Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. SIAPA DINDA?
Pagi itu, langit Jakarta masih tertutup kabut tipis sisa hujan semalam. Alih-alih mengarahkan mobil kembali ke penthouse mewah yang menjadi penjara bagi Keyla, Dipta justru mengemudikan mobilnya keluar dari jalur protokol, menuju pinggiran kota yang lebih tenang dan jauh dari kebisingan.
Keyla, yang masih mengenakan jaket rajut di atas pakaian santainya, menatap keluar jendela dengan cemas. Pertemuan dramatis dengan Haris Mahendra semalam masih membekas jelas di benaknya. Ia melirik Dipta; pria itu tampak sangat lelah, namun sorot matanya menunjukkan tekad yang dingin.
"Dipta, kita mau ke mana?" tanya Keyla lembut. "Ini bukan jalan pulang."
Dipta tak menjawab. Ia hanya menggenggam setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali memijat pangkal hidungnya.
"Dipta, tolong bicaralah padaku. Setelah apa yang terjadi semalam... aku berhak tahu kita mau ke mana," desak Keyla lagi.
"Diamlah, Keyla. Kau akan tahu sebentar lagi," sahut Dipta pendek. Suaranya tidak membentak, namun ada nada getir yang membuat Keyla memilih untuk bungkam.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobil memasuki sebuah kawasan hijau yang rimbun. Di ujung jalan buntu, berdiri sebuah mansion tua dengan arsitektur klasik yang megah namun tampak sangat terisolasi. Halamannya tertata rapi, namun kesunyian yang menyelimuti tempat itu terasa tidak alami.
Dua orang penjaga keamanan berseragam hitam segera membuka gerbang besi besar begitu mengenali mobil Dipta. Di dalam mansion, Keyla melihat beberapa orang yang tampak sibuk namun bergerak dengan sangat tenang: tiga orang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan selasar, seorang dokter wanita paruh baya berseragam putih, dan seorang perawat wanita.
"Selamat pagi, Tuan Dipta," sapa dokter wanita itu dengan nada rendah yang menenangkan.
"Bagaimana keadaannya hari ini, Dokter Sarah?" tanya Dipta sambil melangkah masuk, menarik tangan Keyla agar mengikutinya.
"Stabil, Tuan. Tapi ada sedikit masalah pagi ini. Beliau tidak mau menyentuh makanannya sama sekali sejak tadi subuh," jawab Dokter Sarah dengan raut wajah prihatin.
Dipta menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat dengan beban hidup yang luar biasa. Ia menuntun Keyla menuju sebuah ruangan luas dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
Di sana, di sebuah kursi goyang berbahan kayu jati, duduk seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat anggun meski wajahnya pucat dan pandangannya kosong. Wanita itu adalah Sofia. Ia mengenakan gaun tidur berbahan sutra tipis, tangannya sibuk menimang sebuah boneka bayi berbahan porselen dengan sangat hati-hati. Ia menggoyangkan badannya perlahan sambil mengalunkan nyanyian pengantar tidur yang lirih.
Keyla terpaku di ambang pintu. "Siapa dia, Dipta?" bisiknya.
Dipta tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, lututnya menyentuh lantai di samping kursi goyang itu. "Mama..." panggilnya dengan suara yang sangat lembut, suara yang belum pernah Keyla dengar sebelumnya.
Keyla tersentak. Mama? Jadi ini adalah ibu Dipta yang diceritakan Mbak Siti? Wanita yang hancur karena pengkhianatan Haris Mahendra?
Sofia menoleh perlahan. Matanya yang sayu menatap Dipta, namun seolah menembus tubuh anaknya menuju masa lalu. "Dipta? Kau sudah pulang?" suaranya gemetar. "Kecilkan suaramu, Sayang. Adikmu baru saja terlelap. Dia sangat rewel semalam, terus menangis mencari Ayahmu."
Jantung Keyla seolah berhenti berdetak saat mendengar kata 'Ayah' dan 'Adik'. Dipta memiliki seorang adik? Kenapa selama ini tidak ada yang pernah menyebutkannya?
Sofia kembali menatap jendela dengan cemas. "Ayahmu... kenapa dia belum pulang juga, Dipta? Ini sudah lewat jam makan malam. Dia bilang hanya ada rapat sebentar."
Dipta memejamkan mata sejenak, menahan rasa sakit yang menusuk dadanya. Ia mengambil mangkuk bubur hangat yang ada di meja kecil samping kursi. "Ayah masih sibuk, Ma. Sekarang, Mama makan dulu ya? Sedikit saja. Agar saat Ayah pulang, Mama terlihat cantik dan sehat."
