Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.Pergi Bersamanya
Sementara itu, di tempat lain, aku duduk di bangku kelas—tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana.
Dosen di depan sedang menjelaskan sesuatu tentang teori yang biasanya mudah kupahami, tapi hari ini kata-katanya seperti lewat begitu saja. Aku mencatat. Mengangguk. Tapi pikiranku melayang ke arah lain, ke sesuatu yang tidak bisa kulihat dari ruang kelas ini.
Entah kenapa, aku merasa… hari ini belum selesai.
Bukan perasaan gelisah. Lebih seperti firasat tipis, seperti halaman buku yang belum ditutup sepenuhnya. Seolah ada sesuatu yang masih berjalan, meski aku tidak ikut di dalamnya.
Dan aku tidak tahu, bahwa keputusan Haruka pagi itu akan mengubah ritme kami lebih dari yang kami bayangkan.
—
Jam demi jam berlalu.
Aku baru benar-benar kembali ke dunia nyata ketika suara bel akhir kuliah berbunyi. Ruangan mendadak ramai—kursi digeser, tas diseret, tawa kecil muncul di sana-sini. Aku menutup bukuku pelan, menghela napas, lalu berdiri.
“Alya!”
Aku menoleh. Rani melambaikan tangan dari pintu kelas.
“Kita pulang bareng,” katanya sambil mendekat. “Aku bawa motor.”
Aku mengangguk. “Oke.”
Di perjalanan menuju parkiran, Rani melirikku berkali-kali. Aku pura-pura tidak sadar sampai akhirnya dia menyerah.
“Kamu kenapa sih hari ini?” tanyanya.
“Kenapa apa?”
“Dari tadi kayak orang mikir jauh banget.”
Aku tersenyum kecil. “Emang keliatan?”
“Iya,” katanya tanpa ragu. “Kelihatan banget.”
Aku tidak langsung menjawab. Helm sudah terpasang, mesin motor menyala. Angin sore mulai terasa, membawa aroma kota yang hangat dan sedikit berdebu.
“Mungkin aku cuma capek,” kataku akhirnya.
Rani mendengus. “Alasan paling basi.”
Tapi dia tidak memaksa. Motor melaju, membawa kami meninggalkan kampus. Jalanan sore cukup ramai, tapi tidak macet. Cahaya matahari condong ke barat, memantul di kaca-kaca toko.
“Kamu pulang langsung?” tanya Rani.
“Iya.”
“Haruka belum pulang, ya?”
Aku menggeleng. “Belum. Katanya dia baru balik sore.”
“Oh,” Rani menarik suara panjang. “Berarti rumah sepi.”
Aku tersenyum tipis. Entah kenapa kata itu—sepi—terasa berbeda di kepalaku.
—
Rumah menyambutku dengan sunyi yang tidak dingin, tapi terasa… kosong.
Aku membuka pintu, melepas sepatu, lalu meletakkan tas di sofa. Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah kaki. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
Aku berjalan ke dapur, minum segelas air, lalu kembali ke ruang tamu. Duduk. Berdiri lagi. Berjalan ke jendela. Menarik tirai sedikit.
Jam masih menunjukkan sore awal.
Aku seharusnya bisa bersantai. Tidur sebentar. Menonton sesuatu. Tapi aku justru mondar-mandir tanpa tujuan, seperti menunggu sesuatu yang bahkan tidak kutahu bentuknya.
Aku membuka ponsel. Tidak ada pesan baru.
Haruka juga tidak mengirim apa-apa.
Aku meletakkan ponsel kembali, lalu duduk di lantai, bersandar ke sofa. Aku menarik lutut ke dada, menatap langit-langit rumah yang hari ini terasa lebih tinggi.
“Kenapa aku begini sih,” gumamku pelan.
—
Sore bergerak lambat.
Aku akhirnya mandi, mengganti pakaian, lalu membantu diri sendiri dengan kegiatan kecil—melipat baju, merapikan meja, menyapu sedikit bagian rumah yang sebenarnya sudah bersih. Semua kulakukan tanpa benar-benar fokus.
Matahari hampir tenggelam ketika aku mendengar suara mobil di luar.
Aku berhenti bergerak.
Langkah kaki mendekat. Kunci berputar. Pintu terbuka.
Haruka masuk dengan gerakan yang sedikit lebih berat dari biasanya. Jaketnya masih dipakai, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah—bukan lelah fisik semata, tapi lelah yang lebih dalam.
Aku berdiri di ambang ruang tamu.
“Kamu sudah pulang,” kataku pelan.
Ia menoleh. Sejenak ekspresinya berubah—ada kelegaan yang tidak sempat ia sembunyikan.
“Iya,” jawabnya. “Baru.”
Ia meletakkan kunci, membuka sepatu, lalu masuk lebih jauh. Ada jeda canggung yang tipis, seperti dua orang yang sama-sama ingin bicara tapi belum tahu harus mulai dari mana.
“Kamu capek?” tanyaku.
Ia mengangguk kecil. “Sedikit.”
Aku mendekat. “Mau minum?”
“Boleh.”
Aku ke dapur, menuangkan air, lalu kembali dan memberikannya. Jari kami sempat bersentuhan sebentar saat gelas berpindah tangan. Sentuhan singkat, tapi cukup membuatku sadar—kami masih di ritme yang sama, meski hari ini terasa panjang.
Ia duduk di sofa. Aku duduk di sampingnya, menjaga jarak sedikit. Tidak jauh. Tidak terlalu dekat.
“Harimu gimana?” tanyanya.
“Biasa,” jawabku. “Kuliah. Pulang sama Rani.”
Ia mengangguk. “Kamu kelihatan capek juga.”
Aku tersenyum kecil. “Mungkin ketularan.”
Ia terkekeh pelan, lalu bersandar ke sofa. Untuk beberapa detik, kami hanya duduk dalam diam. Tapi diam yang tidak menekan—lebih seperti ruang aman.
“Alya,” katanya akhirnya.
“Hm?”
“Aku tadi ke tempat lama.”
Aku menoleh. “Tempat lama?”
Ia mengangguk. “Ada hal yang harus aku bereskan.”
Nada suaranya datar, tapi matanya tidak sepenuhnya tenang. Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku hanya mengangguk, memberi isyarat bahwa aku mendengar.
“Kalau kamu capek,” kataku pelan, “kamu bisa istirahat.”
Ia menoleh padaku. Menatap cukup lama.
“Makanya aku pulang,” katanya.
Aku mengangguk kecil. Baru ingin bersandar, ketika ia melanjutkan dengan nada yang nyaris santai.
“Tapi nanti malam aku berangkat lagi. Ke negara lain. Naik pesawat.”
Aku langsung menoleh cepat. “Hah?”
Ia menghela napas kecil, seperti sudah menebak reaksiku.
“Ngapain?” tanyaku cepat.
“Pulang kapan?”
“Berapa hari?”
Pertanyaanku keluar berurutan tanpa jeda. Ia justru tertawa kecil, suara rendah yang terdengar santai—terlalu santai untuk topik itu.
“Kamu ketawa?” aku menatapnya kesal.
Ia mengangguk sambil tersenyum. “Lucu aja.”
“Apanya yang lucu?” suaraku naik sedikit.
Ia menoleh padaku, lalu menyentil keningku ringan. “Kamu.”
Aku memelototinya. “Haruka.”
“Kamu boleh ikut kalau mau.”
Kalimat itu membuatku berhenti total.
Aku menatapnya, memastikan aku tidak salah dengar. “Ikut… kamu?”
Ia mengangguk. “Sekalian liburan.”
Ia lalu menambahkan, seolah asal bicara, “Kamu nggak bosen kuliah terus?”
Aku langsung bergerak, tanpa mikir panjang, duduk di pangkuannya karena refleks saking senangnya.
“Beneran?”
“Serius?”
“Kemana?”
Pertanyaanku bertumpuk, mataku berbinar. Ia tertawa pelan, tangannya otomatis menahan pinggangku agar aku tidak jatuh.
“Kamu suka kebiasaan duduk di sini,” katanya.
Aku mengangkat dagu. “Emangnya nggak boleh?”
Ia menatapku. “Kalau aku bilang nggak boleh?”
Aku langsung manyun.
Ia tersenyum kecil. “Tuh, kan.”
Aku mendengus. “Kamu tau.”
“Makanya,” jawabnya singkat.
Aku diam sebentar, lalu bertanya, “Ke mana emangnya?”
Ia menggeleng. “Surprise dong.”
“Ih,” aku memukul lengannya pelan.
Ia melirik jam. “Alya, aku lapar.”
Aku langsung berdiri. “Tunggu.”
Aku berjalan ke dapur, membuka kulkas, mengambil beberapa bahan. Di belakangku, ia masih duduk di sofa, memperhatikanku tanpa bicara.
Beberapa menit kemudian, kami makan di ruang tamu. Aku duduk bersila di karpet, ia di sofa, piring masing-masing di tangan.
“Kamu serius ngajak aku?” tanyaku lagi, lebih pelan.
“Iya.”
“Dan kamu berangkat malam ini?”
“Iya.”
Aku mengunyah perlahan. “Berapa hari?”
“Tergantung.”
Aku meliriknya. “Jawaban kamu nyebelin.”
Ia tertawa kecil. “Biasanya kamu juga bilang gitu.”
Aku diam sebentar, lalu berkata, “Aku mau ikut.”
Ia menoleh. Menatapku lama.
“Oke,” katanya akhirnya.
Sederhana. Tapi jantungku langsung berdetak lebih cepat.