suamiku" itu seperti hantaman godam bagi AL. Dia merasa sangat bersalah sekaligus sangat terangsang. "Iya, aku suamimu... tapi... tapi..."
Dalam kepanikan yang luar biasa, AL melihat Ocan yang sedang menonton dari atas lemari. Ocan memberikan tatapan yang sangat menghakimi, seolah-olah sedang menunggu AL melakukan kesalahan fatal.
"Ocan! Bantu aku!" teriak AL putus asa.
Ocan hanya menguap, lalu mulai menjilat bokongnya sendiri dengan cuek. "Manusia bodoh, selesaikan sendiri urusan birahimu," mungkin begitu batin si kucing oranye.
Tiba-tiba, Esme mencoba melepaskan dasternya sendiri karena merasa kepanasan yang luar biasa. "Panas... kenapa di sini panas sekali?"
"TIDAK! JANGAN DILEPAS!" AL dengan sigap menangkap tangan Esme. Dia menyadari bahwa jika ini terus berlanjut, dia tidak akan bisa menahan instingnya lagi. Dia harus melakukan sesuatu untuk mendinginkan Moa.
AL mendapatkan ide gila. Dia ingat bagaimana Paman Silas mendinginkan botol minuman di air kali yang dingin. Tanpa membuang waktu, AL mengangkat Esme dalam dekapan ala pengantin.
"Apa yang kau lakukan, Raksasa Tampan?" igau Esme sambil menyandarkan kepalanya di dada AL.
"Aku akan membawamu ke tempat ritual paling dingin!" ucap AL dengan wajah sangat serius.
AL membawa Esme ke kamar mandi belakang yang memiliki bak kayu besar berisi air pegunungan yang baru saja diambil sore tadi. Tanpa ragu, AL mendudukkan Esme di dalam bak mandi tersebut—tentu saja masih dengan daster lengkapnya.
"BYURRR!"
Air yang sedingin es itu seketika membasahi seluruh tubuh Esme.
"KYAAAAAA! DINGIIIIINNN!" Esme berteriak histeris, kesadarannya tersentak kembali ke dunia nyata. Rasa panas yang membakar pembuluh darahnya seolah dipadamkan paksa oleh air gunung tersebut.
Esme mengerjap-erjapkan matanya, air menetes dari ujung hidung dan rambutnya. Dia menatap AL yang berdiri di depannya dengan baju yang juga ikut basah kuyup karena cipratan air.
"Aleksander? Kenapa... kenapa aku di dalam bak mandi?" tanya Esme dengan suara gemetar karena kedinginan. Ingatannya tentang kejadian beberapa menit lalu mulai muncul sedikit demi sedikit seperti potongan film horor romantis.
AL menghela napas lega yang sangat panjang hingga bahunya yang lebar itu merosot. "Kau tadi minta ritual merangkak dan ingin menggigitku, Moa. Kau bilang kau haus akan insting pria. Aku takut kau akan menyesal, jadi aku memasukkanmu ke sini agar lampunya kembali jadi satu."
Wajah Esme yang tadinya pucat karena kedinginan, kini kembali merah padam, namun kali ini karena rasa malu yang levelnya sudah melampaui galaksi. Dia mengingat bagaimana dia duduk di atas perut AL, bagaimana dia menciumi leher pria itu, dan bagaimana dia meminta hal-hal vulgar yang diajarkan Bang Togar.
"Aku... aku tadi... OH TUHAN!" Esme menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin sekali tenggelam di dasar bak mandi itu selamanya. "Bang Togar... aku benar-benar akan membunuhnya besok!"
AL berlutut di samping bak mandi, memberikan handuk besar kepada Esme. "Apakah kau sudah merasa lebih baik, Moa? Kau tidak ingin menggigitku lagi, kan?"
Esme mengintip dari balik celah jarinya, melihat wajah AL yang tampak sangat khawatir sekaligus polos. Pria ini baru saja menolak "umpan" yang sangat menggiurkan demi menjaganya. Esme menyadari betapa luar biasanya pengendalian diri AL—atau mungkin betapa polosnya dia.
"Terima kasih, Aleksander. Maafkan aku... aku benar-benar tidak tahu kalau minuman itu..." Esme menggigil. "Bisa kau keluar sebentar? Aku ingin ganti baju."
"Tentu, Moa. Aku akan membuatkanmu teh hangat di depan perapian," AL berdiri, lalu berhenti sejenak di pintu. "Oh ya, Moa... Bang Togar benar soal satu hal."
Esme menoleh ragu. "Apa?"
"Suara yang kau keluarkan tadi... memang lebih lucu daripada suara burung," ucap AL dengan senyum tipis yang penuh misteri sebelum menutup pintu kamar mandi.
Esme mematung di dalam bak mandi yang dingin. "Dia... dia baru saja menggodaku? Apakah dia baru saja melakukan gebrakan balasan?!"
Esme ngebatin dengan perasaan campur aduk: malu, gemas, sekaligus merasa detak jantungnya kembali tidak beraturan. Dia baru saja menyadari bahwa AL bukan lagi sekadar raksasa yang bisa diatur-atur. Dia mulai memiliki pesona pria dewasa yang berbahaya bagi kesehatan mental dan jantungnya.
Di luar, AL duduk di depan perapian sambil mengeringkan rambutnya sendiri dengan handuk kecil. Dia menatap api yang menari, lalu menatap botol "Madu Hutan Merah" yang tersisa setengah.
"Bang Togar benar-benar hebat," gumam AL pelan. "Tapi lain kali, aku tidak akan memakai air dingin jika Moa melakukan itu lagi dalam keadaan sadar. Insting pria ini... ternyata sangat sulit dijinakkan."
AL tersenyum sendiri, mengingat kehangatan tubuh Esme di atasnya tadi. Diam-diam, predator itu mulai menikmati perannya sebagai "suami" yang sesungguhnya.
---
Keesokan harinya, suasana sarapan menjadi sangat canggung. Esme tidak berani menatap mata AL, sementara AL terus memberikan perhatian ekstra seperti menuangkan teh dan memotong roti dengan sangat lembut.
"Moa, apakah hari ini kita akan ke pasar lagi?" tanya AL memecah keheningan.
"Tidak, aku harus ke kebun Paman Silas. Aku ingin 'berdiskusi' sedikit dengan Bang Togar," ucap Esme dengan nada suara yang sangat dingin dan penuh ancaman, sambil menggenggam garpu dengan sangat erat.
AL hanya bisa mendoakan keselamatan mentor sesatnya itu di dalam hati. Dia tahu, jika Moa sudah bicara dengan nada seperti itu, bahkan seorang Enigma pun harus waspada.