Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penguasa hutan bayangan
Napas Mei Lin terasa seperti api yang membakar tenggorokannya. Kakinya yang tanpa alas telah lama mati rasa akibat sayatan bebatuan tajam dan duri hutan, namun ia terus memacu dirinya menembus kabut yang semakin pekat. Tanpa disadari, ia telah melewati perbatasan yang ditandai dengan jajaran pohon mati yang melilit—gerbang menuju Hutan Kegelapan, wilayah terlarang yang bahkan para jenderal Jian Feng pun takut untuk memasukinya.
Di sini, sinar matahari seolah tertelan oleh tajuk pohon yang rapat. Suasana sunyi senyap, tak ada kicauan burung, hanya suara desau angin yang terdengar seperti rintihan jiwa-jiwa tersesat. Mei Lin jatuh tersungkur di atas tanah hitam yang lembap. Ia mencoba bangkit, namun sebuah bayangan besar tiba-tiba jatuh menutupi tubuhnya.
"Seorang pelayan istana yang tersesat... ataukah persembahan manis yang dikirim oleh Jian Feng untukku?"
Suara itu dingin, dalam, dan memiliki nada magnetis yang mengerikan. Mei Lin tersentak dan mundur merangkak hingga punggungnya membentur batang pohon yang dingin. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan pakaian kulit hitam yang dihiasi bulu serigala di bahunya. Rambutnya perak keputihan, kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya berwarna abu-abu tajam, menatap Mei Lin bukan dengan nafsu seperti Jian Feng, melainkan dengan rasa ingin tahu seorang pemburu yang menemukan mangsa langka.
Dia adalah Lord Kaelen, pewaris takhta Hutan Kegelapan yang dibuang. Pria yang konon memakan jantung musuh-musuhnya dan menguasai ilmu hitam kuno.
"Tolong... jangan sakiti hamba..." isak Mei Lin, menutupi dadanya yang terekspos karena pakaiannya yang robek.
Kaelen mendekat, gerakannya seringan kucing hutan. Ia berlutut di depan Mei Lin, jemarinya yang dingin membelai luka di bahu gadis itu. "Bau ini... jasmine. Dan aroma Jian Feng yang busuk masih melekat kuat di kulitmu. Jadi, kau adalah wanita yang membuat Kaisar itu menggila hingga mengirim ribuan pasukan ke perbatasan hutanku?"
Kaelen mencengkeram rahang Mei Lin, memaksa gadis itu menatapnya. Jika Jian Feng adalah api yang membakar, Kaelen adalah es yang membekukan. Kekejaman di matanya tidak kalah mengerikan; ia adalah pria yang tidak mengenal belas kasihan.
"Jian Feng sangat posesif terhadap apa yang ia anggap miliknya," gumam Kaelen dengan seringai tipis yang memperlihatkan taring kecilnya. "Mencurimu darinya akan menjadi hiburan yang sangat menyenangkan. Aku ingin melihat naga itu merangkak di tanah ini demi mendapatkanmu kembali."
Mei Lin gemetar hebat. Ia menyadari bahwa ia baru saja pindah dari satu belenggu ke belenggu lainnya. Kaelen berdiri dan tanpa peringatan, ia menyambar pinggang Mei Lin, mengangkat tubuh mungil itu ke atas bahunya seolah Mei Lin tidak berbobot sama sekali.
"Lepaskan! Kumohon, lepaskan hamba!" Mei Lin memukul-mukul punggung keras Kaelen, namun pria itu tidak bergeming.
"Diamlah, Pelayan Kecil. Di hutanku, suaramu hanya akan mengundang pemangsa yang lebih lapar dariku," ucap Kaelen dingin. "Kau akan menjadi tamuku di benteng bayangan. Kita akan menunggu sampai Jian Feng datang menjemputmu, dan saat itu tiba, aku akan memastikan dia melihatmu sudah menjadi milik orang lain."
Kaelen membawa Mei Lin jauh ke dalam jantung hutan, menuju sebuah kastil kuno yang tersembunyi di balik kabut abadi. Sementara itu, di kejauhan, suara derap ribuan kuda pasukan Jian Feng mulai terdengar mendekat ke perbatasan hutan. Perang antara dua penguasa paling kejam di negeri ini baru saja tersulut karena satu wanita jelata yang mempesona.
Mei Lin hanya bisa menangis dalam diam, meratapi takdirnya. Ia melarikan diri dari seorang monster, hanya untuk jatuh ke pelukan monster lain yang mungkin jauh lebih haus akan jiwanya.
bersambung