Dengan penuh kesabaran, pria yang dikenal dingin dan kejam di dunia bisnis itu menyuapi ibunya sesendok demi sesendok. Ia bercerita tentang cuaca, tentang bunga-bunga di taman, seolah dunia di luar sana baik-baik saja.
Setelah mangkuk itu kosong setengahnya, Dipta menoleh ke arah Keyla yang masih berdiri mematung. "Kemarilah, Keyla."
Keyla melangkah mendekat dengan ragu.
"Ma... Dipta membawa seseorang," ujar Dipta sambil meraih tangan Keyla. "Ini Keyla. Dia istri Dipta."
Seketika, gerakan kursi goyang itu berhenti. Sofia mengalihkan pandangannya dari jendela langsung ke arah Keyla. Matanya yang tadinya kosong tiba-tiba berbinar dengan cahaya yang aneh namun indah. Kata 'Istri' seolah menjadi kunci yang membuka sebuah pintu di dalam ingatannya.
"Istri?" Sofia berbisik, suaranya naik satu nada. "Dipta kecilku... sudah besar? Sudah menikah?"
Sofia meletakkan boneka bayi yang sejak tadi ia timang begitu saja ke atas meja samping. Boneka yang tadi ia sebut sebagai 'adik' kini terlupakan begitu saja. Ia berdiri dengan gemetar, tangannya terulur menyentuh pipi Keyla.
Keyla merasa air matanya tak terbendung lagi. Ia membiarkan tangan kurus Sofia membelai wajahnya.
"Sangat cantik..." Sofia tersenyum tulus, sebuah senyum yang sangat mirip dengan Dipta jika pria itu sedang benar-benar bahagia. "Kau sangat cantik, Nak. Matamu murni sekali. Kau... kau mengingatkanku pada Dinda."
Dipta menegang saat nama itu disebut, namun ia tetap diam.
Sofia tiba-tiba menarik Keyla ke dalam pelukannya. Ia memeluk Keyla dengan sangat erat, seolah-olah sedang melepas kerinduan yang telah tertahan selama puluhan tahun. Ia menghirup aroma rambut Keyla dan berbisik di telinganya.
"Terima kasih sudah datang, Keyla. Jaga Dipta, ya? Dia anak yang baik, hanya saja hatinya terlalu banyak luka karena Ayahnya," bisik Sofia lirih. "Kau cantik sekali, persis seperti Dinda, adik Dipta. Dia pasti akan senang sekali punya kakak ipar sepertimu."
Keyla membalas pelukan itu dengan penuh empati. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersimpan tragedi yang tak terbayangkan. Sofia hidup dalam waktu yang membeku, di hari di mana suaminya mengkhianatinya dan di mana putrinya—Dinda—mungkin menjadi bagian dari rasa sakit itu.
Dipta berdiri, menatap kedua wanita itu dengan perasaan campur aduk. Ia melihat Keyla yang begitu tulus memeluk ibunya yang sakit jiwa. Keraguan yang sempat muncul semalam—bahwa Keyla mungkin lebih pantas dengan pria lain—sedikit memudar. Mungkin, hanya wanita seperti Keyla yang bisa menangani kegelapan di keluarganya.
Setelah Sofia terlihat lebih tenang dan mulai mengantuk karena efek obat yang diberikan suster, Dipta menuntun Keyla keluar menuju beranda belakang.
"Dipta... siapa Dinda?" tanya Keyla pelan saat mereka hanya berdua.
Dipta menatap langit dengan pandangan kosong. "Adik perempuanku. Dia meninggal dalam kecelakaan mobil saat mencoba mengejar Ayah yang pergi bersama selingkuhannya malam itu. Mama yang menyetir... dan dia tidak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Itulah sebabnya dia menganggap boneka itu adalah adiknya yang masih hidup."
Keyla menutup mulutnya, terisak pelan. "Oh, Dipta... maafkan aku. Aku tidak tahu."
"Sekarang kau tahu kenapa aku sangat membenci pria tua itu," ujar Dipta dengan suara yang bergetar karena emosi. "Dia tidak hanya menghancurkan pernikahan, dia menghancurkan kewarasan ibuku dan nyawa adikku. Dan saat aku melihatmu bicara dengannya di kampus... aku merasa dia mencoba merenggutmu juga dariku."
Dipta menarik Keyla ke dalam pelukannya, kali ini dengan cara yang sangat berbeda. Tidak ada paksaan, tidak ada dominasi. Hanya ada seorang pria yang hancur yang mencari perlindungan pada satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya.
"Jangan pernah meninggalkanku, Keyla," bisik Dipta parau. "Jika kau pergi, aku tidak akan punya alasan lagi untuk tetap menjadi manusia."
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu